Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 13
"Kalau nanti Tsania sudah sembuh dan kalau ternyata alasan dia pergi tiga tahun lalu adalah demi kebaikanmu atau karena sesuatu yang di luar kendalinya. Apa yang bakal kamu lakukan?" tanya Danu melontarkan pertanyaan yang paling ditakuti Arsen.
Arsen membeku di balik kemudi. Pertanyaan Danu menggantung di udara malam, memicu dilema yang luar biasa membakar jiwanya. Jika alasan Tsania pergi dulu memang karena sebuah kesalahpahaman atau pengorbanan. Maka segala siksaan, tumpukan berkas, dan kata-kata dingin yang dilontarkannya selama ini akan menjadi dosa terbesar yang tak akan pernah bisa ia ampuni dari dirinya sendiri.
Arsen perlahan mengangkat kepalanya dari kemudi. Pandangannya menerawang menembus kaca depan mobil yang dibasahi sisa rintik hujan. Pertanyaan Danu menggantung di udara malam, berhembus dingin dan menghantam sudut hatinya yang paling rawan.
"Apa yang akan aku lakukan?" bisik Arsen dengan nada suara yang begitu parau, nyaris habis. Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kaku dan bergetar di atas lingkar kemudi.
"Aku tidak tahu, Nu... Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menembus dosa sebesar ini," sambungnya, diiringi helaan napas berat yang sarat akan kehampaan.
"Jika ternyata dia pergi demi kebaikanku... jika ternyata selama tiga tahun ini dia menderita sendirian sementara aku melampiaskan amarah butaku padanya... aku bahkan tidak pantas memohon maaf di kakinya."
"Namun, kalau ternyata dia benar-benar meninggalkan aku karena dia memiliki hubungan dengan pria lain. Maka aku nggak akan pernah memaafkan dia sampai kapanpun, dan aku akan memberikan hukuman yang jauh lebih setimpal,"
Danu mengamati sahabatnya itu dalam diam. Pria dingin yang biasa mengendalikan rapat direksi berdarah dingin itu kini tampak sangat rapuh, hancur berkeping-keping di balik kemudi mobil mewahnya sendiri.
"Tapi aku nggak yakin kalau Tsania punya skekasih lain selain kamu. Karena dari dulu dia adalah tipe wanita yang sangat setia,"
Arsen mendadak menoleh tajam ke arah Danu. Ada pendar kepanikan yang luar biasa di matanya yang memerah dan basah. Ia mencengkeram lengan jaket Danu melewati jendela mobil yang terbuka.
"Nu... tolong aku," pinta Arsen, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Tolong aku sekali ini saja. Aku mau kamu cari tahu semuanya. Semuanya tanpa terkecuali!"
Danu sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi Arsen yang mendadak histeris itu. "Arsen, tenang dulu..."
"Bagaimana aku bisa tenang, Danu?!" bentak Arsen, tangisnya yang dari tadi ditahan akhirnya pecah di keheningan parkiran rumah sakit.
"Tiga tahun lalu aku cuma memakai asumsi murahku! Aku pikir dia silau oleh pria lain, aku pikir dia mencampakkanku karena aku sempat bangkrut di Singapura! Tapi lihat dia sekarang, Nu... Dia bekerja keras sampai sakit sakitan, dia memakai pakaian lusuh, dia bertaruh nyawa cuma buat menyambung hidup!"
Arsen mencengkeram dadanya sendiri yang terasa berdenyut nyeri. "Kalau dia memang mengincarku karena uang, kenapa dia tidak pernah memerasku? Kenapa dia tidak pernah mengetuk pintuku untuk minta bantuan? Kenapa dia justru gemetar ketakutanf saat melihatku di kantor?!"
"Arsen, dengarkan aku..."
"Cari tahu alasannya, Nu!" potong Arsen mantap, matanya menatap Danu penuh ketegasan yang dibalut keputusasaan.
"Periksa semua rekam medisnya tiga tahun terakhir. Cari tahu kemana dia pergi setelah menghilang dari apartemen di Singapura malam itu. Cek rekening banknya, cek orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, dan cari tahu siapa pria bernama Raihan itu!"
