Sequel dari kisah Ajari aku Ustadz dan cinta untuk Khansa.
Cerita ini menceritakan kisah Khalid anak dari ustadz barra dan alira. Mengantongi restu dari kedua belah pihak namun tidak untuk Aulia gadis yang ia cintai.
Aulia tidak tau jika dirinya sudah di khitbah oleh Khalid sejak lulus SMA. Raka orang yang Aulia suka telah mengkhitbah Aulia namun ayahnya Fadil tidak menerima dengan alasan tidak cocok dengan laki-laki pilihan Aulia sendiri.
Aulia terkejut ketika keluarga barra datang untuk melamar Aulia, namun Aulia menolak dengan alasan tidak mencintai Khalid. Aulia kesal dengan Khalid karena sejak SMA Khalid selalu usil dengan Aulia. ternyata di balik itu Khalid menyimpan rasa.
Khalid mengkhitbah Aulia lewat ustadz Barra kepada ayahnya Fadil tanpa Aulia ketahui sebelumnya. Bagaimana perjuangan cinta khalid untuk Aulia hingga jatuh ke pelukannya.
Simak kisahnya Bait-bait doa ustad Khalid.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fenitri Azzukhruf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. kangen julid
Suara adzan berkumandang Khalid di bangunkan oleh alira agar segera ke masjid dekat butiknya untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah.
" nak bangun sudah adzan". Khalid mengernyitkan matanya, pemandangan itu tak lepas dari manik mata Aulia.
Kesal tapi lihat wajah tampan Khalid khas orang bangun tidur bikin Aulia kesemsem. Khalid memang beda saat masih SMA dulu, ia lebih tampan sekarang apalagi bulu-bulu halus yang tumbuh di rahangnya bisa membuat wanita makin tergila-gila pada sang ustadz.
" jam berapa umi."
" ashar, sholat dulu terus kita pulang." ucap Alira melihat anaknya nampak lelah.
" semalam kamu tidur jam berapa, di mihrab terus masih belum hilang dari pikiran". Tanya alira yang saat dia bangun jam satu malam untuk ambil air minum Khalid masih berada di mihrab.
" Khalid masih berusaha umi." matanya melirik ke arah Aulia yang sedang bersiap untuk shalat ashar.
" Allah tetap akan memberikan yang terbaik untuk mu nak, jangan khawatir ya. Kamu tau kan doa seorang ibu, Allah pasti dengar dan akan mengabulkan".
" aamiin ".
Khalid beranjak pergi ke masjid dekat butik, ustadz Gufron meminta dirinya untuk menjadi imam. Khalid menolak karena ada ustadz Gufron yang lebih senior tapi tetap saja ustadz Gufron meminta nya.
" Sudah punya calon belum ini ustadz Khalid". Tanya ustadz Gufron berjalan beriringan dengan Khalid keluar dari masjid.
" doakan ustadz"
" belum ngajuin ta'aruf nak, ustadz punya calon kamu mau. Pulang dari Kairo seorang Hafizah, seperti nya akan cocok bersanding denganmu nak." ucap ustadz menawarkan seorang gadis.
" terima kasih ustadz maaf saya belum berminat."
" kenapa, tak ingin cepat menikah ". Tanya ustadz cukup serius.
" Sudah si ustadz untuk saat ini belum ingin dulu baru pulang masih ingin netral sebentar ". Ucap Khalid, jika ia jujur sudah di tolak wanita pasti tak akan percaya ustadz Gufron.
" baiklah nak jika siap ustadz siap menjadi perantara ".
" insyaallah ustadz doakan Khalid ". Ustadz Gufron menepuk pundak Khalid, ia bangga dengan Khalid bisa menjadi penerus abinya Barra.
Ada jadwal juga setiap satu Minggu sekali di masjid itu untuk Khalid kajian. Ustadz Gufron lelaki paruh baya itu senang jika yang mengisi Khalid ia bisa memberi materi sesuai anak muda zaman sekarang.
_
Aulia sudah keluar dari butik berpapasan dengan Khalid. Aulia bingung kenapa sekarang hatinya bergetar bertemu dengan Khalid.
" mau pulang aulia." sapa Khalid.
" mau nonton" juteknya.
" mau di temenin".
" ogah." sewot seperti itulah Aulia, Khalid terkekeh kemudian masuk ke dalam butik.
Aulia tersenyum ketika Khalid masuk, akhirnya Khalid hari ini julid juga sama dia. Kangen di bikin kesel, kesel apa cinta sih Aulia beda tipis.
" sudah siap umi"
" sudah ayo pulang ".
Terlihat Aulia masih berdiri di depan nampaknya dia sedang menunggu jemputan tak bawa motor seperti biasa.
