"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
Malam memeluk Jakarta dengan dingin yang tak biasa.
Di dalam kamar yang hening, Zaid berdiri di dekat jendela, membiarkan matanya menyapu halaman rumah yang kini dijaga lebih ketat.
Bayang-bayang pesan singkat tadi sore masih menari-nari di benaknya.
Siapa pun penyokong dana di belakang Raka, orang itu memiliki dendam lama pada Al-Idrus bukan sekadar gesekan antargeng motor di jalanan.
Genggaman lembut di pinggangnya memutus pusaran pikiran Zaid.
Khadijah menyandarkan kepalanya di punggung tegap sang suami.
"Mas Zaid melamun lagi,"
bisik Khadijah pelan.
"Sebaiknya Mas istirahat.
Wajah Mas terlihat sangat lelah."
Zaid berbalik, menangkup kedua pipi istrinya dengan jemarinya yang hangat.
Dilihatnya mata bening yang selalu memancarkan kejujuran itu.
Rasa bersalah mendadak menyelinap ia telah berjanji di Jogja untuk tidak lagi menyimpan rahasia, namun situasi ini terlalu berisiko jika diumbar tanpa bukti nyata.
"Aku hanya memikirkan persiapan pendaftaran ujian advokat minggu depan, Khadijah,"
Zaid beralasan, mengukir senyum tipis yang dipaksakan.
"Dan soal rencana kita membuka kantor hukum sendiri."
Khadijah menatap Zaid lekat-lekat.
Intuisi seorang istri memberitahunya bahwa ada retakan dalam kata-kata suaminya, namun kesabarannya memilih untuk memberi ruang.
"Mas Zaid selalu bisa mengandalkan saya untuk mendoakan setiap langkah Mas.
Tapi tolong, jangan biarkan pikiran Mas bertarung sendirian."
"Aku tahu, Istriku.
Terima kasih,"
balas Zaid, mengepalkan jemarinya di balik punggung Khadijah.
_Maafkan aku, Khadijah.
Kali ini aku harus memastikan dulu siapa musuhnya sebelum menyeretmu kembali ke dalam ketakutan,_
batin Zaid penuh tekad.
Keesokan harinya, Zaid mengendarai mobilnya menuju sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut Jakarta Pusat.
Tempat itu sengaja dipilih oleh Sherly lewat pesan singkat yang ia kirim secara rahasia tadi malam.
Haikal sudah disiagakan di jarak aman luar lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan buruk.
Zaid melangkah masuk ke kafe yang remang-remang itu.
Di sudut paling pojok, duduk seorang wanita yang mengenakan kacamata hitam besar dan mantel longgar.
Sherly tampak kurus, tangannya yang memegang cangkir kopi bergetar hebat.
Zaid duduk di hadapannya tanpa bersuara.
"Langsung ke intinya, Sher.
Siapa orang-orang yang nyariin lo?"
Sherly tersentak, menurunkan kacamata hitamnya sedikit untuk menatap Zaid.
Lingkaran hitam di bawah matanya menegaskan ketakutan yang mencekam.
"Zaid... aku pikir setelah Raka ditangkap, semuanya selesai,"
bisik Sherly dengan suara parau.
"Tapi dua hari lalu, ada dua pria berpakaian setelan jas rapi mendatangi apartemenku.
Mereka bukan anak jalanan, Zaid.
Cara bicara mereka halus, tapi sangat mengancam."
"Apa yang mereka tanyakan?"
cecar Zaid dingin.
"Mereka mau tahu seberapa banyak hal yang Raka ceritakan ke aku sebelum dia tertangkap.
Terutama soal... Konsorsium,"
kata Sherly, matanya liar memperhatikan sekeliling.
Zaid mengernyit.
"Konsorsium?"
"Raka itu cuma pion, Zaid!
Dia dapat pasokan dana, senjata, dan informasi jalur polisi dari seseorang yang dipanggil 'Pak Utama'.
Pak Utama ini memanfaatkan geng Macan Hitam buat bikin kekacauan di wilayah Jakarta Barat dan Selatan buat ngalihin perhatian polisi dari bisnis pencucian uang dan penyelundupan mereka!"
Jantung Zaid berdegup kencang.
Ini bukan lagi soal bentrok jalanan.
Raka hanyalah alat yang dimanfaatkan oleh sindikat tingkat tinggi.
"Lalu kenapa mereka mengincar keluarga Al-Idrus?"
tanya Zaid, nadanya kian memburu.
Sherly menunduk, menyapu air mata yang hampir luruh.
"Karena... sebelum Kak Farhan meninggal dalam kecelakaan itu, Kak Farhan sempat mengumpulkan bukti tentang tindak pidana pencucian uang yang melibatkan yayasan berskala besar di Jakarta.