Danu mengangguk pelan, memahami betapa krusialnya perintah ini bagi warasnya jiwa sang sahabat. "Oke. Aku paham. Aku akan suruh detektif terbaik yang biasa menangani kasus internal Pratama Group untuk bergerak malam ini juga."
"Bukan cuma detektif," sela Arsen cepat, napasnya memburu.
"Aku mau kamu sendiri yang supervisi, Nu. Jangan ada satu detail kecil pun yang terlewat. Kalau ada campur tangan keluargaku... kalau Papa atau Aurelia ada di balik kepindahannya dulu... aku mau kamu jujur sama aku!"
Danu menegang mendengar nama ayah Arsen dan Aurelia disebut. "Kamu menduga Papa kamu terlibat dalam hilangnya Tsania?"
"Aku tidak tahu!" jerit Arsen frustrasi, meninju pelan kemudinya.
"Aku dulu terlalu buta oleh gengsi untuk menyadari hal-hal di sekitarku! Waktu aku terpuruk di Singapura, Papa paling keras menentang hubunganku dengan Tsania. Dan tepat saat perusahaan Pratama Group mulai bangkit, Tsania hilang dan Aurelia mendadak dijodohkan denganku! Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak pernah menghubungkan benang-benang merah ini sebelumnya?!"
Danu menarik napas panjang, merapikan letak kemejanya dan menepuk bahu Arsen dengan sangat kuat untuk menangkis histeria pria itu.
"Dengar, Arsen. Aku bakal selidiki semuanya. Aku janji, sebelum minggu ini berakhir, kamu bakal dapat semua jawaban yang kamu cari," janji Danu dengan nada suara yang penuh kepastian.
"Tapi kamu harus janji satu hal sama aku."
Arsen menatap Danu pasrah. "Apa?"
"Kendalikan dirimu," tegas Danu.
"Kalau ternyata kebenarannya menyakitkan... kalau ternyata kamu yang menjadi penyebab utama penderitaannya selama ini... kamu harus siap menanggungnya tanpa makin menyakiti Tsania. Kamu tidak boleh datang padanya seperti pahlawan yang menuntut pengampunan."
Kalimat Danu menusuk tepat di ulu hati Arsen. Pria itu menyandarkan kembali kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat saat air mata penyesalan menetes membasahi pipinya.
"Aku cuma mau dia selamat, Nu..." bisik Arsen lirih, suaranya pecah di tengah kegelapan kabin mobil.
"Aku tidak peduli kalau setelah ini dia makin membenciku. Aku tidak peduli kalau dia memilih bersama pria lain... Asalkan dia bernapas... Asalkan mata indahnya terbuka lagi..."
"Dia akan bertahan, Arsen. Tsania wanita yang kuat," ujar Danu menenangkan, meski ia sendiri tidak yakin seberapa kuat fisik wanita itu menahan trauma yang bertubi-tubi.
"Sekarang, matikan mesin mobilmu. Bersandarlah dan istirahat. Aku akan masuk ke dalam untuk bicara dengan dokter jaga, memastikan perkembangan fisiknya tiap jam."
"Terima kasih, Nu... Tolong jaga dia dari jarak yang tidak bisa kujangkau," balas Arsen pelan.
Danu menepuk pintu mobil Arsen dua kali sebelum berbalik melangkah kembali menuju gedung RS YPK Mandiri yang dingin.
Di dalam mobil mewah yang kini terasa seperti penjara sempit bagi jiwanya, Arsen merogoh saku kemejanya. Jemarinya yang gemetar mengeluarkan sebuah benda kecil yang selama tiga tahun ini selalu ia simpan di dalam dompetnya, sebuah cincin perak polos tanpa permata, cincin murah yang pernah ia beli di pinggir jalan Singapura untuk melamar Tsania sebelum wanita itu pergi.
Arsen menggenggam cincin dingin itu erat-erat di dadanya, menenggelamkan wajahnya di atas lingkar kemudi. Di tengah kesunyian pelataran parkir rumah sakit malam itu, sang CEO Pratama Group tersedu-sedu meratapi kebodohannya sendiri, berdoa pada Tuhan agar diberi satu kesempatan lagi, bukan untuk memiliki Tsania kembali, melainkan untuk membayar semua luka yang telah ia torehkan pada wanita yang amat sangat dicintainya itu.