Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggemar Varren...
Kantin sekolah pagi itu jauh lebih ramai dari biasanya. Bisik-bisik para siswi terdengar di hampir setiap sudut.
"Itu dia..."
"Yang juara debat kemarin."
"Asli ganteng banget."
Varren yang baru saja mengambil nampan makan sama sekali tidak menyadari puluhan pasang mata sedang mengikutinya. Rambutnya yang sengaja diacak-acak liar, kancing kemeja atas yang dibiarkan terbuka, dan dasi yang dipasang miring—semua itu justru menambah daya tariknya di mata para siswi. Seragam biru tua dengan aksen emas itu dikenakannya dengan sempurna, meskipun dengan gaya yang sengaja dibuat berantakan.
Di belakangnya, Reja dan Tavian berjalan sambil melirik ke kanan-kiri.
"Ren, loe sadar nggak kalo banyak yang ngeliatin?" bisik Reja.
Varren mengangkat bahu acuh. "Biasa."
"Biasa aja loe," gumam Tavian menggeleng.
Mereka duduk di meja panjang di pojok kantin. Varren baru saja hendak menyuap nasi ketika sesosok perempuan mendekat.
"Varren.."
Varren menoleh menatap siapa yang memanggilnya. Bela mendekat dengan kotak makan di tangannya. Reja dan Tavian melirik perempuan itu kagum dan menggoda, beda dengan Sylas yang menatapnya dingin dari kejauhan.
"Kenapa Bel?" tanya Varren menduduki kursinya tenang.
Bela memberikan kotak bekal di tangannya kepada Varren. "Ini buat Varren. Jangan lupa dimakan yah, soalnya aku sendiri yang masak buat kamu." ujarnya malu-malu di hadapan Varren.
Varren berdehem melirik teman-temannya tidak enak. "Sorry yah Bel. Lain kali nggak usah bikin gue sarapan lagi." jelas Varren mengambil bekal itu dari Bela.
Sesungguhnya Varren serba salah. Jika dirinya terima maka Bela akan tambah suka padanya, tapi jika dirinya tidak terima Bela akan sangat malu. Sebagai sesama perempuan Varren tau bagaimana rasanya jika dipermalukan.
Bela menatap bekalnya yang diterima tersenyum lebar. "Hehe yah. Duluan yah Varren.." jelasnya segera melenggang pergi menjauh dengan penuh bunga melingkari dirinya. Semua orang menatap Bela dengan tatapan jengkel dan tidak suka.
Varren menghela napas pelan menaruh bekal di atas meja dan segera memakan makanan yang ia ambil tadi. Beda dengan Reja dan Tavian yang melirik Varren makan dengan tenang.
"Nih yah alasan kita jomblo. Soalnya yang cewek suka tu yang good looking. Kalo nggak yang kayak pak Bos serem-serem dingin, kalo nggak tu yang kayak Varren. Soft boy, pinter gitu." ujar Tavian menggerutu.
Reja mengangguk di tengah makannya. "Kalo kita?? Ganteng kagak. Pinter jauh. Boro-boro ditaksir. Mereka aja lihat kita kayak hama yang harus dijauh. Emang dunia tu selalu berpihak sama manusia-manusia good looking." ujarnya dengan penuh drama tersakiti.
Sylas hanya diam melirik keduanya yang ribut di mana pun mereka berada, lalu melirik Varren yang diam saja, tidak memakan bekal dari perempuan yang datang barusan.
"Ren loe nggak suka? Kasih kita aja. Kita belum makan juga." jelas Reja pada Varren semangat.
Varren mengunyah dan menggeser kotaknya. "Makanlah." ujar Varren.
Mereka bersorak heboh dan memakan bekal yang dibuat Bela. Varren tidak peduli, hanya makan dengan tenang.
"Kak Varren.."
Varren menoleh menatap siapa yang memanggilnya dengan sebutan "kak". Varren meliriknya dengan alis terangkat satu.
"Aku Livi temen SMP kakak. Kakak juara lomba debat bahasa Inggris kan? Aku bawa kado buat kakak. Selamat yah Kaa" ujarnya tersenyum malu-malu memberikan coklat.
Varren meliriknya merinding juga. Ia menerimanya dan mengangguk pelan. "Thanks yah." ujar Varren kepada Livi.
"Varren ini dari kita juga."
"Kak yang gue.."
Varren melebarkan mata melihat banyaknya gadis memberikan dirinya coklat dan buket, makanan snack dan susu.
"Biar gue bantu Ren. Biar kita bantu." pekik Reja dan Tavian kegirangan.
Varren meringis menatap banyaknya perempuan di sana.
Brak..
Semua terdiam menatap Sylas yang mengepak meja sangat kuat. Sylas menatap mereka dingin dan mengintimidasi. Bahkan para perempuan sudah mundur dan bubar dari Varren karena takut pada Sylas.
Sylas mendengus melihat banyaknya makanan dan juga kado di atas meja. Dirinya melirik Varren tak nafsu makan.
Varren mengusap lehernya yang tak gatal. "Sorry guys." ujar Varren merasa bersalah.
Sylas berdiri dari duduknya.
Reja dan Tavian ikut diam memeluk makanan-makanan yang mereka terima dengan anteng, melirik Sylas takut dan juga seperti anak kecil yang dimarahi orang tua. Sylas segera pergi meninggalkan Varren dan kedua temannya.
