NovelToon NovelToon
Manuver Nine

Manuver Nine

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Musik / Light Novel
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Awazaki Chiru

Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.

Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.

Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.

ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.

ManuverNine.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Engine Start

Five Engine Start..

five, four, three, two, one. Lift-off for Crew of Centauri 5.

Roket besar baru saja lepas landas untuk membawa crew dari misi Centauri 5 mendaratkan awaknya di bulan. untuk pertama kali dalam 30 tahun terakhir.

Seorang remaja mengagumi penerbangan itu, meski dia hanya melihat live dari televisi, namun ia begitu kagum dengan misi besar ini. ia bernama Daniel, seorang anak miskin yang tinggal di pedesaan, jauh dari kota dan teknologi. Orang tuanya hanya seorang petani lokal yang mengandalkan penjualan hasil tani untuk hidup.

Daniel sendiri tidak bersekolah karena ekonomi keluarga, masalah lainnya adalah tidak ada sekolah di daerah perdesaan, Daniel hanya menyelesaikan sekolah menengah, semenjak ia lulus SMP, ia tidak pernah sekolah lagi selama satu tahun terakhir.

Daniel ingin sekali melanjutkan sekolahnya, orang tuanya juga ingin Daniel mendapatkan pendidikan yang layak, namun ekonomi mereka sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Hari-harinya Daniel hanya ikut bersama sang ayah untuk membantu di sawah, itu sudah dilakukannya sedari lama. meski Daniel ingin sekali bersekolah, namun ia harus sadar dengan kondisi keluarganya.

menjadi insinyur adalah impian Daniel semenjak ia kecil, namun sepertinya impian itu harus ia pendam karena ia tidak ingin membuat repot orang tuanya, ia percaya keajaiban pasti datang kepadanya.

"Daniel, Ayo ikut ayah ke sawah" Teriak sang ayah dari dapur. Daniel mengiyakan dan beranjak dari kasurnya untuk segera berangkat ke sawah.

Di sana seperti biasa ia membantu ayahnya untuk membajak sawah. siang harinya mereka menyantap makanan yang sudah disediakan oleh ibunya.

"Yah, kok hari ini Ibu gak ikut, ya?" Tanya Daniel sembari makan.

"Kata Ibu kamu, dia ada urusan di balai desa" Jawabnya.

"Untuk apa, yah?" Tanya Daniel singkat.

"Ada aja, Nanti kamu juga tau" Jawab ayah singkat

Daniel sedikit tidak paham apa yang sedang ayahnya rencanakan.

Daniel hanya memakan perlahan makanan yang dimasak ibunya sembari menikmati angin dan pemandangan yang indah.

Ayah tiba-tiba saja menanyakan suatu hal penting kepada Daniel.

"Nak, Kamu masih ingin sekolah?" Tanya Ayah serius.

"Yah, kok ayah tiba-tiba serius gitu, sih?" Jawabnya sedikit tertawa.

"Jawab serius, Nak." sang ayah mulai menegakkan badannya pertanda ini adalah topik serius.

"Jika ayah menanyakan hal seperti itu, Jelas aku masih ingin sekolah" Jawabnya canggung.

"Jelas, Ayah juga tau keinginanmu." Jawab sang ayah lega. ayah mulai berdiri dan melenturkan badannya kembali.

"Ayah tau, Kamu pintar dalam akademi, kami seperti menghalangi impianmu saja kan, Nak?" Ucap sang ayah tersenyum

Daniel berdiri dan mengatakan dengan tegas bahwa itu bukan salah orangtuanya.

"Tidak, Yah! ini bukan salah kalian! aku bersyukur kalian membesarkanku dan merawatku! itu saja bagiku sudah cukup, Yah!" Ucapnya lantang.

"yang kamu sebutkan adalah kewajiban sebagai orang tua, Nak. bukan sesuatu yang bisa dibanggakan." Jawab sang ayah.

"sudah lah, Yah. tidak usah dipikirkan. Bagaimanapun itu hanya hal kecil, Yah" Ucap Daniel.

Ayah kemudian berbalik badan dan meraba isi tas yang ia bawa, kemudian ia memberikan secarik kertas bertuliskan dokumen pendaftaran ke SMA yang selama ini Daniel incar.

Di sana tertulis bahwa Daniel memenuhi standar dan akan bersekolah di SMA tersebut. ia diletakkan di kelas IPa. Kelas yang paling susah untuk dimasuki.

