Cinta di tolak dukun bertindak itulah sebutan buat Ninis. Penolakan dari laki-laki yang bernama Tirta membuat dia nekat bersekutu dengan jin agar bisa menolongnya untuk mendapatkan Tirta.
Sebagai tunangan Tirta, Sena berjuang mati-matiam gar bisa menyelamatkan Tirta dari pengaruh sihir yang Ninis kirim.
Mampukah Sena menyelamatkanya?
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa, Like, Coment, Vote, jangan lupa mawar dan kopinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Penemuan Mayat
"Enggak ada apa-apa, Nak, Bu, Ibu masuklah kedalam ajak Sekar sekalian, soalnya ada sesuatu yang harus Bapak urus," ujar Pak Wihata memberi kode sang istri.
Bu Ayu mengangguk patuh beliau percaya sama apa yang di katakan suaminya, dirinya yakin pasti ada sesuatu yang suaminya itu ketahui.
Sekar mengerutkan dahinya bingung sekaligus merasa keheranan, Ia merasa ada yang sedang di sembunyikan sama kedua orang tuannya. Dirinya sempet melihat ada keterkejutan di wajah orang tuannya tadi, tapi kenapa sekarang keduanya tampak biasa-biasa saja? Batin Sekar bertanya-tanya.
Setelah istri dan putrinya sudah masuk kedalam, Pak Wihata menghampiri sosok mahkluk hitam dengan mata menyala yang sedari menatapnya tajam! Pak Wihata menyakini kalau sosok hitam tersebut lah yang sudah membuat keributan di rumahnya.
"Tidak baik kalau mahluk halus mengganggu manusia dan membuat kekacuan." Pak Wihata berjalan menghampiri sosok hitam tersebut.
Arhhhh! Arhhhh!
Sosok hitam tersebut menggeram marah menujukan gigi panjangnya yang tajam mulutnya mengeluarkan cairan hitam berbau anyir yang sangat menyengat.
Bibir, Pak Wihata tidak berhenti komat-kamit membaca doa yang dirinya bisa. Beliau terhenyak kaget melihat bola mata sosok hitam tersebut membesar memperlihatkan sang putra sedang di kelilingi makhluk-makhluk hitam berbadan besar.
"Tirta." ucapnya.
"Kedatangan ku kemari hanya untuk mengingatkan kalian lepaskan Tirta! Karena sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari kami." tutur mahkluk besar tersebut dengan suara terdengar mengerikan.
"Maka langkahi dulu mayat ku," Pak Wihata balik menentang makhluk tersebut.
Arhhh!
Wus! Wus!
Srek! Srek!
Mahkluk tersebut menghilang dari hadapan, Pak Wihata meninggalkan kepulan asap hitamnya. Angin berhembus kencang membuat daun-daun berterbangan di sekeliling Pak Wihata.
"Astaghfirullah." Pak Wihata beristigfar dan langsung membuka kedua matanya.
"Sepertinya ada yang mau mengganggu putraku." Pak Wihata bergumam pelan, beliau mendongak melihat jam menunjukan angka 3 pagi.
Pagi datang, Pak Wihata lagi duduk di ruang tamu dengan di temani secangkir kopi hitam dan pisang goreng buatan sang istri, pandangannya lurus kedepan memikirkan soal mimpinya semalem. Di datangi sosok makhluk hitam tentu bukanlah masalah yang sepele apalagi sosok hitam tersebut menyuruh dirinya untuk melepaskan Tirta, sudah jelas ucapan makhluk tersebut sesuatu yang tidak bisa di anggap remeh olehnya.
Huf...
"Apa di desa Kuningan, Tirta melakukan sesuatu? Kenapa ada mahkluk halus mengincarnya," ucap Pak Wihata menyesap kopi yang sudah mulai dingin karena lama dianggurin.
Bu Ayu mengusap bahu suaminya tersenyum kecil ikut duduk di sebelah sang suami, Bu Ayu yang sejak tadi melihat sang suami melamun akhirnya memutukan untuk menghampirinya. Bu Ayu ingin tau apa yang sedang suaminya itu pikirkan? Kenapa raut mukanya terlihat tegang seperti tadi? Batin Bu Ayu penasaran.
"Lagi mikirin apa, Pak? Ibu perhatikan sejak tadi, Bapak melamun terus?" tanyanya.
"Tirta," ujarnya.
"Tirta? Memangnya ada apa sama putra kita?" Bu Ayu balik bertanya.
Pak Wihata diam sejenak menatap serius wajah sang istri, beliau menghela napas menggenggam erat tangan sang istri sebelum akhirnya menceritakan soal mimpinya semalem.
Bu Ayu memasang wajah serius saat suaminya mulai bercerita ekspresi wajahnya seketika berubah-rubah terkadang terlihat tegang dan juga was-was, takut kalau mimpi suaminya itu sebuah pertanda untuk keluarganya.
"Pak, kenapa Ibu merasa ada sesuatu bakal menimpa anak kita." ujar Bu Ayu cemas.
"Tidak akan Bu. Lagian itu cuma mimpi saja," jawab Pak Wihata suaranya terdengar meyakinkan sang istri.
"Ibu jadi takut, lagian tumben sekali Tirta enggak ngabarin kita? Biasanya setiap pagi dia menyempatkan waktu buat telpon kita." ucap Bu Ayu lagi.
