NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Pelindung Tanpa Pedang

Matahari pagi menyelinap lembut menyentuh wajah Bayu yang baru saja terbangun. Tiga tahun sudah berlalu sejak kelahirannya, dan rumah kayu itu kini terasa makin hidup dengan tawa riang bocah itu. Di teras, Paman Hadi sedang duduk sambil merapikan anyaman bambu, sesekali tersenyum melihat Bayu yang berlari kecil mengejar kupu-kupu.

“Pelan-pelan, Nak! Jangan sampai terjatuh!” seru Paman Hadi lembut.

Laras keluar membawa nampan berisi teh hangat dan pisang rebus. Ia tersenyum melihat pemandangan itu—semua kepingan keluarganya kini lengkap. Dika datang dari arah kebun dengan rambut sedikit basah oleh keringat, diikuti Raka yang membawa seikat kelapa muda.

“Pagi yang indah sekali,” ucap Dika sambil meletakkan kelapa, lalu menghampiri Laras untuk mencium keningnya. “Sejak dulu aku tidak pernah menyangka bisa merasakan pagi seindah ini setiap hari.”

Namun kedamaian itu kembali memanggil tugas Laras yang tak terduga. Siang harinya, seorang nelayan datang dengan wajah cemas. Ia bercerita bahwa perahu dagang dari pulau seberang sering ditahan dan dirampok oleh sekelompok perampok yang kini menguasai jalur laut dekat Karimun. Mereka tidak hanya mengambil barang, tapi juga menekan warga untuk membayar upeti setiap bulan.

“Kami takut, Nyonya Laras,” kata nelayan itu dengan suara gemetar. “Mereka bilang jika kami tidak membayar, desa ini akan dibakar habis.”

Warga yang berkumpul menjadi gelisah. Beberapa pemuda menyarankan untuk melawan dengan kekerasan, namun sebagian lain takut karena perampok itu jumlahnya banyak dan membawa senjata lengkap.

Laras diam sejenak, mengingat masa lalunya saat masih menjadi Ratu Pembunuh. Dulu ia pasti akan langsung mengumpulkan pasukan dan menyerbu markas mereka. Namun kini ia sadar, pertempuran yang sesungguhnya bukanlah saling mengadu kekuatan fisik.

“Kita tidak akan berperang dengan cara yang dulu pernah ku lakukan,” ucap Laras tegas. “Tapi kita juga tidak akan membiarkan mereka menindas kita. Kita akan hadapi mereka dengan kebenaran dan persatuan.”

Laras meminta Raka, Arga, dan para pemuda desa untuk memantau pergerakan perampok tanpa melakukan serangan. Dika mengajak warga memperkuat tempat penyimpanan hasil bumi dan menjaga jalur masuk desa dengan teratur. Sementara itu, Laras mengirim pesan kepada kepala perampok itu, mengundangnya datang berbicara secara baik-baik tanpa membawa senjata.

Beberapa hari kemudian, kapal perampok itu berlabuh di teluk. Puluhan orang bersenjata turun ke darat, diikuti pemimpin mereka yang bertubuh besar dengan bekas luka di wajah. Warga desa menahan napas cemas, namun tetap berdiri tegak bersama Laras.

“Kau yang disebut Mantan Ratu Pembunuh?” tanya pemimpin perampok itu dengan nada meremehkan. “Kau berani mengundangku ke sini sendirian?”

“Aku tidak sendirian,” jawab Laras tenang sambil menunjuk warga di sekelilingnya. “Dan aku tidak lagi memegang pedang untuk menaklukkan orang. Aku datang untuk mengajakmu berpikir: apa gunanya harta yang kau rampas jika kau harus hidup terus-menerus lari dan diburu? Apa gunanya kekuasaan jika kau tak bisa tidur nyenyak karena takut dibalas?”

Pemimpin perampok itu terdiam. Selama ini ia hanya mengenal kekerasan sebagai satu-satunya cara bertahan hidup. Kata-kata Laras seolah membuka matanya yang lama tertutup dendam.

“Aku pernah berada di posisimu,” lanjut Laras pelan namun mantap. “Aku pernah berpikir dengan membunuh semua lawan, aku akan aman. Ternyata salah. Keamanan sejati hanya datang saat kita berhenti menyakiti orang lain dan mulai saling menjaga.”

Percakapan itu berlangsung lama. Akhirnya, pemimpin perampok itu menyadari kesalahannya. Ia setuju untuk berhenti merampok, bahkan ia dan kelompoknya bersedia membantu menjaga jalur laut sebagai ganti makanan dan tempat tinggal yang layak dari warga desa.

Saat matahari terbenam menyinari perjanjian itu, warga desa bersorak lega. Mereka tidak menang dengan darah yang tumpah, melainkan dengan hati yang terbuka.

Malam itu, saat Bayu sudah terlelap dalam pelukannya, Laras menatap wajah putranya dengan penuh harap. Dika merangkulnya dari samping.

“Kau berhasil menunjukkan pada mereka bahwa kekuatan terbesar adalah kasih sayang,” bisik Dika.

“Dan kau, Raka, Paman Hadi, serta semua orang di sini yang mengajarkannya padaku,” jawab Laras lembut. “Aku hanya menyadari apa yang sudah ada di dalam hatiku.”

Kisah Laras belum berakhir, namun warnanya kini telah berubah total. Ia bukan lagi bayangan yang menakutkan, melainkan cahaya yang menuntun. Di Karimun yang damai itu, ia belajar bahwa menjadi pelindung bukan berarti harus selalu siap melukai, melainkan siap berkorban, siap memaafkan, dan siap menjaga keutuhan hati orang-orang yang dicintainya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!