Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Melamar Aira
"Bapakmu memang seram, Ra. Tapi kehilangan kamu lagi ... jauh lebih menyeramkan buat ku," ucap Teddy tanpa jeda.
Aira mencabik memajukan bibirnya hingga membulat sempurna. Melihat bibir itu, tanpa sadar jakun Teddy naik turun. Padahal, bibir Aira terlihat kering dan pecah-pecah.
'Sepertinya, rasanya manis sekali,' batin Teddy yang mulai salah fokus.
"Om itu ngomong apa sih? Sakitnya pindah dari kepala merambat ke dalam otak ya?" semprot Aira ketus, berusaha menutupi detak jantungnya yang sudah berdentang mirip bedug magrib. Wajah pucatnya mendadak merona merah sampai ke telinga.
Teddy berdehem pelan, buru-buru memalingkan wajahnya sejenak demi mengusir pikiran "liar" yang mendadak melintas di kepalanya akibat bibir mungil yang membulat itu. Pria itu meletakkan bantal yang ditangkapnya tadi ke kursi, lalu kembali menatap Aira dengan intens.
"Saya serius, Anak Kecil. Setahun ini saya cari kamu ke mana-mana di ibu kota setelah kamu mendadak menghilang dari bumi. Taunya sudah terbang ke sini," ucap Teddy, suaranya sedikit rendah tetapi menuntut sebuah jawaban.
Aira mendengus, bersedekap dada dengan angkuh walau badannya masih lemas. "Buat apa Om mencariku sampai ke ujung dunia ini? Kontrak hubungan pura-pura kita kan udah selesai. Mending Om fokus dulu deh, sama masa depan. Jangan melihat ke belakang mulu. Nanti kepentok, kan sakit!" Aira memutar bola matanya, kali ini rasa kesal itu benar-benar tak sanggup lagi ia tahan.
Teddy hampir saja mendengus. Gadis di depannya ini benar-benar tidak tahu atau pura-pura polos?
"Akui saja, sebenarnya kamu menyukai ku, kan?" tanya Teddy langsung merasuki dua bola mata Aira.
Aira terkesiap. Pertanyaan frontal itu bagaikan anak panah yang melesat tepat sasaran, menembus dinding gengsinya yang kokoh. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di dalam dadanya.
Namun, bukan Aira namanya jika langsung menyerah dan mengaku kalah.
"Dih! Pede banget jadi orang!" elak Aira dengan suara yang sengaja dicemprengkan demi menyembunyikan getaran gugup. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, enggan membiarkan Teddy membaca binar kepanikan di matanya. "Siapa juga yang suka sama Om-Om kaku, galak, dan suka potong gaji karyawan? Nggak masuk kriteria ya, maaf!"
Teddy tidak mundur. Alih-alih menjauh, pria dewasa itu justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengikis jarak hingga aroma maskulin khas tubuhnya kembali mendominasi indra penciuman Aira. Sudut bibir Teddy terangkat tipis, membentuk seringai asimetris yang tampak sangat berbahaya bagi kesehatan jantung Aira.
"Kalau tidak suka, kenapa wajahmu memerah sampai ke leher begitu, Anak Kecil?" pancing Teddy dengan suara baritonnya yang rendah dan serak.
"Ini ... ini karena kamarnya panas! AC VIP rumah sakit ini rusak kali!" kilah Aira asal, tangannya bergerak kikuk mengipasi lehernya sendiri, padahal suhu di dalam ruangan itu sebenarnya sangat dingin.
Melihat tingkah menggemaskan gadis di depannya, Teddy menarik napas panjang. Keberadaan kedua orang tua Aira di dalam ruangan ini sebagai alarm pengingat bahwa ia harus bergerak cepat. Sebelum ayah Aira benar-benar menyeret gadis ini pulang ke kampung halaman dan menguncinya di sana, untuk selamanya.
Teddy mendadak membalikkan badannya menghadap Junet dan Hamidah. Dengan langkah tegap dan tatapan mata yang tak goyah sedikit pun, ia bersuara dengan lantang.
"Pak Junet, Bu Hamidah," ucal Teddy, memotong perdebatan para orang tua.
Semua orang di dalam kamar VIP 401 seketika menoleh, termasuk Tuan Wijaya yang langsung memicingkan matanya penuh minat.
"Saya tidak main-main dengan ucapan saya. Hari ini, di depan Bapak dan Ibu sekalian... saya, Teddy Brian Wijaya, ingin melamar putri bungsu Anda, Aira, untuk menjadi istri saya."
BARRR!
"Apa katamu? Melamar putri kami?" Dengan mata nyalang, Junet berkali-kali menatap Teddy dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sedangkan Aira mengerutkan kening menutup mulut tak menduga hal ini akan terjadi.
Namun, Junet menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia pun menyeret putrinya dengan wajah merah tanpa satu patah kata pun.
