Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Surat yang Membongkar Fondasi
Malam di lereng Gunung Sumbing jatuh dengan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di kamar kayu penginapan sederhana milik desa, satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu minyak yang berkelap-kelip, memantulkan bayangan bergoyang di dinding yang terbuat dari papan jati tua.
Larasati baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kasar. Uap air hangat masih mengepul dari tubuhnya, menyisakan aroma sabun melati yang lembut—aroma yang sudah menjadi penanda kehadirannya bagi Agung selama lebih dari lima belas tahun pernikahan. Ia mengenakan kemeja katun putih milik suaminya yang terlalu besar untuk badannya, ujungnya jatuh tepat di atas pertengahan paha, memperlihatkan kaki jenjang yang kulitnya masih mulus meski telah melahirkan dua anak.
Agung duduk di tepi tempat tidur kayu, kancing kemejanya sudah terbuka sampai ke dada, memperlihatkan garis otot yang masih kokoh di usia yang tak lagi muda. Matanya tidak lepas dari sosok istrinya. Sejak pertemuan dengan Kevin Darmawan siang tadi, ada emosi yang mendidih di dalam dadanya—campuran antara amarah, ketakutan akan ancaman baru, dan kebutuhan yang luar biasa untuk memastikan bahwa semua yang ia miliki ini nyata, tidak akan hilang tertiup badai esok hari.
“Kau masih memikirkannya?” tanya Larasati pelan. Ia berjalan mendekat, langkahnya tanpa suara di atas lantai kayu. Jemarinya yang dingin menyentuh pelipis suaminya, mengusap kerutan di antara kedua alis yang semakin dalam itu. “Kevin hanyalah anak yang tersesat oleh dendam pamannya. Dia tidak akan menang.”
Agung menarik napas dalam. Ia menggenggam tangan istrinya, lalu mencium buku jarinya satu per satu, bibirnya menyentuh setiap ruas jari dengan penghormatan dan hasrat yang bercampur jadi satu. “Bukan dia yang aku takutkan, Laras. Aku takut pada apa yang siap dia lakukan. Dia tidak sepertimu yang memilih jalan lurus. Dia tidak sepertiku yang masih punya hati untuk ragu. Dia siap membakar semuanya demi kemenangan, termasuk anak-anak kita.”
Suaranya bergetar di akhir kalimat. Larasati merasakannya—getaran ketakutan yang jarang ditunjukkan pria itu pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia naik ke atas tempat tidur, berlutut di antara kedua kaki Agung yang terbuka, lalu memeluk kepala suaminya ke dadanya. Ia membiarkan wajah Agung terbenam di antara lekukan tubuhnya, membiarkan tangan kasar pria itu menjelajahi punggungnya di bawah kain kemeja tipis, mencari kepastian di setiap lekuk kulit yang telah ia hafal di luar kepala.
“Lihat aku,” bisik Larasati. Ia menopang dagu Agung dengan kedua tangannya, menatap mata suaminya dalam-dalam hingga ke dasar jiwanya. “Aku di sini. Anak-anak di kamar sebelah, tidur dengan nyenyak karena mereka tahu orang tuanya sedang menjaga. Tidak ada yang bisa mengambil kita dari satu sama lain. Tidak ada surat, tidak ada gugatan, tidak ada anak laki-laki bernama Kevin yang sombong itu. Dengar?”
Jemarinya perlahan menuruni bidang dada bidang dada Agung, menyusuri setiap lekukan tulang rusuk, berhenti tepat di atas jantung yang berdetak kencang di bawah telapak tangannya. Agung mengerang pelan, kepalanya terlempar ke belakang saat sentuhan dingin istrinya membakar kulitnya yang panas karena emosi. Tangan-tangannya yang besar mencengkeram pinggang Larasati erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskan sedikit saja.
