Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KITA TIDAK HARUS MEMILIH
Enam bulan sebelum pernikahan.
Alya dan Raka duduk berhadapan di ruang makan rumah mereka.
Di atas meja ada tiga lembar kertas.
Bukan kontrak.
Bukan laporan keuangan.
Bukan dokumen perusahaan.
Melainkan daftar tentang kehidupan yang ingin mereka jalani setelah menikah.
Alya menatap kertas pertama.
KARIER.
Raka mengambil pena.
“Kita mulai dari ini.”
Alya mengangguk.
“Saya ingin tetap memimpin perusahaan.”
“Saya tahu.”
“Saya mungkin masih harus ke Singapura beberapa kali dalam setahun.”
“Berapa lama?”
“Paling lama dua minggu setiap perjalanan.”
Raka berpikir.
“Bisa.”
Alya menatapnya.
“Bisa?”
“Kenapa tidak?”
“Dulu kamu keberatan kalau saya terlalu sering pergi.”
“Saya keberatan karena kita tidak punya aturan.”
Raka menulis sesuatu.
“Sekarang kita buat aturan.”
Dia menulis:
Tidak ada perjalanan kerja lebih dari dua minggu tanpa dibicarakan bersama.
Alya mengangguk.
“Setuju.”
Kertas kedua.
TEMPAT TINGGAL.
Raka ingin Bali.
Alya juga.
Jadi tidak ada masalah.
Kertas ketiga.
KELUARGA.
Di sinilah mereka berhenti.
Raka menatap Alya.
“Anak.”
Alya mengangguk perlahan.
“Saya belum siap.”
“Saya tahu.”
“Saya tidak ingin punya anak hanya karena setelah menikah semua orang mengharapkannya.”
“Saya juga tidak.”
Alya mengangkat wajah.
“Kalau kamu ingin lebih cepat?”
Raka menjawab tenang,
“Saya ingin punya anak dengan kamu.”
Dia berhenti.
“Tapi saya lebih ingin kamu siap.”
Alya tersenyum.
“Kalau saya butuh dua tahun?”
“Saya tunggu.”
“Tiga?”
“Saya tunggu.”
“Kalau akhirnya saya tidak ingin?”
Raka terdiam cukup lama.
Kali ini dia tidak langsung menjawab.
Alya menunggu.
“Saya akan jujur,” kata Raka akhirnya.
“Saya memang ingin punya anak.”
Alya mengangguk.
“Tapi saya tidak ingin memaksa kamu.”
“Kalau begitu kita bicarakan lagi setelah menikah.”
“Setuju.”
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya mereka membicarakan masa depan tanpa salah satu harus mengalah.
---
SEBULAN KEMUDIAN
Persiapan pernikahan berjalan.
Namun Alya mulai merasakan sesuatu yang tidak dia duga.
Tekanan.
Bukan dari Raka.
Dari semua orang di sekeliling mereka.
Pertanyaan mulai muncul.
“Kapan punya anak?”
“Setelah menikah mau tinggal di mana?”
“Siapa yang mengurus rumah?”
“Karier bagaimana?”
Awalnya Alya bisa tertawa.
Lama-lama melelahkan.
Suatu malam, setelah menghadiri acara keluarga, Alya masuk mobil dan langsung diam.
Raka menatapnya.
“Capek?”
“Ya.”
“Karena acaranya?”
“Karena semua orang merasa berhak menentukan hidup kita.”
Raka mengangguk.
“Saya juga merasakannya.”
Alya menatap keluar jendela.
“Saya takut.”
Raka langsung menoleh.
“Takut apa?”
“Takut setelah menikah saya berubah menjadi orang yang bahkan tidak saya kenal.”
Raka memarkir mobil di tepi jalan.
Dia mematikan mesin.
“Lihat saya.”
Alya menoleh.
“Kalau suatu hari kamu merasa kehilangan dirimu…”
Raka menggenggam tangannya.
“Bilang.”
“Dan kalau saya tidak menyadarinya?”
“Saya akan mengingatkan.”
Alya tersenyum.
“Janji?”
“Janji.”
---
SEBUAH KEPUTUSAN
Keesokan harinya Alya melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
Dia menolak sebagian besar acara pernikahan yang terlalu besar.
Tidak ada pesta raksasa.
Tidak ada ratusan undangan dari relasi bisnis.
