Wajah dan mata itu mirip sekali dengannya. Aku rindu sekali dengan kehadirannya, Tak bisakah Tuhan mempertemukan kita walau hanya sejenak.
Apakah dia sudah melupakanku bahkan sudah memiliki penggantiku.?
Aku menunggumu Sagara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 10: Kapan lagi
"Kenapa gak sakit? Malah berat." Batin Alesha mengira bahwa Saga sudah melakukan kekerasan padanya.
Alesha merasakan berat di atas tubuhnya hingga membuat gadis itu memberanikan diri membuka sedikit matanya dan hasilnya sangat mencengangkan. Bagaimana bisa dirinya dan Saga seintim ini.
Saga memeluknya dengan erat meskipun kini posisi Alesha terduduk di sofa dengan Saga yang juga terduduk di atas pangkuan Alesha.
" Oh Tuhan, amankan jantung ini." Batin Alesha menahan nafas dan membuangnya. Bahkan Ia lakukan berkali- kali agar detak jantungnya kembali normal.
"Aku pegang janjimu Alesha, Kamu disini tetap disisiku apapun yang terjadi." Ujar Saga mendudukkan dirinya disebelah Alesha namun tangannya masih setia memeluk erat pinggan ramping Alesha.
" Tuan, bisakan jangan begini?" Ucap Alesha karena posisi itu sangat tak baik bagi kesehatannya jantungnya apalagi wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Bahkan Alesha bisa dengan jelas menghirup aroma mint yang menguar keluar dari mulut pria tersebut.
Alesha berusaha abai dengan posisinya saat ini matanya bergulir kesana- kemari mencari sesuatu. Dan ya, gadis itu melupakan tangan Saga yang terluka, Dress yang ia kenakanpun tak luput dari darah yang berasal dari tangan Saga.
Mata Alesha melirik laci disamping sofa hingga netranya menemukan kotak obat dan pembalut luka. Ya, Alesha akan mengobati luka Saga setelah pelukan eratnya terlepas.
"Lepas tuan, saya mau mengambil ini. Tanganmu perlu di obati." seru Alesha ketika Saga tak sekalipun mengendurkan pelukannya.
Dengan berat hati Saga melonggarkan pelukannya agar membuat Alesha sangat mudah mengambil obat itu.
"Anda menakutkan sekali tuan" Ujar Alesha membuka suara ketika dirinya dengan telaten mengusap darah tanpa jijik.
"Bisakah jangan seformal itu jika sedang berdua." Sahut Saga menelisik wajah yang tengah serius mengobati tangannya.
"Baiklah Saga." Jawab Alesha menurut saja karena dirinya tak mau ambil pusing mengingat betapa menyebalkannya Saga.
Shhh...
"Sakit." Tanya Alesha tanpa melihat lawan bicaranya ,Ia enggan menoleh karena memang saat ini posisi keduanya sangat dekat.
"Shhh,.. pelan Alesha" Pekik Saga menahan sakit ketika cairan alkohol mengenai permukaan luka yang menganga.
"Begini saja sakit, lalu bagaimana tadi kamu melakukan hal seperti itu. Kamu tak sayang lagi sama tubuhmu. Mending aku bunuh kamu daripada kamu menyiksa diri sendri." Seperti ibu yang mengomeli anaknya yang susah di atur, Saga hanya diam mendengarkan apa saja yang dikeluarkan dari bibir Alesha tanpa menyela.
"Jangan sakiti dirimu, Kalau ada masalah mending cari pelampiasan yang lain." Ucap Alesha memberanikan diri menatap meskipun hatinya bertalu-talu.
"Sudah." Pungkas Alesha lagi setelah selesai membalut luka itu dengan kasa.
Saga terdiam melihat karya tangan mungil Alesha pada tangannya dan kini tatapannya beralih pada wajah Alesha yang teduh. Ingin rasanya berkata jujur namun dirinya masih belum yakin.
Saga kembali meyakinkan hatinya sebelum apa yang direncanakan belum usai. Biarlah begini, Meskipun menjadi orang asing didepan gadisnya. Asal pemilik mata coklat didepannya ini berada di sisinya.
"Kenapa,?? Mau bercerita?. "Tanya Alesha mencoba agar tetap tenang.
" Kamu memiliki kekasih? "Pertanyaan itu lolos dari bibir Saga. Entah mengapa posisi seperti ini yang dirindukannya setiap saat. Bersebelahan dengan gadis bermata coklat dan memandang lamat wajah teduh itu.
" Haahhh.... "
"Aku memiliki kekasih semenjak masa SMA, tapi kami harus berpisah karena ada hal yang gak bisa aku ceritakan." Sahut Alesha tersenyum getir menyelami masalalu yang terlalu indah namun menyakitkan.
"Ss-ekarang bagaimana? " Tanya Saga terbata- bata mungkinkah dirinya salah menanyakan hal ini pada Alesha.