“Kau tahu apa yang paling aku cintai dari dirimu?” tanya Agung parau. Ia menarik tubuh istrinya lebih dekat lagi, sampai tidak ada celah sedikit pun di antara mereka, sampai Larasati bisa merasakan setiap denyut nadi, setiap ketegangan otot, setiap hasrat yang menjalar di seluruh tubuh pria itu. “Bukan kecantikanmu. Bukan ketegasanmu saat memimpin ribuan petani. Tapi caramu memilikiku. Setiap malam, setiap pagi, seolah aku adalah satu-satunya hal yang berharga di dunia ini.”
Larasati tersenyum tipis, senyum yang hanya ada untuk suaminya—senyum yang penuh kepemilikan, lembut namun tak terbantahkan. Ia menunduk, napasnya bercampur dengan napas Agung, bibirnya menyapu sudut mulut pria itu tanpa benar-benar menciumnya.
“Karena memang begitu adanya,” jawabnya rendah, tepat sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.
Ciuman itu bukan ciuman manis seperti pengantin baru. Itu adalah ciuman dua orang dewasa yang telah melewati badai bersama—kasar, mendesak, penuh kepastian. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang sudah hafal satu sama lain, berbagi rasa kopi dan sedikit rasa pahit stres siang tadi. Tangan Agung naik ke bawah kemeja yang dikenakan istrinya, menyentuh kulit hangat yang tidak lagi selembut belasan tahun lalu, namun justru terasa jauh lebih sempurna karena setiap guratan kecil di sana adalah bukti perjalanan mereka bersama. Ia membalikkan posisi tubuh mereka dengan gerakan lincah, membaringkan Larasati di bawahnya, tubuhnya yang berat menindih lembut tubuh wanita itu sebagai tanda kepemilikan yang tak perlu diucapkan.
“Jangan pernah pergi dariku,” bisik Agung di sela-sela ciuman yang turun ke leher, ke tulang selangka, ke setiap jengkal kulit yang berhasil ia jangkau. “Tidak peduli apa yang akan terjadi esok. Tidak peduli rahasia apa yang akan terbongkar. Tetaplah di sini. Bersamaku.”
Larasati mengaitkan kedua kakinya di pinggang suaminya, jemarinya mencengkeram kuat ke punggung bidang Agung, meninggalkan bekas kemerahan yang akan terlihat jelas keesokan harinya. Ia mengangkat pinggulnya, mendekatkan mereka lebih jauh lagi sampai tidak ada lagi batas yang memisahkan.
“Aku tidak akan ke mana-mana,” desahnya lepas, mata indahnya berkaca-kaca karena campuran antara emosi dan kenikmatan yang menyebar ke seluruh serat sarafnya. “Aku milikmu, Agung. Hanya milikmu. Sampai napas terakhirku.”
Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang meredup, mereka saling memiliki dengan cara yang lebih dalam dari sekadar fisik. Setiap sentuhan adalah janji. Setiap desahan adalah pengakuan. Setiap gerakan adalah pembuktian bahwa di tengah dunia yang kacau, setidaknya ada satu hal yang pasti: cinta mereka. Dan ketika mereka akhirnya bersatu dalam satu irama yang sama, Larasati menggigit bahu suaminya untuk menahan erangan yang terlalu keras, sementara Agung menanamkan wajahnya di lekukan leher istrinya, bergumam nama wanita itu berulang kali seperti doa.
Mereka tidak tahu bahwa di luar kamar kayu itu, takdir sedang menyiapkan badai yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi.
Pagi harinya, kabut masih tebal menyelimuti desa ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat melaju perlahan masuk ke halaman balai desa. Dari dalamnya turun tiga orang: seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun dengan wajah yang keras seperti diukir pahat, diapit oleh dua pengacara muda yang membawa tas kulit hitam berisi dokumen-dokumen tebal.
Pria tua itu memperkenalkan diri sebagai Mbah Hardo. Dan saat ia menyodorkan surat gugatan tanah seluas dua ratus hektar yang mencakup seluruh perkebunan inti Kopi Melati Saraswati, seolah dunia berhenti berputar seketika.
