"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 12
Malam yang merayap di kediaman Dirgantara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di atas ranjangnya, Amerta masih mempertahankan sandiwara tidurnya dengan sempurna. Dadanya naik dan turun dalam ritme yang teratur, meniru fase tidur dalam seorang gadis tanpa cela. Namun, di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, seluruh saraf di tubuhnya menegang parah. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dada, menciptakan gema horizontal yang terasa seperti hendak meledak.
Sentuhan bibir Mahesa di atas bibirnya baru saja terlepas. Kehangatan yang posesif dan intim itu perlahan menguap, berganti dengan embusan udara malam yang menyapu permukaan kulit wajah Amerta yang mendadak mendingin.
Amerta mengira Mahesa akan segera beranjak seperti malam-malam sebelumnya. Ia mengira pria itu akan merapikan selimutnya, memberikan satu kecupan penutup di puncak kepala, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar dalam keheningan.
Amerta sudah tidak sabar menanti fajar menyingsing agar ia bisa segera merampas ponselnya dan mengunduh rekaman video dari kamera pengawas mikro yang terpasang di sudut meja belajarnya.
Namun, tebakannya meleset total.
Pria itu tidak bergerak. Berat kasur di sisi kanan Amerta masih ambles, menandakan Mahesa masih mendudukkan tubuh besarnya di sana. Keheningan yang tercipta mendadak berubah menjadi atmosfer yang mencekik. Tidak ada suara helaan napas, tidak ada gesekan kain sutra kemeja hitamnya. Hanya ada kekosongan yang aneh dan sarat akan bahaya.
Mahesa, dengan ketajaman instingnya yang laksana pemangsa, sedang menatap lurus ke satu titik di sudut ruangan.
Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi bias lampu tidur pastel yang remang-remang, sepasang mata biru Mahesa menyipit tajam. Laki-laki itu memiliki kemampuan observasi yang luar biasa—sesuatu yang membuatnya menjadi pebisnis tangguh di usia muda. Kamar Amerta adalah wilayah yang sudah ia hafal setiap incinya selama berbulan-bulan ia datangi secara rahasia. Ia tahu letak setiap buku, sudut setiap kosmetik, hingga posisi persis dari pajangan meja milik adik tirinya.
Dan malam ini, ada satu anomali kecil yang mengusik pandangannya.
Sebuah pengisi daya dinding (charger adapter) berwarna hitam terpasang di stopkontak dekat meja belajar. Sekilas, benda itu tampak biasa saja. Namun, pantulan bias cahaya lampu tidur menangkap kilatan lensa melingkar yang teramat sangat kecil di bagian tengah adaptor tersebut. Sebuah titik merah mikro berkedip sesekali, memproses data visual secara real-time.
Spy cam.
Mahesa menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman sinis yang dingin dan sangat tipis di kegelapan malam. Topeng esnya yang luruh kini berganti dengan kilat kepuasan yang berbahaya. Jadi, kelinci kecilnya sudah mulai berani memasang perangkap?
Mahesa menoleh kembali ke arah Amerta. Ia menatap wajah polos gadis itu yang masih berpura-pura terlelap. Laki-laki itu bisa melihat sedikit kedutan halus di sudut mata Amerta dan bagaimana jemari gadis itu meremas gulingnya dengan intensitas yang terlalu kuat untuk seseorang yang sedang tertidur pulas.
“Kamu sungguh menggemaskan, Amerta,” batin Mahesa, dipenuhi gairah kepemilikan yang kelam. “Kamu pikir kamu bisa menjebakku di dalam rumahku sendiri?”
Perlahan, Mahesa bangkit berdiri dari tepi ranjang. Langkah kakinya yang seringan kapas membawa tubuh tingginya mendekati meja belajar Amerta.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah meja belajar—bukan ke arah pintu keluar—jantung Amerta mencelos. Rasa panik yang luar biasa seketika menyerang seluruh kesadarannya. “Tidak, tidak, tidak. Jangan ke sana,” jerit Amerta di dalam hatinya. Ia ingin sekali membuka mata dan menghentikan Mahesa, namun ketakutan bahwa sandiwaranya akan terbongkar secara instan membuat tubuhnya lumpuh di tempat.
Mahesa berdiri tepat di depan kamera tersembunyi itu. Ia sengaja mencondongkan wajahnya ke depan lensa, membiarkan sensor night vision kamera merekam wajah tegasnya dengan sangat jelas dari jarak dekat. Mata birunya menatap lurus ke dalam lensa, seolah-olah ia sedang menatap langsung ke dalam bola mata Amerta melalui layar ponsel keesokan harinya.
Lalu, dengan gerakan yang teramat santai, Mahesa mengulurkan tangan. Ibu jarinya menekan tepat di atas lensa mikro tersebut, menutup seluruh akses visual, sebelum akhirnya menarik paksa adaptor itu dari stopkontak dinding.
Klik.
Kamera itu mati total. Mahesa menggenggam benda kecil itu di dalam telapak tangannya yang besar, lalu memutar tubuhnya kembali menghadap ranjang Amerta.
Amerta bisa mendengar suara detak halus saat adaptor itu dicabut. Harapan besarnya untuk mendapatkan bukti digital runtuh dalam sekejap. Air mata kecemasan hampir saja menetes dari sudut matanya yang terpejam. Rencananya gagal total. Mahesa mengetahui keberadaan kamera itu.
Namun, kejutan mengerikan malam itu belum berakhir.
