Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Abad Ini dan Surat Tanpa Nama
Berita tentang lamaran super mewah Devan Alister kepada Keyra di atas kapal pesiar langsung menjadi tajuk utama di seluruh media cetak dan digital keesokan harinya. Foto-foto siluet pernikahan impian itu mendominasi jagat maya. Alister Group secara resmi mengumumkan bahwa pernikahan agung antara Devan Alister dan Keyra akan digelar satu bulan ke depan, bertempat di gedung pertemuan terbesar milik keluarga Alister, dan digadang-gadang akan menjadi pesta pernikahan termegah abad ini.
Satu bulan berlalu dengan persiapan yang sangat padat. Selama waktu itu, Keyra tidak lagi disibukkan oleh urusan operasional toko atau kosmetik, melainkan fokus mendampingi tim perancang busana terbaik yang didatangkan langsung dari Paris oleh Devan. Segala hal, mulai dari dekorasi bunga yang diimpor dari Belanda hingga daftar menu makanan yang dirancang oleh koki bintang lima, diatur dengan kesempurnaan mutlak. Devan ingin memastikan bahwa hari pernikahan mereka menjadi momen di mana Keyra merasa seperti wanita paling beruntung di dunia.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Aula utama gedung pernikahan disulap menjadi sebuah istana kristal yang teramat megah. Ribuan lampu gantung kristal memancarkan cahaya berkilauan, berpadu indah dengan dekorasi mawar putih dan perak yang memenuhi setiap sudut ruangan. Seluruh pengusaha papan atas, pejabat pemerintahan, hingga selebritas papan atas kota hadir dengan pakaian terbaik mereka, menciptakan atmosfer elit yang sangat kental.
Di dalam ruang rias VVIP, Keyra berdiri di depan cermin besar. Ia tampak begitu menakjubkan, bagaikan seorang dewi yang turun dari langit. Keyra mengenakan gaun pengantin ballgown berwarna putih salju yang bertabur ribuan payet berlian kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Tiara berlian yang anggun tersemat di atas rambutnya yang ditata rapi, menahan selembar kain brokat tipis yang menjuntai indah hingga ke lantai.
Keyra menatap pantulan dirinya di cermin dengan dada yang berdegup kencang. Rasa haru dan tidak percaya kembali membuncah di dalam hatinya. Tiga tahun lalu, dia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang menangis di pojok toko kue karena dikhianati. Hari ini, dia akan melangkah menuju altar sebagai istri sah dari pria paling berkuasa di kota ini.
"Nona Keyra, Anda benar-benar sangat cantik," puji salah seorang penata rias sembari merapikan bagian bawah gaun Keyra untuk terakhir kalinya. "Tuan Muda Devan pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangannya dari Anda hari ini."
Keyra tersenyum manis. "Terima kasih banyak."
Saat para penata rias dan asisten keluar dari ruangan untuk memberikan waktu bagi Keyra menenangkan diri sebelum acara dimulai, suasana di dalam ruangan besar itu mendadak menjadi sangat sunyi. Keyra berjalan perlahan menuju meja riasnya untuk mengambil buket bunga mawar putihnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang asing di atas meja kaca tersebut.
Sebuah amplop berwarna hitam pekat tanpa nama pengirim tergeletak tepat di samping kotak perhiasannya. Keyra mengernyitkan dahi. Seingatnya, beberapa menit yang lalu amplop itu tidak ada di sana. Ruangan rias ini dijaga ketat oleh para pengawal pribadi Devan, sehingga sangat mustahil bagi orang asing untuk masuk dan meletakkan sesuatu tanpa ketahuan.
Rasa penasaran yang bercampur dengan firasat aneh membuat Keyra perlahan mengulurkan tangannya dan mengambil amplop hitam tersebut. Tekstur kertasnya terasa sangat tebal dan mahal. Dengan jari yang sedikit gemetar, Keyra membuka segel lilin merah di bagian belakang amplop dan mengeluarkan selembar kertas dokumen di dalamnya.
Saat Keyra membuka lipatan kertas tersebut, sepasang matanya seketika membelalak sempurna. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak terasa kaku, dan pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis dalam sekejap mata.
Kertas itu bukan berisi ucapan selamat atau ancaman murah dari musuh-musuhnya. Kertas itu adalah selembar dokumen medis kuno bersetempel rumah sakit militer luar negeri, bertanggal tepat delapan belas tahun yang lalu. Di bagian atas dokumen tersebut tertera nama ibu kandung Keyra, dan di bawahnya, terdapat hasil tes DNA serta laporan otopsi rahasia yang menyatakan penyebab kematian ibunya yang selama ini dirahasiakan dari publik.
Namun, bukan itu yang membuat jantung Keyra seolah berhenti berdetak. Di bagian paling bawah dokumen tersebut, terdapat sebuah catatan kaki tulisan tangan dengan tinta merah yang berbunyi:
“Kematian ibumu delapan belas tahun lalu bukanlah kecelakaan murni. Orang yang mendanai dan memerintahkan penghapusan seluruh barang bukti kasus tersebut adalah mendiang ayah dari Devan Alister. Selamat memasuki keluarga pembunuh, Keyra.”
Plak!
Buket bunga mawar putih yang dipegang Keyra terlepas dari genggamannya, jatuh berserakan di atas lantai marmer yang dingin. Tubuh Keyra berguncang hebat, wajahnya yang tadi merona cantik kini mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Air mata yang sejak tadi ia tahan agar tidak merusak riasan, kini luruh tanpa bisa dibendung lagi.
Pikiran Keyra mendadak kosong. Informasi yang baru saja ia baca bagaikan sebuah petir yang menyambar di siang bolong, menghancurkan seluruh fondasi kebahagiaan yang baru saja ia bangun. Pria yang teramat ia cintai, pria yang selalu ia anggap sebagai pelindung dan pahlawan dalam hidupnya, ternyata adalah putra dari orang yang diduga bertanggung jawab atas kematian tragis ibu kandungnya sendiri.
Tepat pada saat itu, pintu ruang rias terbuka perlahan. Devan Alister melangkah masuk dengan tuksedo hitam pernikahan yang membuatnya tampak teramat gagah dan berwibawa. Wajah tampan Devan dipenuhi oleh senyuman tulus yang teramat jarang ia perlihatkan kepada dunia, sebuah senyuman yang menandakan bahwa dia adalah pria paling bahagia di dunia hari ini.
"Keyra, acara akan segera dimulai. Para tetua dan tamu sudah—"
Ucapan Devan seketika terhenti saat matanya melihat sosok Keyra yang berdiri kaku membelakanginya dengan tubuh yang bergetar hebat, serta buket bunga yang berserakan di lantai. Senyuman di wajah Devan memudar dalam sekejap, digantikan oleh rasa khawatir yang teramat sangat.
Devan melangkah cepat mendekati Keyra, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak wanita itu. "Keyra... ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Keyra refleks menghindar, melangkah mundur satu langkah agar pundaknya tidak disentuh oleh tangan Devan. Gerakan penolakan yang tiba-tiba dari Keyra itu membuat Devan tertegun di tempatnya, menatap tangannya yang menggantung di udara dengan pandangan tidak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Keyra menolak sentuhannya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh ketakutan, luka, dan keraguan yang teramat mendalam. Badai baru yang jauh lebih mengerikan dari sekadar intrik bisnis kini resmi menghadang di depan pintu pernikahan mereka.