NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Peringatan Madam

"Kenapa Mama membiarkan gembel ini masuk ke ruang keluarga?!" suara Raline menggema keras di seluruh ruangan.

Kemala yang duduk di hadapan Madam Eleanora langsung menegang. Tangannya refleks mencengkeram ujung gaun yang dikenakannya. Sementara itu, Bastian yang sejak tadi duduk sambil menatap tabletnya langsung mengangkat kepala. Wajah pria yang tadinya begitu tenang itu mengeras. Dalam satu gerakan, Bastian berdiri dari tempat duduknya.

"Cukup, Raline," suara Bastian rendah. Namun cukup membuat ruangan terasa dingin.

"Aku sudah bilang, jaga wibawamu," sambung Bastian yang sudah meletakkan tabletnya saat berdiri.

Raline tertawa sinis. "Wibawa?"

Tatapan wanita bergaun merah terang itu beralih ke Kemala.

"Kau menyuruhku menjaga wibawa sementara wanita seperti ini duduk di ruang Keluarga Rothmere?" serang Raline dengan emosi yang memuncak.

"Jaga ucapanmu." Terlihat wajah Bastian semakin mengeras.

"Oh, jadi sekarang aku bahkan tidak boleh berbicara jujur?" sindir Raline penuh kesinisan.

Bastian berjalan beberapa langkah mendekati Raline. Tatapan mata pria yang biasanya penuh wibawa itu menjadi tajam.

"Yang kau lakukan bukan berbicara jujur," tegur Bastian.

"Lalu?" sungut wanita yang berdiri congkak di atas sepatu hak tingginya.

"Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri," ucap Bastian begitu tegas.

Wajah Raline langsung berubah. "Mempermalukan diriku sendiri?"

"Ya," tukas Bastian singkat.

Bastian tak sedikit pun mengalihkan tatapannya. "Setiap hari kau membuat keributan."

"Kau membela gembel ini lagi?!" tuduh Raline kepada suaminya.

"Aku sedang memperingatkanmu."

"Kau selalu memperingatkanku!" sergah Raline sudah tak mampu menahan kesabaran.

"Karena kau tidak pernah belajar," ucap Bastian mempertegas peringatannya.

"Brengsek!" pekik Raline yang kian tak bisa mengendalikan diri.

"Raline," tegur Madam Eleanora yang sedari tadi minum teh karena bosan dengan pertengkaran Raline dan Bastian yang sudah cukup sering.

Untuk pertama kalinya sejak Raline masuk, wanita tua itu angkat bicara. Ruangan langsung hening. Bahkan Raline ikut terdiam. Madam Eleanora meletakkan cangkir tehnya perlahan. Namun justru ketenangan itu terasa lebih mengintimidasi daripada kemarahan.

"Ini ruang Keluarga Rothmere." Tatapan Madam yang sudah tak bisa menolerir lagi mengarah kepada Raline.

"Bukan pasar," lanjut wanita tua bersyal berudu itu. 

Raline menggertakkan gigi.

"Tapi Ma–"

"Cukup," suara Madam memotong tanpa memberi kesempatan.

Raline langsung membuang muka. Dada wanita bergaun mewah itu naik turun menahan emosi.

Di sisi lain, Kemala berharap dirinya bisa menghilang saat itu juga. Wanita polos itu sama sekali tidak nyaman menjadi sumber pertengkaran mereka.

Bastian menoleh ke arah Kemala. "Kemala."

Wanita kurus berbalut gaun sederhana itu langsung berdiri. "Iya, Pak?"

"Kembali ke kamarmu," perintah Bastian singkat.

Kemala sedikit terkejut. "Pak?"

"Kondisimu belum pulih sepenuhnya …" Bastian menatapnya sekilas. "Fokus pada kesehatanmu."

"Tapi–" 

"Tidak ada tapi," potong Bastian tegas. Nada suara Bastian tidak memberi ruang untuk membantah.

"Kamu masih perlu istirahat," lanjut Bastian kembali mengingatkan kondisi Kemala.

Kemala menoleh ke arah Madam Eleanora memastikan. Madam dari Keluarga Rothmere itu mengangguk.

"Ikuti perintahnya."

"Baik, Madam."

Kemala mengikuti kedua perintah baik dari Bastian maupun Madam Eleanora. Wanita berparas ayu itu membungkukkan tubuh sopan yang membuat rambut hitam lurus wanita itu jatuh perlahan dari bahunya.

"Permisi."

Kemala berjalan menuju pintu. Raline yang dari tadi membuang mukanya langsung menatap wanita dengan gaun sederhana itu langkah demi langkah. Tatapan yang sangat dingin dan penuh dengan penghinaan menyiratkan kebencian yang tergambar jelas di wajah Raline. Hingga pintu ruang Keluarga Rothmere kembali tertutup setelah kepergian Kemala masih tampak jelas wajah Raline yang hampir semerah gaun yang dikenakan.

