NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Kegelapan pekat menyelimuti ruang kerja Tuan Wijaya. Hanya pendar merah dari layar laptop yang berkedip kencang, memantulkan bayangan tiga sosok manusia yang membeku di tengah ruangan.

"P-Paman Hendra..." Kirei berbisik lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa tidak percaya yang amat sangat menikam dadanya. Sosok paman yang selama ini ia kenal ramah, yang sering mengusap kepalanya sewaktu kecil, kini berubah menjadi bayangan mengerikan di balik kehancuran keluarganya.

Tuan Wijaya mengerang pelan, mencengkeram dadanya yang mendadak dihantam rasa sakit luar biasa. Kekecewaan atas pengkhianatan darah dagingnya sendiri memukul jantung tua itu tanpa ampun.

"Kakek!" Kirei refleks berlutut, menahan tubuh Tuan Wijaya agar tidak ambruk ke lantai.

"Arka... bawa Kirei pergi..." bisik Tuan Wijaya terbata-bata, jemarinya yang gemetar meremas lengan kemeja Arka. "Jangan biarkan Hendra... menyentuh flashdisk itu..."

Arka merendahkan tubuhnya sekilas, menepuk bahu sang kakek dengan keteguhan yang mutlak. "Gak ada yang bakal pergi sendirian, Kek. Kita keluar dari sini bertiga."

DUM! DUM! DUM!

Suara benturan keras menghantam pintu gerbang depan kediaman Wijaya. Suara jeritan penjaga malam yang dilumpuhkan terdengar singkat sebelum berganti dengan derap langkah sepatu-sepatu lars tegap yang mengepung koridor utama rumah.

Arka menyambar flashdisk titanium dari port USB laptop, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam jaketnya. Dengan gerakan cepat dan teratur, ia mencabut kabel catu daya darurat di bawah meja dan menghubungkannya ke sakelar pintu rahasia di balik lemari buku.

KLIK!

Dinding lemari kayu tua itu bergeser pelan tanpa suara, mengungkapkan sebuah jalur evakuasi sempit menuju garasi belakang.

"Kirei, bimbing Kakek lewat lorong ini," perintah Arka dengan nada rendah, tegap, dan sangat dominan. "Gue bakal kunci pintu dari luar dan menyusul lewat pintu samping."

Kirei mendongak, matanya yang berbinar panik menatap iris cokelat pekat Arka di tengah temaram. "Gak! Gue gak mau ninggalin lo lagi, Arka! Paman Hendra bawa banyak orang!"

Arka berlutut di hadapan Kirei. Jemarinya yang hangat menangkup kedua pipi Kirei, mengunci pandangan cewek itu hingga seluruh kepanikan di dada Kirei mereda.

"Dengar gue, Bu Ketua," bisik Arka lembut namun sarat akan janji yang tak tertandingi. "Gue ini suami lo. Gue gak bakal biarkan siapa pun menyakiti lo atau Kakek. Percaya sama gue, oke?"

Kirei menahan napas, lalu mengangguk mantap dengan bulu mata yang basah. "Janji sama gue... lo harus nyusul dalam lima menit!"

"Janji," balas Arka, menyentil dahi Kirei pelan sebelum mendorong Kirei dan Tuan Wijaya masuk ke dalam lorong rahasia.

BZZT... KLIK!

Lemari buku menutup kembali. Arka berdiri tegak di tengah ruang kerja yang gelap. Pria muda itu membetulkan posisi jam tangannya, menghembuskan napas pelan, dan membiarkan aura dingin nan berbahaya membungkus seluruh tubuhnya.

BRAK!

Pintu ruang kerja terbanting keras hingga engsel kayunya terlepas!

Empat orang pria bertubuh tegap berseragam serba hitam menerobos masuk dengan senter taktis menyala terang. Di belakang mereka, melangkah masuk seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas kasmir abu-abu yang sangat elegan. Pria itu memegang sebuah tongkat berukir perak, menyunggingkan senyum hangat yang justru terasa amat beracun.

Hendra Wijaya.

"Wah, wah... ternyata keponakan tersayangku dan suaminya sudah tahu ya?" Hendra melangkah santai, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kosong. "Di mana Kakekmu, Arka? Dan di mana flashdisk milik mendiang ayahmu?"

Arka berdiri bersandar pada tepi meja kerja, bersedekap dada dengan wajah amat santai. Pendar cahaya senter yang menyorot wajahnya sama sekali tidak membuat cowok itu gentar.

"Paman Hendra..." Arka terkekeh rendah—sebuah tawa dingin yang bergema memotong keheningan. "Aktor yang sangat luar biasa. Dua puluh tahun berpura-pura jadi adik yang berbakti, padahal di belakang... lo yang membiayai Dion, Aditama, dan memeras Mama gue."

Senyum ramah di wajah Hendra perlahan meluntur, berganti dengan sorot mata dingin yang sangat picik.

"Ayahmu itu terlalu idealis, Arka," ujar Hendra seraya mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer. "Dia punya akses ke jaringan investasi terbesar Asia, tapi dia malah ingin membaginya secara legal lewat Wijaya Corp. Kakekmu juga sama bodohnya! Mereka tidak paham bagaimana dunia bisnis bekerja."

Hendra memberi isyarat mata pada empat anak buahnya. "Serahkan flashdisk itu secara baik-baik, Arka. Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Jangan sampai kamu bernasib sama seperti ayahmu di jalanan Singapura sepuluh tahun lalu."

