Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Sang Naga Menginjakkan Kaki di Utara dan Sambutan Berdarah
Satu bulan berlalu bagaikan hembusan angin.
Bagi dunia bisnis Provinsi Jiangbei, satu bulan ini adalah masa pergolakan sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Su Yuhan, Grup Kosmetik Su tidak hanya menelan seluruh aset Keluarga Utama Su tanpa perlawanan, tetapi juga meluncurkan Salep Dewi Luo ke pasar internasional.
Kekayaan Su Yuhan meroket hingga menembus angka triliunan yuan. Wanita yang dulu dijuluki 'Ratu Es' di kota kecil Jiangcheng itu, kini benar-benar menjadi Permaisuri Bisnis yang menguasai nadi ekonomi seluruh Tiongkok Selatan.
Namun, di balik gemerlap kesuksesan istrinya, Ye Chen sibuk membangun fondasi bayangannya sendiri.
Di malam sebelum keberangkatan mereka ke Ibu Kota (Jingcheng), Ye Chen berdiri di atap markas bawah tanah Istana Naga. Angin malam meniup jaket hitamnya. Di depannya, berlutut sepuluh pria dengan aura mematikan yang luar biasa tebal.
Di barisan terdepan adalah Master Tang Zhenhai. Berkat Teknik Pernapasan Harimau Naga dan bimbingan langsung dari Ye Chen, Tang Zhenhai dan sembilan elit Istana Naga berhasil menembus batas. Mereka kini adalah sepuluh Grandmaster Sejati!
Sepuluh Grandmaster! Jika kekuatan ini dipublikasikan, bahkan Asosiasi Bela Diri Nasional di Ibu Kota akan gemetar.
"Tuan Ye," Tang Zhenhai menundukkan kepalanya, suaranya dipenuhi fanatisme mutlak. "Pasukan Bayangan Istana Naga telah menyusup ke Ibu Kota Jingcheng sejak tiga hari lalu. Kami telah membangun jaringan intelijen, mengamankan rute pelarian, dan memetakan setiap pos penjagaan milik Keluarga Ye dan Keluarga Zhao."
Ye Chen mengangguk pelan. "Kerja bagus, Master Tang. Tapi ingat, di Ibu Kota, Grandmaster Sejati belumlah cukup untuk merajai segalanya. Keluarga Ye dan Keluarga Zhao memiliki monster-monster tua tingkat Dewa yang bersembunyi di balik layar. Kalian bertugas sebagai mata dan telingaku. Jangan bertindak gegabah tanpa perintahku."
"Dimengerti, Tuan Ye! Kami akan menjadi pedang Anda dalam kegelapan!"
"Bersiaplah. Besok pagi, badai sesungguhnya akan dimulai."
Keesokan paginya. Bandara Internasional Jiangbei.
Sebuah jet pribadi mewah Gulfstream G650 milik Grup Su telah siap di landasan pacu. Su Yuhan mengenakan mantel parit (trench coat) elegan berwarna krem, kacamata hitam desainer, dan sepatu hak tinggi. Auranya begitu berwibawa namun tetap anggun. Di sampingnya, Ye Chen tampil kasual seperti biasa, tangannya masuk ke dalam saku celana.
Saat pesawat lepas landas, Yuhan menatap awan putih dari balik jendela. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam kalung Giok Hetian di dadanya.
"Gugup?" tanya Ye Chen, menyodorkan segelas air hangat untuk istrinya.
Yuhan menoleh dan tersenyum tipis. "Sedikit. Ini pertama kalinya aku pergi ke Ibu Kota Negara. Dan aku tahu, kita tidak pergi ke sana untuk liburan."
Ye Chen menggenggam tangan Yuhan. "Tidak peduli seberapa besar dan megahnya Keluarga Ye, di mataku, mereka hanyalah batu loncatan. Selama kau berada di dekatku, tidak ada satu pun debu di Ibu Kota yang bisa menyentuhmu."
Yuhan menyandarkan kepalanya ke bahu Ye Chen, matanya terpejam nyaman. "Aku percaya padamu."
Pesawat membelah langit, melesat ke arah Utara. Menuju pusat kekuasaan, kekayaan, dan konspirasi terdalam di seluruh daratan Tiongkok.