" Belum pulang nak." tanya alira.
" Belum umi lagi tunggu ayah ".
" sudah di telepon ayah,"
" tak di angkat nampaknya masih di ruang operasi ".
" umi antar saja ya sudah sore nanti kamu kirim pesan sama ayah kalau bareng umi saja." alira sedikit memaksa, alira memang sayang sekali dengan Aulia.
" tidak usah umi, Aulia tunggu ayah saja".
" jangan sayang ayah mu saja belum bisa di telepon nanti kalau pulang nya malam bagaimana, ayahmu dokter jika di ruang operasi belum selesai tak mungkin ia menghentikan operasinya kan." Aulia berfikir, mau bareng malu sama Khalid.
" sudah ayo sayang." alira menarik lengan Aulia akhirnya mereka bareng.
" umi di depan saja biar Aulia di belakang sendirian um".
" tak apa, sekali-kali ustadz jadi sopir nya". Alira terkekeh di ikuti Aulia dan Khalid.
" Jadi pernikahan mu dengan calon suami mu masih tiga bulan lagi nak". Tanya alira.
" iya umi, ayah juga jadwalnya padat sekali bulan-bulan ini." Khalid hanya diam rasanya teriris hati khalid, ingin berusaha melupakan tapi Allah terus semakin dekatkan.
" mau desain sendiri gaunnya".
" iya umi, tapi umi bantu Aulia ya um. aulia mau hasil dari tangan umi juga."
" iya nanti umi bantu nak, ibumu sehat sayang."
" Alhamdulillah sehat".
" Khalid mampir sebentar kita beli makanan untuk Gaza dan Gani ya, nanti ke rumah tak ada apapun kasihan anak-anak ". Khalid mengangguk.
" umi turun sebentar ya nak." Aulia mengangguk.
Hening.
Khalid juga bingung mau ngomong apa, mau bahas apa. mereka di mobil hanya berdua saja, Aulia sibuk melihat gawainya.
" Aulia kamu tak mau beli oleh-oleh buat ibu mu di rumah". Tanya Khalid.
" tak perlu bunda tak bisa makan makanan sembarangan ".
" ya jangan di kasih makanan sembarangan dong yang bergizi."
" isshhh... Ya ampun iya maksudnya ngga boleh jajan makanan yang ngga jelas di luar gini pak ustadz ".
" ya jangan di kasih juga yang ngga jelas Aulia."
" males ah ngomong sama kamu Khalid, kenapa sih dari dulu kamu bikin aku kesel ".
" kan aku sudah jawab kenapa, pas waktu khitbah eh di tolak." ucap Khalid.
Aulia meringis padahal ia tak mau bahas lagi soal khitbah Khalid padanya. Khalid juga sebenarnya ngga mau bahas tapi kenapa tiba-tiba keluar lagi dari bibir Khalid.
" kamu sih ngeselin".
" berarti kalau aku ngga ngeselin di terima nih, eh sayangnya sudah terikat khitbah orang lain. Kasihan banget ya aku ini." Khalid terkekeh.
Aulia merasa tidak enak dengan Khalid, kemarin kesel sekarang dia kangen tak di julidin Khalid.
Tak lama umi alira datang membawa dua keresek berisi makanan cake.
" ini untuk bunda mu ya Aulia".
" eh umi kok di kasih begini, tak enak Aulia"
" iya nih umi, sudah numpang di kasih oleh-oleh lagi." ucap Khalid, Aulia mendelik tangannya mengepal ingin rasanya nabok Khalid.
" tak apa untuk umimu nak". Aulia akhirnya menerima.
" Mau di adakan dimana pestanya."
" ngga tau umi, ayah belum bilang sama Aulia. Kalau Aulia sih pengennya di hotel horison saja yang dekat pantai".
" Bagus itu kalau ambil yang outdoor dengan pemandangan pantai".
" iya umi, Aulia pengennya begitu".
' umi nih ngga tau apa kalau yang di depan itu telinga nya panas bahas pernikahan Aulia terus'. Monolog dalam hati Khalid.
" Waktu itu Ameer sama Khansa juga di sana, bagus ada foto-fotonya. apalagi sekarang lebih bagus lagi tempat nya Aulia sudah di modifikasi lagi."
Telinga Khalid bagaikan keluar api yang menyala, umi alira ngomporin tiada henti.
Jalanan cukup padat, jam setelah ashar memang jamnya para pekerja untuk pulang. Sedikit macet meski tak begitu lama, bisa lebih lama mereka di jalan. Aulia lebih puas ngobrol sama Aulia.
Khalid pun lebih puas dengar suara Aulia. Duh cinta kenapa membuat ku semakin mentok saja.
__
ini pendapat ku. tetap semangat kaka 😃
semangat thor