Tidak ada acara yang hanya dibuat demi menjaga nama perusahaan.
Alya dan Raka memilih pernikahan yang lebih sederhana.
Hanya keluarga dan orang-orang terdekat.
Ketika keputusan itu diumumkan, beberapa pihak perusahaan tidak menyukainya.
Namun Raka hanya mengatakan satu hal:
“Ini pernikahan kami.”
Selesai.
Tidak ada debat.
---
EMPAT BULAN SEBELUM PERNIKAHAN
Alya sedang berada di Singapura ketika menerima telepon dari Raka.
“Bisa bicara?”
“Bisa.”
“Perusahaan dapat tawaran akuisisi.”
Alya langsung serius.
“Siapa?”
“Investor regional.”
“Nilainya?”
Raka menyebut angka.
Alya terdiam.
Jumlahnya sangat besar.
Kalau menerima, perusahaan Mahendra Group bisa berkembang jauh lebih cepat.
Namun ada konsekuensi.
Investor tersebut ingin mengubah struktur manajemen.
Raka kemungkinan kehilangan sebagian kendali.
“Menurutmu?”
Raka menjawab,
“Saya belum memutuskan.”
“Kamu mau menerima?”
“Saya tidak tahu.”
Alya tersenyum.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Karena dulu kamu pasti langsung menolak.”
Raka tertawa.
“Sekarang saya belajar.”
“Jangan hanya pikirkan uang.”
“Saya tahu.”
“Pikirkan juga apa yang kamu mau lima tahun lagi.”
Hening.
Kemudian Raka berkata,
“Saya ingin punya perusahaan yang bisa berjalan tanpa saya.”
Alya terdiam.
“Itu baru jawaban.”
---
DUA MINGGU KEMUDIAN
Raka memutuskan menolak akuisisi penuh.
Namun dia menerima investasi minoritas.
Artinya perusahaan mendapatkan modal besar tanpa kehilangan kendali.
Alya bangga.
“Keputusan yang bagus.”
Raka tersenyum.
“Kamu yang mengajari saya.”
“Tidak.”
Alya menggeleng.
“Kamu sendiri yang memilih.”
Raka mendekat.
“Karena sekarang saya punya seseorang yang selalu mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya soal perusahaan.”
Alya tersenyum.
---
DUA BULAN SEBELUM PERNIKAHAN
Semuanya berjalan lancar.
Sampai Alya tiba-tiba mendapatkan kabar.
Salah satu klien terbesarnya ingin mengakhiri kontrak.
Alasannya sederhana:
mereka ingin pindah ke perusahaan lain.
Tidak ada konspirasi.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya keputusan bisnis.
Tetapi dampaknya besar.
Pendapatan perusahaan Alya bisa turun hampir 20 persen.
Timnya panik.
Beberapa orang meminta pengurangan biaya.
Alya mengumpulkan semua kepala divisi.
“Kita tidak akan panik.”
Salah satu manajer bertanya,
“Kalau target turun?”
“Kita revisi.”
“Kalau investor kecewa?”
“Saya yang bicara.”
“Kalau perusahaan merugi?”
Alya menatap mereka.
“Kita cari cara supaya tidak.”
Tidak ada pidato panjang.
Alya langsung membuat strategi baru.
Mencari lima klien menengah daripada bergantung pada satu klien besar.
Dalam satu bulan—
empat kontrak baru masuk.
Kerugian tertutup.
Perusahaan kembali stabil.
Dan Alya menyadari sesuatu:
Dia tidak lagi takut kehilangan satu hal karena tahu dia mampu membangun sesuatu kembali.
---
SATU MINGGU SEBELUM PERNIKAHAN
Alya dan Raka duduk di rumah.
Semua persiapan hampir selesai.
Pakaian.
Undangan.
Tempat.
Keluarga.
Semuanya.
Raka menatap Alya.
“Masih mau?”
Alya tertawa.
“Pertanyaan apa itu?”
“Serius.”
Alya menatapnya.
“Masih.”
“Tidak berubah pikiran?”
“Tidak.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Alya mendekat.
“Sekarang giliran saya bertanya.”
“Apa?”
“Kamu masih mau?”
Raka menjawab tanpa ragu.
“Selalu.”
Alya tersenyum.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Raka terdiam.
“Setelah menikah, saya ingin kita tetap bertengkar.”
