NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Matahari pagi menyusup masuk melalui dinding kaca raksasa di lantai empat puluh, menerangi sudut-sudut penthouse yang begitu luas namun sepi. Tidak ada suara bising lalu lintas ibu kota yang bisa menembus kaca tebal itu. Yang ada hanyalah keheningan, jenis keheningan yang perlahan-lahan sanggup mengikis ingatan seseorang tentang dunia luar.

Clara terbangun di atas tempat tidur yang dilapisi seprai sutra berwarna abu-abu gelap. Kamar utama ini begitu megah, dilengkapi kamar mandi transparan dan ruang ganti pakaian yang sudah dipenuhi oleh deratan baju-baju baru pilihan Kenzo.

Di pergelangan tangan kirinya, gelang perak itu masih melingkar dingin, menjadi pengingat konstan bahwa ia kini berada di dalam sangkar yang paling sempurna.

Clara bangkit berdiri dengan langkah lemas. Tubuhnya terasa berat akibat lelah emosional yang menderanya berhari-hari. Saat ia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, aroma masakan gurih bercampur kopi hitam menyapa indra penciumannya.

Di area dapur bersih, Kenzo berdiri tanpa mengenakan jas mewahnya. Pria itu hanya memakai kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku dan celana kain santai. Penampilannya terlihat begitu kasual, namun aura dominasi yang memancar darinya sama sekali tidak berkurang.

"Selamat pagi, Dear,"

sapa Kenzo tanpa memalingkan wajah dari panci kecil di atas kompor induksi.

"Ganti gaun malammu dengan pakaian yang sudah kusiapkan di atas meja."

Clara menoleh ke meja rias dekat kamar mandi. Di sana terlipat rapi sebuah gaun terusan berbahan rajut lembut berwarna krem dengan potongan leher agak terbuka.

"Aku tidak mau,"

bisik Clara, suaranya parau.

"Pakaian yang kubawa dari rumah masih ada di koper."

Kenzo mematikan kompor, membalikkan badan, lalu menatap Clara dengan pandangan datar yang sangat tenang.

"Koper-kopermu sudah kukirim kembali ke rumah keluarga tadi subuh bersama seluruh pakaian lamamu. Di tempat ini, kau hanya akan mengenakan apa yang kupilihkan untukmu."

Darah Clara mendadak berdesir panas.

"Kau membuang semua barang-barangku?!"

"Aku membuang semua hal yang mengingatkanmu pada kebebasan semu yang pernah kau miliki,"

jawab Kenzo santai seraya berjalan menghampiri Clara.

Langkah kakinya yang mantap di atas lantai marmer terdengar begitu teratur.

Kenzo berhenti tepat di depan Clara. Tangan panjangnya meraih gaun rajut krem di atas meja, lalu mengulurkannya pada Clara.

"Pakai ini, atau aku sendiri yang akan menanggalkan gaun malammu dan mengenakannya pada tubuhmu."

Mata Clara membelalak. Ancaman itu disampaikan tanpa nada emosi sedikit pun, namun Clara tahu Kenzo tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Dengan rahang menegang dan air mata menetes, Clara merebut gaun rajut itu dari tangan Kenzo dan berjalan kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.

Sepuluh menit kemudian, Clara keluar dengan gaun rajut krem melekat di tubuhnya. Bahan kain rajut yang lembut itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna, pameran leher mulusnya yang kini tanpa penghalang.

Kenzo yang duduk di meja makan memandangnya dengan raut puas yang mengerikan. Pria itu menunjuk kursi di sampingnya.

"Duduk dan makan sarapanmu."

Clara berjalan pelan, menarik kursi di samping Kenzo, lalu duduk tanpa menyentuh piring berisi omelette dan roti panggang di depannya. Matanya hanya menatap lurus ke arah pemandangan pencakar langit di luar kaca.

"Makan, Clara,"

ulang Kenzo, suaranya sedikit lebih berat.

"Aku tidak lapar,"

balas Clara datar.

"Kalau kau mau mengurungku di sini, lakukan saja. Tapi jangan atur kapan aku harus lapar atau makan."

Kenzo tidak marah. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, memutar gelas cangkir kopinya seraya memperhatikan Clara.

"Kita punya banyak waktu untuk membicarakan aturan baru di rumah ini,"

ujar Kenzo pelan.

"Aturan pertama, kamu wajib menyelesaikan semua makanan yang kuhidangkan. Aku tidak suka melihatmu makin kurus."

"Aku tidak peduli pada aturanmu!"

potong Clara, akhirnya memalingkan wajah menatap Kenzo dengan mata berapi-api.

"Ini bukan rumah! Ini tempat tahanan! Kau memutus komunikasiku dengan teman-temanku, dan sekarang kau pikir kau bisa mengatur tubuhku?!"

Kenzo menggeser kursinya mendekat hingga paha mereka bersinggungan. Tangan kokohnya terangkat, meraih dagu Clara dan menahannya dengan genggaman yang tidak bisa dibantah. Ibu jarinya menekan lembut bibir bawah Clara yang gemetar.

"Aku tidak hanya mengatur tubuhmu, Clara,"

bisik Kenzo dengan suara rendah yang menghipnosis, matanya yang kelam mengunci tatapan mata gadis itu.

"Aku mengontrol setiap detik dalam hidupmu di sini. Jika kau menolak makan, maka aku akan memastikan kau tidak punya energi untuk melakukan hal lain, termasuk menolak ciumanku."

Sebelum Clara sempat mencerna kata-kata itu, Kenzo menunduk dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Clara.