Tiga Hari Kemudian ...
Di tengah hamparan perkebunan sawit yang luasnya tak bersudut, berdiri sebuah rumah megah tampak begitu mencolok. Arsitekturnya sangat mewah, lengkap dengan deretan mesin outdoor AC yang berjejer di dinding, menandakan kesejukan yang begitu nyaman di antara area perkebunan yang panas.
Namun, ketegangan malam ini justru terjadi di area teras luar yang berlantai granit mengilap.
Aira mengintip dari balik tirai jendela kamarnya di lantai dua yang sejuk. Jantungnya bertalu-talu. Di luar sana, tepat di teras luas dekat pintu utama yang bermaterial kayu jati ukiran Jepara seharga ratusan juta, Teddy sedang duduk bersila di atas lantai dingin tanpa alas apa pun. Kemeja kasualnya sudah mulai kusut, plester medis masih menempel di pelipisnya, dan angin malam perkebunan mulai menusuk kulitnya.
"Kamu betul-betul keras kepala ya, Anak Muda!" bentak Junet dari ambang pintu utama. Bang Junet berdiri berkacak pinggang dengan sandal Swallow hijau legendarisnya yang tampak sangat kontras di atas lantai granit mewah itu.
"Sudah saya bilang di rumah sakit kemarin, anakku tidak akan saya nikahkan dengan kamu! Lahan sawitku juga tidak akan kami jual! Sekarang kamu malah nekat menyusul ke pelosok ini? Kau mau apa lagi?!"
Teddy mendongak sejenak. "Saya ke sini bukan untuk membeli lahan Anda, Pak Junet," ucap Teddy tenang, suaranya berat dan mantap. "Saya ke sini untuk membuktikan kata-kata saya di rumah sakit. Saya ingin memperistri putri Anda, bukan menginginkan tanah Anda."
"Halah! Omong kosong!" semprot Hamidah dari balik punggung suaminya, ikut memanasi suasana sembari meperbaiki posisi daster sutranya.
"Paling besok pagi kamu sudah menangis minta pulang ke Jakarta karena tak tahan digigit nyamuk di area kebun sawit ini!"
Teddy hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu, izinkan saya tinggal di sini sampai Pak Junet percaya. Saya cukup tidur di teras luar ini saja."
"Oh, kamu menantangku ya? Bagus! Tidurlah di situ sampai kulitmu habis diisap nyamuk malam! Jangan harap saya kasih bantal atau karpet ya!" seru Bang Junet ketus, lalu menarik istrinya masuk dan membanting pintu jatinya dengan keras.
BRAAK!
Suasana luar rumah langsung hening, menyisakan deru angin malam yang bergesek dengan pelepah sawit di kejauhan.
Aira yang melihat itu dari lantai atas langsung dilanda rasa panik sekaligus kasihan. 'Gila saja! Masa dia mau menginap di teras terbuka?'
Pelan-pelan, setelah memastikan bapak dan ibunya masuk ke kamar utama mereka, Aira mengendap-endap turun melalui tangga belakang. Ia membuka jendela kaca besar di area ruang tamu samping yang berbatasan langsung dengan teras luar.
"Psst! Om! Om Teddy!" bisik Aira setengah mendesis dari celah jendela.
Teddy yang sedang membersihkan debu di celananya spontan menoleh. Melihat kepala Aira menyembul dari balik jendela dengan wajah panik yang menggemaskan, sudut bibir Teddy terangkat.
"Kenapa, Anak Kecil? Kamu mau membukakan pintu untuk calon suamimu?" goda Teddy, sengaja merendahkan suaranya agar tidak terdengar sampai ke dalam istana sawit itu.
"Calon suami pala lu peang!" umpat Aira dengan wajah memerah menahan malu. "Om itu gila ya? Di luar sini kalau malam dinginnya menusuk tulang, belum lagi nyamuk sawit itu galak-galak! Mending Om balik ke hotel di kota, cari mati namanya kalau tidur di teras begitu!"
Teddy bangkit berdiri, melangkah mendekati jendela tempat Aira menyembul. Pria itu mencondongkan tubuhnya yang tegap, menatap Aira dari jarak dekat di bawah temaram lampu gantung kristal teras.
"Saya kan sudah bilang di rumah sakit. Kehilangan kamu jauh lebih menyeramkan dibanding apa pun," bisik Teddy intens, manik matanya mengunci mata Aira dengan lekat.
"Jangankan tidur di teras granit ini, tidur di tengah kebun sawitmu pun akan saya lakukan kalau itu bisa membuat bapakmu sadar kalau saya tidak main-main."
Aira langsung bungkam. Jantungnya kembali melakukan lompatan ekstrem. Sialan, pria gamon ini kembali membuat debaran jantungnya semakin nyata!
*bersambung*
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
tinggal dikit lagi aku padamu
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