Vita Kavita dan Dimas Ahmadin merupakan sepasang suami istri yang sangat harmonis dan bahagia. Usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun. Namun walaupun begitu, belum ada kehadiran malaikat kecil titipan tuhan pada mereka. Itu bukan berati karena ada masalah dengan mereka. Hingga suatu ketika, Ada suatu kejadian tepat di anniversary mereka, Suaminya tak kembali semalaman yang menyebabkan Vita menunggu semalaman di udara malam yang dingin itu. karena kejadian itu, Vita berfikir bahwa suaminya berselingkuh. namun kecurigaan itu Vita singkirkan karena di saat yang sama dia berhasil mengandung, mereka pun berbahagia. Bahkan sangat bahagia, namun di saat itulah dia mengetahui semua kebenaran bahwa suaminya memiliki istri lain bahkan mereka juga telah memiliki 2 orang putra di belakang Vita.
Apa yang di lakukan oleh Vita? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10. Rahasia Suamiku.
Hubungan ku dengan suamiku terus membaik selama hampir sebulan ini. Hingga di suatu pagi, ku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Ku angkat dengan pelan tangan suamiku yang masih melingkar di pinggang ku.
Grep …. Seketika entah kenapa aku merasakan ada hal yang aneh dengan rongga dada dan perut ku.
“Hemmm, mau kemana sih sayang?” ucap suamiku dengan menarik tanganku lagi hingga ku masuk kedalam dekapannya lagi.
“Massss … kok bangun? Pura-pura tidur ya?” sahutku.
“Hehe, emmmm. Gemes banget, muahh muahh,” ucap suamiku dengan memperat pelukannya lalu bibirnya yang tipis mencium ku dengan semangat berulang kali.
“Laaaah masss, sakittt tahuu, longgarkan dikit lah ih nakal banget sih kamu mas,” ucapku yang sebenarnya malu.
“Enggak mauuu, nanti kabur. Muahhh,” ucapnya lagi dengan memanyunkan bibirnya.
“Iiih kaya anak kecil kamu mas, hihh pengen tek cubit hihi,”
“hehe, cubit saja. Bisa engga? Hehe”
Aku berusaha agar bisa melepaskan diri dari dekapannya. Namun entah kenapa aku merasa sangat sedikit mual dan seperti ingin muntah.
“Hoek,”
“Sayang? Kenapa?” ucap suamiku dengan melonggarkan pelukannya.
“Hoek, eemm.. enggak tau mass, hoekkk,”
“Ayo sayang ke kamar mandi, masuk angin pasti nih,”
Aku benar-benar ingin memuntahkan apa yang ada di perutku. Aku lepaskan diri darinya lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.
Hoek haaa, hook Hoek
“Sayang? ya ya keluarkan sayang, nanti setelah ini kita ke dokter, masuk angin ini karena tadi malem AC terlalu dingin,” ucap suamiku sambil memijat tengkuk leher ku.
Aku masih terus berusaha mengeluarkan sesuatu ini,, namun yang keluar masih tetap air yang ku minum saja. Aku pikir juga begitu, tadi malam karena kepanasan, Aku menyalakan ac yang termasuk nya dingin.
15 menit kemudian,
Kami keluar dari kamar mandi, Suamiku mengelap bibirku dengan tissue sedangkan aku masih merasakan tak enak pada rongga dada ku dan perutku juga.
“Duduk dulu sayang,” ucapnya, lalu dia mengambil gelas dan mengambilkan air untuk ku. “Ini minum dulu sayang,” ucapnya lagi.
Ku minum air itu, namun itu tidak meringankan rasa mual ku. “Masss, masih mual,” rengek ku.
“Iya sayang, nanti kita periksa dokter ya, sebentar mas janjian dulu sama dokter, sebentar sayang. mas telpon dulu,”
Suamiku pun mengambil ponselnya yang sedang di charger, lalu ku lihat dia menelpon rumah sakit. Entah kenapa aku merasa lemas dan sedikit merasa pusing. Selesai menelpon, suamiku mengambil baju ku di dalam lemari.
“Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya? pakai ini dulu,” ucapnya dengan memakaikan cardigan dan celana panjang padaku.
Setelah selesai, dia pun memakai pakaian panjang juga. “Ayo sayang,” ucapnya dengan memapah ku.
“Mas, kayaknya aku minum obat flu udah sembuh deh gak usah ke rumah sakit,” pikirku.
“Mana ada sayang, walaupun masuk angin, kita akan tetap ke dokter saja. Takut ada apa—apa sayang, sudah-sudah, sini mas gendong saja,” ucapnya lalu menggendong ku.
“Tiba-tiba pusing masss,” aku merasakan kepalaku gleyengan.
“Iya sayang, maka nya mas ingin tetap kamu ke dokter,” jawab suamiku lagi. setelah keluar dari kamar, suamiku membaringkan ku lebih dulu di sofa lalu berteriak memanggil bi ratih dan Tio. “Bi … bi Ratih …. Tio …” teriak suamiku.
“Iyaa tuan,” sahut bi ratih.
