Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Suara degup jantung Afrain yang berdebar panik dengan tangannya yang menggenggam jemari Lani yang dingin saat mereka sampai di rumah sakit terdekat.
“Tolong! Dia pingsan di jalan, tubuhnya menggigil dan lemas!” seru Afrain pada petugas IGD.
Perawat segera membawa Lani dengan mengunakan brankar dan memanggil dokter jaga.
Afrain mengikuti dari belakang, masih dalam balutan jas yang kini basah karena hujan.
Beberapa menit kemudian, Lani sudah berada di ruang observasi.
Infus terpasang di tangannya, tubuhnya diselimuti agar hangat, dan selang oksigen terpasang di hidungnya.
Afrain menatapnya dengan sorot mata campur aduk—khawatir, marah, dan, rindu.
Beberapa kenangan muncul dalam pikirannya. Ia pernah mengenal Lani sebagai istri dari Alex, yang tak lain adalah mantan adik iparnya sendiri.
Lani, wanita lembut yang selalu tersenyum dan penuh semangat.
Tapi kini, yang ia lihat hanya seorang wanita yang patah, remuk, dan terbuang.
“Apa yang terjadi padamu, Lani?” bisiknya lirih, duduk di samping ranjang.
Dokter datang dan menghampiri Afrian yang sedang terpukul.
“Kondisinya stabil, hanya kelelahan parah, hipotermia ringan, dan tekanan mental. Dia butuh istirahat, juga dukungan emosional. Tolong anda jaga,"
“Saya akan menjaganya, Dok” ucap Afrain sambil menganggukkan kepalanya.
Dokter meminta perawat untuk memindahkan Lani ke ruang perawatan.
Beberapa jam kemudian, saat senja mulai turun, Lani mulai menggerakkan jemarinya.
Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit putih ruangan asing itu.
“Akhirnya, Kamu sudah sadar…” ucap Afrain.
Lani menoleh ke arah suara yang mengajaknya bicara.
Ia melihat wajah Afrain mantan kakak iparnya yang telah menolongnya.
"M-mas Afrain?"
“Iya, ini aku. Afrain.”
Lani memejamkan matanya dengan air matanya mengalir makin deras.
Untuk pertama kalinya, setelah semua yang ia alami, seseorang memperlakukannya dengan kasih sayang.
"Kamu aman sekarang, Lani..." ucap Afrain, mengusap rambutnya lembut.
Lani menatap wajah Afrain yang duduk di samping ranjang.
Senyum samar muncul di bibirnya, meski wajahnya masih terlihat lelah.
“Terima kasih, Mas Afrain…”
Afrain tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Lani dengan hangat.
“Tidak perlu berterima kasih, Lan. Sekarang kamu tidak perlu mikir apa pun. Kamu aman di sini. Istirahatlah, Lani.”
Lani menganggukkan kepalanya dengan air matanya yang jatuh lagi.
Ia memejamkan mata, tubuhnya mulai rileks. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dipedulikan. Tidak dihakimi. Tidak dibenci.
Afrain bangkit dari duduknya sambil membetulkan selimut Lani
Kemudian ia mematikan lampu utama ruangan, menyisakan hanya lampu temaram di sudut.
Ia duduk kembali di sofa kecil dekat ranjang, tetap dalam posisi siaga.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," gumamnya pelan.
Sementara itu, di luar sana, hujan telah reda dan langit gelap berubah menjadi tenang. Dan di dalam kamar rumah sakit itu, seorang wanita yang hancur akhirnya bisa tertidur dalam damai, dengan harapan baru yang perlahan tumbuh dalam pelukan malam.
Detik demi detik berganti sampai pukul dua dini hari, ruangan rumah sakit yang sebelumnya sunyi mendadak diwarnai oleh bunyi notifikasi dari ponsel Lani yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Suaranya cukup nyaring untuk membangunkannya dari tidur yang belum benar-benar nyenyak.
Lani mengernyitkan keningnya sambil meraih ponsel itu dan menyalakan layarnya.
Satu pesan masuk dari Mira dan satu foto Mira dan Alex.
