NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu

​Hujan lebat disertai angin kencang mengguyur kawasan Menteng sejak pukul lima sore, menyelimuti area perumahan elit itu dalam kepungan kabut air yang tebal. Di balik jendela kaca besar, dedaunan pohon peneduh bergoyang hebat, sementara aroma tanah basah yang pekat berpadu dengan hawa dingin yang menusuk perlahan merayap masuk melalui celah-celah ventilasi.

​Di dalam area dapur bersih lantai satu, Nadine Lavena sedang memotong beberapa batang daun bawang di atas talenan kayu jati. Bunyi ketukan pisau yang teratur beradu ritmis dengan suara hantaman air hujan di luar jendela. Malam ini, tubuhnya terasa begitu lelah, menuntut asupan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mampu memberikan kehangatan nyata bagi raganya. Sebuah panci baja antikarat di atas kompor perlahan mulai mengeluarkan uap putih yang mengepul tebal.

​Aroma gurih yang teramat pekat dari kaldu ayam rebusan lama, potongan jahe yang digeprek kasar, dan wangi bawang putih goreng yang renyah segera memenuhi seisi ruangan. Bau khas rempah ginseng tradisional ikut menguar, perlahan mengusir atmosfer steril yang biasanya mendominasi rumah minimalis industrial ini. Nadine bersenandung kecil, mengaduk isi sup dengan sendok sayur perak, membiarkan pikirannya hanyut dalam ketenangan memasak yang selalu menjadi terapi terbaiknya.

​Suara langkah kaki yang berat, lambat, dan tidak stabil tiba-tiba terdengar mendekat dari arah koridor tengah. Langkah itu terdengar sangat berbeda dari ketukan tegas yang biasa terdengar. Nadine menolehkan kepalanya perlahan.

​Kyle Ernest berdiri di ambang pintu dapur. Pria beraura es itu tampak luar biasa berantakan malam ini. Kemeja hitam formalnya sudah sangat kusut dengan beberapa kerutan kasar di bagian lengan, dasinya sudah ditanggalkan entah ke mana, dan dua kancing teratasnya terbuka tak beraturan. Gurat wajah tampannya terlihat begitu pucat, kontras dengan rona merah yang tidak wajar di sekitar pelipis, sementara sepasang matanya tampak sayu menahan sakit yang teramat sangat.

​Pria itu tidak menyapa, juga tidak menatap Nadine. Dengan sisa tenaganya, Kyle menyeret tubuh tegapnya mendekati meja konter dapur, lalu langsung duduk di atas salah satu kursi bar tinggi. Ia menjatuhkan kepala beratnya di atas permukaan konter marmer yang dingin, mengembuskan napas pendek-pendek yang terdengar begitu kepayahan.

​Nadine meletakkan pisaunya, mengernyitkan dahi rapat-rapat. Ia mematikan pemantik api kompor, lalu berjalan memutari meja konter untuk mendekati posisi pria itu.

​"Pak Kyle? Apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sangat pucat malam ini."

​Tidak ada jawaban lisan. Hanya terdengar suara lenguhan napas yang berat, serak, dan terasa sangat panas saat menyentuh udara dapur. Nadine memberanikan diri mengulurkan telapak tangan kanannya, menempelkan punggung tangannya yang dingin ke atas dahi Kyle untuk memeriksa suhu tubuh pria itu.

​Sentuhan pertama mereka yang murni tanpa akting. Nadine menarik tangannya kembali dengan cepat, matanya membelalak terkejut.

​{Suhu tubuhnya sangat tinggi, dia sedang terserang demam yang parah. Pria angkuh yang biasanya beraura sedingin es utara ini ternyata bisa jatuh sakit dan tampak serapuh ini di hadapanku.}

​Sifat kepedulian yang selama ini selalu ia kubur rapat-rapat di balik topeng bersikap acuh tak acuh mendadak mengambil alih kendali tubuh Nadine. Tanpa memikirkan pasal kontrak ataupun meminta biaya kompensasi tambahan, ia bergerak cekatan mengambil sebuah mangkuk porselen putih besar. Nadine menyendok sup ayam ginseng yang masih mengepul panas dari dalam panci, memastikan potongan daging ayam yang empuk dan kuah kaldu rempah yang kaya terisi penuh hingga ke permukaan mangkuk.

​Nadine meletakkan mangkuk sup tersebut tepat di hadapan Kyle, lengkap dengan segelas air putih hangat dan dua butir obat penurun demam yang baru saja ia ambil dari dalam kotak obat di lemari gantung.