Keheningan menyelimuti ruang Keluarga Rothmere. Bastian mengembuskan napas panjang. Rasa lelah mulai memenuhi kepalanya, bahkan jauh lebih lelah dibanding harus mengurus megaproyek yang sedang berjalan. Pertengkaran tanpa akhir dengan Raline benar-benar menguras energi Bastian. Pria yang sudah siap pergi kapan saja itu benar-benar kehilangan kesabaran.

"Aku harus ke kantor."

Suara Bastian memecah keheningan. Madam Eleanora mengangguk tanpa penolakan sama sekali.

"Pergilah."

Bastian mengambil tabletnya. Tatapan pria dengan setelan jas lengkap itu sempat beralih kepada Raline sesaat. Namun Bastian tak mengatakan apa pun lagi. Bastian mengenal istrinya terlalu baik. Bahkan ketika tak sedang marah pun, Raline tak mendengarkan siapa pun.

Langkah pria yang berirama teratur itu segera meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup. Kini hanya tersisa Madam Eleanora dan Raline.

"Duduk."

Satu kata dari Madam Eleanora terdengar seperti perintah mutlak. Raline yang awalnya masih berdiri akhirnya duduk dengan kasar di sofa. Wajah Nyonya Rothmere itu masih dipenuhi amarah.

Namun jauh di dalam hati wanita itu, Raline tahu. Ada alasan mengapa Bastian bisa mengabaikannya, tetapi tak akan sembarangan mengabaikan ibu Bastian itu. Madam Eleanora adalah sosok yang bahkan para direksi Rothmere masih segani. Berbeda dengan putranya yang masih memiliki batas moral dan prinsip, Madam Eleanora tidak segan melakukan apa pun di balik layar demi memastikan Keluarga Rothmere memperoleh hasil terbaik.

"Kau tidak nyaman dengan keberadaan Nathan."

Kalimat yang keluar dari wanita tua itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan .

Raline tertawa pendek. "Tidak nyaman?"

"Ya," timpal wanita tua yang memegang cangkir tehnya penuh wibawa.

"Siapa yang akan nyaman?" sindir Raline dengan air wajah yang begitu pekat.

Madam Eleanora tak bereaksi. Tatapan wanita tua itu tetap tenang. Madam justru meminum tehnya perlahan.

"Sejak awal aku tidak pernah menyembunyikannya." Raline menyandarkan tubuhnya.

"Aku tidak menginginkan anak itu," lanjut Raline sambil menghela napasnya saat tubuhnya bersandar di sofa mewah ruang keluarga Rothmere.

"Aku tahu," jawab Madam Eleanora kemudian meletakkan cangkir tehnya.

"Bagus," ujar Raline ketus.

"Tapi itu tidak mengubah apa pun." Kini Madam Eleanora kembali menatap menantunya.

Wajah Raline langsung mengeras. "Apa maksud Mama?"

Madam Eleanora menautkan jemari tangan yang di letakkan di paha kakinya yang sudah bersilang. 

"Aku sudah menjelaskan berkali-kali." Madam Eleanora menatapnya tenang. "Keluarga ini butuh penerus."

Raline mengembuskan napas kasar. "Masalahnya, itu bukan urusanku."

"Justru itu urusanmu."

"Tentu saja." Raline tertawa pendek.

"Jangan seperti itu."

"Lalu harus bagaimana?" Raline balik menatapnya. "Berpura-pura bahagia? Berpura-pura menginginkan semua ini?"

Madam Eleanora terdiam sejenak.

"Aku tidak meminta kau bahagia. Aku hanya meminta kau memahami posisimu."

Raline menggeleng.

"Posisiku?" ulangnya. "Aku menikah dengan putra Mama, bukan dengan perusahaan ini. Sayangnya, keduanya tidak bisa dipisahkan."

Ruangan kembali hening.

"Apakah kau tahu berapa banyak keluarga yang ingin melihat Keluarga Rothmere runtuh?"

"Tentu," jawab Raline yang sebenarnya juga memiliki keinginan itu.

"Mereka menunggu."

"Menunggu apa?" tanya Raline yang bahkan tak melihat ibu mertuanya.

"Menunggu tidak adanya penerus. Jika suatu hari tidak ada penerus, mereka akan mulai bergerak. Investor, pesaing, bahkan orang-orang yang selama ini pura-pura setia, dan semua yang dibangun keluarga ini bisa berantakan."

Raline hanya terdiam. Dia tahu betul itu, tetapi wanita dengan gaun merah itu berusaha menutupi niatnya sedalam mungkin dari ibu mertuanya.

"Rothmere tidak dibangun dalam satu malam." Madam melanjutkan.

Raline tertawa kecil.

"Kalau memang serapuh itu, mungkin memang sudah waktunya runtuh."

Tatapan Madam Eleanora langsung berubah.

"Itu yang kau inginkan?"

Raline tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum Madam Eleanora kembali bersuara. "Lalu bagaimana dengan perusahaan mantan kekasihmu?"

Raline langsung menoleh.

"Apa hubungannya dengan dia?" tanya Raline penuh curiga.