Amerta mengira Mahesa akan langsung pergi membawa kamera itu bersamanya. Nyatanya, suara langkah kaki pria itu justru kembali mendekat ke arah tempat tidur. Kali ini, langkahnya sengaja dibuat terdengar—sebuah intimidasi psikologis yang nyata.
Kasur kembali ambles, namun kali ini posisinya tepat di atas kepala Amerta. Mahesa mencondongkan tubuhnya begitu rendah hingga dada bidangnya yang terbungkus kemeja sutra hitam nyaris menyentuh bahu Amerta. Aroma sandalwood dan mint mengepung indra penciuman Amerta dengan intensitas yang mencekik.
"Permainan yang bagus, Amerta," bisik Mahesa. Suara baritonnya yang teramat sangat rendah bergetar tepat di samping telinga Amerta, mengirimkan gelombang rasa dingin yang membuat seluruh bulu kuduk gadis itu meremang.
Amerta tersentak di tempatnya, namun ia masih berusaha sekuat tenaga menolak untuk membuka mata, berpura-pura tidak mendengar bisikan itu di bawah pengaruh 'tidur nyenyak'.
Mahesa terkekeh rendah—suara tawa yang terdengar sangat puas sekaligus berbahaya. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari tangan Amerta yang sedang meremas guling, lalu membuka paksa kepalan tangan kecil itu. Dengan gerakan yang terencana, Mahesa meletakkan kembali kamera pengawas mikro yang sudah ia cabut tadi ke atas telapak tangan Amerta, lalu menutup jemari gadis itu agar menggenggamnya.
Ia membiarkan Amerta menyimpan kamera yang kini sudah kosong tanpa memori tersebut.
"Aku suka binar keberanian di matamu saat siang hari," bisik Mahesa lagi, bibirnya kini nyaris menyentuh daun telinga Amerta. "Tapi ingat ini, Sayang... jangan pernah mencoba memutarbalikkan keadaan di hadapanku. Rumah ini, kamarmu, bahkan napasmu saat malam hari... adalah milikku. Kamu tidak akan pernah bisa menjebak monster yang memiliki seluruh kunci di genggamannya."
Mahesa memberikan satu penekanan terakhir dengan ibu jarinya di pipi Amerta, menghapus setitik air mata cemas yang akhirnya lolos dari sudut mata gadis yang masih terpejam itu. Setelah itu, ia bangkit berdiri, berbalik, dan melangkah keluar kamar.
Suara pintu yang menutup dengan bunyi click halus menandai berakhirnya teror malam itu, meninggalkan Amerta yang langsung terduduk di atas ranjangnya dengan napas terengah-engah, menggenggam kamera pengawas yang gagal total di dalam tangannya yang gemetar hebat.
------------------------------
Keesokan paginya, atmosfer di Universitas Indonesia terasa begitu asing bagi Amerta. Ia duduk di salah satu bangku taman kampus dengan tatapan kosong, menatap layar ponselnya yang menampilkan notifikasi: “Device Offline. Connection Lost at 02:18 AM.”
Semua rekaman video di dalam aplikasi penyimpanan awan (cloud) miliknya telah terhapus bersih. Mahesa tampaknya tidak hanya mencabut kamera tersebut, tetapi juga meretas atau memutus akses jaringan pendaftarannya malam itu. Laki-laki itu benar-benar membersihkan jejaknya tanpa menyisakan satu pun bukti yang bisa Amerta gunakan untuk melapor pada orang tua mereka atau pihak luar.
Amerta meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut yang semalam menguasai dirinya kini perlahan bermutasi menjadi kemarahan yang membara bercampur rasa frustrasi yang mendalam. Mahesa telah memanipulasi situasinya sedemikian rupa, membuatnya tampak seperti gadis delusif di siang hari, sementara di malam hari pria itu bertindak bagai penguasa mutlak atas hidupnya.
"Aku tidak boleh menyerah," gumam Amerta pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan fondasi mentalnya yang mulai retak. "Jika bukti digital tidak bisa menjatuhkannya, aku harus mencari cara lain."
Namun, saat Amerta sedang memikirkan strategi berikutnya, sebuah pesan teks masuk ke ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak ia kenal, namun isinya langsung membuat dunianya runtuh untuk kedua kali hari itu.
“Kemeja hitam sutra yang kancingnya kamu simpan kemarin sudah selesai dicuci. Aku menaruhnya di atas meja belajarmu, di samping stopkontak. Pastikan kamu tidak salah mengira itu milik orang asing lagi, Amerta.”
Napas Amerta tercekat. Laki-laki itu benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Mahesa secara terang-terangan mengakui eksistensinya melalui pesan tersebut, menantang Amerta dalam permainan dua peran yang kini level bahayanya sudah meningkat drastis. Laki-laki itu tahu Amerta tidak akan berani menunjukkan pesan ini pada siapa pun tanpa dianggap sebagai adik tiri yang terobsesi dan gila, mengingat reputasi Mahesa yang begitu bersih, dingin, dan sempurna di mata publik.
Amerta bangkit dari duduknya dengan tubuh yang gemetar, menyadari satu kenyataan pahit: dengan gagalnya jebakan kamera semalam, Mahesa kini telah memutar balik kendali permainan sepenuhnya ke dalam genggamannya. Dan malam ini, pintu kamarnya yang tidak lagi terkunci akan menjadi undangan terbuka bagi obsesi yang tak terlihat itu untuk kembali berkuasa.