Raka tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kalau kita berhenti bertengkar sama sekali, mungkin kita berhenti menjadi diri sendiri.”
Raka menggeleng.
“Jadi kamu ingin tetap mengomel?”
“Jelas.”
“Baik.”
Raka menariknya mendekat.
“Tapi setelah itu tetap makan malam bersama.”
“Setuju.”
---
HARI PERNIKAHAN
Pagi itu hujan turun.
Tidak deras.
Hanya gerimis.
Alya berdiri di depan cermin.
Gaun putihnya sederhana.
Tidak berlebihan.
Ibunya berdiri di belakang.
“Kamu siap?”
Alya mengangguk.
“Siap.”
Ibunya tersenyum.
“Bahagia?”
Alya melihat pantulan dirinya.
“Bahagia.”
Pintu terbuka.
Musik mulai terdengar.
Alya berjalan perlahan.
Di ujung ruangan—
Raka berdiri.
Dia tidak terlihat seperti direktur perusahaan.
Tidak ada jas mahal yang mencolok.
Tidak ada sikap dingin.
Hanya seorang laki-laki yang terlihat gugup menunggu perempuan yang dicintainya.
Ketika Alya sampai di depannya, Raka tersenyum.
“Kamu cantik.”
Alya menahan tawa.
“Cuma itu?”
Raka berbisik,
“Saya lupa semua kalimat yang saya siapkan.”
Alya tertawa kecil.
Dan ketegangan yang sejak pagi memenuhi dadanya langsung hilang.
---
SETELAH JANJI PERNIKAHAN
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada janji yang terlalu sempurna.
Raka hanya berkata,
“Saya tidak berjanji hidup kita akan selalu mudah.”
Dia menggenggam tangan Alya.
“Tapi saya berjanji tidak akan membuat kamu menghadapi kesulitan sendirian.”
Alya menatapnya.
“Saya juga tidak berjanji akan selalu mengerti kamu.”
Beberapa orang tertawa.
Alya tersenyum.
“Tapi saya berjanji akan selalu mencoba memahami.”
Raka tersenyum.
“Dan saya akan tetap mencintai kamu bahkan ketika kamu menyebalkan.”
Alya langsung berbisik,
“Nanti kita bicara.”
Raka tertawa.
Semua orang ikut tertawa.
Mereka resmi menjadi suami istri.
---
MALAM PERTAMA DI RUMAH MEREKA
Tidak ada pesta.
Tidak ada tamu.
Tidak ada kamera.
Hanya mereka.
Alya melepaskan sepatu dan duduk di sofa.
“Capek?”
“Banget.”
Raka duduk di sebelahnya.
“Saya juga.”
Alya menatap cincin di jarinya.
“Sekarang resmi.”
Raka mengangguk.
“Resmi.”
Alya tersenyum.
“Suami.”
“Istri.”
Mereka saling menatap.
Kemudian tertawa.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena setelah semua yang mereka lewati—
akhirnya mereka benar-benar sampai di sini.
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raka.
“Raka.”
“Hm?”
“Saya tidak ingin cerita kita berhenti di pernikahan.”
Raka menatapnya.
“Memangnya kamu mau apa?”
Alya tersenyum.
“Saya ingin tahu seperti apa kita lima tahun lagi.”
Raka mengangguk.
“Kalau begitu kita jalani.”
“Tanpa rencana?”
“Dengan rencana.”
Alya tertawa.
“Bedanya?”
“Rencana bisa berubah.”
Dia mencium kening Alya.
“Tapi orangnya tetap.”
Alya tersenyum.
“Setuju.."
Mereka akhirnya menikah.
Bukan karena masalah selesai.
Bukan karena hidup menjadi sempurna.
Tetapi karena mereka telah belajar bahwa pernikahan bukan akhir dari kisah cinta.
Justru awal dari bagian yang lebih nyata.
Tidak ada lagi pertanyaan:
“Apakah Raka dan Alya akan bersama?”
Mereka sudah menjawabnya.
Sekarang pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah:
Bisakah mereka mempertahankan cinta ketika kehidupan mulai membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan dan keluarga?
Karena setelah pernikahan, akan ada keputusan-keputusan yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan satu kalimat romantis.
Dan keputusan pertama mereka sebagai suami istri akan datang lebih cepat dari yang mereka kira.