NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Upgrade Sistem dan Kos-kosan Baru

Ponsel Arka bergetar tepat saat ia membuka pintu kamar kontrakannya.

Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh dua malam.

Ia belum sempat melepas sepatu ketika suara mekanis itu muncul di kepala.

[Misi selesai: Mengungkap Kematian Sari Rahayu]

[Evaluasi perkara: korban mendapatkan keadilan. Tersangka ditetapkan. Bukti pendukung ditemukan. Reputasi kepolisian dan IKF meningkat.]

[Hadiah diberikan.]

[EXP +120]

[Reputasi +80]

[Injeksi Pengetahuan Forensik Dasar: sinkronisasi dimulai.]

Arka berhenti di tengah kamar.

Kamar itu sempit. Satu kasur lipat, satu meja plastik, satu kipas kecil yang suaranya lebih keras daripada anginnya. Di dinding, jas putihnya tergantung di paku yang mulai miring.

Ia memejamkan mata.

Detik berikutnya, rasa panas menghantam tengkuknya.

Sakitnya terasa asing.

Seperti ratusan halaman buku dibakar lalu abunya langsung dimasukkan ke otak.

Luka tusuk. Luka iris. Pola memar. Perubahan warna livor mortis. Bau formalin. Tekstur jaringan yang membusuk. Perbedaan kecil antara gantung diri dan cekikan.

Semua masuk tanpa permisi.

Arka meremas pinggir meja.

Gelas air mineral jatuh, berguling di lantai.

"Sial... pelan-pelan sedikit," desisnya.

Sistem tidak menjawab.

Panel biru tipis terbuka di depan matanya.

[Sinkronisasi selesai.]

[Level pengguna naik.]

[Level saat ini: V1.1]

[Modul baru terbuka: Pemindai Cedera]

[Deskripsi: membaca cedera permukaan dan gangguan tubuh tertentu pada target hidup maupun jenazah dalam jarak pandang. Akurasi dipengaruhi pencahayaan, jarak, dan kondisi target.]

[Peringatan: hasil sistem bukan alat bukti hukum. Gunakan observasi medis dan prosedur resmi sebagai dasar eksternal.]

Arka tertawa pendek.

Bahkan sistem pun tahu KUHAP.

Ia duduk di tepi kasur. Keringat dingin turun dari pelipis. Tetapi di balik rasa pening itu ada sesuatu yang lain.

Tenang.

Ia mengangkat tangan kanan, menatap punggung tangannya sendiri.

Tidak ada label.

"Tidak bisa membaca diri sendiri?" gumamnya.

Panel tidak bergerak.

Baik.

Setidaknya ia tidak perlu melihat daftar kerusakan tubuhnya sendiri setiap pagi.

Pagi berikutnya, IKF masih ramai membahas makan-makan semalam.

Dimas mengirim pesan WhatsApp ke grup kecil Satreskrim.

Mas Arka, kalau bisa baca pinggang Pak Kapolrestabes, bisa baca isi dompet saya juga tidak?

Bambang membalas lebih cepat.

Dompetmu kosong. Tidak perlu dokter.

Adira hanya mengirim satu pesan.

Jangan lebay. Fokus kerja.

Arka membaca sambil berjalan menuju ruang arsip. Ia baru memasukkan ponsel ke saku ketika seorang teknisi IKF, Mas Rudi, lewat sambil membawa kotak sampel.

Rudi mengangkat tangan. "Pagi, Dok Arka. Semalam jadi bintang, ya?"

"Pagi, Mas. Bintang kantin saja. Bintang kasus tetap almarhumah," jawab Arka.

Rudi tertawa, tetapi tangan kirinya bergerak kaku.

Saat Arka menatap pergelangan itu, label kuning tipis muncul.

[Regangan ringan: pergelangan kiri]

[Nyeri saat fleksi]

[Rekomendasi: kompres dingin, istirahat beban 24-48 jam]

Langkah Arka melambat.

Jadi benar.

Modul itu aktif.

"Mas Rudi," kata Arka.

"Ya, Dok?"

