Beverly seorang gadis terpelajar yang terpaksa harus menerima sebuah perjodohan yang di adakan oleh orang tua angkatnya .Tapi laki laki yang menikahinya itu malah mempersunting wanita lain setelah beberapa bulan pernikahanannya. Entah nasib apa yang dia alami saat itu?? Niat baiknya membalas budi kedua orang tuanya justru malah menghancurkan masa depannya sendiri.
Dia mengajukan kesepakatan bercerai saat satu tahun pernikahannya.
Bagaimana kelanjutan nasib Beverly selanjutnya???
Akankah dia menemukan seseorang yang bisa menerima status jandanya saat itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Warsiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar
Dulu Beverly memang sempat berfikir suatu saat Indra mungkin dapat mencintainya namun setelah dia melihatnya menikah lagi dan melihat bagaiman dia memperlakukan wanita itu perlahan dia mulai memupus harapannyaitu.
Kali ini dia benar-benar berniat pergi meninggalkan rumah Indra.
Sepuluh bulan pernikahanannya, Beverly masih bisa menjaga kesuciannya karena suaminya memang tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Pernikahan hanyalah statusnya, tapi kenyataan yang sebenarnya pernikahan itu hanya akan menjadi sebuah noda dalam masa depannya.
Setelah perdebatannya dengan Indra waktu itu, Beverly memilih untuk tidak bertemu dengannya lagi. Dia menghindarinya dengan pulang selarut mungkin.
**
Saat ini Beverly baru saja pulang dari bekerja.
Dia mulai membuka pintu rumah itu secara perlahan agar orang yang di dalamnya tidak menyadari kepulangannya
Terlihat lampu ruang tamu yang sudah mati.
Beverly segera melangkahkan kakinya masuk dan berjalan secara perlahan menuju kamarnya
"ceklekk"suara saklar lampu di ikuti cahaya lampu yang menyala membuat Beverly mulai menghentikan langkahnya
Di lihatnya Indra yang sedang berdiri dan menyenderkan tubuhnya di tembok samping saklar lampu itu berada.
Dia menatap intens ke arah Beverly yang juga sedang menatap ke arah Indra.
Terlihat jelas raut kemarahan di wajah Indra. Sorot matanya yang tajam terus menatap ke arah Beverly seakan ingin memangsa orang yang ada di hadapannya.
"dari mana saja jam segini baru pulang?"tanya Indra sedikit membentak Beverly yang baru saja pulang itu
Saat ini Bianca mungkin sudah tertidur piker Beverly, karena dia tidak bisa mendengarsuara Indra yang sedikit berteriak padanya itu.
"dari kantor mas"jawab Beverly sedikit lesu karena
terlalu lelah seharian bekerja, sesekali dia menghela nafasnya panjang.
"apa kamu tidak tahu jam berapa ini??apa kamu tidak tahu waktu... bagaiaman perusahaanmu mempekerjakan karyawan wanitanya sampai selarut ini...tidak kah kamu menyadari bahwa kamu seorang istri yang memiliki
suami??di mana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?"bentak Indra dengan suara yang semakin meninggi.
Entah apa maksudnya...ini adalah kali pertama dia mempermasalahkan tentang kepulangan Beverly ke rumah. Biasanya dia juga tidak akan peduli sama sekali.
Dan apa tadi yang dia katakan,dia berkata soal tanggung jawab seorang istri pada Beverly seolah olah dia sudah menjadi sosok suami yang baik untuknya.
"cihh"umpat Beverly tak kalah sinis saat dia menyebutkan kata kata yang terdengar menggelikan di telinganya itu.
Dia yang sudah begitu lelah dengan pekerjaanya nampak terpancing dengan kata kata yang Indra lontarkan padanya.
"sejak kapan kamu menganggapku istri mas?? jangan memainkan peran seakan akan kita ini suami istri sungguhan... hubungan kita ini hanya sebatas nama pernikahan sisanya tidak layak untuk di sebutkan"jawab Beverly tak kalah tinggi, memberanikan diri menjawab semua yang suaminya katakan.
