NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Perasaan yang Mulai Tumbuh

Setelah kejadian di taman tadi, suasana di rumah Wijaya terasa berubah perlahan. Rina pergi dengan rasa malu dan kesal, dan sejak itu tidak lagi berani datang tanpa izin. Namun, ucapan Arga yang membela Anya terus terngiang di pikiran gadis itu sepanjang hari. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya sikap formal sebagai suami di depan orang lain, tapi hatinya sulit menolak kenyataan bahwa nada bicara Arga tadi terdengar lebih tulus dari sekadar sandiwara.

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan seolah menyelimuti seluruh halaman rumah. Anya duduk di bangku kayu di pinggir kolam ikan, memegang sebuah buku namun matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus melayang mengingat tatapan Arga saat membela dirinya tadi. Sejak hari pertama mereka bertemu, ia hanya mengenal Arga sebagai pria dingin, tegas, dan penuh jarak. Tapi beberapa hari terakhir, ada perubahan kecil yang terasa, meskipun seringkali hilang secepat munculnya.

“Sedang apa di sini sendirian?”

Suara itu terdengar di sampingnya, membuat Anya terkejut dan segera menoleh. Arga berdiri di sana dengan mengenakan kemeja santai lengan pendek, terlihat lebih santai dibandingkan saat mengenakan jas kantor. Wajahnya tidak lagi terlihat kaku seperti biasanya, bahkan ada senyum tipis yang terukir di bibirnya.

“Saya hanya membaca buku sambil menikmati udara sore,” jawab Anya sambil menutup bukunya dan menegakkan badan. “Tuan Arga sudah pulang lebih awal hari ini?”

“Ya, urusan kantor selesai lebih cepat. Melihatmu tidak ada di dalam rumah, saya tahu kemungkinan besar kamu ada di sini,” jawab Arga lalu duduk di samping Anya, namun tetap menjaga jarak yang cukup wajar. “Kamu suka sekali tempat ini, ya?”

Anya mengangguk pelan sambil menatap permukaan air kolam yang beriak tertiup angin. “Di sini terasa tenang. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk. Bagi saya, ketenangan ini lebih berharga daripada kemewahan apa pun yang ada di dalam rumah.”

Arga menatap wajah Anya dari samping. Cahaya matahari sore menerpa wajah gadis itu, membuat kulitnya terlihat bersinar lembut dan matanya terlihat jernih serta tulus. Selama ini ia selalu dikelilingi orang-orang yang berpura-pura, yang hanya melihat kekayaannya. Tapi Anya selalu bicara apa adanya, tidak berusaha menyenangkannya dengan kata-kata manis yang kosong.

“Kamu tahu,” ucap Arga perlahan, “sebelum bertemu denganmu, saya pikir semua wanita yang mendekat itu hanya menginginkan harta atau status saya. Saya tidak pernah percaya pada perasaan atau ikatan yang tidak didasari oleh keuntungan. Tapi sejak kamu datang, pandangan saya mulai sedikit berubah.”

Anya tertegun mendengarnya, jantungnya berdegup lebih kencang. Ia menoleh sedikit, tapi tidak berani menatap mata Arga terlalu lama. “Saya hanya menjalani kesepakatan kita, Tuan. Jangan sampai ada kesalahpahaman… saya hanya ingin bertahan satu tahun ini dengan baik, lalu kembali ke kehidupan saya yang biasa.”

Arga menghela napas pelan, tersenyum tipis mendengar jawaban itu. “Saya tahu, saya juga tidak lupa dengan kesepakatan itu. Tapi perasaan tidak bisa diperintah, Anya. Saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan, bukan meminta sesuatu darimu. Kamu tidak perlu takut atau khawatir, batasan kita tetap akan dijaga.”

Mendengar penjelasan itu, hati Anya terasa sedikit lega namun juga bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika pria yang dianggapnya dingin itu mulai menunjukkan sisi yang lebih lembut. Di satu sisi ia senang karena tidak lagi merasa seperti orang asing di rumah ini, tapi di sisi lain ia takut hatinya akan terjebak dan melupakan tujuan awalnya.

Malam itu, saat jamuan makan malam berlangsung, suasana terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya. Nyonya Wijaya sudah mulai menerima kehadiran Anya, bahkan sesekali bertanya tentang kebiasaan dan kegemarannya. Arga juga tidak lagi hanya diam membisu, melainkan sesekali bercerita tentang hal-hal ringan agar suasana tidak terasa kaku.