Tangannya gemetar saat membukanya. Dan saat foto itu terpampang jelas di layar, napasnya tercekat.
Foto Mira dan Alex sedang berpelukan di tempat tidur, wajah Alex tertidur lelap dengan Mira tersenyum ke arah kamera.
Lani terdiam. Napasnya mulai sesak. Jari-jarinya lemas, ponsel nyaris jatuh dari genggaman.
"Kenapa dia masih menyakitiku, bahkan setelah semua ini…" bisiknya lirih.
Detik berikutnya, Lani menarik selang infus dari tangannya dengan kasar, darah mengalir sedikit dari bekas tusukan jarum.
Luna tidak memperdulikan rasa sakit di tangannya yang tak sebanding dengan yang di hatinya.
Dengan langkah cepat dan terhuyung, Lani keluar dari kamar, melewati lorong rumah sakit yang sepi dan dingin.
IIa ingin menjauh dari dunia yang terus menyakitinya.
Seorang perawat yang sedang bertugas malam melihatnya, terkejut melihat pasien berjalan sambil menahan luka di tangan.
"Bu! Bu, jangan pergi! Anda belum sembuh!" teriak perawat.
Perawat itu langsung berlari menuju ruang istirahat dan membangunkan Afrain.
"Pak! Pasien atas nama Lani, dia keluar dari kamar menuju atap!"
Afrain yang tengah terlelap langsung bangun, wajahnya pucat.
"Apa?!" tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar jaket dan lari keluar dari ruang istirahat.
Sementara itu, di atas atap, Lani berdiri sendiri, tubuhnya masih lemas, tangan berdarah, wajahnya basah entah oleh air mata atau embun dini hari.
Di bawah sana, Afrain berlari cepat berpacu dengan waktu, dan dengan luka hati yang tak kunjung sembuh.
Angin dini hari bertiup kencang di atas rooftop rumah sakit.
Langit masih gelap, tapi garis samar fajar mulai tampak jauh di horizon.
Di ujung tembok pembatas, Lani berdiri dengan tubuh gemetar, rambutnya basah oleh embun, pakaian rumah sakitnya melambai tertiup angin.
Matanya kosong menatap ke bawah. Suaranya parau.
“Apa salahku sampai semuanya menghukumku seperti ini? Bahkan Mira…”
Langkah cepat terdengar mendekat. Afrain berlari menembus pintu roof top dengan napasnya memburu, wajahnya pucat, mata panik.
“Lani! Tolong, jangan lakukan itu!” teriaknya keras.
“Aku sudah gak kuat, Mas Afrain…” suaranya gemetar.
“Aku sudah tidak kuat, Mas. Aku, mandul, dibuang, dihina, dan sekarang Mira pun…”
“Tidak!” Afrain melangkah hati-hati, tangannya terulur.
“Lani, dengar aku. Kamu tidak mandul. Kamu bukan gagal. Kamu adalah wanita paling kuat yang pernah aku kenal…”
Lani menutup matanya, dengan air matanya mengalir di pipinya.
“Lani yang aku kenal, dulu… adalah wanita yang selalu berani, yang selalu senyum meski dunia tidak adil. Jangan biarkan mereka mematikan sinar itu.”
“Untuk apa aku bertahan, Mas?"
“Untuk dirimu sendiri. Untuk masa depan yang belum selesai. Untuk kisahmu yang belum tuntas. Dan, untuk aku yang belum selesai melindungimu dari lingkaran keluarga berhati dingin itu.”
Lani perlahan menoleh ke arah Afrain yang sedang membujuknya.
“Genggam tanganku, Lani. Aku mohon.” ucap Afrain sambil mengulurkan tangannya.
Dengan tangan gemetar, Lani mengulurkan tangannya perlahan ke arah Afrain.
Afrain segera meraih dan menarik tubuh Lani ke dalam pelukannya, menjauh dari tepian atap.
Lani berteriak dan menangis sesenggukan dalam pelukan Afrain.
Semua yang ia tahan, semua yang ia simpan, akhirnya runtuh.
“Kamu tidak sendiri lagi, Lani. Aku di sini…” bisik Afrain.