Kilat amarah yang sangat pekat membakar iris mata Arka saat mendengar ancaman terselubung tentang kematian ayahnya. Rahagnya mengeras kaku.

"Lo yang menyebabkan kecelakaan Ayah..." desis Arka dengan suara yang amat rendah dan mematikan.

"Dia yang memilih jalannya sendiri," balas Hendra dingin. "Ambil flashdisk-nya!"

Dua anak buah Hendra langsung menerjang maju, mengayunkan tongkat besi taktis ke arah kepala Arka!

Namun, Arka bukan lagi remaja tanpa persiapan. Dengan refleks kilat hasil latihan bertahun-tahun, Arka merunduk menghindari tebasan pertama. Tangan tegapnya menyambar pergelangan tangan lawan, memutarnya kencang hingga terdengar bunyi KLEK! yang ngilu, lalu memukul dada lawan dengan serangan siku yang menghancurkan napasnya!

BUGH!

Satu orang ambruk terlentang. Orang kedua mencoba memukul dari samping, namun Arka menyambar kursi kayu berat di dekatnya dan menghantamkannya tepat ke wajah lawan!

PRANG!

Dalam hitungan belasan detik, dua anak buah Hendra sudah tergeletak tidak berdaya di lantai. Dua orang sisanya menelan ludah, melangkah mundur dengan wajah pucat menatap Arka yang berdiri dengan napas teratur dan pandangan membunuh.

Hendra menyipitkan mata, raut wajahnya mengeras. "Anak tidak tahu diri..."

"Persepsi lo tentang gue salah besar, Paman," Arka melangkah maju satu tindak, menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan. "Lo pikir gue berdiri di sini sendirian?"

TIT... TIT... BEEP!

Tiba-tiba, lampu utama rumah menyala terang benderang seketika!

Suara sirine raungan mobil kepolisian khusus dan Tim Buser menggema dahsyat dari luar halaman rumah, memotong kegelapan malam dengan pendar lampu merah-biru yang berkedip kencang.

Pintu utama kediaman Wijaya diterobos oleh puluhan petugas bersenjata lengkap. Farhan dan tim keamanan khusus Kakek melangkah masuk di barisan depan, memblokir seluruh akses keluar garasi dan halaman.

"Hendra Wijaya! Angkat tangan Anda!" seru perwira kepolisian dari luar pintu kerja dengan senjata terarah penuh.

Wajah Hendra yang tadinya tenang mendadak pucat pasi bagai mayat. Tongkat berukir perak di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai marmer.

"G-gak mungkin..." bisik Hendra tak percaya. "Sistem peretasan gue udah mengunci jaringan rumah ini!"

"Sistem peretasan lo emang mengunci jaringan rumah," suara lembut Kirei meluncur dari balik barisan petugas kepolisian.

Kirei melangkah masuk dengan anggun, memegang ponselnya yang terhubung langsung ke server pusat Kepolisian Daerah. Di sampingnya, Tuan Wijaya berdiri didampingi tim medis yang sudah memberi penanganan darurat.

"Tapi lo lupa kalau suami gue adalah anak dari pria yang merancang sistem keamanan Wijaya Corp," Kirei menatap Hendra dengan pandangan tegap dan penuh keberanian. "Sinyal darurat sudah terkirim otomatis sejak flashdisk itu dicolokkan lima belas menit yang lalu."

Hendra terduduk lesu di lantai saat kedua tangannya dikunci erat oleh borgol besi kepolisian. Seluruh dinasti kejahatan yang ia bangun dari balik bayangan selama puluhan tahun runtuh seketika dalam satu malam.

Pukul 22.00 WIB.

Mobil-mobil polisi melaju pergi membawa Hendra dan seluruh anak buahnya. Kediaman utama Keluarga Wijaya kembali tenang di bawah lindungan malam yang sejuk.

Di area teras depan yang sepi, Kirei berdiri memandangi pendar lampu kota dari kejauhan. Sebuah jaket hangat kembali tersampir lembut di bahunya.

Arka merangkul pinggang Kirei dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu cewek itu. Aroma wangi citrus dan kehangatan tubuh Arka merengkuh seluruh lelah di jiwa Kirei.

"Kakek gimana?" bisik Arka pelan di dekat telinga Kirei.

"Kakek udah tenang di kamar," Kirei memutar tubuhnya, menatap wajah Arka yang nampak sedikit lelah namun sangat lega. Kirei mengusap lembut rahang tegap Arka dengan jemarinya. "Lo gak apa-apa, kan? Ada yang luka?"

Arka menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum paling tulus dan hangat yang pernah ada. Ia meraih tangan Kirei, mencium telapak tangan cewek itu dengan penuh kasih sayang.

"Semuanya benar-benar selesai sekarang, Kirei," bisik Arka rendah. "Gak ada lagi rahasia, gak ada lagi musuh dari masa lalu."

Kirei tersenyum manis dengan mata berbinar haru, memeluk leher Arka erat-erat. "Terima kasih... Suamiku."

Arka terkekeh bahagia, mengangkat tubuh Kirei sedikit lalu memutarnya pelan di bawah pendar sinar rembulan, sebelum mendaratkan kecupan hangat yang begitu manis di bibir istri tercintanya—menyambut fajar baru kehidupan mereka yang penuh cinta dan kebahagiaan sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!