NovelToon NovelToon
BRANDALAN POSESIF

BRANDALAN POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

​SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF

​Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.

​Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.

​Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.

​Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRANDALAN POSESIF

​BAB 10: Invasi Tengah Malam dan Sidang Fajar.

​Malam di mansion Elangga adalah kanvas hitam yang menyimpan sejuta rahasia. Bagi Shania, tidur bukan lagi sekadar istirahat, melainkan sebuah pelarian yang rapuh. Setelah pesan singkat dari Davindra yang menjanjikan keamanan ibunya, Shania sempat merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, ia lupa satu hal: Davindra Elangga tidak pernah memberikan perlindungan secara cuma-cuma. Pria itu selalu meminta bayaran, dan bayaran itu adalah eksistensi Shania sepenuhnya.

​Jam dinding di kamar Shania menunjukkan pukul 02:15 pagi. Angin malam berhembus lebih kencang, menggoyahkan tirai sutra yang menutup jendela balkon. Shania terbangun karena suara gesekan halus—suara logam yang bertemu dengan beton. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran pertamanya adalah ancaman keluarga Mahendra. Apakah mereka sudah sampai di sini? Apakah Nenek Savitri gagal melindunginya?

​Ia duduk tegak, merapatkan selimut ke dadanya. Matanya tertuju pada pintu balkon yang perlahan terbuka. Sosok tinggi besar membayang di balik kain tipis. Shania hendak berteriak saat sosok itu melangkah masuk ke dalam remang cahaya lampu tidur.

​"Jangan teriak. Ini, gue," suara berat dan serak itu membelah kesunyian.

​Itu Davindra.

​Aroma Hujan dan Obsesi.

​Davindra berdiri di sana, mengenakan jaket kulit hitam yang masih basah oleh embun malam. Rambutnya berantakan, dan matanya yang gelap menatap Shania dengan intensitas yang seolah bisa membakar oksigen di ruangan itu. Ia tidak lewat pintu depan yang dijaga ketat oleh sistem keamanan Nenek Savitri. Ia memanjat pipa drainase dan melompati pembatas balkon hanya untuk satu alasan.

​"Davindra? Apa yang Anda lakukan? Kalau Nenek tahu..." suara Shania gemetar, setengah marah dan setengah ketakutan.

​"Nenek, nggak akan tahu kalau lo nggak berisik," Davindra melangkah mendekat, mengabaikan jarak sopan yang diminta Nenek Savitri.

Ia duduk di pinggir tempat tidur, membuat kasur itu amblas karena berat tubuhnya.

​Aroma maskulin yang bercampur dengan bau hujan dan sedikit aroma tembakau menyerbu indra penciuman Shania. Davindra mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengusap pipi Shania yang pucat. Shania mencoba menghindar, namun punggungnya sudah menyentuh kepala ranjang.

​"Gue, nggak bisa tidur," bisik Davindra. "Setiap kali gue merem, gue lihat foto nyokap, lo. Gue, lihat musuh-musuh gue tertawa di balik bayangan kampus. Pikiran kalau lo sendirian di kamar ini, tanpa gue yang jaga di depan pintu... itu bikin gue gila."

​"Nenek, sudah menjamin keamananku, Davindra. Anda sendiri yang bilang dia perisai legal," bantah Shania, mencoba mencari logika di tengah situasi yang absurd ini.

​"Nenek, main cantik dengan aturan. Gue, main kotor dengan kenyataan," Davindra mendekatkan wajahnya, hanya beberapa sentimeter dari wajah Shania.

"Gue, butuh mastiin lo masih di sini. Masih bernapas. Masih milik, gue."

​Shania bisa merasakan kehangatan napas Davindra. Di bawah cahaya temaram, sisi rapuh dari sang berandalan itu muncul. Posesifitasnya bukan lagi sekadar dominasi, melainkan ketakutan akan kehilangan yang akut. Namun, bagi Shania, ini tetaplah sebuah pelanggaran privasi yang menyesakkan.

​"Anda, harus pergi. Sekarang!" tegas Shania.

​"Bentar lagi," Davindra malah merebahkan kepalanya di ujung kaki Shania, memejamkan mata sejenak seolah tempat tidur itu adalah satu-satunya tempat aman di dunia.

"Cuma lima menit. Biarin gue ngerasa tenang dikit, Shania. Setelah itu, gue bakal pergi lewat jalan yang sama."