"kamuu???? sekarang kamu mulai berani ya sama aku?!apa mentang mentang karena sudah ada laki laki lain di belakang kamu jadi kamu mulai berani bertingkah seperti ini??hahh??"bentak Indra sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah Beverly, Indra terlihat semakin
marah mendengar bantahan Beverly barusan,sorot matanya membulat tajam seakan bisa membunuh siapa saja yang ada di hadapannya. .
"apa maksud kamu mas??laki laki lain apa? jangan menduduhku tanpa sebuah bukti yang jelas?"bantah Beverly.
"bukti apa yang kamu minta??apakah sebuah bukti bahwa kamu sudah di tiduri oleh laki laki lain...hahh???"kata Indra dengan emosinya.
"plakkkk"Beverly menampar Indra tat kala kata kata itu keluar dari mulut Indra.
"kamuu"kata Indra sambil memegangi pipi bekas tamparan Beverly.
Indra berjalan mendekat ke arah Beverly, mencengkram dagunya secara kasar.
"awwww…..sakit"pekik Beverly.
Namun Indra tidak menghiraukannya.
Dia malah menarik tubuh Beverly secara kasar menuju kamar Beverly.
Dia mendorong tubuh beverly hingga Beverly terpental ke atas ranjang.
"baiklah mari kita buktikan...akan ku turuti keinginanmu...aku tahu kamu hanya menginginkan aku menidurimu kan?? kamu ingin aku menidurimu seperti aku meniduri Bianca kan???iya kan????.....baik...akan ku kabulkan"seru Indra dengan kasarnya.
Dia mencoba menarik baju milik Beverly secara kasar.
Sakit...iya sakit...itu yang Beverly rasakan saat ini...bukan sakit di tubuhnya melainkan sakit di dalam hatinyau saat kata kata itu terlontar dari mulut Indra dan terdengar ke telinganya. Bagaimana bisa dia menuduh Beverly melakukan sesuatu yang begitu kotor itu.
"berhenti...ku mohon mas...aku tidak ingin seperti ini...aku tidak seperti yang kamu fikirkan"pinta Beverly dengan isak tangisnya.
Beverly mencoba mendorong sekuat tenaga tubuh Indra agar menjauh darinya .
"tolong hentikan"teriak Beverly tatkala Indra yang nampakk hilang kendali berusaha menyentuh tubuhnya.
"hentikan mas...nanti Bianca akan terluka jika melihatmu seperti ini"kata Beverly lagi dengan suara semakin melemah.
Dalam situasi ini Beverly bahkan masih memikirkan perasaan Bianca,tapi kenapa saat dia dulu ingin menikahi suaminya itu dia tidak memikirkan bagaimana
perasaannya terlebih dahulu. Entahlah, mungkin memang takdirnya yang memang harus seperti ini pikirnya
Indra tampak mengendurkan cengkramannya pada Beverly sesaat setelah beverly menyebutkan nama
Bianca dari mulutnya.
"sial"umpat Indra.
Bajunya yang sudah terbuka segera ia tutup kembali.
Dia merasa malu bahkan terhina dengan perlakuan kasar Indra barusan, meskipun Indra memiliki hak untuk dirinya, tapi dia tidak pernah berharap Indra melakukannya dengan kasar dan bahkan terkesan memaksa.
"Bianca sedang keluar kota"kata Indra yang kini sudah terduduk di samping ranjang dengan exspresi yang sulit untuk di jelaskan.
Saat dia mengatakan kepergian Bianca ,Beverly jadi semakin yakin bahwa dia hanya bernafsu padanya, karena tidak ada Bianca yang biasa selalu memuaskan hasratnya setiap malam dia jadi berlari ke arah Beverly sebagai pelariannya pikir Beverly.
"kenapa kamu menolakku...bukankah aku mempunyai hak akan tubuhmu"katanya pelan namun tidak berani menatap ke arah Beverly yang sedang terisak itu.
