Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Dimas
Setelah kepergian Dimas, Kasih meringkuk di tempat tidurnya. Saat bersamaan, hujan turun dengan cukup deras.
Lampu di Cafe Senja sudah padam. Hanya tinggal satu di bagian teras, dan cahayanya memudar karena tertimpa oleh hujan.
Kasih menarik selimutnya. Ia memeluk boneka beruang berwarna coklat dengan erat, dan itu adala pemberian dari Santi.
Tubuhnya masih gemetar karena kalimat yang di ucapkan oleh Dimas barusan. "Anggap aku rumahmu ya.."
Kalimat itu mengiang di telinganya, dan membuat Kasih menarik selimutnya hingga kekepala.
Akan tetapi, baru saja mata Kasih akan terpejam, ia mendengar suara langkah kaki dari sepasang sepatu safety di de0an pintu mess nya.
Praaak!
Praaak!
Praaak!
Suara cipratan air yang berasal dari tapak sepatu membangunkan Kasih yang hampir saja terpejam. Matanya kembali terbuka.
Saat bersamaan, langkah itu terhenti tepat di depan pintu mess nya.
Tok!
Tok!
Tok!
Kasih merasa ragu. Dadanya bergemuruh. "Siapa?" tanyanya dengan nada bergetar.
"Aku, Dimas. Buka pintunya, ada hal penting yang ingin ku sampaikan,"
Jantung Kasih merasa akan copot. Tetapi ia masih mengingat pesan Bu Yati. "Jangan buka pintu jika kamu sendirian di mess,"
"Maaf Mas, besok saja ya. Saya mau tidur. Mengantuk sekali." ucapnya dengan nada berharap, agar Dimas mengerti tentang kondisinya.
Di luar sana, suasana hening. Hanya air hujan yang masih turun dengan cukup deras. Lalu terdengar suara langkah pergi dan semakin menjauh. Kemudian tersamarkan oleh suara deru hujan.
Menyadari sudah tidak lagi ada orang berdiri di depan pintunya, Kasih memejamkan keduanya matanya. Hanya saja, ia merasakan jima bulu kuduknya meremang.
Ssssshhhsss...!
Suara seperti desisan. Dan itu terdengar di telinganya.
Kasih kembali membuka matanya, mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang sudah membuatnya tak nyaman. "Apa ada ular ya?" gumamnya dalam hati. Tetapi ia sudah sangat mengantuk, dan akhirmya tertidur lelap.
****
Kasih terbangun dari tidurnya. Ia menggeliatkan tubuhnya, dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Ia bergegas membersihkan dirinya, dan memilih untuk shalat, kemudian pergi ke Cafe, sebagai persiapan pesanan seorang pengusaha yang akan mengadakan meeting dan mem-booking Cafe Senja.
Ada sekitar liam puluh orang, dan tiga porsi untuk setiap orangnya.
Kasih yang baru pertama kali bekerja di Cafe Senja, mulai mencuci piring sejak pukul delapan pagi nonstop dan membuat tanggannya lecet. Tak hanya itu, betis dan juga punggungnya juga terasa pegal.
Sementara itu, Dimas berulang kali ke dapur, sembari membawa es teh dan juga camilan.
Bahkan perhatiannya itu mendapatkan tatapan iri dari para karyawan yang sudah lama bekerja di Cafe Senja.
"Jangan kecapekan ya," Dimas nyengir ke Kasih. "Nanti kalau kamu sakit, siapa yang akan jagain," bisiknya. Sembari meletakkan teh es di meja dapur.
Kasih hanya tersenyum kaku. Di tambah lagi ia harus merasa serba salah, sebab para karyawan wanita yang sudah lama, menatapnya dengan sinis.
Setelah kepergian Dimas. Esty datang menghampirinya. "Eh, anak baru. Kalau kerja ya kerja aja. Jangan kecentilan. Kamu ada kasih apa sama Pak Dimas?" gadis itu menekan pundak Kasih dengan ujung jemari telunjuknya. Sehingga membuat Kasih harus tersurut mundur kebelakang.
Kasih terdiam. Baru pertama di harinya bekerja, ia sudah mendapatkan pembullyan.
"Aku curiga. Jangan-jangan dia ada ngasih apem sama Pak Dimas. Makanya Pak Dimas klepek-klepek," sabut Ayu.