Tanpa banyak bicara, Afrain menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Lani dan satu lagi menyangga punggungnya.
Ia membopong tubuh Lani perlahan namun penuh perlindungan.
Lani tidak melawan. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Afrain.
Langkah Afrain menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Beberapa perawat yang menunggu di bawah rooftop segera membukakan jalan dan menuntun mereka kembali ke kamar perawatan.
Di lorong sunyi itu, hanya suara langkah kaki Afrain yang bergema.
Di balik lengannya, Lani yang hancur kini berada dalam dekapan seseorang yang sungguh peduli.
Setibanya di ruang perawatan Afrain membaringkan Lani dengan hati-hati, lalu duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan kecil yang masih gemetar.
“Mulai sekarang, kamu tidak sendiri. Aku akan ada di sini, setiap hari,” ucap Afrain penuh ketulusan.
Lani menatap wajah Afrain sambil mengangguk kecil
Tak berselang lama perawat kembali masuk ke ruang perawatan.
“Saya akan pasang kembali selang infusnya, ya, Bu Lani,” ucap perawat itu lembut, berusaha membuat suasana tetap tenang.
"Iya, Sus," ucap Lani.
Afrain berdiri di sisi tempat tidur, menggenggam tangan Lani yang bebas, memberi kekuatan dalam diam.
Perawat mulai bekerja membersihkan area luka di pergelangan tangan dengan alkohol, lalu dengan gerakan profesional dan penuh kehati-hatian, ia kembali memasukkan jarum infus ke nadi Lani.
Cairan dari kantung infus mulai mengalir, membawa ketenangan bagi tubuh yang kelelahan dan hati yang hancur.
“Semua sudah aman sekarang, Lani,” bisik Afrain lirih.
Ia menatap wanita yang ia tahu betul telah berjuang melewati badai yang begitu besar.
Lani mengalihkan pandangan ke arah Afrain. Tak ada kata yang ia ucapkan.
Tapi air matanya menetes pelan bukan karena sakit, tapi karena pelan-pelan, ia merasa diselamatkan.
Selesai memasang infus, perawat meninggalkan ruangan dengan tenang, membiarkan dua jiwa itu saling menenangkan di keheningan malam yang mulai berlalu.
Jam menunjukkan pukul enam pagi dimana matahari sudah bersinar terang. Dan, Lani masih memejamkan matanya.
Lani tertidur pulas dengan wajahnya masih pucat namun tidak lagi dibalut kegelisahan.
Afrain duduk di sisi kursi dekat tempat tidur, memandangi wajah Lani yang lelap.
Ada perasaan bersalah, campur aduk dengan luka lama yang perlahan mencuat ke permukaan.
Ia ingin tahu, seberapa dalam luka yang ditanggung Lani selama ini.
Pelan-pelan, Afrain mengambil ponsel Lani yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur.
[Jangan pura-pura nggak tahu. Alex sudah milikku sekarang. Mandul itu memang nggak pantes dipertahankan]
Afrain menggulir layar, membuka riwayat pesan, galeri foto, dan catatan yang tersimpan.
Ia terdiam lama saat melihat isi rekaman luka di sana—foto pesan-pesan kasar dari keluarga Alex, makian dari Sisil dan Dimas, bahkan catatan harian Lani yang ditulis dengan hati teriris.
Hari ini aku mencoba lagi, Mas. Masih belum berhasil. Tapi aku akan tetap berusaha. Karena aku percaya, cinta kita pantas diperjuangkan…
Afrain mengepalkan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah yang luar biasa hebat kepada Alex dan keluarganya.
"Lani, kenapa kamu diam saja selama ini?" bisiknya pelan.
Ia menyentuh layar perlahan, menatap foto pernikahan Lani dan Alex yang tersimpan di galeri.
Kemudian ia menghapus pesan kejam dari Mira satu per satu.
“Aku tidak akan biarkan kamu terluka lagi. Kali ini, aku yang akan berdiri di depan kamu, bukan hanya melihat dari jauh.”
Afrain menaruh kembali ponsel di tempat semula.