NovelToon NovelToon
OBSESSION OF THE SEVEN

OBSESSION OF THE SEVEN

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Harem
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.

Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.

Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.

Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Balik Kabut

Langit di atas kota kecil Saint-Malo, di pesisir utara Prancis, tidak pernah benar-benar bersih dari warna abu-abu. Setiap sore, kabut tebal beraroma garam laut akan merayap turun dari Selat Inggris, menyelimuti jalanan berbatu kuno, dinding-dinding benteng granit, dan atap rumah-rumah tua yang berdiri rapat.

Bagi kebanyakan orang, atmosfer kota ini mungkin terasa melankolis dan mengurung. Namun bagi Althea, kabut tebal itu adalah selimut pelindung. Di dalam kota yang selalu samar inilah, ia mengubur identitas lamanya dan mencoba bernapas kembali.

Satu tahun telah berlalu sejak malam horor di bawah guyuran hujan deras di taman labirin *Septem Foundation*.

Althea masih sering terbangun di tengah malam dengan napas memburu, tubuhnya mandi keringat dingin, dan telinganya berdenging seolah masih mendengar suara gemuruh air sungai yang menghanyutkannya malam itu.

Sungai arus deras itu hampir merenggut nyawanya, menghantam tubuhnya pada bebatuan, dan merobek gaun beludru hijau tua miliknya hingga menjadi kain compang-camping. Namun, takdir rupanya masih menyisakan sedikit belas kasihan. Tubuhnya yang pingsan dan membeku terdampar di dekat bendungan luar wilayah yayasan, di mana seorang nelayan tua menemukannya dan membawanya sejauh mungkin dari jangkauan jaring-jaring kekuasaan Rm.

Kini, Althea menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ia bekerja sebagai pengelola di *L'Ombre des Mots* (Bayangan Kata-Kata), sebuah toko buku tua dua lantai yang terletak di sudut lorong sepi kota Saint-Malo.

Pemiliknya adalah seorang wanita lansia yang ramah, yang jarang datang dan menyerahkan seluruh operasional toko kepada Althea. Di tempat inilah, di antara aroma kertas usang, tinta kering, dan seduhan teh kamomil, Althea merasa ia akhirnya memegang kendali atas hidupnya sendiri. Tidak ada kamera CCTV J-Hope di sudut langit-langit, tidak ada gubahan lagu dari suara langkah kakinya oleh Suga, dan tidak ada ancaman sangkar emas dari Jin.

Sore itu, hujan rintik-rintik khas musim gugur mulai membasahi kaca depan toko. Althea sedang berdiri di dekat rak buku fiksi klasik, jemarinya yang lentik bergerak teratur menyusun novel-novel tua bersampul kulit.

Ia mengenakan rajutan sweater longgar berwarna krem dan celana kain sederhana sangat kontras dengan gaun-gaun mewah berharga ribuan dolar yang dulu dipaksakan melekat pada tubuhnya.

Ting.

Lonceng perunggu kecil yang menggantung di atas pintu toko berdenting halus, memecah keheningan ruangan yang hanya ditemani oleh suara rintik hujan di luar.

Althea tidak langsung berbalik. Ia mengira itu hanyalah pelanggan lokal, mungkin seorang profesor tua atau turis yang mencari tempat berteduh dari hujan. Sambil meletakkan satu buku terakhir ke dalam rak, Althea berujar ramah dalam bahasa Prancis yang kini fasih ia ucapkan.

"Selamat sore. Selamat datang di *L'Ombre des Mots*. Silakan melihat-lihat, jika memerlukan bantuan untuk mencari judul tertentu, beri tahu saya."

Keheningan yang janggal mendadak mengikuti kalimatnya. Tidak ada suara langkah kaki yang mendekat, tidak ada suara sapaan balik. Hanya ada keheningan yang begitu pekat, begitu dingin, hingga atmosfer di dalam toko buku kecil itu mendadak merosot drastis.

Lalu, sebuah suara memecah keheningan tersebut. Sebuah suara beraksen berat, berwibawa, dengan artikulasi bahasa Inggris yang begitu sempurna dan ketukan nada yang langsung memicu alarm bahaya di dalam memori terdalam Althea.

"Aku tidak sedang mencari fiksi klasik, Mademoiselle. Aku mencari sebuah buku khusus yang sangat langka."