​"Makanlah sup hangat ini selagi suhunya masih pas sampai habis, setelah itu langsung minum obat penurun demam ini. Saya tidak ingin Anda pingsan di rumah ini dan membuat saya dituduh oleh keluarga besar Ernest telah menelantarkan bos besar saya sendiri."

​Kyle membuka sepasang matanya yang sayu dengan perlahan. Ia menatap mangkuk sup yang mengepul di hadapannya, lalu mengalihkan pandangannya menatap wajah unik Nadine yang berdiri sangat dekat di sampingnya. Kehangatan uap masakan yang mengalir ke wajahnya entah bagaimana terasa meresap hingga ke dalam rongga dadanya yang selama ini selalu mati rasa.

​Dengan gerakan lambat yang sedikit gemetar, Kyle meraih sendok, menyendok kuah sup tersebut, lalu mencicipinya perlahan. Rasa gurih kaldu yang pas, berpadu dengan kehangatan ekstrak ginseng dan jahe tradisional langsung menjalar hangat di dalam tenggorokannya, memberikan efek relaksasi yang luar biasa nyaman. Kondisi tubuhnya yang menggigil perlahan-lahan mulai membaik.

​"Rasanya... sangat enak."

​Suara berat Kyle terdengar sangat rendah dan serak, hampir tenggelam di antara suara gemuruh air hujan yang menghantam kaca jendela luar.

​Nadine menarik sudut bibirnya, menampilkan seulas senyuman tipis yang teramat tulus dari dalam lubuk hatinya sebuah senyuman hangat alami yang sangat jarang ia perlihatkan kepada dunia sejak malam pengkhianatan ibunya dulu. Ia mengambil posisi duduk di kursi bar tepat di sebelah Kyle, memperhatikan pria es itu menghabiskan sup buatannya dalam keheningan yang damai tanpa ada perdebatan pasal kontrak.

​Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, jarak fisik dan sekat ego di antara dua kamar terpisah di lantai dua seolah mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh kehangatan semangkuk sup buatan tangan Nadine. Sebuah jembatan emosi yang tak kasat mata mulai terbangun di antara mereka tanpa ada satu pun yang menyadarinya.

​Dua bulan telah berlalu sejak malam badai di dapur bersih itu, dan ritme kehidupan pernikahan kontrak di antara Kyle Ernest dan Nadine Lavena berjalan dengan sangat teratur dan dipenuhi kedamaian yang tak terduga. Nadine sangat menikmati perannya sebagai seorang istri kontrak yang profesional. Ia selalu tampil memukau, anggun, dan penuh pesona keserasian di depan sorotan kamera media publik atau saat menghadiri acara formal keluarga besar Ernest. Sementara di dalam rumah Menteng, ia bertransformasi menjadi seorang koki pribadi berbayar mahal yang selalu menyajikan makanan lezat untuk Kyle.

​Kyle sendiri perlahan-lahan mulai terbiasa, atau bahkan cenderung menantikan kehadiran Nadine di rumah ini. Kehadiran wanita berparas unik yang selalu bersikap acuh tak acuh namun selalu memiliki cara tersendiri untuk memberikan ketenangan nyata di saat ia mengalami stres pekerjaan, perlahan-lahan mulai mengikis keangkuhan aura es milik Kyle. Pria itu mulai sering menghabiskan waktu malamnya di lantai satu hanya untuk memperhatikan Nadine membaca buku atau memasak, menikmati atmosfer rumah tangga sungguhan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

​Sore itu, sekitar pukul lima, Nadine sedang berada di ruang tengah lantai satu, duduk dengan anggun di atas sofa beludru krem sembari membaca sebuah buku laporan analisis keuangan dengan secangkir teh melati hangat di sampingnya. Aroma kue kering cokelat chip yang baru saja selesai ia panggang di oven dapur masih menyisakan keharuman manis yang menenangkan di udara ruangan.

​Kyle baru saja kembali dari kantornya lebih awal malam ini. Pria itu melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang digulung lengannya, lalu duduk di atas sofa panjang tepat di seberang Nadine sembari memeriksa beberapa berkas dokumen digital melalui ponsel pintarnya. Tidak ada perdebatan, tidak ada ketegangan. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu damai dan harmonis, persis seperti visual sepasang suami istri sesungguhnya yang saling menghormati ruang hidup masing-masing.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan yang teramat keras, kasar, dan dipenuhi nada tidak sabaran di atas permukaan pintu kayu jati utama lobi depan seketika memecah keheningan damai sore itu dengan sangat kasar. Nadine menghentikan aktivitas bacanya, mengernyitkan dahi dengan perasaan tidak nyaman, lalu mengalihkan pandangannya menatap wajah Kyle yang juga tampak terkejut.