"iya. Aku rasa juga begitu!" Ana menimpali.
"Berarti dia disini tujuannya untuk merayu, bukan bekerja," Esty kembali mencibir. Membuat suasana semakin terasa panas.
Kasih terdiam. Hatinya cukup remuk. Ia tidak tahu, mengapa mereka begitu membencinya.
"Sudah! Sudah! Kembali bekerja!" Rindu yang merupakan Koki di Cafe Senja melerai ketiga pembully itu, agar menjauh dari Kasih.
Karena kondisi yang ramai, akhirnya mereka kembali bekerja.
"Jangan digubris. Mereka hanya iri dengan kecantikanmu. Tetaplah fokus bekerja," ucap Rindu. Berusaha menguatkan hati Kasih.
Kasih hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali lagi bekerja.
****
Waktu memperlihatkan pukul.sembilan malam. Cafe sudah tutup. Dan karyawan yang lain sudah pulang.
Dimas mengunci pintu depan. Sedangkan Kasih membantu membereskan sisa cucian piringnya.
"Selesaikan yang itu, nanti aku anterin le mess," ucap Dimas dengan nada yang berbeda.
Kasih merasakan jantungnya kembali berdesir. Ia menangkap nada bicara Dimas menyimpan sesuatu hal yang membuat .
Ia hanya mengangguk, meskipun hatinya merasa was-was.
Saat Kasih baru saja selesai mengepel lantai, Dimas duduk di kursi. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
Isinya adalah sebuah cincin perak yang berharga murah. Tetapi warnanya cukup mengkilap.
"Kasih..." ucapnya pelan.
Kasih yang besiap akan pulang, menoleh ke arah Dimas. "Iya, Mas?" ucapnya dengan suara yang gemetar.
"Aku ingin mengutarakan sesuatu," ia menjeda ucapannya.
Kasih menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Dimas. Sebab sorot matanya membuat Kasih bergetar.
"Sebenarnya... Sudah sejak sebulan aku memperhatikan kamu dari warung Bu Yati." Dimas berjalan pelan dan mendekatinya.
Kasih tersentak kaget. Itu tandanya jika sedang masuk dalam perangkap Dimas.
"Kamu gadis yang sangat berbeda. Kamu itu kuat... Kamu juga gadis yang sabar. Dan bonusnya adalah...Kamu sangat cantik. Itu yang membuat aku gak bisa mengendalikan diriku," ucapnya dengan nafas yang berat.
Kasih membeliakkan kedua matanya. Ia merasakan jantungnya seakan mau copot, dan ia semakin merasa ketakutan.
"Maaf, Mas. Aku bahkan belum menerima.ijazah paket C ku, karena terkendala biaya. Dan aku masih ingin meniti karirku," tolaknya dengan halus. Meskipun hatinya sangat ketakutan.
"Justru bagus. Nanti Mas yang bayarin ijazahnya." potong Dimas dengan cepat. "Kamu tidak perlu capek bekerja. Biar aku yang biaya hidup kamu," ucapnya lagi. Mencoba meyakinkan Kasih.
Deeegh!
Jantung Kasih kembali seperti terhenti saat Dimas menyebutkan kata istri.
"Maksudnya, Kita menikah?" ucap Lasih dengan nada bergetar.
"Iya. Nikah siri dulu. Biar cepat. Dan yang penting kita sah. Biar gak ada yang bisa ganggu kamu lagi," ucap Dimas. Sinar matanya berbinar. "Kamu tidak perlu repot menunggu wali. Ada wali hakim yang bisa mewakili. Aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tinggal bilang iya." Dimas setengah memaksa.
Perlahan Dimas berjongkok. Ia ingin memegang tangan Kasih.
Tetapi Kasih langsung menarik tangannya ke belakang. "Mas... aku belum siap..."
Wajah Dimas langsung berubah. Dari yang tadi begitu lembut, kini berubah menjadi tegang.
"Belum siap? Kamu pikir ada yang mau sama kamu? Kamu itu hanya anak pungut. Dan diusir dari rumah. Bahkan kamu gak punya KTP orang tua. Kalau bukan aku yang menolong, kamu sekarang tidur di kolong jembatan!"
"LEPAS!" Kasih berteriak. Ia merasa tersinggung dengan apa yang di katakan oleh Dimas barusan.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )