Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN DI BALIK BATHTUB
Napas Davina masih terengah-engah, dengan sisa keringat yang membasahi dahi dan leher jenjangnya. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya dari badai asmara yang baru saja lewat, matanya langsung tertuju pada robekan kain gamis moka kesayangannya yang tercabik mengenaskan di lantai bawah ranjang. Seketika, rasa kesal mengalahkan rasa lelahnya.
Davina bangkit duduk sambil menarik selimut tebal untuk menutupi dadanya, lalu menatap Barra dengan pandangan menusuk. "Barra! Kamu benar-benar keterlaluan ya! Lihat itu, gamis kesayanganku hancur! Terus sekarang bagaimana caranya aku pulang, hah? Kamu mau aku keluar kantor pakai selimut ini?" Omelan Davina meluncur deras dengan bibir yang mengerucut kesal.
Melihat istrinya yang mengamuk dengan wajah kemerahan yang justru terlihat sangat menggemaskan, Barra hanya bisa tersenyum tanpa dosa. Pria tegap itu mengusap tengkuknya, merasa sedikit bersalah karena telah membiarkan insting posesifnya mengambil alih akal sehat.
"Maaf, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri tadi," ucap Barra dengan suara baritonnya yang masih terdengar serak. Ia merangkak mendekat, lalu mengusap kepala Davina dengan lembut. "Sekarang, kamu istirahat saja dulu. Tidurlah. Aku berjanji, begitu kamu bangun nanti, baju gamis yang sama persis dengan yang robek itu sudah akan menggantung di sini."
Karena tubuhnya memang sudah terasa sangat lelah dan lemas akibat pertempuran, di siang bolong yang menguras tenaga, Davina akhirnya tidak bisa menolak. Ia merebahkan kembali tubuhnya dan menarik selimut hingga sebatas dada. Dalam hitungan menit, Davina sudah tertidur pulas karena kelelahan.
Barra tersenyum teduh menatap wajah damai istrinya. Ia beranjak dari ranjang, memungut pakaiannya yang berserakan, lalu melangkah ke kamar mandi di dalam ruangan itu untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Barra berganti pakaian menggunakan kemeja bersih yang memang selalu tersedia di lemari ruang istirahatnya. Sambil mengancingkan pergelangan lengan kemejanya, matanya kembali melirik ke arah ranjang. Bibirnya menyunggingkan senyuman kepuasan yang teramat sangat. Menikahi Davina adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Barra melangkah pelan mendekati ranjang, membungkuk sedikit untuk memberikan kecupan hangat di kening Davina yang tertidur pulas, lalu melangkah keluar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Begitu kembali ke meja kebesaran CEO di ruang kerja utama, Barra langsung menekan tombol interkom untuk menghubungi asisten pribadinya.
"Ferdi, masuk ke ruanganku sekarang," titah Barra datar.
Tak butuh waktu lama, Ferdi sudah mengetuk pintu dan melangkah masuk dengan sikap siaga. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Cari gaun gamis rajut berwarna moka yang sama persis dengan yang dikenakan istriku pagi tadi. Aku ingin baju itu sudah ada di ruang istirahatku dalam waktu satu jam," perintah Barra tanpa ekspresi. "Dan satu lagi, belikan beberapa pasang pakaian wanita premium dengan ukuran yang sama, lalu susun rapi di lemari kaca ruang istirahat. Aku tidak mau kejadian hari ini terulang lagi."
Ferdi sempat tertegun sejenak. Pakaian robek? Jam kerja? Otak cerdas sang asisten langsung menghubungkan titik-titik kejadian dan menebak apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan rahasia bosnya. Sambil menahan senyum gelinya agar tidak mendapat lemparan penindih kertas dari Barra, Ferdi membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Segera saya selesaikan."
Menjelang sore hari, perlahan Davina mulai membuka matanya. Suasana kamar sudah sedikit temaram karena matahari luar mulai tenggelam. Ia meregangkan tubuhnya sejenak, namun senyumnya langsung terkembang saat pandangannya tertuju pada pintu lemari kaca. Di sana, sepotong gamis moka yang baru dan mulus tampak tergantung rapi.
Tidak hanya itu, di balik pintu kaca lemari, ia bisa melihat jajaran beberapa stel pakaian wanita dengan warna-warna pastel yang sangat indah sudah tersusun rapi. Davina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Pria itu benar-benar selalu tahu cara menebus kesalahannya dengan cara yang tak terduga.
Namun, begitu Davina mencoba untuk bergeser dan bangkit dari ranjang, rasa nyeri yang hebat langsung menyerang bagian pinggang dan tubuh bagian bawahnya.
"Awh..." Davina meringis kesal, memegangi pinggangnya yang terasa sangat pegal. Ia mendengus jengkel dan mulai menggerutu sendirian di atas kasur. "Dasar Barra tidak punya perasaan! Tenaganya kayak robot, tidak ada habisnya. Bajuku dirobek, sekarang pinggangku mau patah rasanya. Awas saja kalau dia minta lagi nanti malam, tidak akan aku kasih!"
Cklek.
Pintu ruang istirahat tiba-tiba terbuka. Barra melangkah masuk dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, menampilkan kesan kasual yang sangat tampan. Namun, langkah pria itu terhenti dengan senyuman jenaka yang tertahan di bibirnya.
"Oh, jadi Nyonya Alfarizi sedang mengutuk suaminya sendiri di sini, hm?" goda Barra sambil berjalan mendekati ranjang.
Davina tersentak kaget, wajahnya langsung merona merah karena tertangkap basah sedang mengomel. "B-Barra? Sejak kapan kamu di situ?"
"Sejak kamu menggerutu tentang tenagaku yang seperti robot," sahut Barra santai. Ia duduk di tepi ranjang, lalu tanpa aba-aba membalikkan tubuh mungil Davina agar tengkurap, kemudian jemari tangannya yang besar dan hangat mulai memberikan pijatan lembut namun bertenaga pada pinggang istrinya yang tegang.
"Ah... pelan-pelan, Barra," keluh Davina, namun tidak bisa memungkiri bahwa pijatan suaminya terasa sangat nyaman dan mengurangi rasa sakitnya.
Setelah beberapa menit memijat, Barra menghentikan gerakannya. "Sudah lebih baik? Ayo, aku bantu kamu mandi ke bathtub."
Davina langsung berbalik dan duduk dengan sigap, menahan selimutnya. "Tidak usah! Aku bisa jalan sendiri ke kamar mandi. Kamu keluar saja sana."
Namun, Barra adalah pria berwatak keras kepala yang tidak menerima penolakan. Tanpa memedulikan protes Davina, ia kembali mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam gendongan dan melangkah mantap masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berukuran luas tersebut.
Setelah mendudukkan Davina dengan perlahan di dalam bathtub yang sudah terisi air hangat berbusa melati, Davina menatap Barra yang masih berdiri di pinggir bak mandi. "Nah, sekarang kamu kembali ke mejamu. Aku mau mandi tenang."
Bukannya berbalik pergi, Barra justru mulai menanggalkan kemejanya kembali dengan senyuman licik yang sangat familiar di mata Davina. "Aku kan sudah bilang, Sayang. Aku mau membantumu mandi agar pinggangmu tidak semakin sakit."
"Barra, jangan mulai ya! Kam..."
Kalimat Davina terputus total saat tubuh tegap Barra ikut masuk ke dalam bathtub yang luas itu, membuat air hangat di dalamnya sedikit meluap ke lantai. Barra menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya di dalam air, mengunci pergerakan istrinya.
Niat awal yang katanya ingin membantu membasuh tubuh sang istri, perlahan-lahan berubah arah ketika "adik kecil" Barra kembali mengeluarkan tuntutannya begitu bersentuhan dengan kulit mulus Davina di bawah air hangat.
"Barra... kamu... ah..." Davina memprotes lemas ketika kecupan-kecupan panas kembali mendarat di lehernya, sementara tangan Barra mulai bergerak nakal di dalam air. "Kamu benar-benar tidak punya rasa lelah ya? Hum... Ini sudah sore!"
"Untuk memilikimu, aku tidak akan pernah mengenal kata lelah, Sayang," bisik Barra posesif sebelum kembali mengungkung bibir Davina.
Di dalam kehangatan air bathtub, pertempuran ronde berikutnya kembali pecah dengan begitu panas dan romantis, menenggelamkan segala protes Davina ke dalam lautan asmara yang tiada habisnya.