JANGAN DIBACA! Revisi total
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Se-frekuensi
Rhea tiba di apartemen dengan raut kusut. Mendengar dapurnya gaduh, Rhea bergegas mendekat kemudian matanya membola memperhatikan seseorang yang tengah bergulat dengan alat dapur.
"Anda siapa?"
"Astaghfirullah," ucap nya kaget. Wanita tua itu menghentikan kegiatannya kemudian menunduk sopan. "Saya Sarti, Non. Suruhan-nya Nyonya Prisil."
Rhea ber-oh-ria, "Masak apa Bi?" Tanya Rhea setelah menaruh tasnya.
"Tumis kol ebi pedas sama kepiting saos, Non. Kata Nyonya ini makanan kesukaan Nona Rhea." Bi Sarti melanjutkan kegiatan memasaknya sembari bergumam. "Cantik juga, ada kesempatan gak yah kalo Anak ku jadi istri kedua?"
Rhea masuk ke kamar lalu mengganti pakaiannya setelah mandi sebentar. Ia kembali kedapur untuk memastikan sesuatu. Jujur, ia tengah kelaparan dan mencium bau masakan Bi Sarti membuat Rhea semakin lapar.
"Masih lama ya Bi?" Tanya Rhea tak sabar.
"Enggak kok Non, ini sudah selesai." Bi Sarti menyajikan masakannya di meja makan. Tak lupa dirinya menuangkan air kedalam gelas Rhea. Mendengar pintu terbuka, wanita itu menyambut seseorang dengan antusias. Berbeda dengan Rhea yang tak peduli dan mulai menyantap dengan lahap masakan Bi Sarti.
Sebuah jitakan mendarat mulus di keningnya. Dahi Rhea mengernyit menatap Gara yang tanpa dosa langsung mencuci tangan di wastafel kemudian ikut duduk di sampingnya.
"Ngapain?"
"Makan," jawab Gara singkat.
"Maksud aku ngapain kamu pake jitak aku segala? Aku salah apa sih?"
"Berisik!"
"Dih, bukannya minta maaf karena udah lempar bola ke kepala aku, malah marah-marah."
Bi Sarti dalam diam tersenyum menatap keributan kedua pasutri itu yang nampak tak akrab. "Ana pasti bisa luluhin Den Gara, lagi." Ucapnya lirih yang tak sengaja didengar oleh Gara.
"Sekarang lo boleh pergi."
Rhea mengerjab, sendoknya menggantung di depan mulut. "Kamu ngusir aku pas lagi makan?!"
"Bukan lo!" Gara memandang Rhea sekilas. Kemudian memandang Bi Sarti. "Lo boleh pergi."
"Heh, yang sopan!"
Perkataan Rhea tak digubris Gara. "Sebelum itu, beresin kamar utama baru lo boleh pergi."
Rhea menggeram mendengar nada tak sopan terucap dari bibir Gara. "Gak usah Bi, aku bisa beresin sendiri kok." Ucap Rhea tak enak melihat wajah sedih Bi Sarti.
"Gak perlu Non. Lagian semua ruangan udah Bibi bereskan tadi setelah Nyonya nganter Bibi kesini." Ucap Bi Sarti menunduk. Hatinya sakit mendengar nada tak suka dari Gara yang beberapa bulan lalu sering mengunjungi rumahnya.
"Bagus."
'Gara anj! Tenang Rhea tenang. Kamu anak kalem dan sepatutnya gak emosian hanya karena Garang si manusia jadi-jadian.'
★★★
Malamnya, Rhea mengoleskan krim malam ke wajahnya lalu memandang Gara yang sedang menyambar jaket denim nya. Rhea berdiri dan mencekal tangan Gara yang hendak keluar. "Mau kemana? Aku mau ngomong dulu."
"Gue mau ke club, cepetan!"
"Kelab? Ngapain?"
"Jualan cilok. Ya mabok lah anjing!"
Rhea reflek mengelus dada. "Sehari aja bisa gak sih jangan ngomong kasar? Aku kasian nanti sama anak kita yang denger," ucap Rhea tanpa sadar.
"Kita? Sadar! Nyium lo aja gue ogah, apalagi sampe ML sama lo, najis!"
Percayalah, ini kalimat terpedas yang pernah Rhea dengar dari mulut Gara. Bahkan gadis itu sampai terngaga tak percaya dibuatnya.