​Melihat gurat kelelahan di wajah pria yang biasanya tampak tak terkalahkan itu, Shania terdiam. Ada konflik batin yang hebat di dalam dirinya. Ia benci cara Davindra memaksakan kehendak, tapi ia juga tahu bahwa pria inilah yang mengerahkan sepuluh orang untuk menjaga ibunya saat ini.

​Fajar yang Menghakimi.

​Namun, keberuntungan tidak berpihak pada mereka malam itu.

​Mansion Elangga tidak hanya dijaga oleh manusia, tetapi juga oleh sensor panas dan kamera inframerah yang dipantau langsung dari ruang keamanan pribadi Nenek Savitri. Sang Matriark tidak pernah benar-benar tidur tanpa memastikan setiap inci wilayahnya steril.

​Pagi harinya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya muncul di ufuk timur, pintu kamar Shania diketuk dengan keras. Bukan ketukan pelayan, melainkan ketukan tegas dari kepala pelayan kepercayaan Nenek, Pak Broto.

​"Nona Shania, Tuan Muda Davindra... Nyonya Besar menunggu di ruang tengah. Sekarang."

​Shania tersentak bangun. Ia tidak sadar kapan ia jatuh tertidur, namun ia melihat Davindra masih duduk di kursi sofa di sudut kamar, sedang mengancingkan jaketnya dengan raut wajah yang masam. Pria itu sudah tahu: mereka tertangkap.

​Di ruang tengah, suasana terasa lebih mencekam daripada malam sebelumnya. Nenek Savitri duduk di kursi kebesarannya, memegang tongkat kayu cendana dengan tangan yang sedikit bergetar karena amarah yang ditahan. Di atas meja marmer, sebuah tablet menampilkan rekaman CCTV hitam-putih: Davindra yang sedang memanjat balkon kamar Shania pada pukul dua dini hari.

​"Duduk!" perintah Nenek Savitri. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Davindra duduk dengan gaya menantang, menyandarkan punggungnya dan melipat tangan di dada. Sementara itu, Shania berdiri tertunduk, wajahnya merah padam karena malu dan takut.

​"Apakah ini caramu menghormati perjanjian kita, Davindra?" tanya Nenek Savitri, matanya menatap tajam cucunya.

"Aku, memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa kamu dewasa, bahwa kamu bisa mengendalikan insting liarmu. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu merayap seperti pencuri di rumahmu sendiri!"

​"Aku, nggak mencuri. Aku, jaga apa yang punyaku," balas Davindra sengit.

​"Dia, bukan barang!" bentak Nenek Savitri, suaranya menggelegar di ruangan yang luas itu.

"Shania, adalah tamu di rumah ini, calon dokter yang akan membawa kehormatan bagi kita. Dengan masuk ke kamarnya tengah malam, kamu tidak hanya menghina dia, tapi kamu menghina martabat keluarga, Elangga!"

​Nenek Savitri kemudian menatap Shania. "Shania, apakah dia menyakitimu semalam?"

​"Tidak, Nek. Dia... dia hanya bicara," jawab Shania jujur, meski suaranya hampir hilang.

​"Bicara atau tidak, aturannya sudah dilanggar," Nenek Savitri kembali menatap Davindra.

"Karena kamu tidak bisa mematuhi batas fisik yang aku tetapkan, maka sanksinya akan lebih berat. Mulai hari ini, aksesmu ke semua rekening pribadi dibekukan. Kamu, akan berangkat ke kampus dan ke kantor cabang dengan pengawasan, Pak Broto. Dan yang paling penting..."

​Nenek Savitri menjeda kalimatnya, memberikan efek dramatis yang menyakitkan.

​"Kamu, tidak diizinkan berbicara atau mendekati Shania dalam jarak lima meter selama berada di area mansion. Jika kamera melihatmu melanggar lagi, Shania dan ibunya akan aku pindahkan ke lokasi rahasia yang bahkan aku sendiri tidak akan memberitahumu di mana tempatnya."

​Ancaman di Tengah Hukuman.

​Mata Davindra membelalak. Itu adalah ancaman terbesar. Kehilangan akses terhadap Shania adalah mimpi buruknya.

​"Nenek, nggak bisa ngelakuin itu!" Davindra berdiri, emosinya meledak.

​"Aku, bisa, dan aku akan melakukannya demi kebaikanmu dan gadis ini," ucap Nenek Savitri dingin. "Sekarang, pergi dari hadapanku. Pak Broto, akan mengantarmu ke kantor cabang. Jangan mencoba membolos, atau kamu akan kehilangan lebih banyak lagi."