Dua jam kemudian. Bandara Internasional Jingcheng (Ibu Kota).
Udara di Jingcheng terasa lebih dingin dan kering dibandingkan wilayah selatan. Saat Ye Chen dan Su Yuhan melangkah keluar dari jalur VIP terminal kedatangan, mereka tidak disambut oleh kerumunan wartawan atau karpet merah, melainkan oleh barisan pria berjas hitam yang memblokir jalan keluar.
Di tengah barisan itu, berdiri seorang pemuda berambut disemir perak, mengenakan jaket kulit berhiaskan paku-paku metal. Ia mengunyah permen karet dengan ekspresi arogan yang luar biasa menyebalkan.
Ia adalah Zhao Kuang, keponakan dari Zhao Xinlan (ibu tiri Ye Chen), sekaligus salah satu Tuan Muda dari Keluarga Zhao yang menguasai distrik timur Ibu Kota.
Melihat Ye Chen keluar bersama Yuhan, Zhao Kuang meludah ke lantai, lalu tertawa mengejek.
"Wah, wah, wah! Lihat siapa yang kembali!" seru Zhao Kuang sambil bertepuk tangan pelan. "Anjing liar yang dibuang oleh Bibi Xinlan tiga tahun lalu, kini berani merangkak kembali ke Ibu Kota! Dan oh... bawa betina yang lumayan cantik juga rupanya."
Mata nakal Zhao Kuang menelanjangi tubuh Yuhan dari balik kacamata hitamnya.
Wajah Yuhan seketika sedingin es. "Jaga ucapanmu, atau pengacaraku akan menuntutmu atas pelecehan verbal."
"Hahaha! Tuntut aku? Di Jingcheng?!" Zhao Kuang tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Nona, ini bukan provinsi kampung halamanmu! Di kota ini, hukum adalah apa yang Keluarga Zhao dan Keluarga Ye katakan!"
Zhao Kuang menoleh pada Ye Chen yang sedari tadi diam tak berekspresi.
"Hei, Anak Haram. Bibi Xinlan menyuruhku untuk 'menyambut' kedatanganmu hari ini," Zhao Kuang menunjuk ke arah luar bandara. "Karena kau adalah 'tamu kehormatan', kami telah menyiapkan kendaraan khusus untuk membawamu ke kediaman Keluarga Ye."
Dari balik pintu kaca bandara, terlihat sebuah truk pengangkut babi yang sangat kotor, berbau busuk, dan dipenuhi lumpur kotoran hewan, terparkir tepat di area penjemputan VIP.
"Masuklah ke dalam kandang itu, Anjing. Itulah tempat yang pantas untukmu jika kau ingin menghadiri pesta ulang tahun kakekmu malam ini!" ejek Zhao Kuang, diikuti tawa meledak dari belasan pengawalnya.
Para pengunjung bandara yang lewat buru-buru menyingkir, tidak berani ikut campur. Semua orang di Ibu Kota tahu lambang naga merah di jas para pengawal itu—itu adalah lambang Keluarga Zhao yang kejam.
Ye Chen menatap truk pengangkut babi itu, lalu beralih menatap Zhao Kuang.
"Bibi Xinlan-mu yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Ye Chen datar.
"Tentu saja! Kenapa? Kau mau menangis memanggil ibumu? Oh maaf, ibumu sudah jadi abu di kuburan!" Zhao Kuang menyeringai kejam.
Yuhan menahan napasnya, mencengkeram lengan Ye Chen. Ia bisa merasakan otot-otot di lengan suaminya menegang sekeras baja dewa. Ia tahu, kata-kata Zhao Kuang barusan telah menyentuh tombol kematian.
"Zhao Kuang," suara Ye Chen mendadak begitu pelan, nyaris seperti bisikan, namun entah bagaimana membuat udara di terminal VIP itu terasa seperti membeku di pertengahan musim dingin.
"Kau tahu bedanya aku yang sekarang dengan aku tiga tahun yang lalu?"
Zhao Kuang mengerutkan kening. "Apa bedanya? Kau tetap saja sampah!"
Ye Chen melangkah maju satu langkah. Tidak ada gerakan tambahan. Hanya satu langkah biasa.