Beverly masih nampak gemetar akan apa yang baru saja dia alami.
Beverly tahu bahwa Indra memang memiliki hak akan tubuhnya, tapi dia tidak ingin memberikan satu satunya barang berhargga miliknya itu kepada orang yang sama
sekali tidak mencintainya. Dia tidak rela. Biarlah dia berdosa kali ini pikir Beverly saat itu.
Dulu Beverly pernah berfikir mau memberikannya hanya saat Indra sudah membuka hatinya untuk Beverly.
Namun setelah dia menyaksikan Indra yang memutuskan untuk berpoligami,niat itu mulai dia urungkan kembali.
Sejak sat itu Beverly mulai mengharamkan Indra untuk bisa menyentuh tubuhnya.
Lagian dua bulan lagi keduanya akan bercerai juga pikir Beverly saat itu. Meskipun statusnya nanti akan menjadi seorang janda, setidaknya Beverly masih bisa memberikan satu satunya kehormatannya itui kepada suami masa depannya kelak.
"aku tidak bisa memberikan ini mas....maafkan aku...walau bagaimanapun dua bulan lagi kita sudah sepakat untuk bercerai,setidaknya biarkan aku tetap menjaga satu satunya hal yang berharga pada diriku ini"kata Beverly pada Indra dengan suara memelasnya.
"kamu tidak bisa memberikan itu karena orang lain sudah menyentuhmu terlebih dulu kan?"kata Indra yang nampak kembali marah karena mendengar alasan yang Beverly katakan.
"astagfirullah...apa serendah itu aku di matamu mas?? tidak ku sangka kamu akan berfikiran seperti itu tentangku, demi Allah mas, meskipun kamu tidak pernah menganggapku ada,tapi aku selalu menghargai pernikahan ini, aku tidak pernah berniat untuk berkhianat ataupun sekedar dekat kepada laki laki lain selain kamu...aku paham agama mas, aku tahu apa yang baik dan apa yang benar."kata Beverly dengan perasaan yang terhina akibat kata kata yang terlontar dari mulut Indra barusan.
Mendengar apa yang di katakan Beverly barusan membuat hati Indra tersentuh , bahkan dia menjadi merasa bersalah karena telah berfikiran macam macam tentang Beverly.
"apa aku sudah keterlaluan"gumam Indra merrnungi perkataannya.
Kalau di lihat lihat selama ini Beverly memang tidak menampilkan gelagat mencurigakan.
Setelah mendengar apa yang Beverly katakan,Indra nampak mengurungkan niatnya kembali, dia terlihat bisa memahami keinginan Beverly. Dia pun tidak memaksa Beverly untuk melayani kewajibannya, karena Indra merasa kasian juga pada Beverly. Indra menyadari bahwa ini semua juga bukan sepenuhnya kesalahan Beverly, untuk itu dia membiarkan Beverlu untuk tetap menjaga kehormatannya.
Sebenarnya Indra merupakan orang yang cukup baik,mungkin karena keadaan saja yang membuatnya berada di situasi yang sangat menyulitkan itu ,sehingga membuatnya bersikap seperti orang yang begitu kejam terhadap Beverly.
"apa kamu serius ingin bercerai denganku?"tanya Indra yang nampak sedikit ragu dengan perceraian yang sudah keduanya sepakati sebelumnya.
"sepertinya ini sudah keputusan yang terbaik"jawab Beverly sedikit ambigu.
"apakah kamu tetap ingin bercerai jika aku bisa bersikap adil padamu dan Bianca?"tanyanya lagi.
"ya... karena aku tidak ingin merebut cintamu dari Bianca..aku juga tidak ingin dia terluka nantinya .Selain itu aku juga tidak bisa jika harus berbagi suami ,"kata Beverly dengan tegasnya.
