NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Hembusan angin malam terasa sangat dingin menusuk kulit saat Rizky duduk sendirian di dalam pos jaga kebun.

Di atas meja kayu kusam di depannya, tergeletak sebuah biji hitam legam seukuran kelereng.

Biji Teratai Es Kematian itu terus memancarkan hawa dingin yang membuat permukaan meja di sekitarnya membeku perlahan.

"Benda ini benar-benar tidak masuk akal sama sekali," gumam Rizky sambil mengusap kedua telapak tangannya mencari kehangatan.

"Sistem bilang benda ini butuh racun mematikan untuk bisa tumbuh, tapi di mana aku bisa menemukan racun sebanyak itu di kota modern ini?"

Rizky mengambil sebuah kotak besi kecil bekas wadah permen dari dalam laci mejanya yang sudah reyot.

Ia melapisi bagian dalam kotak itu dengan kain tebal sebelum memasukkan biji hitam tersebut dengan sangat hati-hati.

KLIK.

Bunyi tutup kotak besi yang tertutup rapat membuat Rizky bisa bernapas sedikit lebih lega malam itu.

Ia memasukkan kotak tersebut ke dalam tas ranselnya dan memutuskan untuk membawanya ke mana pun ia pergi demi keamanan.

Keesokan paginya, Klinik Bintang Abadi terlihat jauh lebih ramai dari hari-hari sebelumnya.

Antrean panjang para pelanggan kelas atas sudah mengular bahkan sebelum pintu utama klinik dibuka oleh petugas keamanan.

Rizky masuk melalui pintu belakang khusus karyawan dan langsung berjalan menyusuri lorong menuju ruangan laboratorium Indah Sari.

TOK TOK TOK.

"Masuk saja Rizky, pintunya tidak aku kunci dari dalam," teriak Indah dari dalam ruangan dengan suara yang terdengar sangat terburu-buru.

Rizky mendorong pintu kaca itu dan melihat Indah sedang mewawancarai seorang wanita muda berkacamata di depan mejanya.

Wanita itu terlihat sangat rapi dengan kemeja putih bersih dan rok hitam selutut yang sangat pas di badan.

"Selamat pagi Nona Indah, sepertinya kau sibuk sekali hari ini sampai harus melakukan wawancara kerja dadakan segala," sapa Rizky santai.

Indah menoleh ke arah Rizky dengan wajah yang terlihat sedikit kelelahan namun tetap memaksakan sebuah senyuman.

"Kau datang di saat yang tepat Rizky, kenalkan ini Maya, pelamar baru untuk posisi asisten apoteker di klinik kita."

Indah menunjuk ke arah tumpukan kertas riwayat hidup yang berserakan di atas meja kerjanya.

"Pesanan obat kita meledak mencapai ribuan botol hari ini, aku benar-benar butuh tambahan tenaga ahli untuk mengurus pengemasan di belakang."

Maya langsung berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya dengan sangat sopan ke arah Rizky.

"Selamat pagi Tuan Rizky, nama saya Maya, saya lulusan terbaik dari akademi farmasi kota sebelah," ucap Maya dengan nada suara sangat lembut dan terpelajar.

"Saya sangat mengagumi produk Pil Pemulih Vitalitas buatan klinik ini dan ingin sekali belajar banyak pengalaman di sini."

Rizky tidak langsung membalas sapaan manis itu, ia justru menatap Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik.

Otak super jeniusnya mulai bekerja mengumpulkan setiap detail informasi kecil dari penampilan wanita asing di depannya ini.

"Lulusan terbaik dari kota sebelah ya? Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kau menganggur Nona Maya?" tanya Rizky dengan nada datar memotong basa-basi.

Maya terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung tersebut namun segera menguasai ekspresi wajahnya kembali.

"Saya baru lulus tiga bulan yang lalu Tuan, dan ini adalah pengalaman melamar kerja pertama saya di kota ini," jawab Maya tersenyum sopan.

Rizky mengangguk pelan sambil berjalan mengitari Maya dengan langkah lambat yang sengaja dibuat mengintimidasi.

SRUT SRUT.

Hidung Rizky yang kini jauh lebih sensitif mengendus sebuah aroma kimia yang sangat khas dan samar dari serat pakaian Maya.

"Aroma ini adalah senyawa pengawet sintetis tingkat tinggi yang harganya sangat mahal di pasaran gelap," batin Rizky menganalisa dengan cepat.

"Klinik kecil apalagi mahasiswi baru lulus tidak mungkin punya akses atau mampu membeli senyawa kimia sekelas ini."

Rizky juga menyadari ada bekas kapalan aneh di sela-sela jari telunjuk dan ibu jari pada tangan kanan Maya yang disembunyikan di balik roknya.

Itu sama sekali bukan kapalan akibat sering memegang buku tebal atau alat tumbuk obat tradisional di kampus.

"Itu adalah bekas luka kapalan yang biasa dimiliki oleh orang yang sering memegang gagang senjata api atau pisau taktis," simpul Rizky di dalam kepalanya dengan pasti.

Rizky tersenyum sangat lebar hingga membuat Indah yang melihatnya merasa sedikit heran dengan perubahan sikap rekannya itu.

"Kau hebat sekali Nona Maya, baru lulus sudah punya keberanian melamar ke klinik yang sedang viral ini," puji Rizky dengan nada yang sengaja dibuat-buat terdengar kagum.

"Terima kasih atas pujiannya Tuan Rizky, saya hanya ingin memberikan tenaga dan dedikasi terbaik untuk tempat ini," balas Maya kembali menunduk merendah.

"Indah, bagaimana hasil tes teori farmasinya tadi pagi? Apakah dia bisa menjawab semuanya dengan memuaskan?" tanya Rizky beralih menatap rekan bisnisnya.

Indah mengangguk cepat sambil membereskan kertas-kertas lamaran di mejanya menjadi satu tumpukan rapi.

"Dia menjawab semua pertanyaan ujianku dengan sangat sempurna Rizky, pengetahuannya soal komposisi bahan herbal sangat luas."

"Kalau begitu kita terima saja dia mulai hari ini juga, kau memang butuh banyak bantuan tangan untuk mengawasi pengemasan obat kita di belakang," putus Rizky tanpa ragu sedikit pun.

Indah terlihat sangat senang karena Rizky menyetujui keputusannya dengan cepat tanpa perdebatan panjang.

"Kau dengar itu Maya? Kau bisa mulai bekerja hari ini juga, tolong ambil seragam barumu di ruang ganti belakang sekarang," perintah Indah dengan ramah.

"Terima kasih banyak Nona Indah, Tuan Rizky, saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan kalian berdua," ucap Maya pamit menunduk hormat lalu berjalan keluar ruangan.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!