“Besok pagi saya harus terbang ke luar kota selama tiga hari,” ucap Arga tiba-tiba sambil menatap Anya. “Ada proyek penting yang harus saya awasi langsung. Selama saya tidak ada, kamu bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan di dalam kompleks ini. Kalau butuh apa-apa, hubungi saja Pak Haris, atau telepon saya kapan saja.”

Anya mengangguk mengerti. “Baiklah, Tuan. Hati-hati di perjalanan nanti.”

Nyonya Wijaya yang melihat interaksi itu tersenyum dalam hati. Ia melihat bagaimana putranya mulai terbuka dan terlihat lebih hidup sejak Anya ada di rumah ini. Dulu Arga selalu terlihat dingin dan tertekan, tapi sekarang ada cahaya baru di matanya.

Setelah makan malam selesai, Anya memutuskan untuk mengunjungi ibunya sebentar sebelum beristirahat. Saat berjalan melewati lorong, ia mendengar suara percakapan dari ruang tamu yang terbuka pintunya. Itu adalah suara Nyonya Wijaya dan Arga.

“Arga, kamu sudah merasa nyaman dengan Anya, bukan?” tanya Nyonya Wijaya dengan nada lembut.

Arga terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ya, Bu. Dia berbeda dari yang saya bayangkan. Dia tidak meminta apa-apa selain keselamatan ibunya dan kebebasan setelah masa satu tahun berakhir.”

“Kalau begitu,” lanjut ibunya, “kenapa tidak coba lihat hubungan ini lebih jauh? Mungkin kesepakatan itu bisa berubah menjadi hubungan yang nyata. Siapa tahu dia jodoh yang dikirimkan Tuhan untukmu.”

“Saya belum tahu, Bu,” jawab Arga dengan nada ragu. “Dia masih menjaga jarak, dan saya tidak ingin memaksanya. Dia sudah menderita cukup banyak sebelum datang ke sini. Saya tidak ingin memberatkan hatinya lagi.”

Mendengar percakapan itu, Anya berhenti melangkah. Jantungnya berdebar kencang, dan perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Apakah mungkin pernikahan kontrak ini bisa berubah menjadi hubungan yang nyata? Atau itu hanya harapan kosong yang akan menyakiti hatinya nanti? Ia tidak tahu jawabannya, tapi ia sadar bahwa perasaannya sendiri juga mulai berubah perlahan.

Selama tiga hari Arga pergi ke luar kota, rumah terasa lebih sepi. Anya menghabiskan waktunya dengan mengunjungi ibunya, membaca buku, dan membantu sedikit pekerjaan ringan di dapur — hal yang membuat para pembantu merasa senang karena ia tidak bersikap seperti nyonya rumah yang sombong.

Namun di hari ketiga, saat sore hari hujan turun deras disertai angin kencang, terjadi kejadian tak terduga. Listrik di seluruh kawasan rumah padam mendadak, mungkin karena gangguan kabel terkena pohon yang tumbang. Suasana menjadi gelap gulita, hanya diterangi cahaya samar dari lampu darurat yang sedikit.

Anya yang sedang ada di kamar Bu Lina segera memastikan ibunya baik-baik saja. “Jangan khawatir, Bu. Ini hanya mati lampu sebentar, nanti pasti segera diperbaiki.”

Namun tiba-tiba, dari arah taman terdengar suara keras seolah ada dahan pohon yang patah. Kemudian disusul suara teriakan pelan. Anya merasa ada yang tidak beres, ia segera mengambil senter kecil dan berjalan keluar memeriksa.

Hujan masih turun sangat deras, membuat pandangan menjadi kabur. Angin berhembus kencang menerpa tubuhnya. Saat ia sampai di dekat kolam ikan, ia melihat seseorang terjatuh dan terjebak di bawah dahan pohon yang patah. Itu adalah salah satu tukang kebun yang sedang memeriksa keadaan pohon saat hujan datang.

“Pak Budi!” seru Anya sambil berlari mendekat. “Tolong bantu! Ada orang terjebak!”

Mendengar teriakan itu, Pak Haris dan beberapa pembantu segera datang dengan membawa senter dan alat bantu. Bersama-sama mereka mengangkat dahan pohon yang menindih kaki Pak Budi. Kakinya terlihat terluka parah dan berdarah, tidak bisa berjalan.

“Segera bawa ke ruang tamu, siapkan air hangat dan kotak obat!” perintah Anya dengan tegas. Ia sudah terbiasa menangani luka ringan saat masih kecil dan sering membantu ibunya yang sering sakit-sakitan.