"Bu, percaya sama Bapak. Tirta disana pasti baik-baik saja, nanti kalau waktu panen sudah selesai nanti kita kesana buat jengukin Tirta. Ingat, Bu, jangan sampai bikin Sekar ikut kepikiran soal ini," ucap Pak Wihata mengusap pundak istrinya.
Bu Ayu mengguk membenarkan ucapan suaminya jangan sampai putrinya ikut kepikiran soal Tirta, putri sulungnya itu hatinya sangat lembut kalau mendengar sesuatu buruk menimpa keluargnya maka dia akan merasa sangat bersedih .
Melihat kedatangan kedua orang tuanya, Sekar langsung sigap mengambilkan nasi untuk keduanya, dia juga sudah menyiapkan makanan yang mau di bawa orang tuanya ke sawah buat para pekerjanya. Ia sendiri harus berangkat ke puskesmas tempatnya bekerja.
****
Pagi hari.. di depan rumah Pak Ipin sudah ramai di kerumuni para warga. Sedangkan Pak Rudi dan Bu Ratih terlihat lagi menundukan kepalanya tidak berani melihat, Pak Ipin, untuk Bu Warsinah sendiri beliau masih terus menangis karena anaknya belum kembali. Saat laporannya di abaikan sama Bu Ratih, beliau langsung mendatangi rumah Pak Ipin selaku rw di desanya, Bu Warsinah juga memberi tau kalau keluarga Pak Rudi tidak mau menerima laporan darinya.
"Bapak-Bapak, saya minta tolong kesediaan kalian untuk membatu saya mencari keberadaan kedua anak Bu Warsinah, gimana apa kalian bersedia membantu saya?" tanya Pak Ipin melihat satu persatu para warganya termasuk Pak Rudi dan juga istrinya.
Para warga mengangguk setuju mereka membagi kelompok supaya pencarian lebih gampang saat melakukan pencarian, setelah mendapat kelompoknya masing-masing para warga langsung bergegas untuk mencari kedua anak Bu Warsinah.
Pak Ipin menggelengkan kepalanya melihat Pak Rudi dan juga Bu Ratih, beliau sangat menyayangkan sikap keduanya sebagai rt tidak seharusnya, Pak Rudi mengabaikan warganya saat mereka meminta bantuannya.
"Pak Rudi, saya sangat kecewa sama Bapak, sebagai rt di desa ini bukankah sudah seharusnya, Bapak membantu warga saat mereka membutuhkan bantuan kita? Sepertinya saya harus membicarakan hal ini sama Pak Lurah, biarkan beliau yang mencari solusi tentang masalah ini. Bu Warsinah sebaiknya Ibu pulang saja biarkan kami yang mencari anak Ibu," ucap Pak Ipin.
"Tapi, gimana kalau kedua anak saya nggak di temukan, Pak Rw? Saya takut terjadi sesuatu sama kedua anak saya." ujar Bu Warsinah dengan suara bergetar.
"Kami akan berusaha menemukan mereka, Bu. Kalau enggak ketemu juga ya.. terpaksa kita harus melaporkan masalah ini ke pihak berwajib, sekarang, Ibu pulanglah," sahut Pak Ipin lagi.
Dengan berat hati Bu Warsinah mengiyakan ucapan Pak Ipin, beliau berjalan dengan langkah gontai meninggalkan ketiganya. Bu Ratih menggertakan giginya tangannya terkepal kuat melihat kepergian Bu Warsinah.
"Bang Tirta!" teriak Ninis dari belakang memeluk Tirta.
Tirta melepas kasar pelukan Ninis, membuat perempuan itu terhuyung. Pemuda itu berdecih, Ia masih teringat kejadian dimana Ninis mau menjebaknya berapa minggu lalu.
Sena tersenyum kecil melangkah mendekati Ninis, tangannya terulur mengusap pipi Ninis detik berikutnya, Sena langsung mencubit pipi, Ninis membuat perempuan itu meringis kesakitan. Tirta menahan tawa melihat kejailan tunangannya itu.
"Beraninya, kau menyentuh milik ku." ucap Sena, cubitannya semakin kuat.
"Lepaskan!" Ninis menepis kasar tangan Sena dari pipinya hingga cubitannya terlepas, pipi Ninis terlihat memerah karena bekas cubitan Sena.
"Kamu bilang apa? Milikmu? Asal kamu tau kalian itu baru bertunangan jadi bang Tirta masih bebas untuk memilih siapa saja yang akan menjadi istrinya nanti, kamu lihat saja gadis sialan sebentar lagi bang Tirta akan menjadi milikku." ucap Ninis tersenyum mengejek.
Cup..
Bruk!
Sena mendorong Ninis hingga perempuan itu jatuh tersungkur, tawanya meledak melihat bibir, Ninis mengenai kotoran kambing.
"Jangan mimpi," Sena menarik tangan Tirta dan pergi meninggalkan Ninis.
Akh!!!!
"Brengsek! Dasar gadis sialan! Liat saja tinggal menghitung jam maka Bang Tirta akan menjadi milikku!" teriak Ninis marah.
****
"Tolong! Tolong! Ada mayat!" terdengar suara teriakan minta tolong menarik perhatian para pekerja.
*********