Jemari Althea yang masih menyentuh punggung buku langsung membeku. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah-olah lenyap dalam sekejap mata. Jantungnya berdentum begitu keras hingga dadanya terasa sakit, dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Suara itu... suara yang paling sering muncul dalam mimpi buruknya selama 365 hari terakhir.

"Buku yang menceritakan tentang tujuh pria yang kehilangan malaikat pelindung mereka," suara itu kembali terdengar, melangkah perlahan di atas lantai kayu toko yang berderit halus. "Tujuh pria yang bersumpah di bawah sumpah darah bahwa mereka akan membalikkan dunia, meruntuhkan negara, dan memburu badai apa pun demi membawa malaikat itu pulang ke tempat yang seharusnya."

Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari setahun kedamaian palsunya, Althea perlahan membalikkan badan.

Di tengah lorong toko buku yang remang-remang, berdiri seorang pria tinggi tegap yang mengenakan mantel panjang berbahan wol hitam premium yang basah oleh sisa rintik hujan. Pria itu perlahan menurunkan tudung mantelnya, menampilkan rambut cokelat gelap yang tertata rapi dan sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai perak tipis yang berkilat dingin diterpa lampu toko.

Kim Namjoon.

Dia berdiri di sana dengan kedua tangan terbenam di saku mantelnya, menatap Althea dengan tatapan mata yang tidak berubah sedikit pun sejak malam di ruang arsip—sebuah tatapan yang dipenuhi oleh kalkulasi dingin, dominasi mutlak, dan obsesi purba yang tak terkikis oleh waktu.

"Lama tidak berjumpa, Althea," Namjoon mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tenang, namun sanggup membuat lutut Althea lemas seketika.

Althea melangkah mundur hingga punggungnya membentur rak buku di belakangnya. Buku-buku di rak itu bergetar seiring dengan tubuhnya yang gemetar hebat. "B-bagaimana... bagaimana bisa kau menemukanku?" cicit Althea dengan suara yang hampir habis.

Namjoon terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar seperti gesekan instrumen musik yang mengerikan di dalam ruangan sepi itu. "Menemukanmu? Althea, kau tidak pernah benar-benar hilang dari kami. Kau pikir kabut Prancis ini cukup tebal untuk menyembunyikan langkahmu?"

Namjoon melangkah maju dua kali, mengikis jarak di antara mereka. Ia mengeluarkan sebelah tangannya dari saku mantel, lalu meletakkan sebuah benda kecil di atas meja konter kayu di dekat Althea.

Benda itu adalah sebuah plester luka kecil bergambar beruang kartun—sebuah plester luka yang persis sama dengan yang digunakan Althea kecil untuk mengobati luka di lengan Namjoon pada tahun 2010. Di samping plester itu, Namjoon juga meletakkan sebuah ponsel lipat berdesain mutakhir yang layarnya menyala, menampilkan titik koordinat GPS berwarna merah yang berkedip tepat di atas lokasi toko buku ini.

"Kau melupakan satu hal, Althea," Namjoon berbisik, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga Althea bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang begitu pekat dari tubuh pria itu. "Sistem keamanan Hoseok terhubung dengan satelit global milik yayasan. Korsleting yang kau buat setahun lalu hanya mematikan sistem lokal selama tiga menit. Tiga menit yang cukup untuk membuatmu melompat ke sungai, tapi tidak cukup untuk menghapus jejak biologismu dari radar kami. Kami tahu kau selamat. Kami tahu kau berada di sini sejak bulan pertama kau menginjakkan kaki di kota ini."

Althea menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya. "Jika kalian tahu... kenapa kalian membiarkanku hidup tenang selama setahun ini? Kenapa baru sekarang?!"

Namjoon mengulurkan tangannya, ibu jarinya yang dingin menyentuh pipi Althea yang memucat, menghapus setitik air mata yang jatuh di sana dengan kelembutan yang menuntut kepatuhan.

"Karena kami mencintaimu," jawab Namjoon pelan, tatapannya berkilat gelap dan posesif. "Dan karena kami ingin adil. Setahun lalu, ego kami hampir menghancurkanmu. Kami bertengkar karena memperebutkan siapa yang paling berhak atas dirimu. Jadi, selama setahun ini, kami membuat kesepakatan baru. Kami membiarkanmu menghirup udara bebas, membiarkanmu merasa aman, sementara kami menata ulang singgasanamu di *mansion*. Kami memberimu waktu untuk bermain-main di dunia luar, Althea. Dan sekarang... waktu bermainmu sudah habis."