​Mengingat para pelayan dan penjaga rumah sedang berada di area paviliun belakang untuk membersihkan halaman luar, Nadine memutuskan berdiri dari sofanya, merapikan blus santainya, lalu berjalan menuju lobi depan untuk membuka pintu utama sendiri.

​Begitu daun pintu kayu jati besar itu ditarik terbuka, sebuah aroma parfum melati yang teramat pekat, menyengat, dan manis berlebihan langsung menusuk indra penciuman Nadine dengan sangat kasar hingga memberikan efek muak.

​Seorang perempuan muda berwajah cantik dengan bentuk tubuh yang sangat seksi mengenakan blus mini ketat berpotongan dada sangat rendah dan rok denim super pendek sudah berdiri di sana dengan raut wajah dipenuhi keangkuhan. Di belakang tubuh wanita itu, dua buah koper besar bermerek desainer internasional ternama tergeletak begitu saja di atas lantai teras.

​Kinara Inka telah resmi kembali menapakkan kakinya di Indonesia.

​"Siapa kamu? Mengapa kamu yang membuka pintu rumah ini? Di mana keberadaan Kyle sekarang?"

​Perempuan itu melontarkan rentetan pertanyaan dengan nada suara yang ketus, kasar, dan dipenuhi nada menginterogasi. Wanita seksi itu langsung melangkah maju melewati ambang pintu tanpa meminta izin terlebih dahulu, memaksa tubuh Nadine untuk mundur satu langkah ke belakang demi menghindari tabrakan fisik.

​Kyle Ernest yang mendengar suara keributan asing di lobi depan langsung berjalan keluar dari ruang tengah. Begitu sepasang mata tajamnya menangkap sosok perempuan seksi yang berdiri di dalam lobinya, seluruh otot tubuh tegap pria itu mendadak menegang kaku bagai disengat listrik tegangan tinggi. Aura es di wajah tampannya mendadak mencair sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi keterkejutan luar biasa yang belum pernah Nadine lihat sebelumnya.

​"Kinara? Bagaimana bisa kamu berada di sini... bukankah kamu seharusnya berada di London?"

​Suara Kyle terdengar bergetar hebat, menahan gejolak emosi yang mendadak meledak di dalam dadanya.

​"Kyle!"

​Kinara Inka yang melihat kehadiran Kyle langsung mengeluarkan jeritan manja. Ia berlari dengan langkah seribu, lalu menghamburkan seluruh tubuh seksinya ke dalam pelukan dada Kyle dengan tangisan yang mendadak pecah dalam sekejap mata.

​Kualitas akting wanita licik itu benar-benar sangat luar biasa sempurna. Suaranya terdengar begitu rapuh, ketakutan, malang, dan tertindas seolah ia baru saja lolos dari kejaran monster pembunuh.

​"Kedua orang tuamu... mereka mencoba mengurungku dan mengancam keselamatan jiwaku lagi di sana, Kyle! Aku sangat ketakutan! Aku nekat memalsukan paspor dan melarikan diri kembali ke sini hanya demi bisa bertemu lagi denganmu! Aku... aku tidak bisa hidup tanpa kehadiranmu lagi di sisiku, Kyle!"

​Kyle Ernest membalas dekapan erat wanita itu dengan gerakan yang sedikit ragu dan kaku pada awalnya, namun rasa bersalah masa lalu dan ilusi cinta manis yang selama lima tahun ini ia pelihara membuat kedua lengan kekarnya perlahan mengunci tubuh seksi Kinara ke dalam dadanya. Di sela-sela dekapan erat itu, sepasang mata kelabu milik Kyle melirik ke arah posisi Nadine yang masih berdiri diam di dekat pintu utama.

​Nadine Lavena menatap pemandangan pelukan mesra dan adegan drama air mata di hadapannya dengan ekspresi wajah yang teramat datar, dingin, dan bersih dari segala bentuk emosi sentimental. Tidak ada rasa cemburu yang mengiris hatinya, tidak ada amarah yang membakar dadanya, dan tidak ada air mata kedekatan yang menetes. Akal sehat dan logika berpikirnya yang cerdik bekerja dengan sangat dingin dan teratur menilai situasi yang ada di depan matanya.

​{Ah. Jadi wanita seksi berpakaian minim inilah sosok hantu dari masa lalu pria es ini? Datang membawa dua koper besar langsung menuju rumah pernikahan kontrak kami dengan drama air mata yang sangat teatrikal? Benar-benar sebuah plot twist yang menarik untuk kelanjutan bisnis ini. Mari kita saksikan bersama-sama sejauh mana drama kelicikan murah ini akan berjalan di bawah atap ini.}

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!