~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
***
Sore yang hangat menyambut kedatangan mobil minibus hitam yang membawa rombongan Melani, Pak Rahardjo, dan Rangga Wira. Kendaraan itu berhenti mulus di pekarangan sebuah rumah asri berarsitektur modern dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hias. Rumah yang nyaman dan tenang, tempat di mana Melani dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Belum sempat pintu mobil terbuka sempurna, sesosok wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan selendang menyelimuti bahunya berlari tergesa-gesa keluar dari pintu utama. Ibu Rahmi—ibu dari Melani—tak kuasa menahan Isak tangis bahagianya.
"Melani! Putri Ibu!" jerit Ibu Rahmi lirih.
Melani melompat turun dari mobil, berlari kecil menghampiri ibunya. Dua perempuan itu berpelukan erat di halaman rumah. Tangis haru meledak seketika, melepas segala kerinduan dan kecemasan yang membendung rapat selama berbulan-bulan.
"Ibu... Melani pulang, Bu..." tangis Melani terisak, menyandarkan kepalanya di bahu hangat sang ibu.
Ibu Rahmi menciumi puncak kepala Melani bertubi-tubi, memegangi kedua pipi mulus putrinya untuk memastikan Melani dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apa pun. "Ya Tuhan... Nak, Ibu rindu sekali padamu... Maafkan Ibu yang tidak bisa mendampingimu di sana..."
Pak Rahardjo melangkah mendekat seraya tersenyum hangat, mengusap bahu istrinya lembut. "Sudah, Bu... Putri kita sudah kembali dengan selamat dan membawa keadilan untuk namanya."
Saat Ibu Rahmi menyapu air matanya dan perlahan mendongak, pandangannya seketika tertambat pada sosok tegap yang berdiri anggun di samping Pak Rahardjo.
Rangga Wira berdiri melangkah satu tapak di halaman. Sang Ketua Adat Hulu Rawa mengenakan kemeja rapi berwarna gelap yang dilapisi selempang kain tenun adat di bahunya. Postur tubuhnya yang tinggi, dada bidangnya yang kokoh, serta sorot matanya yang sehitam malam memancarkan wibawa pimpinan tertinggi yang begitu mengintimidasi namun sangat teduh.
Ibu Rahmi mendadak terpaku. Ada rasa canggung dan sedikit gentar yang menyelinap di dadanya saat menatap pria dari dalam hutan yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita desas-desus.
Rangga Wira yang peka akan raut canggung calon ibu mertuanya, secara perlahan menundukkan tubuh tegapnya. Pria gagah yang biasa ditakuti dan disegani oleh seluruh suku di dalam hutan itu... melangkah santun, lalu membungkuk penuh rasa hormat di hadapan Ibu Rahmi.
"Selamat sore, Ibu..." sapa Rangga Wira dengan suara baritonnya yang berat, sangat lembut, dan penuh kehangatan. "Saya Rangga Wira dari Hulu Rawa. Mohon maaf jika kedatangan saya yang mendadak ini mengejutkan Ibu."
Ibu Rahmi tersentak pelan, kelembutan tutur kata dan kesantunan Rangga seketika mengikis rasa canggung di hatinya.
"Ibu..." panggil Pak Rahardjo pelan seraya memegang jemari istrinya. "Anak muda inilah yang telah mempertaruhkan nyawanya menarik mobil Bapak dari tepi jurang longsor kemarin. Kalau bukan karena keberanian dan kekuatan Rangga... Bapak tidak akan pernah berdiri di sini menemui Ibu lagi."
Mata Ibu Rahmi membelalak haru, menatap Rangga Wira dengan binar keharuan yang mendalam. Prasangka buruknya tentang "orang dalam hutan yang liar" runtuh sepenuhnya tanpa sisa.