"Tangan kiri jangan dipakai angkat kotak dulu. Pergelangannya ketarik, kan?"

Rudi membeku. "Loh. Kok tahu?"

Arka menunjuk kotak sampel. "Pegangan kanan penuh, kiri tidak berani menekuk. Bahu kiri juga naik. Kelihatan."

Rudi menatap tangannya sendiri. "Kemarin bantu pindah lemari arsip. Saya kira cuma pegal."

"Kompres dingin. Kalau bengkak atau kebas, lapor. Jangan pura-pura kuat lalu sampel jatuh."

"Siap, Dok. Waduh, makin serem saja sekarang."

Arka tersenyum tipis dan lanjut berjalan.

Di dalam kepalanya, ia mencatat batas pertama.

Label muncul cepat, tetapi ia tetap butuh alasan nyata untuk bicara.

Jika tidak, orang akan berhenti kagum dan mulai takut.

Tiga hari kemudian, bonus perkara masuk.

Arka berdiri di depan ATM dekat RSUD dr. Soetomo. Angka di layar membuatnya diam beberapa detik.

Saldo sebelumnya tidak sampai Rp 7.000.000.

Setelah bonus Rp 7.500.000 masuk, jumlahnya tampak lebih manusiawi.

Jumlah itu belum membuatnya kaya.

Jauh dari itu.

Tetapi cukup untuk satu keputusan penting: keluar dari kamar kontrakan lama yang atapnya bocor setiap hujan.

Ia membuka aplikasi sewa kamar.

Harga murah biasanya jauh.

Yang dekat RSUD biasanya sempit.

Yang bersih biasanya meminta deposito terlalu besar.

Setelah dua jam membandingkan, ia menemukan satu iklan.

Kos-kosan di daerah Gubeng. Jarak ke RSUD tidak terlalu jauh. Kamar mandi dalam. Wi-Fi bersama. Rp 1.200.000 per bulan. Deposit satu bulan.

Foto kamarnya biasa saja.

Tetapi ada meja kerja.

Itu cukup.

Sore itu ia datang melihat lokasi.

Pemilik kos, Pak Hadi, pria berkumis tipis dengan sarung kotak-kotak, membuka pintu pagar.

"Kerja di mana, Mas?"

"RSUD dr. Soetomo. IKF."

Pak Hadi berhenti setengah detik. "IKF itu... forensik?"

"Iya, Pak."

"Berarti pulangnya bisa malam?"

"Bisa. Kadang dipanggil polisi juga."

Pak Hadi mengangguk pelan. "Asal tidak bawa pekerjaan pulang."

Arka menatapnya.

Pak Hadi cepat menambahkan, "Maksud saya, jangan bawa barang aneh-aneh."

"Saya juga tidak mau, Pak."

Kamar itu di lantai dua. Cat putihnya mulai kusam, tetapi bersih. Ada jendela kecil menghadap gang. Kipas angin menempel di dinding. Lemari kayu tua berdiri di sudut.

Arka mengetuk meja.

Kokoh.

"Saya ambil, Pak."

"Langsung?"

"Langsung."

Pak Hadi tersenyum. "Bagus. Tapi ada aturan. Jam tamu sampai sepuluh malam. Dapur bersama dibersihkan setelah pakai. Jemuran jangan ambil tempat orang. Dan satu lagi, kamar sebelah agak sensitif soal kebisingan. Dia kerja dari rumah."

Seolah dipanggil, pintu kamar sebelah terbuka.

Seorang perempuan muda keluar membawa mug. Rambutnya diikat asal. Kaos longgar, celana panjang, wajah lelah seperti orang yang baru kalah perang melawan deadline.

Ia melihat Arka, lalu melihat Pak Hadi.

"Penghuni baru?"

"Iya, Nindya. Mas Arka. Kerja di RSUD."

Perempuan itu menatap Arka dari sepatu sampai wajah.

Tatapannya penuh waspada.

Tatapan mengukur risiko.

Label kuning muncul samar.

[Waspada]

[Kelelahan ringan]

[Kurang tidur]

Arka segera mengalihkan mata.

