[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WHO IS SHE?
Pagi ini, aku dan Papa mertuaku akan pergi melihat lokasi bisnis papa, yang akan buka cabang di dekat rumahku. Papa bilang, dia mau aku sendiri yang datang dan memantau langsung tempat usahanya itu. Kata papa lagi, usaha ini nanti akan ada di bawah pantauan ku langsung. Aku yang jadi owner-nya. Bukan mas Raditya. Papa bilang, Mas Radit kan sudah bekerja di perusahaan besar, jadi biar saja suami ku itu tetap bekerja di sana. Lagian, gaji mas Radit sudah cukup besar, mencapai dua digit.
Tak lama menunggu, Papa dan Mama pun sampai. Mama langsung menghampiri Kaila.
"Kinan sekolah ya? " tanya Mama.
"Iya Ma, nanti pukul 1 baru pulang." jawabku.
"Kalau begitu, yuk... langsung aja kita ke lokasi. Biar cepet." ajak papa.
Kami pun langsung bergerak menuju ke lokasi tempat usaha yang sudah Papa sediakan sediakan. Tempat usaha yang nanti akan menjadi tempat yang paling sering aku datangi dan kunjungi.
Jaraknya dari rumahku memang tidak terlalu jauh, hanya berkisar antara 800 atau 1 KM saja. Jadi aku bisa membawa Kaila dan Kinan ke tempat usaha itu, jika Kinan sedang libur sekolah. Atau jika aku mulai stres dengan tingkah mas Radit. Istilah, tempat untuk aku merefresh kan kembali otakku. Soalnya aku sedikit berbeda dengan perempuan pada umumnya. Yang kalau mereka stres, melampiaskannya dengan berpergian jauh atau shoping. Kalau aku sih, larinya ke makanan. Ngemil atau makan makanan yang berat. Jadi cocok banget emang punya usaha makanan seperti ini.
Kata papa, lokasinya memang sengaja beliau cari yang dekat dengan rumah, mengingat aku punya dua anak yang masih kecil-kecil. Jadi biar tidak terlalu jauh kalau harus bolak balik dari toko ke rumah nantinya.
"Nah, ini dia... " kata Papa. Kami sudah sampai di lokasi toko dan segera turun dari mobil.
"Wah, ini sih bagus banget pa... " kataku setelah melihat bangunan di hadapanku yang sudah di cat pink dan di tata raknya dengan sangat rapi.
Ayah mertuaku memang bisnis dibidang makanan kering, seperti makanan untuk oleh-oleh atau kue khas daerah-daerah. Tapi ayah bilang, aku boleh menjual makanan kekinian juga, bebas. Enak banget emang punya mertua sebaik ini.
"Baguslah kalau kamu suka. Mama sama Papa sengaja bikin sesuai permintaanmu. Biar kamunya betah. Nanti mama juga akan cari beberapa orang pegawai untuk bantu-bantu kamu." jelas mama.
Aku langsung memeluk mama.
"Ma... makasih ya..." Aku terharu sekali mendapatkan mertua seperti mereka.
Jelas saja, aku adalah anak yang sudah tidak punya keluarga utuh lagi. Sejak orang tua ku bercerai, aku sudah seperti kehilangan kehangatan keluarga, beruntung aku mendapatkan mertua yang selalu memberikanku kehangatan, yah... walaupun harus menikah dengan anak mereka yang seperti beruang kutub itu.
"Udah udah, kamu jangan berlebihan. Kamu itu kan menantu kami, artinya kamu itu uda jadi anak kami juga." kata Papa.
"Sekali lagi, makasih ya Pa. Dari dulu, Kalista kepingin....banget, punya toko jajanan dan kue kayak gini. Akhirnya sekarang terwujud." kataku sambil terus memandangi ke sekeliling toko.
"Tapi ingat, kamu tugasnya cuma mantauin aja, yang kerja tetap para pegawaimu. Jangan sampai Kinan dan Kaila terabaikan. Ntar, Radit marah lagi sama kamu. Kamu tau kan gimana sayangnya dia sama anak-anaknya. Bahkan sama baby sitter aja dia nggak percaya." jelas Mama.
Benar apa yang Mama bilang. Mas Radit memang tidak mempercayai anak-anaknya kepada siapapun. Makanya aku kerempongan menjaga Kinan dan Kaila sendirian.
Aku pikir dulu mas Radit itu pelit, karena dia tidak mau menggaji baby sitter. Ternyata bukan karena pelit, tapi karena dia tipikal orang yang susah percaya pada orang lain. Yah begitulah dia, pikirannya selalu saja picik pada orang lain, bahkan kepada aku, istrinya sendiri.
...****************...
Aku bermain-main dengan Kaila di ruang nonton. Kinan sedang asik mewarnai gambarnya. Mas Radit sibuk dengan game online-nya. Hanya suara televisi yang terdengar.
Seperti inilah suasana malam di rumah kami setiap hari. Hening tanpa canda tawa. Aku selalu berteman kan TV atau HP. Begitu juga mas Radit, kesenangannya hanyalah pada ponselnya, bukan denganku. Dia hanya memanggilku saat dia ingin menyalurkan hasratnya saja. Selebihnya, baginya aku hanyalah fatamorgana di dalam rumah ini. Ada, tapi seperti tak ada.
"Kamu nggak nyuruh Mama papa nginep sini?" tiba-tiba orang yang sedang aku gibah di dalam kepalaku pun muncul.
"Mama dan Papa katanya buru-buru harus ngurusin cabang satu lagi. Jadi mereka nggak bisa nginep." kataku sambil tetap melihat ke arah TV.
Mas Radit lalu duduk di sofa, tepatnya di sebelah ku. Tumben sekali dia mau gabung dengan aku dan anak-anak, gumamku dalam hati.
Tak lama hatiku bicara, ponsel mas Radit berdering. Dia langsung melihat siapa yang menelepon. Tapi dia tak lekas mengangkat panggilan telepon itu. Seperti ada yang mencurigakan.
"Kok nggak diangkat?" tanyaku.
"Apa? E... Ya... suka-suka mas dong. Mau angkat atau enggak. " jawabnya sentimen.
"Bukan karena di depan aku?" tanyaku santai sambil mengunyah kacang.
"Curiga aja kamu, heran." dia lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Tak lama ponselnya berdering lagi. Sebuah nama yang sangat jelas aku bisa lihat, muncul di sana.
BIANCA
Mas Radit cepat-cepat mengambil ponselnya supaya aku tidak melihatnya. Sayangnya, aku sudah melihatnya mas. Lirihku.
"Halo... " kata mas Radit setelah mengangkat panggilan telepon itu. Aku tidak bisa mendengar apa yang lawan bicaranya katakan, sebab mas Radit tak menyalakan speaker.
"Ada apa lagi sih? Besok aja ya. Ini kan uda malam. " kata mas Radit lagi.
Kemudian mas Radit lama tidak berbicara, nampaknya wanita bernama Bianca itu sedang berbicara panjang kali lebar. Apa dia sedang curhat? Dari jawaban mas Radit, sepertinya dia menyuruh mas Radit untuk menemuinya sekarang. Feeling seorang istri itu selalu benar mas.
"Harus sekarang? Tapi ini uda jam 10. Kan nggak enak nanti diliat orang." Mas Radit setengah berbisik.
Mas Radit lalu pergi meninggalkan ruang nonton dan menuju ke arah kamar. Wanita itu sepertinya memaksanya untuk menemuinya.
Wanita jenis apa yang berani meminta suami orang lain untuk menemuinya di jam 10 malam begini?
Siapa Bianca itu? Ada hubungan apa dia dengan mas Radit? Apa mereka sedang berselingkuh dari ku? Astaga, jahat sekali kamu mas jika benar demikian. Licik kamu.
*Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perselingkuhan tidak selalu terjadi karena ada niat dari pelakunya, namun juga karena adanya kesempatan. Waspadalah Waspadalah.. 😄
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA 😇