"Ya Tuhan..." bisik Ibu Rahmi bergetar, meraih kedua telapak tangan kekar Rangga dan meremasnya erat. "Terima kasih, Nak Rangga... Terima kasih telah menyelamatkan suami saya dan menjaga putri kami di sana..."
Rangga tersenyum amat tampan, membalas genggaman tangan Ibu Rahmi dengan penuh kelembutan. "Menjaga keselamatan keluarga Melani adalah kehormatan tertinggi bagi saya, Bu."
**
Malam harinya, ruang makan keluarga yang luas dan nyaman itu dipenuhi aroma harum hidangan lezat kota yang disiapkan khusus oleh Ibu Rahmi. Lampu gantung keemasan memancarkan pendar hangat di atas meja makan kayu yang panjang.
Suasana makan malam berlangsung sangat hangat dan penuh gelak tawa. Ibu Rahmi tak henti-hentinya menyenduk lauk-pauk terbaik ke dalam piring Rangga Wira, terpesona oleh sikap Rangga yang sangat sopan, berwibawa, dan senantiasa mendahulukan kenyamanan Melani.
"Ayo dimakan yang banyak, Nak Rangga," puji Ibu Rahmi tersenyum lebar. "Ibu tidak menyangka, Ketua Adat Hulu Rawa ternyata sosok pria yang begitu santun dan sangat tampan."
Pipi Melani seketika merona merah muda mendengarnya, menunduk malu seraya menyikut pelan lengan ayahnya. Pak Rahardjo terkekeh renyah melihat tingkah putri tunggalnya yang salah tingkah.
Setelah santap malam usai, mereka berempat berpindah menuju ruang tamu utama yang nyaman. Pendar cahaya lampu gantung terpantal lembut di sofa empuk. Suasana yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi hening, sarat akan ketegangan yang sakral dan penuh keseriusan.
Rangga Wira merapikan selempang tenun adat di bahunya. Pria tegap itu bangkit berdiri dari sofa, melangkah ke tengah ruangan, lalu berlutut pelan di atas karpet halus di hadapan Pak Rahardjo dan Ibu Rahmi.
Melani menahan napasnya, jemarinya meremas kain gaunnya seraya menatap Rangga dengan mata berbinar haru.
"Rangga...?" bisik Ibu Rahmi tersentak kaget melihat sang Ketua Adat berlutut di depannya.
"Ibu Rahmi, Pak Rahardjo..." buka Rangga Wira dengan nada suara yang amat dalam, tulus, dan menggetarkan dada. "Kedatangan saya melangkah keluar dari perbatasan tanah adat Hulu Rawa menuju kota ini bukan hanya untuk menjadi saksi bagi kebaikan Melani... melainkan untuk menyampaikan niat paling sakral dalam hidup saya."
Pak Rahardjo dan Ibu Rahmi menyimak setiap bait kata Rangga tanpa memotong sedikit pun.
Rangga menatap lurus ke dalam mata kedua orang tua di depannya. "Di hadapan Ibu dan Bapak malam ini... saya, Rangga Wira, secara resmi ingin meminang putri tercinta Anda, Bidan Melani, untuk menjadi pendamping hidup saya seumur hidup."
Air mata bening perlahan merembes keluar dari pelupuk mata Ibu Rahmi.
"Saya tahu, kami berasal dari dua dunia yang sangat berbeda," lanjut Rangga tulus. "Namun saya berjanji di hadapan Tuhan dan keluarga ini... Melani tidak akan pernah kekurangan rasa aman, rasa hormat, dan kasih sayang di samping saya. Saya akan menjaganya dengan seluruh darah dan jiwa saya, membahagiakannya, serta memfasilitasi tugas medismu agar ia tetap bisa menyinari jiwa-jiwa yang membutuhkan."
Rangga mengeluarkan sebuah kotak kayu ukir kecil khas Hulu Rawa dari balik kemejanya. Di dalamnya terbaring sebuah cincin kayu cendana langka yang diukir halus bersulam benang emas—lambang ikatan tertinggi suku Hulu Rawa.