Ciuman itu tidak lembut. Itu adalah ciuman yang menuntut, dominan, dan dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang murni. Kenzo menekan kepalanya lebih dalam, ibu jarinya di dagu Clara memaksa mulut gadis itu agak terbuka, membiarkan Kenzo menguasai indra pengecapnya tanpa sisa.

Clara tersentak. Tangan kecilnya secara refleks mendorong dada bidang Kenzo, mencoba menciptakan jarak. Namun, Kenzo justru melingkarkan satu tangannya yang lain di pinggang Clara, menarik tubuh gadis itu naik dari kursi dan merapat sepenuhnya ke dadanya.

Aroma kopi dan parfum woody milik Kenzo mendominasi seluruh ruang napas Clara. Di balik rasa benci dan takut yang luar biasa, ada gejolak aneh yang merayap di sepanjang sarafnya, sebuah rasa kewalahan atas dominasi yang terpancar dari pria itu.

Setibanya Kenzo melepaskan ciuman tersebut, benang salivanya terputus di udara. Clara terengah-engah, dadanya naik turun tajam, bibirnya agak bengkak dan memerah akibat tekanan bibir Kenzo.

"Makan sarapanmu,"

bisik Kenzo tepat di depan bibir Clara yang basah. "Atau kita akan melanjutkan ini di atas kasur."

Clara menggigit bibirnya erat-erat, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. Tidak ada celah untuk menang. Tidak ada ruang untuk tawar menawar. Dengan tangan gemetar, Clara akhirnya meraih garpu dan mulai memakan sarapan di piringnya di bawah tatapan posesif Kenzo yang tidak pernah beralih sedikit pun.

Siang harinya, Kenzo bekerja dari ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut penthouse. Pria itu membiarkan pintu ruang kerjanya terbuka lebar, memungkinkan matanya memantau setiap pergerakan Clara yang berjalan canggung mengelilingi ruang tengah.

Clara mencoba memeriksa setiap sudut penthouse. Ia berjalan menuju pintu keluar, sebuah pintu baja tebal tanpa gagang pintu, hanya ada panel pemindai sidik jari dan kamera pengenal wajah di sampingnya. Ia menyentuh panel tersebut, namun layar digital itu hanya berkedip merah dan mengeluarkan bunyi bip halus, menandakan akses tertolak.

Ia melangkah ke arah jendela kaca raksasa, menempelkan telapak tangannya di sana. Tinggi lantai empat puluh membuat mobil-mobil di bawah sana tampak seperti titik-titik kecil. Tidak ada balkon, tidak ada ventilasi yang cukup besar untuk dilewati tubuh manusia. Ini benar-benar sangkar kedap suara di atas awan.

"Sudah selesai menginspeksi penjaramu?"

Suara Kenzo yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuat Clara meloncat kaget.

Pria itu berdiri menyandarkan bahunya di dinding, memegang sebuah tablet kerja dengan kemeja yang kancing atasnya sudah dilonggarkan.

Clara membalikkan badan, menyandarkan punggungnya di kaca dingin.

"Berapa lama kau akan menahanku di sini, Kenzo?"

Kenzo meletakkan tabletnya di meja terdekat, melangkah santai menghampiri Clara.

"Selamanya, jika kau terus bertanya."

"Ibu dan Ayah akan curiga!"

tegas Clara, mencoba menggunakan kartu terakhirnya.

"Mereka akan pulang dari perjalanan bisnis mereka dalam beberapa minggu. Kau tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak ada di rumah keluarga!"

Kenzo tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Clara berdiri.

"Ibu dan Ayah sudah menerima laporan dari tim medis pribadi Karibia,"

ujar Kenzo pelan.

Pria itu berhenti tepat di depan Clara, mengurung tubuh mungil gadis itu di antara kedua lengannya yang bersandar pada dinding kaca.

"Aku memberitahu mereka bahwa kondisi kesehatanmu memburuk akibat stres kuliah, dan dokter menyarankan isolasi total dari dunia luar agar kau bisa beristirahat di tempat penyembuhan pribadiku. Ibu sangat setuju, Clara. Dia bahkan berterima kasih padaku karena telah merawatmu dengan baik."

Mata Clara membelalak sempurna. Air mata yang sejak pagi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipi.

"Kau memanipulasi Ibuku"

"Aku hanya memberikan penjelasan yang paling menenangkan untuk mereka,"

balas Kenzo halus. Jemari tangannya terangkat, mengusap air mata di pipi Clara dengan gerakan yang teramat lembut, kontras dengan kekejaman manipulasi yang baru saja ia beberkan.

"Kau monster, Kenzo,"

bisik Clara, suaranya parau menahan rasa frustrasi yang membakar dadanya.

"Kau bukan kakakku. Kau bukan manusia."

"Aku memang bukan kakakmu, Clara,"

bisik Kenzo tepat di telinga gadis itu, suaranya rendah dan sarat akan ancaman yang teramat manis.

"Dan aku tidak pernah bermaksud menjadi kakakmu sejak hari pertama kau melangkah masuk ke rumahku."

Kenzo menunduk, mencium garis leher Clara dengan lembut namun penuh penekanan, memberikan tanda keunguan baru di atas kulit halus gadis itu. Clara memejamkan mata erat-erat, mengepalkan jemarinya di atas kain gaunnya, menyadari bahwa di dalam penthouse ini, tidak ada lagi hukum, tidak ada lagi keluarga, hanya ada Kenzo dan obsesi gelapnya yang akan menelannya bulat-bulat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!