Seketika mata mereka beradu pandang ketika Saga melontarkan pertanyaan itu padanya. Dirinya tersenyum kecil ketika raut wajah Saga seakan ketakukan apalagi dirinya tak menjawab pertanyaan pria itu.
"Wajahmu kenapa gitu Mmm sebelumnya emang perlu ya kamu tau tentangku. Secara Saga Anderson Matthew, pria yang di bilang kejam dan ambisius memiliki sifat kepo juga" Cecar Alesha tak bisa mengontrol tawanya. Bodo amat pada pandangan mematikan milik Saga kapan lagi dirinya tertawa dengan lepas di depan Saga.
"Berhenti Alesha, Atau ahhh... " Sarkas Saga mengeram frustasi dengan kelakuan Alesha. Harga diri Saga dijatuhkan dengan mudahnya oleh Alesha si mungil yang ceroboh.
" Aku kasih tau ya, kamu itu sejujurnya tampan tapi suka marah jadi kayak zombie menakutkan. " Ejek Alesha semakin mengolok- olok Saga, gadis itu berjakan menjauhi Saga yang sudah terlihat marah karena ulahnya.
"Alesha awas kau... "
Tok.... tok.. tokk...
"Masuk." Sahut Alesha dengan sisa tawanya.
"Permisi tuan, Saya mau membersihkan kamar anda. " Izin pelayan sembari membawa peralatan kebersihan.
Sebelum Alesha mengobati lukanya tadi tangan sebelah Saga memencet tombol di dalam laci agar mempermudah dirinya memanggil pelayan tanpa harus teriak- teriak.
"Tuan saya mau tidur, permisi. " Pamit Alesha membungkuk kepada Saga yang masih terduduk di sofa.
Saga memicingkan matanya kala Alesha kembali pada mode awal dirinya datang ke mansion ini. Bukankah tadi sudah Saga katakan jangan seformal itu padanya.
"Alesha... " Panggil Saga ketika Alesha sudah berada diluar pintu tetapi Alesha pura- pura tak mengidahkan panggilan itu, Sungguh menyebalkan pikir Saga.
"Bereskan semuanya, saya akan bermalam di ruang kerja. " Timpal Saga membuat kedua pelayan yang bertugas membersihkan kamar itu menundukkan hormat.
Kedua pelayan itu juga tak sengaja mendengar candaan gadis yang ia tau bernama Alesha. Bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya akrab dengan tuannya. Sedangkan Jenny yang sudah beberapa tahun menjadi tunangan, tak sekalipun digubris oleh Saga.
"Na, kayaknya tuan suka sama neng guelis itu ya. " Salma memulai pembicaraan karena sangat aneh sekali sang tuan dengan mudahnya akrab pada sosok yang baru dikenalnya.
"Huss diem ma, Jangan sampai tuan tau kamu ghibahin dia. "Sarkas Rina memperingati Salma, Rina takut sang tuan mendengar obrolannya.
" Ihh Rina, Harusnya kita bersyukur neng geulis itu berarti bidadari tak bersayapnya tuan Saga. Siapa yang berani mengendalikan amarah tuan kalau bukan neng geulis tadi. Aku akan kasih neng geulis itu predikat pemberani karena telah meluluhkan hati tuan. "Papar Salma mengangkat sapunya, Aneh- aneh saja kelakuan pelayan satu ini.
" Udah jangan banyak ngobrol ma, beresin sebelum tuan datang. " Sarkas Rina lagi karena dirinya yang sangat was- was selama bekerja takut mendapatkan teguran bahkan amarah dari sang tuan.
Didalam ruangan kerjanya Saga mengetuk- ngetuk jari telunjuknya pada meja di depannya.Fikirannya terbang jauh ke beberapa tahun silam. Dimana hanya ada senyuman dan canda tawa disana.
Drtt... drtt... drtt...
Seketika fikirannya buyar kala handphone yang berada diatas meja berdering. Tertera nama Ken disana, urusan pekerjaan sudah pasti.
"Maaf tuan mengganggu, Saya cuma menyampaikan bahwa beberapa hari ini urusan kantor aman terkendali. Dan untuk para klien, mereka menyetujui usulan tuan. Dan minggu depan tuan diminta menandatangani surat kontrak yang sudah ditetapkan. " Papar Ken panjang lebar menyampaikan situasi perusahaan sehari ini. Mengingat Saga tiba- tiba tak ingin berangkat ke perusahaan.
"Bonusmu menanti Ken. " Singkat jelas dan padat.
"Terimakasih tuan, Anda sangat pengertian sekali. Kalau begitu saya akhiri tuan. "
"Hmmm"
Tuuttt......
Saga kembali mengingat kejadian tadi dimana Alesha tertawa lepas di depannya. Mata lentik itu berbentuk bulan sabit dan Saga sangat menyukainya.
Bersambung.....
Hay semuanya bantu dukungannya ya,
Like👍
Vote🥳
Jika pilih Hadiah sesuai selera ya😁