Dan Pak Utama menduga, dokumen bukti itu sekarang ada di tangan Abi Umar... atau disimpan oleh Khadijah."
Kebenaran itu menghantam Zaid seperti pukulan telak di dada.
Kecelakaan tragis yang menewaskan Bang Farhan... apakah itu benar-benar kecelakaan murni, ataukah sabotase terencana yang dirancang oleh orang-orang ini?
Zaid mencengkeram tepi meja hingga kayu tebal itu berderit.
Rahang nya menegang hebat, mata elangnya memancarkan kilat amarah yang selama ini tak pernah tertandingi.
"Farhan... mati bukan sekadar karena takdir?"
suara Zaid berubah parau dan berbahaya.
"Aku nggak tahu pasti, Zaid!"
teriak Sherly pelan, panik.
"Tapi mereka mencari dokumen itu!
Mereka pikir Raka gagal mengambil dokumen itu dari Khadijah karena lo selalu menghalangi.
Sekarang setelah Raka tumbang, mereka sendiri yang akan turun tangan!"
Sherly meraih tasnya dengan terburu-buru, berdiri dari kursi.
"Aku udah kasih tahu semuanya.
Aku mau keluar dari kota ini hari ini juga.
Zaid... jaga istri lo.
Orang-orang ini jauh lebih berbahaya dari sepuluh Raka digabungkan!"
Sherly setengah berlari meninggalkan kafe, meninggalkan Zaid yang terpaku kaku di kursinya.
Dunia yang dipikirnya sudah aman kini runtuh kembali, menyingkap tabir kegelapan yang jauh lebih raksasa dan berdarah.
Zaid keluar dari kafe dengan langkah lebar.
Di luar, Haikal langsung menghampirinya dari samping mobil.
"Gimana, Zaid?
Sherly ngomong apa?"
tanya Haikal cemas melihat ekspresi wajah sahabatnya yang luar biasa pucat namun menyalakan aura membunuh.
"Mobil.
Sekarang,"
perintah Zaid singkat.
Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan sore, Zaid membeberkan seluruh pengakuan Sherly kepada Haikal.
Sahabatnya itu sampai hampir menginjak rem mendadak karena terkejut mendengar keterlibatan nama almarhum Habib Farhan dan indikasi kecelakaan yang direkayasa.
"Gila... ini udah masuk ranah kejahatan kerah putih, Zaid!"
seru Haikal dengan napas memburu.
"Kalau benar Bang Farhan pegang bukti itu, berarti Khadijah dalam bahaya besar tanpa dia sadari!"
"Panggil anak-anak bengkel yang paling bisa dipercaya,"
perintah Zaid, suaranya sangat dingin namun penuh perhitungan.
"Gue mau pengawasan dua puluh empat jam di sekitar rumah Abi, yayasan tempat Khadijah mengajar, dan kantor Abi.
Jangan sampai ada satu pun orang asing yang mendekat tanpa kita ketahui."
"Lo sendiri mau ke mana?"
"Gue mau bicara sama Abi,"
tegas Zaid.
"Gue butuh kebenaran tentang apa yang sebenarnya dikerjakan Bang Farhan sebelum dia meninggal."
Malam harinya, di dalam ruang kerja Habib Umar yang dipenuhi aroma minyak gaharu dan ribuan kitab tua, Zaid duduk berhadapan dengan ayahnya.
Suasana ruangan begitu hening, hanya terdengar detak jam dinding yang monoton.
"Abi,"
Zaid membuka suara dengan nada rendah namun mantap.
"Zaid mau tanya sesuatu soal Bang Farhan."
Habib Umar menghentikan jemarinya yang sedang membalik halaman kitab, mengangkat pandangannya menatap putra bungsunya.
"Soal apa, Zaid?"
"Kecelakaan Bang Farhan dua tahun lalu... apa Abi pernah merasa ada yang janggal?"
Pandangan Habib Umar seketika meredup.
Ada kilat kepedihan dan rahasia tua yang berusaha disembunyikan di balik gurat-gurat keriput di wajah sang habib.
Beliau menarik napas dalam-dalam, meletakkan kacamata bacanya di atas meja.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu, Zaid?"
"Karena Raka bukan dalang utamanya, Bi,"
Zaid memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata ayahnya.
"Raka cuma pion yang dibayar untuk mengacaukan hidup Zaid dan Khadijah.
Ada orang bernama 'Pak Utama' yang mencari dokumen hukum yang pernah disusun Bang Farhan sebelum meninggal.
Dokumen tentang pencucian uang."
Habib Umar tertegun.
Tangan tua beliau tampak sedikit gemetar di atas meja kayu.
"Jadi... mereka akhirnya bergerak,"
bisik Habib Umar lirih, suara yang sangat jarang terdengar dari sosok ayah yang biasanya tegap dan berwibawa itu.
"Abi tahu?!"
Zaid terperanjat, berdiri dari kursinya.
"Abi tahu soal dokumen itu?!"
"Duduk, Zaid!"
perintah Habib Umar tegas, namun ada nada kepasrahan di dalamnya.
Zaid mengendalikan emosinya, kembali duduk dengan napas memburu.
Habib Umar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kakakmu... Farhan... beberapa bulan sebelum kecelakaan itu, dia menemukan kejanggalan aliran dana alokasi bantuan sosial yang masuk ke yayasan milik keluarga kita.
Aliran dana itu datang dari perusahaan cangkang milik seorang pengusaha besar.
Farhan menelusurinya secara diam-diam karena dia tidak ingin nama baik keluarga Al-Idrus dimanfaatkan untuk kejahatan."
"Dan dokumen itu?"
cecar Zaid.
"Farhan menyimpannya di tempat yang sangat aman.
Beliau tidak pernah memberi tahu Abi di mana tepatnya,"
jawab Habib Umar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Beberapa hari sebelum akad nikahnya dengan Khadijah, Farhan bilang pada Abi bahwa jika terjadi sesuatu padanya, dokumen itu hanya bisa diakses oleh orang yang memegang 'kunci' yang ia titipkan."
"Kunci apa, Bi?"
Habib Umar menatap Zaid dengan pandangan dalam.
"Sebuah flashdisk terenkripsi yang disembunyikan di dalam sampul musaf Al-Qur'an kecil... Qur'an hafalan milik Khadijah."
Zaid terpaku di tempatnya.
Sepotong demi sepotong teka-teki yang selama ini membayangi hidup mereka kini terangkai utuh.
Wasiat Farhan, pernikahan terpaksa ini, hingga teror yang tak kunjung usai semuanya bermuara pada satu benda yang setiap hari berada di genggaman istrinya tanpa wanita itu sadari.
Khadijah tidak hanya menjadi sasaran dendam, tetapi ia adalah pemegang kunci dari sebuah rahasia besar yang sanggup meruntuhkan sebuah kekaisaran kejahatan di Jakarta.
Zaid keluar dari ruang kerja Abinya dengan langkah yang terasa sangat berat.
Ia berjalan menyusuri lorong rumah yang dingin, menuju kamarnya.
Saat pintu dibuka, pandangan Zaid langsung tertuju pada Khadijah.
Istrinya sedang duduk di atas sajadah dengan mukena putihnya, baru saja selesai menunaikan sholat Isya.
Di pangkuannya, terbentang sebuah Al-Qur'an kecil bersampul kulit hijau tua yang sedikit kusam Al-Qur'an hafalan yang tak pernah lepas dari jangkauannya sejak dari pesantren.
Khadijah menoleh, tersenyum begitu indah dan tulus menyambut kepulangan suaminya.
"Mas Zaid... sudah selesai bicara dengan Abi?"
Zaid menatap istrinya lama.
Rasa cinta, dorongan melindungi, dan amarah pada ketidakadilan bergejolak dahsyat di dalam dadanya.
Ia melangkah mendekat, berlutut di depan Khadijah, lalu meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya dengan sangat erat begitu erat seolah takut wanita di depannya akan sirnah diculik malam itu juga.
"Mas Zaid?
Ada apa?
Wajah Mas tampak pucat sekali,"
Khadijah mengusap pipi Zaid dengan lembut, matanya dipenuhi rasa cemas yang mendalam.
Zaid menatap mata bening Khadijah, lalu mengalihkan pandangannya pada Al-Qur'an di pangkuan istrinya.
"Khadijah..."
bisik Zaid, suaranya bergetar menahan tumpukan beban yang teramat berat.
"Mulai malam ini... kamu tidak boleh pergi ke mana pun tanpa aku.
Badai yang sesungguhnya... baru saja dimulai."
Khadijah menggenggam balik tangan suaminya, menatap Zaid dengan keteguhan seorang Hafizah yang siap menghadapi takdir apa pun bersama imannya.
"Selama tangan Mas Zaid tidak melepaskan tangan saya, saya tidak akan takut pada badai apa pun, Mas."
Di bawah remang lampu kamar, Zaid merengkuh Khadijah ke dalam pelukannya.
Perang melawan berandalan jalanan telah usai, namun kini Zaid Al-Idrus harus bersiap menghadapi iblis bertopeng jas rapi yang telah merenggut nyawa kakaknya dan kini mengincar cahaya hidupnya.