“Ini adalah tanah warisan leluhurku,” kata Mbah Hardo dengan suara parau namun tegas, matanya menatap tajam ke arah Ibu Saras yang berdiri di hadapannya. “Seratus sepuluh tahun yang lalu, kakekmu—Raden Adipati Saraswati—meminjam tanah ini dari kakekku dengan perjanjian lisan. Dia berjanji akan mengembalikannya setelah usahanya berhasil. Tapi sampai kakekku meninggal, tanah itu tidak pernah kembali. Sekarang aku datang sebagai penerus sah untuk menuntut apa yang menjadi hak keluargaku.”
Kata-kata itu menghantam seluruh keluarga Saraswati seperti hantaman palu godam. Ibu Saras mundur selangkah, wajahnya memutih seketika. Aditya yang biasanya tenang langsung maju selangkah, suara gemetar menahan amarah:
“Omong kosong! Selama tiga generasi tanah ini menjadi milik sah keluarga kami! Ada sertifikatnya, ada bukti pembeliannya! Kau hanya datang mengaku-ngaku setelah tanah ini bernilai miliaran rupiah!”
Mbah Hardo tertawa dingin, penuh penghinaan. Ia memberi isyarat pada pengacaranya yang segera mengeluarkan selembar kertas tua berwarna kuning kecokelatan, dengan tinta yang sudah memudar namun masih terbaca jelas. Itu adalah surat perjanjian tertanggal tahun 1916, bertanda tangan kakek buyut Saraswati, yang isinya menyatakan bahwa penguasaan atas tanah itu hanyalah pinjam pakai, bukan milik selamanya, dan akan dikembalikan kepada keluarga Hardo kapan pun mereka memintanya kembali.
“Lihat sendiri tanda tangannya,” ujar Mbah Hardo sinis. “Ahli waris keduanya sudah memverifikasi keaslian surat ini di pengadilan. Dan ini baru permulaan. Masih ada banyak saksi tua yang masih hidup yang bisa membuktikan bahwa kakekmu hanyalah pengelola, bukan pemilik. Besok laporan ini akan masuk ke media nasional. Bayangkan apa yang akan terjadi pada harga saham perusahaanmu, Nyonya Saraswati. Bayangkan apa yang akan dikatakan dunia saat tahu bahwa warisan dunia yang kalian banggakan ternyata dibangun di atas tanah curian.”
Saat pria tua itu dan rombongannya pergi meninggalkan balai desa dengan langkah angkuh, keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Ibu Saras duduk di kursi kayu terdekat, tangannya gemetar hebat memegang surat tua itu. Air matanya menetes tanpa suara jatuh ke kertas kuno itu.
“Ayahku tidak pernah menceritakan hal ini sedikit pun,” bisiknya hancur. “Bu Wulan juga tidak pernah menyebut-nyebutnya. Mengapa? Mengapa mereka merahasiakan hal sebesar ini dari kita semua?”
Agung berdiri membelakangi semua orang, menatap ke luar jendela ke arah hamparan perkebunan kopi yang hijau membentang sejauh mata memandang. Ribuan pohon yang dijaga tiga generasi. Ribuan keluarga yang menggantungkan hidup di sana. Pusat penelitian yang baru saja diresmikan UNESCO. Semuanya bisa hilang dalam sekejap mata.
Larasati mendekat, menyentuh lengan suaminya pelan. Ia bisa merasakan ketegangan yang luar biasa di otot-otot lengan itu. “Kita tidak boleh panik. Kita harus cek semua arsip lama di rumah. Pasti ada penjelasan di suatu tempat. Bu Wulan tidak mungkin menyimpan hal ini tanpa alasan.”
Namun tidak semua anggota keluarga sepakat. Aditya menggeleng keras, wajahnya merah padam karena campuran marah dan kecewa.
“Cek apa lagi, Laras? Bukti ada di depan mata kita! Kakek kita memang berdusta! Dia mencuri tanah ini! Dan sekarang cucu-cucunya yang harus menanggung malu serta kerugiannya! Lebih baik kita duduk bersama mereka, hitung berapa ganti rugi yang pantas, dan selesaikan di luar pengadilan sebelum nama baik keluarga ini hancur total!”