Namjoon berbalik sedikit, lalu mengarahkan pandangannya ke arah jendela kaca besar di depan toko buku yang tertutup embun dan rintik hujan. "Lihatlah ke luar. Semua orang sudah sangat merindukanmu."

Althea mengalihkan pandangannya yang buram karena air mata ke arah luar jendela. Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat pemandangan di seberang jalan.

Di bawah temaram lampu jalan kota Saint-Malo yang mulai menyala di antara kabut sore, enam pria lainnya sedang berdiri diam. Mereka semua mengenakan setelan hitam yang seragam, memegang payung hitam besar, membentuk formasi setengah lingkaran yang mengunci seluruh akses keluar dari lorong toko buku tersebut.

Di sebelah kiri, Kim Seokjin berdiri tegak. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak bekal perak berlapis beludru yang masih mengeluarkan uap hangat ia tersenyum sangat manis ke arah jendela, seolah-olah ia baru saja menjemput adiknya pulang sekolah, bukan menjemput tawanan setahun lalu. Di sampingnya, Min Yoongi bersandar santai di tiang lampu jalan, kedua telinganya tertutup *earphone* kabel, namun matanya yang sipit dan tajam mengunci pergerakan Althea tanpa berkedip.

Di tengah formasi, Jung J-Hope berdiri sambil memegang ponsel lipatnya yang menyala, senyuman cerah miliknya malam ini terlihat begitu kontras dengan kegelapan kabut di sekelilingnya.

Di sebelahnya, Park Jimin menurunkan sedikit payungnya, menampilkan sepasang mata bulan sabitnya yang kini berkilat penuh kemenangan dan rasa lapar yang tak tertahankan untuk kembali menggenggam kulit Althea.

Kim Taehyung berdiri sedikit terpisah di dekat dinding batu kuno. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah buku sketsa tebal berikat kulit. Ia menatap Althea melalui kaca jendela dengan senyuman miring yang eksotis dan penuh kegilaan; kanvas terakhirnya yang sempat tertunda setahun lalu akhirnya akan mendapatkan warna merahnya malam ini.

Dan di ujung terluar lorong, menjaga titik pelarian paling potensial, Jeon Jungkook berdiri dengan posisi taktis yang kokoh. Seragam hitamnya yang tegap bergoyang ditiup angin laut, dan tatapan matanya yang bulat namun dingin seolah menegaskan janjinya setahun lalu: jika Althea mencoba terbang lagi, ia tidak akan ragu untuk mematahkan sayapnya saat itu juga.

Ketujuh penguasa *Septem Foundation* telah lengkap. Jaring-jaring obsesi yang sempat mengendur selama setahun kini ditarik kembali secara serentak, mengencang di sekeliling leher Althea tanpa menyisakan ruang bahkan untuk sekadar bergeser satu sentimeter pun.

"Kau tidak punya sungai lagi untuk tempatmu terjun bebas malam ini, Althea-ku," Namjoon kembali berbisik di dekat telinganya, suaranya terdengar seperti keputusan mutlak pengadilan yang tak bisa diganggu gugat. Ia mengulurkan lengannya, menawarkan Althea untuk bersandar.

"Mari kita pulang. Kali ini, tidak akan ada lagi retakan di dalam sangkar emasmu. Kami semua akan menjagamu... bersama-sama Althea."

Althea menatap plester luka di meja, lalu melihat ketujuh pria yang berdiri diam di bawah guyuran hujan di luar sana.

Ia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: dunia luar yang ia kira luas ternyata hanyalah perpanjangan dari halaman belakang *Septem Foundation*.

Kebebasan yang ia rasakan selama setahun ini tidak pernah nyata; itu hanyalah ilusi kemurahan hati yang sengaja diberikan oleh para predatornya sebelum mereka memutuskan untuk mengklaim kembali hak milik mereka secara utuh.

Dengan air mata yang mengering di pipinya, Althea perlahan meletakkan tangannya di atas lengan mantel Rm, menyerahkan seluruh sisa kebebasannya pada kegelapan obsesi yang akan mengurungnya... selamanya.

Season 1 "TAMAT"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!