Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
(Flashback H-40 sebelumnya)
Taksi yang kunaiki berhenti perlahan di depan rumah keluarga Roux yang begitu besar dan mewah. Aku tidak langsung turun, bahkan tanganku masih menggenggam kotak kecil di pangkuan, terlalu erat hingga ujung jariku terasa sedikit dingin. Lampu-lampu taman menyala lembut di sepanjang jalan masuk, menerangi bangunan besar di depanku dengan cahaya yang tenang, hampir tak tersentuh oleh keramaian dunia luar.
Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku tahu, bahwa begitu aku melangkah keluar dari mobil ini, tidak ada lagi yang bisa ditarik kembali.
'Aku bisa saja mundur sekarang…'
Pikiranku berbisik pelan. Aku bahkan bisa meminta sopir itu untuk berbalik arah, dan kembali ke tempat yang lebih aman, lebih sederhana, dan lebih tidak menyakitkan. Namun aku hanya menarik napas dalam.
'…tapi hatiku sudah terlalu jauh melangkah,' batinku lagi.
Aku pun akhirnya membuka pintu taksi perlahan. Di luar, udara malam langsung menyambutku dingin dan jujur. Aku berdiri sejenak, merapikan gaunku secara refleks, lalu melangkah menuju pintu utama kediaman keluarga Roux dengan langkah yang kutahan agar tetap stabil.
Saat ini, setiap langkah terasa seperti gema kecil di dalam dadaku. Aku menekan bel dengan tangan sedikit gemetar. Dan beberapa detik kemudian, pintu di depanku akhirnya terbuka. Dan di sana, ia sudah berdiri. Sarah Roux.
Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya, juga tidak ada kebingungan. Seolah kehadiranku memang sudah ia nantikan sejak awal. Aku memang sudah menghubunginya saat dalam perjalanan tadi, memberinya kabar bahwa aku akan datang. Tapi, tetap saja, reaksinya yang tenang dan begitu hangat sungguh di luar bayanganku.
Ia tersenyum, begitu lembut, hangat, dan jelas tidak dibuat-buat. “Hazel… aku senang kau datang.” katanya, lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya.
Suara itu tidak terdengar begitu hangat, tidak seperti sambutan yang terdengar kaku dan sekadar formalitas. Ada sesuatu di dalamnya yang terasa tulus, dan aku bisa merasakannya. Aku sempat terdiam sepersekian detik, mungkin karena tidak mengira akan disambut seperti ini.
“Terima kasih, Nyonya Roux. Karena sudah mengijinkanku berkunjung malam ini,” jawabku pelan. "Saya membawakan beberapa bingkisan, semoga Anda menyukainya," lanjutku, seraya memberikan bingkisa n tersebut pada Sarah.
Ia sedikit menggeleng, lalu menerima bingkisan itu. “Wah, terima kasih, Hazel. Aku pasti akan menyukainya. Ah benar, panggil saja aku Sarah.”
Aku pun sontak menggangguk untuk mengiyakan permintaannya, sebelum akhirnya melangkah masuk. Di dalam rumah besar milik keluarga Roux, kehangatan langsung menyelimuti tubuhku. Bukan hanya dari suhu ruangan, tapi dari suasana yang terasa tenang, teratur, dan entah mengapa, tidak menekan.
Namun anehnya, jantungku tidak ikut tenang. Tubuhku rasanya masih menegang. Bukan karena tempat ini, juga bukan karena kehadiran Sarah. Tapi karena satu orang yang belum kulihat, yaitu Mason Roux.
Kami berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa besar berwarna krem yang tampak elegan. Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang membawa nampan berisi teh, lalu meletakkannya dengan gerakan yang rapi sebelum pergi tanpa suara.
Aku duduk di sofa dengan punggung tegak, berusaha menjaga diriku tetap tenang meski jari-jariku masih terasa dingin. Sementara Sarah duduk di seberangku. Ia tidak langsung berbicara, hanya menatapku sejenak, seolah sedang membaca sesuatu yang bahkan belum sempat kuucapkan. Dan entah mengapa, aku tidak merasa dihakimi, melainkan hanya diperhatikan.
Teh di depanku masih mengepulkan uap tipis. Aku mengangkat cangkir itu perlahan, hanya untuk memberi diriku sesuatu untuk dilakukan.