Dengan sigap dan tenang, meskipun masih basah kuyup terkena hujan, Anya membersihkan luka itu, menghentikan pendarahan, dan membalutnya dengan rapi. Ia bekerja dengan tangan yang terampil dan hati yang tenang, membuat orang-orang di sekitarnya kagum melihat keberanian dan ketenangannya di tengah situasi darurat seperti itu.

Belum selesai semuanya, suara mobil masuk ke halaman rumah. Pintu terbuka dan Arga turun dengan tergesa-gesa. Ia baru saja tiba dari perjalanan dan mendengar laporan singkat dari satpam bahwa ada kecelakaan kecil dan listrik padam. Begitu masuk ke ruang tamu, matanya langsung tertuju pada Anya yang sedang duduk berjongkok membalut luka tukang kebun, bajunya basah dan rambutnya berantakan terkena air hujan.

Jantung Arga terasa berdenyut kuat melihat pemandangan itu. Ia melihat keberanian dan ketulusan dalam diri Anya yang tidak pernah ia temukan pada wanita lain. Tanpa sadar, ia melangkah mendekat dan melepas jasnya, lalu menyelimuti bahu Anya yang terlihat menggigil kedinginan.

“Kenapa kamu tidak memakai jas hujan? Kamu bisa sakit seperti ini!” tegur Arga dengan nada khawatir, bukan marah.

Anya terkejut mendengar suaranya, lalu menoleh dan melihat Arga sudah berdiri di sampingnya. “Tuan Arga? Sudah pulang? Saya tidak sempat memikirkannya, yang penting Pak Budi ini selamat dan lukanya segera diobati.”

Arga tidak menjawab, hanya menatap wajah Anya yang basah dan lelah namun tetap bersinar ketulusan. Ia membantu Anya berdiri, lalu memeriksa keadaan tukang kebun yang sudah terlihat lebih tenang. “Baiklah, sisanya biar saya yang urus. Kamu segera mandi dan ganti pakaian, jangan sampai masuk angin.”

Setelah semuanya beres dan listrik kembali menyala, suasana menjadi tenang kembali. Arga berjalan menuju kamar Anya, membawa segelas teh hangat dan obat pemanas badan. Ia mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin.

“Minumlah ini, agar tubuhmu hangat kembali,” ucapnya sambil meletakkan gelas itu di meja samping tempat tidur. “Terima kasih tadi, kamu sudah bertindak sangat cepat dan tepat. Tanpa kehadiranmu, mungkin lukanya bisa lebih parah lagi.”

Anya duduk di tepi tempat tidur, memegang gelas teh itu sambil tersenyum tipis. “Itu hal yang wajar, Tuan. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama jika melihat orang lain kesusahan.”

Arga duduk di kursi di seberangnya, menatapnya dengan pandangan yang dalam dan lembut. “Bukan semua orang bisa bertindak secepat dan setenang kamu. Banyak orang akan panik atau hanya menonton saja. Kamu memiliki hati yang luar biasa, Anya. Saya semakin mengerti mengapa ibumu sangat bangga padamu.”

Mendengar pujian yang tulus itu, wajah Anya terasa memanas. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Arga lebih lama. “Terima kasih, Tuan.”

“Kamu tahu apa yang saya pikirkan saat melihatmu tadi?” tanya Arga tiba-tiba, suaranya terdengar lebih lembut dan mendalam. “Saya berpikir, beruntungnya saya bisa bertemu denganmu. Meskipun awalnya ini hanya kesepakatan, tapi kamu sudah membawa banyak perubahan dalam hidup saya. Rumah ini terasa lebih hidup, lebih hangat, sejak kamu ada di sini.”

Anya mengangkat wajah perlahan, matanya bertemu dengan tatapan Arga yang tulus dan dalam. Di detik itu, tidak ada lagi kesepakatan, tidak ada lagi batasan, hanya dua hati yang mulai saling merasakan kehadiran satu sama lain. Namun, di balik perasaan yang mulai tumbuh itu, keduanya masih menyimpan kekhawatiran: apakah perasaan ini akan membawa kebahagiaan, atau justru akan menjadi luka yang lebih dalam saat masa satu tahun itu berakhir?

Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang lembut, benih-benih cinta mulai tumbuh tanpa mereka sadari. Perjalanan mereka masih panjang, dan banyak rintangan yang menanti di depan — baik dari luar maupun dari dalam hati mereka sendiri.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!