Kalau di tanya sebenarnya Beverly tidak ingin melakukan yang namanya perceraian. Tapi melihat keadaannya selama ini, Beverly justru kasian pada dirinya sendiri. Sepertinya bercerai adalah keputusan terbaik untuknya. Dia benar benar sudah tidak sanggup lagi..
"baiklah... sesuai keinginanmu....kita akan bercerai dua bulan lagi....tapi sebelum kita bercerai janagn pernah keluar dari rumah ini tanpa seizinku"kata Indra secara tidak langsung tidak membolehkan Beverly untuk mengontrak sendirian.
Setelah mengatakan itu Indra segera pergi meninggalkan Beverly sendirian.
Setelah kepergian Indra ,Beverly kembali menangis sesegukan.
"kenapa harus aku yang berada di situasi seperti ini Tuhan.... kenapa??"keluhnya di sela sela isak tangisnya yang semakin menjadi jadi.
Dia terus menangis meratapi nasib dan keadaannya saat ini hingga tanpa dia sadari dia mulai terlelap dalam tidurnya.
**
Hari hari terus Beverly lewati.
Selama dua bulan itu Indra mengajukan syarat pada Beverly agar Beverly mau mengurusnya seperti Bianca mengurusnya sebelumnya.
Kebetulan Bianca juga harus pulang ke rumah orang tuanya karena orang tuanya yang sedang sakit.
Beverly melakukan semua tugasnya sebagai seorang istri kecuali tugas
melayinya di tempat tidur yang tidak dia lakukan.
Setiap pagi Beverly membantu menyiapkan sarapan untuk indra serta menyiapkan baju yang akan dia gunakan.
Sesekali beverly mendandaninya, mengancingkan kancing bajunya bahkan terkadang memakaikan dasi di leher Indra.
Tidak di pungkiri waktu dua bulan itu membuat Indra mulai mengaggumi sosok Beverly yang menurutnya tidak jauh beda dari Bianca sosok yang begitu dia cintai itu.
Beverly sempat berfikir, andai tidak ada Bianca di dalam pernikahan keduanya, mungkin keduanya masih bisa memperbaiki pernikahan itu. Namun dengan segera Beverly menepis angan angan yang begitu bodoh dan konyol menurutnya itu.
Sementara Indra nampak terlihat kacau saat ini, entah apa yang dia fikirkan saat ini, saat mendengar kata perceraian dia malah sedikit takut bahkan terkesan tidak rela. Entah karena dia memang sudah ada perasaan untuk Beverly atau memang ada sesuatu yang lain yang dia fikirkan.
**
Dua bulan telah berlangsung. Kini tiba saatnya keduanya bercerai.
Surat perceraian yang sudah keduanya buat dan sudah keduanya tanda tangani kini sudah Beverly kirimkan ke pihak pengadilan.
Mereka tinggal menunggu sidang perceraian keduanya.
Beverly telah memantapkan keputusannya,, sudah tidak ada kata mundur lagi di fikirannya saat ini.
Di lihatnya wajah Indra yang nampak gelisah...mondar mandir tak menentu.
"apa kamu sudah siap mas?"tanya Beverly sebelum keduanya berangkat ke pengadilan untuk meghadiri persidangan.
"apa kamu sudah yakin dengan ini?"katanya yang terlihat nampak ragu dengan keputusan perceraian itu.
"ya...aku yakin"jawab Beverly setegas mungkin agar tidak
menggoyahkan niat awalnya itu.
"maaf mas,Aku sudah tidak sanggup bertahan...kalaupun kamu bisa mencintaiku kelak tapi aku tidak bisa jika harus berbagi laki laki denganperempuan lain"gumam Beverly
"Aku tidak mungkin memintamu untuk menceraikan Bianca juga. Sekalipun aku egois tapi aku tidak akan setega itu"gumamnya lagi.
Keduanya pun berangkat menggunakan mobil yang sama menuju pengadilan.
Ada raut ketegangan i wajah Indra,namun tidak di wajah Beverly yang nampak sudah benar benar bersiap untu bercerai.
semangat
ku memilihmu karena adikku