“Pasti tidak mudah datang ke sini, setelah apa yang Mason katakan,” ucap Sarah akhirnya. Aku tidak terlalu terkejut, sebab aku memang sudah menceritakan apa yang terjadi padaku dan Mason malam itu.
Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa Sarah akan membicarakan hal itu untuk mengawali percakapan kamu malam ini. Meski begitu, nada suaranya terdengar lembut, tidak menusuk, dan tidak menekan. Melainkan hanya memahami. "...tapi kenapa kau tetap memilih jalan ini, Hazel?"
Aku menurunkan cangkir itu perlahan. Ada jeda kecil sebelum aku menjawab. “Karena kemudahan tidak selalu membawa kita ke tempat yang tepat…” kataku pelan.
"Bahkan setelah Mason menolakmu?", tanyanya.
"Ya. Sebab, penolakan bukan akhir, jika seseorang belum mengenal apa yang sudah ia tolak."
Aku mengangkat pandanganku, lalu menatapnya. “Selain itu, saya sudah memilih untuk menerima perjodohan ini. Jadi, saya akan bertanggung jawab hingga akhir dengan pilihan saya.”
Tidak ada yang berubah drastis di wajahnya. Namun aku melihat sesuatu di matanya. Sebuah kilasan kecil yang sulit dijelaskan, tapi tampak seperti pengakuan diam-diam. Lalu, Sarah tersenyum tipis, seolah jawaban itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah lain—cukup berat, tapi tidak tergesa. Aku pun menoleh. Hingga akhirnya, kulihat seorang pria masuk ke dalam ruangan dengan sikap tenang. Wajahnya tampak tegas, namun tidak keras. Tatapannya langsung jatuh padaku. “Selamat malam, Hazel,” ucapnya.
Aku segera berdiri. “Selamat malam, Tuan Roux.”
Ia mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis. Tidak lebar, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih ringan. Aku pun kembali duduk, dengan sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Dan percakapan kemudian mengalir dengan cara yang tidak pernah kuduga. Ringan, tidak penuh tekanan, dan tidak ada pertanyaan yang terasa seperti jebakan.
Kami berbicara tentang hal-hal sederhana, seperti obrolan tentang keluargaku, kegiatanku, dan beberapa cerita ringan yang entah bagaimana membuat waktu berjalan tanpa terasa. Dan untuk beberapa saat, aku bahkan hampir lupa alasan utama aku berada di sini. Namun itu hanya berlangsung hingga suara pintu terbuka terdengar dari kejauhan, diikuti suara langkah kaki mendekat.
Aku tahu itu bahkan sebelum aku menoleh. Tubuhku menegang tanpa sadar dan jantungku berdetak lebih cepat. Aku sontak mengangkat kepala perlahan. Dan di sana, ia berdiri. Mason Roux.
Langkahnya terhenti begitu melihatku. Hingga akhirnya keheningan menyelimuti ruangan itu, seolah seluruh ruangan ikut menahan napas. Lalu, tatapan kami pun bertemu. Dan dalam satu detik itu, semua yang tadinya terasa hangat, kini mendadak runtuh perlahan.
“…Hazel.”
Namaku keluar dari bibirnya dengan nada rendah. Terdengar cukup dingin, tidak keras dan tidak kasar. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku terasa jatuh.
Ia berjalan mendekat beberapa langkah, lalu berhenti. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya langsung, tanpa perlu berbasa-basi.
Aku pun menelan saliva perlahan. Semua yang sudah kusiapkan di kepalaku entah bagaimana mendadak menghilang begitu saja. Namun aku tetap menatapnya. “Aku hanya ingin berkunjung.” , jawabku, hanya itu. Tidak ada penjelasan panjang atau pun pembelaan yang ingin kusampaikan. Dan justru karena itu, aku bisa melihat sesuatu berubah di wajahnya, sekilas dan sangat tipis, namun tetap ada.
Beruntung Sarah bersuara sebelum Mason sempat melanjutkan. “Hazel adalah tamu kita, Mason.” Nada suaranya tetap lembut, tapi cukup untuk menghentikan apa pun yang ingin ia katakan.
Dan Mason tidak menjawab. Ia hanya menarik napas pelan, lalu duduk di kursinya tanpa menatapku lagi. Dan sejak saat itu, semuanya berubah.