​Davindra menatap Shania satu kali lagi—tatapan yang penuh dengan janji, kemarahan, dan proteksi yang gelap—sebelum akhirnya ia melangkah pergi dengan langkah kasar yang menggetarkan lantai marmer.

​Setelah Davindra pergi, Nenek Savitri menghela napas panjang. Ia tampak jauh lebih tua dari usianya. Ia memberi isyarat agar Shania mendekat.

​"Shania, maafkan cucuku yang tidak tahu tata krama itu," ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Shania.

"Tapi kamu harus tahu satu hal. Davindra bertindak seperti itu karena dia merasa terpojok. Keluarga Mahendra mulai bergerak. Foto yang kamu terima kemarin hanya permulaan. Mereka ingin Davindra melakukan kesalahan fatal agar mereka punya alasan untuk menyerang kita secara hukum dan fisik."

​Shania tertegun. "Jadi... Davindra benar? Kita, sedang dalam bahaya?"

​"Kita, selalu dalam bahaya sejak kakek Davindra membangun dinasti ini," jawab Nenek Savitri. "Tapi ingat, Shania. Kamu, bukan hanya umpan. Kamu, adalah alasan Davindra untuk belajar menjadi manusia, bukan hanya menjadi monster. Jangan biarkan dia menarikmu ke dalam kegelapannya, tapi jadilah cahaya yang memaksanya untuk tetap di jalur yang benar."

​Bayang-Bayang Mahendra.

​Di luar mansion, di dalam mobil yang membawanya ke kantor cabang, Davindra tidak diam saja. Ia mengeluarkan ponsel rahasia yang tidak terdeteksi oleh jaringan mansion. Ia menghubungi seseorang.

​"Gue, mau laporan posisi tim Mahendra dalam satu jam," ucapnya dingin. "Dan siapkan unit tambahan di rumah sakit ibu Shania. Kalau ada yang mendekat dalam radius seratus meter tanpa izin gue... habisi di tempat. Jangan tunggu perintah, Nenek."

​Davindra menyandarkan kepalanya, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang mulai sibuk. Ia tahu Neneknya mencoba menjinakkannya dengan aturan, tapi ia juga tahu bahwa di dunia nyata, aturan hanyalah selembar kertas yang mudah terbakar.

​Ia akan mematuhi Nenek Savitri di depan mata, tapi di balik layar, ia akan membangun benteng api yang akan menghanguskan siapa pun yang berani menyentuh Shania. Bahkan jika itu berarti ia harus menjadi lebih iblis daripada musuhnya sendiri.

​Sore harinya di Kampus...

​Shania baru saja menyelesaikan kelas praktikum anatomi yang melelahkan. Saat ia berjalan menuju parkiran di mana Pak Mamat sudah menunggu, ia melihat Davindra berdiri di seberang jalan. Sesuai perintah Nenek, ia tidak mendekat. Ia hanya bersandar pada mobil sport-nya, mengenakan kacamata hitam, menatap Shania dari kejauhan.

​Lima meter. Jarak yang ditentukan Nenek Savitri.

​Davindra mengangkat tangannya, menunjuk ke arah matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah Shania. Gue selalu mengawasi lo.

​Namun, saat Shania hendak masuk ke mobil, ia menyadari sesuatu. Di bawah wiper kaca mobil Pak Mamat, terselip sekuntum bunga mawar hitam dengan secarik kertas kecil.

​“Aturan dibuat untuk dilanggar, tapi janji gue untuk jagain lo adalah hukum mati. - D”

​Shania meremas kertas itu, ada rasa takut yang masih tersisa, namun ada juga getaran aneh di dadanya yang sulit ia jelaskan. Di tengah perang antar keluarga besar ini, ia adalah jantung dari badai tersebut.

​Tiba-tiba, ponsel Shania bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan gambar.

Gambar itu menunjukkan foto Davindra dari sudut pandang penembak jitu (sniper), dengan tanda crosshair merah tepat di dadanya.

​Pesan di bawahnya berbunyi:

"Lima meter adalah jarak yang pas untuk satu peluru. Pilih, Shania: Kehancuran Elangga, atau nyawa, Davindra?"

​Shania lemas. Permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih mematikan.

​BERSAMBUNG ....

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh protektif banget
Saniaa96: hiii... makasih dah luangkan waktunya tuk baca🙏🙏☺️
total 1 replies
n
thor lanjut dong thor💪🤭 mau lihat posesif nya davindra..
Saniaa96: heee.. udah yaa dan mksh 🙏🙏☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!