NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Sulit Sekali Menjadi Miskin

"Nggak apa-apa harganya mahal sepuluh kali lipat, Pak! Yang penting barangnya ada, jadi kami nggak perlu jauh-jauh lagi menembus hutan menuju kota! Kebetulan adik perempuan kami ada yang belum menikah, bagaimana kalau menjadi warga sini aja?"

Budiman tersentak. Bahkan, dalam pikirannya, belum terlintas sedikit pun dalam kisah percintaan karena terlalu fokus mengembalikan dirinya ke titik nol.

"Ehem ... e, Uni, Ambo tu—"

Belum selesai Budiman menjawab tawaran lamaran mendadak dari emak-emak berdaster merah tersebut, pandangannya mendadak silau. Layar hologram Sistem kembali muncul dengan suara dentingan yang paling ia benci di dunia.

[ Ding! ]

[ Permintaan pasar ekosistem lokal mendeteksi 'Kebutuhan Rumah Tangga Massal'. ]

[ Sistem otomatis menyetujui permintaan konsumen: Membuka kunci jalur pasokan perkakas dapur dan sandang untuk 19 cabang! ]

[ Proyeksi Keuntungan Bulan Depan: Meningkat 400%, Utang Rp2.500.000.000 diperkirakan lunas dalam waktu 2 minggu! ]

Budiman menatap layar hologram emas yang menari-nari di depannya dengan perasaan hancur sehancur-hancurnya. Perasaan baru seminggu lalu Sistem memberi informasi dia memiliki hutang 2,5 miliar, masa belum satu bulan udah mau lunas aja? Dia meremas dadanya yang mendadak sesak, ini sungguh sulit diterima oleh batinnya.

'Awak hanya ingin miskin saja ... kenapa sesulit ini Tuhan?!' ratap Budiman dalam hati, menatap langit-langit ruko dengan pandangan dendam aktif pada Sistem yang sedang memutar musik kemenangan di kepalanya.

We are the champion ....

.

.

.

Di sisi lain di pulau yang berbeda, di lantai lima puluh sebuah gedung pencakar langit di kawasan Segitiga Emas Jakarta, atmosfer di ruang kerja Sang Pimpinan Ritel Raksasa, jaringan toko modern terbesar yang cabangnya sudah menggurita di seluruh Indonesia, terasa begitu tegang.

Pimpinan tertinggi itu berdiri menghadap jendela kaca besar, menggenggam cangkir kopinya dengan sangat erat hingga tampak sedikit bergetar karena rasa geram. Di atas meja kerjanya, tergeletak sebuah laporan analisis pasar setebal dua ratus halaman menampilkan peta Sumatera Barat yang dipenuhi titik-titik merah.

"Sembilan belas cabang dibuka serentak dalam satu hari ... Bukan di wilayah yang ramai penduduk, tapi malah memilih di wilayah pelosok yang bahkan tidak ada di Google Maps?!" suara pimpinan itu terdengar rendah, datar, tetapi menghasilkan efek yang mengerikan bagi yang mendengar.

"B-benar, Pak," asisten utamanya menjawab dengan dahi berkeringat dingin.

"Laporan dari intelijen lapangan kami di Sumatra Barat menyatakan bahwa Budiman Mart sengaja menghindari pusat kota. Mereka masuk ke daerah terpencil, mematok harga sepuluh kali lipat dibanding harga normal, dan anehnya ... Masyarakat di sana justru menyambut mereka bagai pahlawan! Omzet mereka meroket empat ratus persen karena mereka juga mulai memonopoli penjualan pakaian dan alat dapur."

Pimpinan ritel raksasa itu berbalik dengan tatapan mata yang menyalang tajam. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Dia merasa terhina!

"Gila ... pria bernama Budiman ini benar-benar genius yang mengerikan!" desisnya, memukul meja kerja.

"Selama ini, korporasi kita dan retail raksasa lainnya hanya berani bertarung di wilayah yang ramai penduduk, di pusat kota yang infrastrukturnya sudah matang! Kita terlalu pengecut untuk menyentuh pedalaman karena takut akan rugi di biaya logistik!"

Dia berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. "Tapi pimpinan baru seumur jagung ini ... dengan beraninya memotong semua teori ekonomi kita!"

"Dia tahu bahwa dengan mematok harga sepuluh kali lipat, dia tetap bisa menutup biaya logistik pedalaman sekaligus mengunci loyalitas warga pelosok yang kelaparan akses barang! Dia tidak sedang membuka toko kelontong ... dia sedang membangun benteng logistik yang tak bisa lagi kita goyahkan!"

Sang pimpinan mencengkeram pinggir meja dengan teramat kuat, menatap tajam ke arah asistennya.

"Kita tidak boleh membiarkan monster kecil ini tumbuh lebih besar lagi! Ini sudah mengancam harga diri dan masa depan korporasi kita! Kalau dia berhasil menguasai seluruh pedalaman Sumatra Barat, langkah dia selanjutnya pasti mengembangkan sayap keluar dari Sumbar dan mulai menginvasi wilayah-wilayah regional yang selama ini kita kuasai total!"

Matanya menyipit penuh intrik kotor. "Siapkan tim khusus. Kita harus menghancurkan Budiman Mart sebelum mereka sempat melintasi perbatasan yang tak bisa kita lewati! Kirim mata-mata, hancurkan jalur pasokan mereka, atau beli tanah di sebelah rukonya! Aku mau Budiman Mart rata dengan tanah bulan depan!"

.

.

.

Kembali ke ruko pelosoknya di Pesisir Selatan, Budiman tiba-tiba merinding hebat sampai bulu kuduknya berdiri. Dia sedang duduk termenung di atas tumpukan kardus kuali yang baru datang, meratapi nasibnya yang malah menjadi semakin kaya.

"Uh ... kenapa mendadak dingin sekali ya?" gumam Budiman heran, sambil menggosok-gosok lengannya yang memakai kaos oblong putih.

"Apa ada jin pedalaman yang marah karena awak jualan kuali kemahalan kah?"

Dia sama sekali tidak tahu, bahwa di wilayah pusat negara ini, sebuah korporasi bernilai triliunan rupiah baru saja mendeklarasikan perang suci untuk menghancurkannya. Hal yang sebenarnya sangat, sangat, sangat diharapkan oleh Budiman seumur hidupnya!

[ Bersambung ]

1
arielskys
lama2 baca cerita ini bikin otakku makin pinter prinsip2 retail 👍
arielskys
pokoknya kalian harus berjodoh lah
arielskys
walaaaahh, ada2 aja idenya 🤭
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
Aku Rajin Membaca
jiwa miskinnya kmbali bngkit 😂
Aku Rajin Membaca
tiba2 bhgia
Syahril Maiza: kebahagiaan terselubung
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
niatnya buat bntu mkin rugi, trnyta malah mkin pinter ya
arielskys: belajar secara otodidak
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
bgus roni 🙏 nanti kalau gempa, ttp lanjutkan tugasmu
Aku Rajin Membaca
berarti bertugas dengan baik 😂
MomyWa: sesuai yang diharapkan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!