Namun, di detik berikutnya...
BAM!
Sebuah tamparan tak kasat mata yang terbentuk murni dari ledakan True Qi menghantam sisi wajah Zhao Kuang layaknya hantaman truk tronton!
"PFFFTT!"
Zhao Kuang menyemburkan darah segar beserta selusin giginya ke udara. Tubuhnya berputar 360 derajat layaknya gasing yang ditendang, sebelum akhirnya menabrak pilar marmer bandara dengan suara retakan tulang yang memuakkan.
BRAKK!
Pemuda arogan itu merosot ke lantai, wajahnya hancur tak berbentuk, rahangnya terkilir parah, dan darah mengucur deras dari hidung serta telinganya. Ia pingsan seketika, nyaris mati hanya karena satu tamparan!
"TUAN MUDA!" Belasan pengawal Keluarga Zhao menjerit histeris. Mereka serentak mencabut baton baja dan pisau taktis dari balik jas mereka, menerjang ke arah Ye Chen.
"Beraninya kau melukai Tuan Muda Zhao! Bunuh dia!"
Ye Chen bahkan tidak repot-repot mengangkat tangannya. Mata hitam legamnya hanya memancarkan seberkas kilatan emas yang mengerikan.
"Berlutut."
Satu kata keluar dari bibir Ye Chen.
Ledakan tekanan spiritual (Spiritual Pressure) tingkat Master Puncak menyapu radius sepuluh meter layaknya badai gravitasi.
BRUGH! BRUGH! BRUGH!
Belasan pengawal elit yang sedang berlari itu tiba-tiba merasakan beban seberat ratusan kilogram menimpa pundak mereka. Tulang kaki mereka patah serentak. Mereka semua jatuh berlutut hingga keramik bandara retak di bawah lutut mereka, darah merembes dari lutut yang hancur.
Tidak ada satu pun yang bisa berdiri. Mereka menjerit tertahan, menatap pemuda di depan mereka seolah menatap dewa iblis yang turun dari langit.
Su Yuhan, yang berdiri di belakang Ye Chen, sama sekali tidak merasakan tekanan itu berkat perlindungan Qi dari suaminya. Ia menatap punggung Ye Chen dengan kekaguman yang membara. Suaminya benar-benar seorang raja.
Ye Chen berjalan santai melewati para pengawal yang berlutut gemetar itu, lalu berjongkok di samping tubuh Zhao Kuang yang tak sadarkan diri.
Ia menjambak rambut pemuda berambut perak itu, mengangkat kepalanya yang berdarah, lalu menoleh ke salah satu pengawal yang masih memiliki sedikit kesadaran.
"Bawa babi ini, masukkan ke dalam truk kotorannya sendiri, dan kirim kembali ke kediaman Keluarga Zhao," perintah Ye Chen dengan nada absolut.
"B-Baik! B-Baik, Tuan! Ampuni kami!" isak pengawal itu ngeri.
Ye Chen melepaskan jambakannya, membiarkan kepala Zhao Kuang kembali membentur lantai. Ia kemudian berdiri, merapikan lengan bajunya, dan menatap ke arah pusat Kota Jingcheng di kejauhan.
"Sampaikan pesan ini kepada Zhao Xinlan," suara Ye Chen menggema di lobi yang sunyi. "Sambutan kecilnya sudah kuterima. Malam ini, di pesta ulang tahun Kakek Ye, Sang Naga akan datang secara pribadi untuk membalas budinya."
Ye Chen berbalik, mengulurkan tangannya pada Yuhan sambil tersenyum lembut. "Ayo kita pergi ke hotel yang sudah disiapkan Master Tang. Malam ini, kau harus memakai gaun terbaikmu untuk bertemu mertua palsumu."
Yuhan tersenyum, menyambut uluran tangan Ye Chen dengan bangga. "Aku sudah membawa gaun merah tercantikku. Aku berjanji tidak akan mempermalukanmu di sana."
Sepasang suami istri itu berjalan keluar dari bandara dengan anggun, meninggalkan teror absolut yang akan segera menyebar ke seluruh petinggi Keluarga Ye dan Keluarga Zhou