“Dan menyerah begitu saja?” suara Lala memecah keheningan. Gadis remaja itu berdiri di ambang pintu bersama Bagas, wajahnya pucat namun matanya berapi-api. Mereka mendengar semuanya. “Menyerah berarti membiarkan semua kerja keras Ayah, Ibu, Nenek Wulan, Buyut, semua petani selama seratus tahun menjadi sia-sia! Aku tidak mau! Aku tidak percaya Buyut kita seburuk itu! Pasti ada penjelasannya!”
“Kamu masih kecil, Lala!” potong Aditya kasar. “Kamu tidak mengerti bagaimana dunia bekerja! Kadang kebenaran itu jauh lebih pahit dari yang kita bayangkan!”
“Cukup!” bentak Agung keras. Semua orang diam serentak. Ia berbalik, wajahnya keras seperti batu, namun ada kekecewaan yang mendalam di sana. “Tidak ada yang menyerah. Tidak ada yang berbicara soal menyerah lagi. Mulai hari ini, kita bagi tugas. Aditya dan Arif, kalian urus tim hukum, siapkan semua dokumen kepemilikan yang kita miliki. Ibu, tolong telusuri surat-surat peninggalan Ayah dan Bu Wulan di rumah tua. Cari apa pun yang berhubungan dengan tahun 1916. Larasati, kau bantu aku berbicara dengan para petani dan mitra bisnis. Jangan biarkan panik menyebar.”
Ia menatap kedua anaknya, tatapannya melunak sedikit. “Lala, Bagas. Kalian mau membantu? Aku mau kalian telusuri sejarah desa ini. Bicaralah pada orang-orang tua yang paling tua di sini. Cari tahu apa yang benar-benar terjadi seratus tahun lalu. Kadang kebenaran tidak tersimpan di kertas, tapi di ingatan orang-orang.”
Lala dan Bagas mengangguk bersamaan, semangat berkobar di dada mereka.
Namun tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik pohon besar di halaman balai desa, seseorang telah berdiri diam mendengar seluruh percakapan itu. Kevin Darmawan tersenyum puas melihat hancurnya pertahanan keluarga Saraswati dari dalam. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor Mbah Hardo.
“Bagus, Pak. Rencana kita berjalan sempurna,” bisik Kevin dingin. “Sekarang tinggal kita tunggu waktu. Biarkan mereka saling curiga, biarkan mereka saling bertengkar karena rahasia masa lalu itu. Saat mereka sudah lemah dan hancur dari dalam… saat itulah kita masuk dan mengambil semuanya. Tanah. Perusahaan. Warisan dunia. Segalanya.”
Di dalam balai desa, Larasati berdiri sendirian di depan jendela, memegang perutnya secara tidak sadar—kebiasaan yang ia lakukan saat merasa cemas. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada firasat buruk yang sangat kuat di hatinya. Rahasia yang terbongkar hari ini bukanlah sekadar gugatan tanah biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih kelam, tersembunyi di balik surat tua tahun 1916 itu. Sesuatu yang jika terungkap sepenuhnya, bukan hanya perusahaan yang akan hancur—tapi juga takdir seluruh keluarga Saraswati selamanya.
Dan di sudut lain ruangan, Bagas membuka kembali buku catatan peninggalan kakek buyutnya. Jemarinya berhenti di satu halaman yang hampir tidak terbaca, berisi tulisan samar yang tidak ia perhatikan sebelumnya:
Maafkan aku, Ratu. Apa yang kulakukan hari ini adalah dosa terbesar dalam hidupku. Tapi demi masa depan anak cucu kita, demi menyelamatkan nyawamu… aku rela menanggung kutukan ini selamanya.
Nama Ratu bukanlah nama nenek buyut Bagas yang tercatat di silsilah keluarga.
Siapakah dia? Dan dosa besar apa yang sebenarnya dilakukan kakek buyut mereka seratus tahun lalu?