Kami duduk di satu meja, dengan jarak di antara kami yang tidak lebih dari beberapa langkah. Namun rasanya seperti ada sesuatu yang memisahkan kami jauh lebih dalam dari itu.
Sementara itu, percakapan tetap berjalan. Rowan sesekali berbicara, Sarah menanggapi, dan aku ikut masuk di antara mereka dengan jawaban-jawaban yang berusaha terdengar tetap tenang. Namun Mason, ia hampir tidak berkata apa-apa, selain hanya diam. Sesekali ia menjawab singkat jika ditanya, lalu kembali tenggelam dalam keheningan yang seolah sengaja ia bangun sendiri.
Aku bisa merasakan kehadirannya, terlalu jelas dan terlalu dekat. Namun di saat yang sama, ia terasa seperti tidak pernah benar-benar ada di sana. Aku menatap piringku, dan mencoba menenangkan diriku sendiri. Namun setiap detik terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana. Yang kutahu, ketika aku akhirnya berdiri, napasku terasa sedikit lebih lega, sekaligus lebih kosong.
Hingga akhirnya, malam sudah semakin larut, dan aku berpamitan dengan sopan. Sarah tersenyum padaku, sembari memelukku hangat. “Datanglah lagi, Hazel. Kapanpun.”
Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Sarah.”
Namun sebelum aku benar-benar pergi, sebuah suara menghentikanku.
“Hazel!”, serunya.
Aku pun sontak menoleh, menatap Mason yang sudah berdiri tidak jauh dariku. Ia tidak menunggu jawaban, tapi juga tidak meminta izin. Ia hanya berjalan melewatiku. Dan tanpa sadar, aku mengikutinya.
Kami berhenti di lorong yang lebih sepi, dimana tidak ada siapa pun di sana, selain hanya kami berdua. Ia berbalik menghadapku, dengan tatapan yang lebih tajam dan lebih jujur. “Kau tidak seharusnya datang.”
Aku pun sontak menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, malam itu aku tidak mencoba menyangkalnya. “Aku tahu.”
Ia terlihat sedikit terkejut. Namun cukup untuk membuatku yakin bahwa ia tidak mengharapkan jawaban itu. “Lalu kenapa kau tetap datang?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar mendengarkan.
“Karena aku ingin mengenalmu lebih jauh. Dan kita bisa saling mengenal lebih dalam, sebelum kau benar-benar bisa menolakku.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Dan begitu mengucapkannya, aku bisa merasakan dadaku bergetar pelan. Mason tidak langsung menjawab, melainkan hanya menatapku dalam dan lebih lama dari sebelumnya.
“Ini tidak akan mengubah apa pun,” katanya akhirnya.
Nada suaranya kembali dingin. Namun tidak setajam tadi. “Aku tidak datang untuk mengubahmu,” jawabku pelan.
Aku menarik napas sebentar. “…aku hanya tidak ingin pergi sebelum benar-benar mencoba.”
Hening pun menyusup di antara kami. Dan kali ini rasanya lebih panjang dan lebih berat. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Dan entah mengapa, itu justru terasa lebih berarti daripada penolakan apa pun.
Aku menunduk sebentar, lalu melangkah melewatinya. Tidak ada tangan yang menahanku, juga tidak ada suara yang memanggilku kembali. Aku berjalan keluar dari lorong itu dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari saat aku datang, namun tidak goyah.
Taksi yang sudah kupesan beberapa saat yang lalu tampak sudah menungguku di luar. Aku masuk ke dalamnya tanpa banyak bicara, hingga akhirnya pintu pun tertutup. Tidak lama setelah itu, mobil mulai bergerak, menyusuri jalanan yang dipenuhi lampu-lampu kota yang kembali melintas di luar jendela, sama seperti sebelumnya.
Namun kali ini, entah bagaimana terasa berbeda. Aku menyandarkan kepala perlahan, lalu menatap pantulan samar diriku sendiri di kaca. 'Semua orang membuka pintu untukku…' , pikiranku berbisik pelan.
Aku menutup mata sejenak. '…kecuali dia' , lanjutku.
Ada sebuah ruang kosong yang tidak bisa langsung kuisi. Namun anehnya, aku tidak merasa ingin pergi
Aku membuka mata perlahan, menatap jalan di depan. 'Dan entah mengapa…'
Lalu, kuhembuskan nafasku dengan pelan. '…aku tetap ingin tinggal.'