"Banyak," jawab Madam Eleanora sambil menyandarkan punggung ke kursi.

"Mama sedang mengancamku?" tanya Raline sangat terkejut dan mulai menegakkan badannya.

"Aku hanya mengingatkanmu bahwa saat sebuah keluarga sebesar Rothmere jatuh, mereka tidak jatuh sendirian."

Keheningan panjang tercipta. Untuk pertama kalinya, Raline tak langsung membalas. Karena Raline begitu terkejut. Raline tahu jika Madam Eleanora tahu tentang masa lalunya dan keterpaksaannya menikahi Bastian. Namun Raline tak menyangka Madam menggunakan itu untuk mengancamnya.

"Jangan libatkan dia." Raline mengepalkan tangannya.

"Aku tidak sedang melibatkannya." Madam Eleanora menatap lurus ke matanya. "Aku hanya mengatakan kenyataan."

Madam Eleanora menatapnya lurus.

"Dengar baik-baik," nada suara wanita tua itu berubah dingin. "Jika kau ingin kekasihmu berumur panjang, maka kamu tetap harus menjadi Nyonya Rothmere."

Jantung Raline berdetak lebih cepat.

"Sebagaimana tugas Nyonya Rothmere, kamu harus menerima Nathan."

Raline langsung berdiri. "Aku tidak akan pernah–"

"Kau akan," timpal Madam singkat.

"Tidak!" pekik Raline mencoba melawan.

"Kau tidak perlu mencintainya," ucap Madam memotong.

"Tapi kau akan memperlakukannya dengan baik," sambung Madam melanjutkan bicaranya.

Wajah Raline memucat. "Mustahil."

"Kau akan menjadi istri yang baik di depan publik."

Raline menggertakkan gigi.

"Dan kau akan menjadi ibu yang baik di depan publik."

Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan. Raline memandang Madam Eleanora tak percaya.

"Jadi itu yang Mama inginkan?" gerutu Raline. “Mama butuh namaku untuk menjadi Nyonya Rothmere, tapi tidak peduli siapa pun ibu kandung bayi itu?”

"Itu yang dibutuhkan keluarga ini," kata Madam Eleanora yang kini membuka ponselnya. “Lagipula ini tidak berlebihan, mengingat aku sudah berbaik hati menerima keinginanmu yang menolak memberi keturunan pada keluarga ini.” 

"Aku bukan boneka!" pekikan Raline yang bahkan tak membuat Madam bergeming saat menulis pesan singkat di ponsel yang sudah diberikan ajudan pribadinya. 

"Kalau begitu bertindaklah seperti seorang wanita dewasa," jawab Madam Eleanora yang masih melanjutkan mengetik pesan di ponselnya.

Raline membeku tak percaya. Madam Eleanora perlahan berdiri. Aura wibawanya langsung memenuhi ruangan.

"Karena jika kau tidak bisa menjalankan peranmu ...." Tatapan Madam Eleanora sangat menusuk bagi Raline, "maka banyak hal bisa berubah."

Wajah Raline langsung kehilangan warna. Ancaman itu tidak diucapkan secara langsung. Namun maknanya sangat jelas. Posisinya sebagai Nyonya Rothmere yang sudah Raline jaga tak seaman yang selama ini wanita itu pikirkan.

“Sialan,” pekik Raline menggertakkan gigi. “Dasar keluarga munafik!”

“Apa pun yang ingin kau katakan, katakan sekarang,” sahut Madam Eleanora singkat.

Raline tertawa pahit. “Kenapa? Supaya Mama bisa mengancamku lagi?”

Madam mengabaikannya. “Sudah selesai?”

“Belum.”

“Kalau begitu lanjutkan.”

“Sialan.”

“Lanjut.”

“Sialan!”

Madam hanya menatap wanita bergaun merah itu dengan datar. Bagaimana pun tindakan Raline, Madam selalu percaya diri dia bisa mengontrol istri Bastian itu.

Ketenangan Madam Eleanora membuat Raline semakin frustrasi. Karena kemarahan Raline terasa tak berarti di hadapan wanita tua itu.

Akhirnya Raline hanya membuang muka. Dada wanita itu masih naik turun. Namun tak ada lagi yang bisa Raline katakan. Madam Eleanora mengambil tas tangannya. Lalu berjalan menuju pintu. Langkah wanita tua itu tenang, terukur, dan berwibawa.

Tepat sebelum keluar dari ruang keluarga, wanita tua dengan gaun aristokrat itu berhenti. Perlahan menoleh ke belakang. Tatapan Madam lurus kepada Raline. Sekali lagi terdengar nada suara yang terdengar seperti ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja.

“Dan satu hal lagi.”

Raline menatap wanita tua itu dengan penuh ketegangan.

“Jika kau masih berpikir bisa bermain-main dengan keluarga ini ...” Madam tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat bulu kuduk meremang. “Rothmere bisa membinasakan perusahaan mantan kekasihmu itu kapan saja.”

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!