Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Retak dan Konfrontasi Maut
"Laporan militer tengah malam begini? Apa tidak ada waktu lain yang lebih layak, Anning?" suara Mo Jiu terdengar rendah, sarat dengan kecemburuan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Matanya yang tajam menatapku dengan intensitas yang membuat napasku sesak. Jelas sekali bahwa pikirannya sudah melayang ke mana-mana, menganggap keterlibatanku dengan urusan Putra Mahkota hanyalah alasan untuk melarikan diri dari perhatiannya. Sebelum aku sempat merangkai kata untuk membela diri, pintu utama kediaman terbuka dengan kasar. Hembusan angin malam membawa serta sosok Yu Rou yang berlari masuk dengan air mata yang membanjiri wajahnya yang pucat pasi.
"Putri Tang Zhen, aku... aku mohon..." suaranya terbata-bata, nyaris seperti isak tangis yang tertahan.
Namun, belum sempat satu kalimat pun terselesaikan dari mulutnya, Mo Jiu sudah bergerak secepat kilat. Kilatan logam dingin membelah udara saat ia menghunus pedangnya, mengarahkannya tepat ke tenggorokan Yu Rou.
"Berhenti di situ, atau kepalamu akan terlepas dari lehermu saat ini juga!" ancam Mo Jiu. Suaranya dingin, tak memiliki keraguan sedikit pun. Ancaman yang begitu nyata dan mematikan itu membuat Yu Rou mematung, sekujur tubuhnya gemetar hebat hingga kakinya nyaris tak mampu menopang beban tubuhnya sendiri.
"Ning'er, dengarkan aku," ujar Mo Jiu tanpa mengalihkan pandangannya dari Yu Rou. "Wanita inilah yang menyewa pembunuh bayaran itu. Dia ingin menghabisimu agar bisa menggantikan posisimu sebagai Nyonya di kediaman besar ini. Jangan biarkan dia menipumu lagi dengan air mata buayanya."
Aku terdiam, mataku mengunci sosok Yu Rou. "Yu Rou, katakan yang sejujurnya. Apa tujuanmu sebenarnya? Jika kau begitu menginginkan Shen Changge, ambillah dia! Aku tidak keberatan melepaskannya, asal dia mau menceraikanku secara resmi. Aku tidak butuh drama ini, dan aku tidak takut lagi dengan ancamanmu ataupun kepura-puraanmu yang menjijikkan itu."
Suaraku terdengar tegas dan dingin, memenuhi ruangan yang kini terasa begitu sempit dan menyesakkan. Yu Rou tersungkur ke lantai, isak tangisnya semakin kencang.
"Putri Tang Zhen, dengarkan aku... aku tidak pernah berniat membunuhmu, apalagi menyewa pembunuh bayaran. Aku mohon, percayalah padaku!" teriaknya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan panik.
Aku menatapnya dengan pandangan nanar. Di balik tangisannya yang tampak begitu tulus, aku melihat bayangan sosok wanita yang selama ini pandai memanipulasi situasi. Mo Jiu masih berdiri tegak dengan pedang yang terhunus, auranya yang berlumuran darah membuat suasana menjadi semakin mencekam.
Siapa yang sebenarnya berbohong di sini? Apakah Mo Jiu yang terbakar cemburu, atau Yu Rou yang sedang memainkan kartu terakhirnya untuk bertahan hidup? pikirku dalam hati.
Aku tahu bahwa satu kesalahan langkah akan membawa bencana bagi kediaman ini. Shen Changge masih belum kembali, dan di tengah kebuntuan ini, aku harus menentukan ke mana kesetiaanku akan berlabuh. Permainan ini baru saja mencapai puncak ketegangannya, dan aku harus siap melihat topeng siapa yang akan hancur lebih dulu.
Aku menulis bahwa Yu Rou tidak pernah menyewa pembunuh bayaran, tapi kenapa sekarang alur ceritanya melenceng begitu jauh? Bahkan Mo Jiu, yang di dalam catatanku seharusnya bersikap dingin dan acuh tak acuh, kini menunjukkan rasa cemburu yang begitu membara hanya karena aku akan menemui Putra Mahkota. Dunia ini benar-benar tidak bisa diprediksi, batinku dengan kepala yang berdenyut hebat.
Tepat saat ketegangan mencapai titik didih, Shen Changge muncul dengan napas terengah-engah. Matanya yang merah menatap pemandangan di depannya dengan penuh kepanikan. "Rou'er, kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil segera merangkul gadis itu, lalu menatap Mo Jiu dengan nyala api kebencian yang tersulut. "Kakak Pertama, turunkan pedangmu sekarang juga! Yu Rou tidak bersalah, dia tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"
Mo Jiu tidak bergeming, namun aku tahu bahwa kesabarannya sudah di ujung tanduk. Aku pun segera mengambil tindakan, menyadari bahwa jika pertumpahan darah terjadi di sini, kediaman ini akan hancur lebur.
"Suamiku, turunkan pedangmu. Atau jika kau bersikeras untuk terus menodongkan senjata di kediamanku, aku akan segera pergi menemui Putra Mahkota sekarang juga tanpa menunggumu," ucapku dengan nada tenang namun mengandung ancaman yang telak.
Seketika, aura membunuh Mo Jiu meluruh. Ia menatapku sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu perlahan menurunkan pedangnya.
"Shen Changge, awasi wanita kesayanganmu itu baik-baik," desis Mo Jiu dengan suara berat yang menggetarkan ruangan. "Jika aku menemukan bukti sekecil apa pun bahwa dia mencoba menyentuh nyawa istriku, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak bisa melihat matahari esok hari."
Ucapan itu membuat Shen Changge membeku, sementara Yu Rou semakin mencengkeram jubah pria itu dengan tubuh yang gemetar hebat.
Aku segera mengambil inisiatif untuk mendinginkan situasi. "Hmm... hmmm... Suamiku, pergilah mandi dan bersihkan dirimu. Kau tampak sangat lelah dan... berdarah. Aku akan menunggumu di sini," rayuku dengan nada yang sengaja dilembutkan, berharap bisa mengalihkan perhatian Mo Jiu dari amarahnya.
Mo Jiu menatapku lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tunggu aku kembali, Ning'er."
Begitu Mo Jiu berbalik dan melangkah pergi menuju kediamannya, aku bisa merasakan bahu yang sedikit rileks. Shen Changge dan Yu Rou pun tampak kehilangan keberanian mereka untuk membantah lebih lanjut.
"Kalian berdua, pergilah dari hadapanku sekarang," kataku dengan suara yang dingin namun tajam. Aku menoleh ke arah Shen Changge dengan sorot mata yang mengintimidasi. "Shen Changge, urusan kita belum selesai. Selesaikan urusan pribadimu dengan wanita itu, dan setelah itu, temui aku. Kita perlu melakukan percakapan yang sangat serius mengenai masa depan hubungan ini."
Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan melangkah meninggalkan mereka yang masih terpaku di sana. Angin malam yang dingin berhembus, menyapu wajahku, namun pikiran di kepalaku terasa jauh lebih panas. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa lagi hanya mengikuti alur cerita yang kutulis.
Kini, aku harus menulis ulang takdir ini dengan tanganku sendiri, sebelum satu per satu dari mereka menghancurkan hidupku dari dalam. Aku melangkah menuju kamarku, bersiap untuk menghadapi badai yang sesungguhnya saat Shen Changge datang nanti.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