"Aku juga ogah! Jangan sok kegantengan kamu ya! Cowok aku lebih segalanya dari kamu, lulus SMA kita pisah!" Tandas Rhea.
Gara menyeringai tipis. "Kenapa gak besok aja cerainya?"
Rhea balas tersenyum manis. "Kamu minta restu Bunda Prisil dulu ya buat pisah sama aku. Kalo aku sih ikut-ikut aja." Ujarnya menantang.
Gara menggeram. "Lo mau ngomong apa?"
"Ah iya! Aku mau hak aku sebagai istri kamu."
"Yaudah ayo."
Hah? Rhea membuka mulut karena terkejut dengan ajakan Gara yang terdengar ambigu. "Hak aku, jatah bulanan Garang!"
"Kirain jatah harian."
"Kamu ngomong apa sih?" Rhea benar-benar tak satu frekuensi dengan Gara.
Gara diam memandang Rhea kesal. "Besok gue tf, kirim rekening lo ke WA gue."
"Asikk, makasih suami berandal!"
Gara mendengkus. "Bacot lo stalker."
Rhea cengo, stalker katanya?
"Maksud kamu apa?"
"Lo punya nomer gue."
"Ya terus?"
"Gitu aja gak paham, lemot!"
ASTAGA!
...🐥🐣🐤...
1 bulan kemudian
"Ayo cepet masuk ke bus masing-masing! Kita berangkat lima menit lagi."
Suara Pak Juki menggema dibantu alat pengeras suara. Rhea dan teman se OSIS nya yang berdiri disekitar Pak Juki pun sampai dibuat meringis.
"Yang masih duduk di koridor, silahkan masuk ke bus! Ketua kelas tolong kerja samanya." Titahnya lagi.
Pak Juki memandang Rhea. "Sudah siap semua Rhea?"
Rhea mengangguk. "Sudah Pak, semua anak OSIS juga banyak yang sudah masuk ke bus masing-masing. Saya dan Frank permisi masuk dulu," ucap Rhea sopan lalu masuk kedalam bus diikuti Frank dibelakangnya. Mereka masuk kedalam bus anak 11-IPS-1 yang nampak sangat ramai. Kedatangan keduanya pun tak mampu membuat bus menjadi hening.
"Sore semua!"
"Sore Rhea sayang." Balas Cakra yang duduk disebelah Adnan. Sementara Gara dan Bara duduk di belakang sendiri-sendiri. "Prenk coba lu mundur dikit."
"Kenapa? Ganteng gue kelewatan ya?" Tanya pemuda itu percaya diri.
Cakra menggeleng. "Kagak cuy, Rhea most wanted gitu masa berdirinya bareng sadboy Nusa Bangsa?"
"Anjing lo, Ca!"
"Frank sabar," tegur Rhea kala situasi semakin ricuh. "Adnan, udah lengkap belum disini?" Tanya Rhea lantang yang membuat bus mulai senyap.
Adnan mengacungkan jempolnya, "udah Rhe. Cuman si Perkutut Dapin doang yang kagak ikut." Kata Adnan setelah melihat buku absen. Walaupun ia badboy seperti teman-temannya, namun jabatan Adnan memang Ketua di kelas IPS 1.
"Oke makasih Ad," ucap Rhea. "Gaada yang ketinggalan kan semua?"
"Kagak ada sayang! Kamu cepetan duduk sini. Keburu jalan bisnya." Teriak Bara yang membuat kaum hawa menatap ke kursi belakang.
"Pacaran?"
"Etdah gila, gue kira ketos kita single."
"Dahlah niatnya mo gebet Bara, ternyata dah punya Rhea."
"Woe bucin woe bucin!"
Frank menyodorkan sebuah handphone pada Rhea. "Ini hape lo tadi, gue duduk ngawasin barisan depan dan elo belakang ya, Rhe. Ganbatte buat kita!"
Rhea ingin protes, namun Frank yang sudah duduk di kursi paling depan bersama si cupu Dita membuat ia menghela. Dengan langkah ragu ia pun duduk disamping Bara yang kosong.
"Akhirnya bisa duduk bareng," Bara. merangkul pundak Rhea mesra. Gadis itu reflek menepis tangan Bara kala merasakan aura mencekam dari kursi dibelakangnya.
"K-kita mau ngecamp, bukan pacaran astaga Bara!"
Tandai typo