Daniel menentang hal ini dan marah dengan ayahnya.

"Ayah gak mikir? bagaimana dengan kita makan, yah?" Ucapnya

"Bagaimana dengan sawah, dan lagian sekolahnya jauh dari rumah kita, Yah."Ucapnya dengan penuh emosi.

"Kamu tidak perlu cemas, Rumah dan sawah kita sudah ayah jual" Ucap ayah dengan tenang, Daniel seketika marah saat mendengar bahwa rumah dan sawahnya dijual hanya untuk dirinya bersekolah.

"Dengar dulu, Nak." Sang ayah berusaha menenangkannya.

"Ayah bukan menjual sawah dan rumah tanpa planing, Ayah menjualnya untuk membeli rumah sederhana di kota agar kita bisa hidup di sana, dan juga uangnya masih ada tersisa banyak untuk membuka usaha warung makan" Ucap sang ayah

"Ayah gak merasa keberatan kan dengan semua ini?" Tanya Daniel yang perlahan mulai meneteskan air mata.

"Daniel, Sudah ayah bilang kalau kewajiban kami untuk merawat dan membesarkanmu!" Ucapan sang ayah itu membuat Daniel menangis. Ia percaya keajaiban akan datang, namun ia tidak menyangka bahwa keajaiban itu datang hari ini.

Daniel memeluk ayahnya sambil menangis bahagia.

"Duh, Anak laki jangan nangis!" Ucap sang ayah bercanda.

"Aku gak nangis! hanya kelilipan debu saja, Yah." Ucapnya tersendut sendut

"Iya deh percaya!"

hari itu adalah hari besar bagi Daniel, Benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini akan datang. Hari paling bahagia bagi Daniel.

Malamnya mereka bersiap untuk pindahan karena sekolah akan dimulai 3 hari lagi. Daniel begitu antusias dengan pindahan ini, karena baginya ini adalah sebuah hadiah besar sekaligus pengalaman hidup yang jauh lebih terukur.

"Yah, Aku sudah selesai merapikan barangku!" Ucap Daniel.

"Beneran gaada yang ketinggalan, kan? kita gak akan balik lagi ke sini, lho!" Jawab Ayah bercanda.

"Aman, Yah! semua sudah diatur, tinggal ayah sama Ibu saja lagi yang harus bersiap-siap!" Ucapnya.

"Barang ayah sih gak banyak, ya. sisanya paling nanti diantar sama truk" Ayah yang sedang meraba-raba lemari.

"Kalau ibu, Gimana? sudah siap kah?" Tanyanya.

"Ibu selalu siap, Daniel. yaudah, kita tidur aja, karna sudah aman semua, ya." Ucap ibu yang beranjak ke kamar.

"hoahhm.." Daniel juga mulai mengantuk. ia pergi ke kamar dan bergegas untuk tidur.

...

Sekitar pukul 02.00 pagi, Daniel terbangun karena dia merasa panggilan alam tidak bisa menahannya.

Ia beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi.

di luar ia melihat ayah yang sedang duduk terdiam, entah apa yang ayah pikirkan, tapi sepertinya ini bukan masalah yang serius.

Daniel menghiraukannya dan kembali untuk tidur.

..

keesokan harinya mereka semua sudah siap untuk berangkat ke rumah baru yang telah dibeli di kota. Daniel merasa ini adalah hari paling-paling-paling-paling bahagia dirinya. padahal baru kemaren ia membajak sawah, hari ini dia pergi dan memulai lembaran baru dalam menuntut ilmu.

"Aku akan membuka lembaran baru, kembali belajar adalah hal yang paling aku sukai, aku ingin meraih mimpiku menjadi seorang Insinyur Dirgantara, ini mimpi ambisius yang harus aku lakukan!" Gumamnya sembari menggenggam buku hariannya.

"Ah.. aku gak mau lupa dengan hari ini, aku harus mencatatnya." Gumamnya lagi.

...

sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke rumah baru itu. meski sederhana namun rumahnya cukup bagi mereka.

"Kehidupanku dimulai dari sini" Ucapnya.

1
miilieaa
kenapa latifa lari ke hutan? mending di mall aja gaes 🤭🤣
miilieaa
ayo Daniel ceritakan padaku jugaaa🤭
AkuNulis: Daniel blak blakan, nanti cerita hal ga penting 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!