“Mana tio?”
“Ada tuan, ituu tuan,” jawab bi ratih dengan menunjuk ke arah tio yang berlari mendekat.
“Iya tuan, ada apa?” jawab Tio.
“Bi, nanti kalau isti ku diminta rawat inap, tolong ya bi kemasi baju-bajunya dan antarkan ke rumah sakit. Dan kamu Tio, siapkan mobil keluarkan sekalian kita ke rumah sakit sekarang,” ucap suamiku.
“Siap tuan,” jawab mereka.
“Sabar ya sayang, Sebentar saja,” ucap suamiku dengan memegang tanganku.
Aku hanya mengangguk, lagian yang ku rasa hanya seperti orang yang masuk angin saja, tidak terlalu sakit banget. Setelah 5 menit kemudian, tio berlari dan berkata bahwa mobil sudah siap. Suamiku pun menggendong ku kembali menuju ke mobil yang sudah ada di depan gerbang rumah. Setelah di dalam, kami pun berangkat ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian,
Para suster menghampiri ku dan membantu menidurkan ku pada hospital bed yang mereka bawa. Setelah itu, mereka membawa ku ke ruangan dokter. Dokter pun memeriksa ku, suamiku berada di samping ku dengan ekspresi cemas. Setelah dokter memeriksa dia mengucapkan selamat dengan menjabat tangan suamiku.
“Hmm.. Pak.. Pak Dimas, Saya mengucapkan selamat pada anda dan istri anda karena saat ini istri anda tengah hamil dan anda akan jadi ayah seperti yang anda impikan. Selamat bu Vita, Anda akan segera jadi ibu,” ucap dokter fahmi.
Aku yang merasa lemas seketika bertenaga setelah semenit mendengar perkataan dokter. Suamiku juga sama, dia sempat berdiam dan pikirannya mencoba mencerna akan dokter katakan. Dia pun memelukku dan mencium kedua pipiku tak lupa dengan bibiku dia cium juga. Dia menangis gembira sampai terisak, dia bahkan sampai menyalami dan memeluk dokter juga.
“Dokter, aku punya anak, hahaha,” ucapnya yang memeluk dokter fahmi.
“Iya pak, selamat ya pak.”
“Yaa… huuuuwwww,” teriak suamiku dengan girangnya.
“Masss, ini rumah sakit,” ucapku yang khawatir orang lain terganggu.
“Hahaha iya maaf-maaf ya dok, sayangg …” jawabnya lalu mendekatiku lagi dan memelukku kembali.
Setelah beberapa lama, dokter pun menjelaskan kalau dia akan mengenalkan kami pada dokter intan. Dokter intan akan menjadi dokter kandungan ku sampai aku melahirkan nanti.
“Terimakasih tuhan, akan ku jaga baik-baik titipan engkau ini,” ucapku dalam hati.
Ku lihat sekarang pukul 7 pagi, aku duduk di kursi roda sembari menunggu suamiku yang sedang mengambil vitamin untuk ku dari dokter. Setelah itu, kami pun masuk mobil dan segera pulang. Sepanjang perjalanan, kami menggenggam, memeluk , mencium dan bermesraan sampai supir kami tio gugup dan malu karena mendengar suara ciuman kami.
Setelah kami sampai di rumah. Suamiku membopongku dan membawa ku kedalam kamar kami. Bi ratih datang membawa 2 gelas air putih.
“Bi, mulai hari ini, bibi ya yang belanja, masak dan lainnya. Nanti saya tambah gaji bibi. Terus nanti tolong carikan 1 lagi orang untuk bantu-bantu bibi ya beres-beres rumah,” ucap suamiku pada bi ratih.
“Baik tuan, tapi kalau boleh saya tahu apa yang terjadi dengan nyonya ya tuan? apa sakit nyonya maaf parah tuan? nyonya?”
“Engga bi, istriku sama sekali ga sakit. Bibi juga jaga istriku ya jangan biarkan dia memasak lagi,”
“Baik tuan,”
“Mas, ga usah sebegitu nya dong,” ucapku.
“Kenapa? Mas hanya ingin bayi kita sehat selalu. Kalau ibunya sehat, bayi kita juga sehat. Mas, khawatir kamu kecapean sayang,”
Ku lirik bi darmi tersenyum lebar dengan mata yang berbinar. Sepertinya dia juga tahu akan perkataan Suamiku.
“Tapi aku kan sehari-hari ga begitu cape mas. Tiap hari cuman masak buat kamu aja terus banyakan me time nya sambil nunggu kamu pulang . Udah gitu, Paling gini aja bi bantuin aja di setiap aku masak, gitu ya mas?” ucapku.
Dengan menghela nafas, suamiku menjawab. “Ya sudah sayang, tapi ingat jangan sampai kecapean,”
“Iya mass,:
“Ya udah bi, tetap cari orang buat bantu bersih-bersih aja ya,”
“Baik tuan, nyonya. Bibi keluar dulu, Selamat ya tuan … nyonya …”
~
Bersambung …
lanjuttt Thor ❤️