belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantang Menyerah
Embun menatap bergantian antara Fajar dan papanya. Pemuda itu terlalu percaya diri, belum tahu saja seperti apa Papanya. Paham kalau Fajar ingin membuktikan cintanya pada Embun. Tapi kalau ceritanya seperti ini apa tidak menyerahkan nyawa.
"Kak, please. Pulang ya?" Mohon Embun.
Genggaman tangan Fajar semakin erat. Seakan dia mengatakan apapun rintangannya akan aku hadapi. Kalau papa melakukan sesuatu bagaimana. Pacarnya Lintang saja sampai sekarang masih di rumah sakit.
Keduanya pun harus bersama-sama menghadapi papa Trias. Fajar merasa tangan Embun berkeringat dan gugup. Lagi-lagi dia meyakinkan kalau bisa menaklukkan papa Trias.
"Kakak tidak tahu papa seperti apa, Please."
Fajar berjalan mendatangi Trias di depan pintu rumah.
"Kamu siapa? Ngapain pegangan sama anak saya?"
"Saya Fajar, Pak. Saya pacarnya anak bapak yang cantik bahkan lebih cantik dari bidadari khayangan. Anak bapak sudah saya kembalikan dalam keadaan utuh tanpa kurang apapun. Lebih kembaliannya biar tinggal di hati saya saja." sapa Fajar.
"Terimakasih sudah mengembalikan anak saya. Tapi saya minta ini pertama dan terakhir kamu muncul di hadapan kami. Sekarang kamu pulang!" usir Trias.
"Ehm, pak saya mau mampir sebentar boleh? Soalnya motor saya kehabisan bensin. Ya sebagai tuan rumah yang baik nggak bagus juga tamu di anggurin. Kata ustadz dekat rumah saya tamu itu adalah raja."
Trias menyunggingkan senyuman mendengar celotehan Fajar. Kembali ke mode semula. Lelaki itu menyuruh putrinya masuk ke dalam rumah.
"Embun! Masuk!" perintah papa Trias.
Embun menurut saja ketika di minta masuk ke dalam rumah. Daripada dia kena amukan papanya. Tapi siapa sangka Fajar tetap mengikutinya masuk ke dalam.
"Kamu ngapain? Saya suruh Embun bukan kamu! Sekarang silahkan pulang!" usir Papa Trias.
Fajar tadinya mundur selangkah. Rumah Embun memiliki dua tangga. Fajar pun berjalan mundur, tak berapa lama tubuhnya terjungkal. Kepalanya menabrak salah satu pot di dekat tangga. Embun berusaha menolong tapi di tahan sama Trias. Bahkan dia meminta asisten rumah tangga membawa Embun.
"Pa, itu tolongin kak Fajar. Kalau dia kenapa-kenapa, papa yang kena."
"Dia cuma pura-pura. Papa sudah hapal trik nya. Sekarang kamu masuk ke kamar atau tidak boleh bertemu dia lagi selamanya." ancam Trias.
"Pa, Jangan begitu." Rengek Embun.
"Cepat masuk!" Trias menarik paksa Embun masuk ke dalam kamar. Malah mengunci pintu dari dalam.
"Pa tapi jangan di apakan, ya." pinta Embun. Dia takut sekali papanya akan melakukan hal yang sama seperti pacarnya Lintang.
"Itu terserah papa. Dia bukan siapa-siapa kamu, buat apa di cemaskan." Papa Trias mendorong Embun masuk ke dalam kamar. Lalu mengunci putrinya dari dalam. Embun pasrah saat pintu kamarnya terkunci dari luar.
Trias kembali ke bawah memeriksa keadaan Fajar. Masih dalam posisi pingsan, sambil membawa ember lalu menyiramkan ke tubuh Fajar. Trias menebak pemuda itu akan bangun. Nyatanya pemuda itu tidak bergerak sama sekali. Trias kembali menyiram air ke tubuh Fajar.
"Nggak usah sok pingsan. Trik kamu tidak mempan sama saya. Bangun!" kaki Trias terus menendang ke pinggang Fajar. "Eko!" Panggil Trias pada anak buahnya.
"Iya, pak." Eko yang sedang menikmati tahu gejrot berlari tergopoh-gopoh menuju ke atasannya.
"Kamu ajak yang bawa anak ini ke jalanan. Biarin dia di gilas kendaraan. Dari pada dia ganggu anak saya." Perintah Trias.
Ternyata ucapan Trias membuat pemuda itu terbangun. Tentu saja Trias tertawa melihat reaksi Fajar. " Kalau kamu masih mau hidup segera tinggalkan tempat ini. Dan jangan ganggu anak saya."
"Saya kesini juga dengan maksud baik-baik." sanggah Fajar.
"Saya juga minta baik-baik pada anda anak muda. Jangan dekati Embun, atau mungkin kamu akan dapatkan lebih parah dari ini." ancam Papa Trias.
Sepertinya aku harus cari cara supaya bisa di terima papanya Embun. Tenang, Bun, apapun yang terjadi tidak akan menggoyahkan semangatku.
"Saya pamit, papa."
Trias membulatkan matanya ketika Fajar memanggilnya sebutan papa.