"Apakah Ibu dan Bapak merestui saya untuk menyunting Bidan Pelindung kami menjadi istri saya?" bisik Rangga mantap.
Suasana ruangan menjadi sangat hening oleh Isak haru. Ibu Rahmi menutup mulutnya dengan telapak tangan, meneteskan air mata kebahagiaan luar biasa. Ia berpaling menatap suaminya.
Pak Rahardjo tersenyum amat bangga, menganggukkan kepalanya pelan pada sang istri.
"Rangga..." panggil Ibu Rahmi dengan suara serak yang bergetar. "Bapak sudah menceritakan semuanya pada Ibu... tentang bagaimana warga desa mencintai Melani, dan bagaimana kamu berdiri bagaikan benteng menjaga putri kami. Ibu tidak melihat perbedaan dunia lagi pada dirimu, Nak... Ibu melihat seorang pria sejati yang sangat memuliakan anak perempuan kami."
Ibu Rahmi membimbing Rangga untuk bangkit berdiri, lalu merangkul bahu tegap calon menantunya itu erat-erat.
"Ibu merestuimu, Rangga... Ibu sangat bahagia dan ikhlas menyerahkan putri tunggal kami ke dalam lindunganmu," tangis Ibu Rahmi penuh haru.
Melani tidak bisa lagi menahan gejolak bahagia di dadanya. Ia berdiri dan merangkul ibunya dan Rangga bersamaan, meneteskan air mata syukur yang tak terhingga atas restu utuh keluarga yang kini menyelimuti cinta mereka.
Di tengah momen haru tersebut, Pak Rahardjo bangkit berdiri, berdeham pelan seraya menepuk bahu Rangga Wira dengan raut wajah yang mendadak sangat serius namun dipenuhi ketegasan seorang ayah.
"Rangga... Melani..." panggil Pak Rahardjo, membuat mereka bertiga berpaling menatap sang ayah.
"Iya, Pak?" balas Rangga penuh rasa hormat.
Pak Rahardjo menatap Rangga Wira dan Melani bergantian dengan senyuman hangat yang mantap. "Restu kami sudah utuh milik kalian. Dan karena seluruh keluarga besar kita di kota sudah berkumpul, serta izin dinas Melani sudah bersih tanpa noda..."
Pak Rahardjo jeda sejenak, mengunci pandangan pada Rangga. "...Bapak minta, kalian tidak usah menunggu terlalu lama. Bapak ingin kalian segera melangsungkan akad pernikahan secara agama dan hukum negara di kota ini minggu ini juga, sebelum kamu memboyong Melani kembali ke Hulu Rawa untuk menggelar Pesta Pernikahan Adat!"
Deg!
Kata-kata Pak Rahardjo bagaikan dentang lonceng kebahagiaan yang mengguncang dada Melani dan Rangga.
Melani membelalakkan matanya tak percaya, pipinya seketika membara merah padam bagaikan buah tomat matang. "B-Bapak?! Minggu ini di sini?!"
Rangga Wira terpaku sejenak, namun seulas senyum paling tampan, gagah, dan penuh kepuasan hati terukir lebar di bibir tegas sang Ketua Adat. Pria tegap itu menggenggam erat jemari Melani di depan kedua orang tuanya.
"Atas nama kehormatan saya..." pukas Rangga Wira mantap tanpa ragu sedikit pun, "Saya siap menikahi putri Bapak minggu ini juga!"
Di dalam rumah yang hangat dan penuh pendar kasih sayang itu, kesepakatan sakral telah terukir tuntas. Dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang kini siap mengikat janji suci di hadapan penghulu dan keluarga, sebelum melangkah pulang ke tanah Hulu Rawa sebagai sepasang suami istri yang sah.
Bersambung..
Garcepp amat garrrceppo yaa wkwk
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