"Mana bos???" tanya Tavian tapi tak dijawab oleh Sylas. Tavian dan Reja hanya mengangkat bahu acuh.
Varren menghela napas pelan menatap gadis-gadis yang diam-diam meliriknya takut lalu melirik Sylas menunduk.
Tuktuk.
Varren melirik Reja yang menyolet lengannya dengan pelan. Varren berdehem meliriknya.
"Pak bos pasti jelos. Soalnya cuma loe doang yang dapet, dia nggak." jelasnya terkikik.
Tavian di sana hanya mengambil satu coklat paling besar. "Ini buat gue yah Ren? Upah buat kita bantuin loe nerima kado." ujar Reja.
Varren memijit pelipis pelan sembari berdehem.
"Pantasan Varren mau aja sekolah padahal lagi ngantuk, rupanya karena banyak yang ngasih gift. Kalo gue jadi Varren mah, hujan badai juga gue jabanin..!" ujar Reja semangat di sana kepada Varren. "Ren gue juga mau yah." ujarnya mengambil satu snack lain di atas meja.
Varren berdehem. "Buat kalian semua aja. Sekalian bawain ke kelas yah buat kita cemilin pas istirahat." ujar Varren mengambil dua coklat kesukaannya, segera pergi menjauh.
Reja dan Tavian menatap binar Varren menjauh. "Anjir. Nikmat mana yang kamu dustakan? Sylas sama Varren pembawa berkah dalam hidup kita Via.." ujar Reja di sana penuh binar.
Tavian mengangguk menatap Reja terkehek. "Kita akan mengabdikan hidup sama Sylas dan Varren biar hidup kita terpenuhi seutuhnya dan hidup sejahtera. Pokoknya gue parasit Varren, loe parasit pak Bos. Deal yah." ujar Tavian menjabat tangan Reja. Reja mengangguk dan menjabat tangan Tavian setuju.
---
Beda dengan Varren yang memasuki kelas tenang, menatap ada Sylas yang duduk di kursinya tenang memainkan ponsel. Sejenak ia melirik Varren tapi segera ia tatap HP-nya.
Varren menghela napas malas melihatnya. Ia memilih duduk di kelasnya tenang.
"Varren..!"
Varren melirik ke siswa yang datang mendekati Varren. Bukan hanya Varren, Sylas pun melirik perempuan yang datang dan berdecik pelan.
"Oh kenapa Gea?" tanya Varren kepada Gea, kakak tingkat sekaligus timnya lomba kemarin.
Gea melirik Varren dan tersenyum tipis. "Itu, pak Burhan nyuruh ke ruang dia, katanya kamu mau ikut lomba matematika juga??" tanyanya pelan.
Varren menghela napas pelan. "Nggak, gue nggak ikut dulu. Gue masih capek." jelas Varren menolak.
Mata Gea menatap Varren menelisik dalam.
"Tapi nama kamu udah didaftarin dan kamu setuju Ren." ujarnya kepada Varren pelan.
Varren menghela napas pelan. "Di sekolah ini yang pinter dan yang bidikmisi siapa yah?" tanya Varren kepada orang yang ada di kelasnya. Meskipun hanya separuh, tapi semua menatap Varren dengan bingung.
"Gue gue..!!!" satu perempuan menggunakan kacamata bulat yang tebal memegang buku matematika gugup menatap Varren yang menatapnya sekarang bingung.
Varren berdiri dan mendekati perempuan tersebut. Menatap nama dari anak bidikmisi.
"Elia." gumam Varren pelan. Tak disangka, Elia di sana gelagapan menutup dadanya.
"Nggak sopan." ujarnya pada Varren.
"Eh.." Varren di sana mengerjap pelan menatap Elia gugup. "Gue liat nama loe doang. Duh sorry." gumam Varren kepada Elia.
Elia merunduk dengan wajah memerah malu.
"Gue liat-liat loe suka matematika kan? Loe aja yang gantiin gue olimpiade matematika mau?" tanya Varren pada Elia tak mau lagi berbasa-basi.
Elia menatap Varren berbinar tapi sejenak meredup. "Tapi aku nggak pinter banget, dan aku kemarin dari sekolah negeri." ujarnya jujur.
Varren mengibaskan tangan pelan. "Lomba itu bukan menang yang dikejar, tapi pengalamannya."
Elia masih ragu. "Kalau aku gagal gimana?"
Varren tersenyum. "Ya gagal."
Elia bingung. "Emangnya nggak malu?"
Varren menatapnya dengan tatapan tenang. "Orang yang nggak pernah gagal itu orang yang nggak pernah nyoba."
Elia terdiam, meresapi kata-kata Varren. Matanya berbinar dengan rasa hormat yang baru.
"Dan semisal kalo loe juara atau berhasil, pasti nanti loe bakal diajak lomba lagi dan dapat duit." ujar Varren dengan membujuk.
Elia menatap Varren mengerjap pelan. "Baiklah," ujar Elia akhirnya. "Aku coba."
Varren mengangguk puas. "Bagus."
Dari kejauhan, Sylas yang diam memperhatikan mengerutkan keningnya.
" kenapa ada orang bego kayak lu sih " dengus nya membatin
Bersambung...