"Silahkan. Saya juga bukan papa kamu. Saya juga tidak sudi jadi papa atau mertua kamu. Anak saya bisa dapat yang lebih layak." ucap Trias dengan angkuh.
"Assalamualaikum," Fajar mencoba menyalami Trias. Sayangnya lelaki itu malah menutup pintu rumah dengan keras.
...****...
"Dari mana saja kamu?" suara bariton tengah menggema di ruang utama rumah kontrakan milik Fajar.
Fajar menoleh kearah lelaki yang dia panggil papa. Dua lelaki beda generasi kini duduk di kursi ruang depan.
"Papa kok bisa masuk ke sini? Kan kuncinya sama aku?"
"Apa sih yang papa tidak bisa lakukan, Jar? papa punya kunci serep kontrakan kamu. Sekarang papa mau ngomong sama kamu. Papa sudah tahu siapa gadis itu. Papa juga tahu latar belakang orangtuanya. Dan papa minta kamu berhenti berharap pada orang seperti mereka." kata Juna.
"Kenapa papa begitu keras kepala? kenapa papa tidak beri kesempatan buat aku membuktikan kalau kami saling mencintai. Papa bukannya dulu pernah bertengkar dengan Opa demi memperjuangkan mama. Kenapa aku tidak boleh mengikuti jejak papa."
"Beda, Fajar! beda! Mama kamu itu perempuan baik-baik. Sedangkan gadis itu, dia masuk ke kehidupan kamu karena ada maksud tertentu. Kamu dengar, ya. Minggu depan kamu dan Kinara bertunangan. Papa tidak mau dengar alasan apapun."
"Atau ayah pacar kamu akan aku tuntut. Karena terlibat kerusuhan yang terjadi di perkebunan kita. Menurut informasi yang papa percaya, ayah pacar kamu manajer di perusahaan Rayyan."
"Kalau aku tidak mau?"
"Berani kamu sama papa!" tangan Juna hendak melayang ke wajah putranya.
"Tentu kalau untuk kebenaran aku tidak takut." Fajar semakin menantang papa Juna.
...*****...
"Pak Panca mau kemana?" tanya Sherly, sang sekretaris.
Panca sudah berjalan meninggalkan ruang kerjanya. Sebagai staf terpercaya di PT. Madu Berkah, kemampuan Panca Buana Laksono sangat bagus. Dalam satu tahun bekerja di perusahaan papanya dia sudah berhasil memenangkan tender. Kemampuan bersosialisasi dengan klien menjadi panutan para staf yang lain.
Setelah beberapa bulan dia menyembunyikan diri sebagai anak papanya. Akhirnya di umumkan setelah dia naik jabatan sesuai prestasinya. Usianya masuk 23 tahun menamatkan pendidikan kuliah di Jogja dalam kurun waktu 3 tahun empat bulan. Predikat lulusan tercepat dan termuda pun berhasil dia raih.
"Saya ada urusan sebentar, kamu handle saja kalau ada rapat nanti."
"Tapi bapak minta untuk ikut rapat. Pak Panca sudah ketiga kalinya tidak datang ke rapat." kata Sherly.
"Saya cuma sebentar, mau jemput pacar saya di sekolahnya." kata panca.
"Bapak punya pacar? Wah selamat ya, pak. Anak pengusaha mana, pak?" cerocos Sherly. Sayangnya Panca melemparkan pandangan penuh arti. Sherly paham tadi sikapnya terlalu lancang. "Eh maaf, Pak."
Panca tidak perlu lama sampai di sekolah elit tersebut. Tentu saja rencananya menjemput Andara, gadis incarannya. Panca memasuki pintu gerbang sekolah menyapa pak satpam. Membayangkan ada penerimaan ketika dia menawarkan tumpangan.
"Siapa sih yang bisa menolak pesona Panca Buana Laksono?" batin Panca.
Setelah duduk di kantin, panca menemukan teman ngobrol. Seorang pria seumuran papanya.
"Om mau jemput anak, ya?" sapa Panca.
"Iya, kamu sepertinya tidak asing." tebak pria itu.
"Iyakah, Om. Saya Panca Buana Laksono." panca memperkenalkan diri.
"Oh saya Pandawa Danuarta. Saya mau jemput putri saya. Kamu?"
"Saya mau jemput pacar, Om." kata Panca.
" Ckckck, anak sekolah sekarang, ya. Pacaran sama yang lebih dewasa. Jangan sampai anak saya pacaran dulu. Apalagi di jemput sama yang bukan muhrim."
"Om tenang saja. Pacar saya pasti lebih cantik dari anak, Om. Sudah pasti tidak ada yang menolak calon menantu seperti saya." kata Panca percaya diri.
"Nah itu putri saya." Tunjuk Pandawa pada gadis yang berjalan ke arah mereka.
"Papa, kok jemput Dara? Biasanya kak pak sopir."
"Ini putri saya. Lebih cantik kan dari pacar kamu." Puji Pandawa. "Loh, emang dia punya pacar anak sini? pantes sering banget ke sekolah." ujar Dara.
"Katanya sih lebih cantik dari kamu, Nak. Sudahlah mama sudah menunggu di rumah."
Panca melongo setelah Pandawa dan Andara melenggang pergi hingga hilang dari pandangan.
"Sial!"
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