Ia tidak mau kebiasaan baru ini berubah menjadi mengintip hidup orang.

"Arka," katanya singkat. "Maaf kalau nanti pulang malam. Saya usahakan tidak berisik."

"Anindya," jawabnya. "Panggil Nindya saja."

Pak Hadi tertawa kecil. "Nah, kenalan."

Anindya tidak tertawa.

"Ada aturan tambahan," katanya.

Pak Hadi menghela napas. "Mulai lagi."

Anindya mengangkat satu jari. "Dapur setelah jam sebelas jangan berisik. Kalau pakai kulkas, kasih nama. Kalau ada paket, jangan dibuka orang lain. Kalau bawa teman polisi banyak-banyak, kasih tahu dulu."

Arka mengangguk. "Masuk akal."

Ia tampak tidak menyangka jawaban itu.

"Dan jangan merokok di lorong."

"Saya tidak merokok."

"Jangan taruh sepatu bau di depan pintu."

"Sepatu saya akan saya hukum di dalam kamar."

Pak Hadi tertawa.

Sudut mulut Anindya bergerak sedikit, tetapi cepat ia tahan.

"Oke. Selamat datang, Mas Arka."

"Terima kasih, Mbak Nindya."

Malamnya, Arka memindahkan barang dengan satu motor Honda Supra tua dan dua kardus pinjaman dari ruang arsip.

Tidak banyak yang ia punya.

Buku catatan.

Dua jas putih.

Beberapa pakaian.

Satu set alat tulis.

Satu foto keluarga kecil yang sudah lama disimpan di amplop.

Ketika kardus terakhir masuk, ponselnya bergetar.

Adira mengirim satu pesan.

Besok pagi lapor ke IKF seperti biasa. Jangan karena dekat Kapolrestabes lalu merasa bisa datang siang.

Arka membalas.

Siap, Bu Iptu. Saya masih Dokter Muda. Jabatan saya belum setinggi itu.

Balasan Adira datang cepat.

Bagus kalau sadar.

Dimas menyusul di chat pribadi.

Mas Arka, kalau kos baru butuh keamanan, saya bisa datang. Bayarannya nasi goreng.

Arka mengetik.

Keamanan atau makan gratis?

Dimas menjawab.

Dua-duanya tugas negara.

Arka meletakkan ponsel dan duduk di kursi baru. Dari jendela, suara motor lewat di gang. Dari kamar sebelah, terdengar klik mouse cepat dan napas lelah seseorang yang masih mengejar pekerjaan.

Ia membuka buku catatan.

Di halaman pertama, ia menulis tiga baris.

V1.1: Pemindai Cedera.

Tidak boleh bicara tanpa alasan observasi.

Semua hasil harus dibuktikan dengan prosedur.

Setelah itu ia menutup buku.

Panel sistem muncul sekali lagi.

[Pengguna memasuki fase adaptasi.]

[Modul Pemindai Cedera akan aktif otomatis pada target relevan.]

[Misi berikutnya belum terdeteksi.]

Arka menatap kalimat terakhir itu.

Belum.

Kata itu terdengar terlalu sementara.

Ia mematikan lampu, lalu berbaring di kasur yang masih berbau plastik baru.

Untuk pertama kalinya sejak masuk IKF, ia tidak tidur di kamar yang terasa seperti tempat menunggu gaji habis.

Ia punya sistem.

Ia punya jalur resmi.

Ia punya tempat tinggal yang tidak bocor.

Kecil.

Tetapi cukup untuk membuat seseorang berdiri lebih tegak.

Sebelum matanya terpejam, layar ponsel di meja menyala sebentar.

Pengirimnya bukan Adira.

Hanya notifikasi berita lokal.

Polrestabes Surabaya berhasil ungkap kasus kematian perempuan di kamar terkunci.

Nama Arka tidak disebut.

Tetapi di bawah berita itu, ada satu komentar yang membuat matanya terbuka lagi.

Kalau polisi memang hebat, coba cek potongan daging yang dibuang di Rungkut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!