NovelToon NovelToon
CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nge Game

Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
​Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
​Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
​Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
​Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman Sang Pewaris

Aroma minyak kayu putih dan kue mangkok kukus hangat memenuhi ruang tengah penthouse. Pagi itu, kehamilan Mentari yang telah memasuki usia lima bulan mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Perutnya yang dulu rata kini sudah membuncit anggun, terbungkus gaun hamil berbahan katun lembut berwarna merah muda pudar.

​Mentari duduk di sofa panjang dengan kaki terangkat di atas bangku kecil. Di sampingnya, Ibu Sarah sedang mengupas buah apel segar dengan senyuman tak henti-hentinya terpancar dari wajah tua yang kini tampak jauh lebih bahagia itu.

​"Makan apelnya, Nak. Kata dokter, vitaminnya bagus untuk perkembangan otak bayimu," tutur Ibu Sarah lembut, menyodorkan potongan apel yang sudah bersih ke piring Mentari.

​Mentari menerima apel itu seraya tersenyum manis. "Terima kasih, Bu. Tapi sepertinya kalau Devan lihat Ibu mengupas buah sendiri, dia bakal langsung menegur seluruh pelayan di rumah ini."

​Ibu Sarah terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang menantu. "Suamimu itu memang kelewat protektif. Ibu sampai heran, ada ya orang kaya yang tiap dua jam sekali menelepon cuma buat menanyakan kamu sudah minum air putih berapa gelas."

​Mentari tidak bisa menahan tawa renyahnya. Apa yang dikatakan ibunya sama sekali tidak salah. Sejak vonis kehamilan itu keluar lima bulan lalu, Devan Elvano yang dikenal sebagai dingin dan efisien di dunia bisnis bertransformasi menjadi sosok suami posesif tingkat dewa.

​Pria itu bahkan memindahkan sebagian besar ruang kerjanya ke penthouse. Sebuah meja jati besar lengkap dengan tiga monitor komputer berteknologi tinggi dipasang di sudut ruang keluarga, memungkinkannya memimpin rapat direksi secara virtual tanpa perlu meninggalkan Mentari sedetik pun.

​Bip. Bip.

​Suara pintu sensor utama penthouse berbunyi, disusul langkah kaki tegap yang sangat dikenal Mentari. Devan melangkah masuk dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, tanpa jas atau dasi. Di tangannya, pria itu membawa dua kantong kertas berlogo toko kue tradisional legendaris di kawasan Kota Tua Jakarta.

​"Devan? Kamu bilang ada rapat dengan investor dari Jepang jam sepuluh ini?" tanya Mentari heran melihat suaminya sudah kembali padahal jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan pagi.

​Devan meletakkan kantong kertas itu di meja makan, lalu melangkah cepat mendekati Mentari. Tanpa memedulikan keberadaan Ibu Sarah yang tersenyum geli, Devan berlutut di samping sofa, mendaratkan ciuman hangat di kening Mentari, lalu mengecup perut membuncit istrinya dengan lembut.

​"Rapatnya sudah kupercepat lewat video konferensi," ujar Devan, suaranya yang berat memancarkan kehangatan yang amat dalam. Ia mengusap perut Mentari dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. "Anak kita bagaimana pagi ini? Apakah dia nakal menendang ibunya lagi?"

​"Dia sangat aktif tadi subuh," jawab Mentari seraya mengusap rambut hitam Devan yang halus. "Tapi begitu mendengar suara langkah kakimu, dia mendadak tenang."

​Devan terkekeh rendah, sebuah senyuman bangga terukir di wajah tampannya. "Tentu saja. Dia tahu ayahnya sudah pulang."

​Devan kemudian mengambil kantong kertas yang dibawanya. "Ini kue mangkok hangat kesukaanmu dari Kota Tua. Aku menyuruh Siska membelinya langsung dari toko utama begitu mereka buka."

​Mentari membelalakkan matanya gembira. "Kamu menyuruh Sekretaris Siska antre kue jam delapan pagi?"

​"Untuk istri dan calon penerusku, aku bahkan bisa membeli seluruh tokonya jika kamu mau," sahut Devan santai tanpa beban, membuat Mentari menepuk bahunya gemas.

​Siang harinya, suasana di penthouse mendadak sedikit tegang ketika dokter spesialis kandungan langganan keluarga Elvano, dr. Farida, datang melakukan pemeriksaan rutin bulanan dengan membawa alat USG portabel canggih.

​Devan duduk sangat tegak di kursi samping ranjang pemeriksaan. Matanya tidak berkedip sedikit pun saat dr. Farida mengoleskan gel dingin ke atas perut membuncit Mentari dan menempelkan transduser.

​Di layar monitor hitam putih yang menyala, struktur tubuh mungil sang bayi tampak jelas. Detak jantungnya terdengar membahana di seluruh kamar tidur utama, berdetak cepat dan konstan laksana ritme kehidupan baru yang penuh harapan.

​Dug... dug... dug...

​Mentari menahan napasnya, air mata haru menggenang di sudut matanya setiap kali mendengar suara detak jantung buah hatinya. Sementara itu, Devan menggenggam tangan Mentari sangat erat, matanya menatap layar monitor dengan pandangan memuja yang begitu pekat.

​"Kondisi janin sangat sehat, Pak Devan, Bu Mentari," terang dr. Farida seraya menggerakkan transduser perlahan. "Berat badannya ideal, posisi plasenta sangat baik, dan perkembangan organ tubuhnya sempurna."

​"Dokter..." potong Devan cepat, suaranya sedikit tegang. "Apakah kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya hari ini?"

​dr. Farida tersenyum ramah, membesarkan tampilan gambar pada bagian bawah tubuh janin. "Ah, kelihatannya si kecil sangat kooperatif hari ini. Lihat di belahan ini, Pak Devan..."

​Devan dan Mentari mendekatkan wajah mereka ke layar monitor.

​"Selamat, Pak Devan, Bu Mentari. Anda berdua akan dikaruniai seorang anak laki-laki," lanjut dr. Farida mantap.

​Seorang anak laki-laki.

​Kata-kata itu bergema manis di telinga Devan. Pria itu menatap layar monitor yang menampilkan wajah mungil sang bayi dari samping. Tiba-tiba, di layar monitor USG tiga dimensi tersebut, bibir mungil sang janin tampak melengkung tipis, membentuk sebuah senyuman kecil sebelum ia menutup mukanya dengan kedua tangan mungilnya.

​"Lihat itu! Dia tersenyum!" pekik Mentari pelan, air matanya menetes bahagia.

​Devan membeku. Senyuman kecil di layar monitor itu seolah mengunci seluruh jiwanya. Calon pangeran kecil Elvano, sang pewaris tunggal kekaisaran bisnis yang dibangun dari air mata, darah, dan perjuangan cinta mereka, baru saja menyapa dunia dari dalam kandungan ibunya.

​Devan menundukkan kepalanya, menggenggam kedua tangan Mentari lalu mengecup jemari istrinya dengan rasa syukur yang tak terhingga.

​"Terima kasih, Mentari..." bisik Devan lirih dengan suara bergetar menahan emosi. "Seorang pangeran kecil... Dia akan tumbuh menjadi pria yang kuat untuk melindungimu, sama seperti ayahnya."

​Sore harinya, setelah dokter pamit undur diri, Devan membawa Mentari duduk di kursi gantung area balkon luar penthouse. Angin sore yang sejuk bertiup lembut, membawa aroma harum bunga-bunga yang ditanam di sepanjang pagar kaca.

​Devan merangkul tubuh Mentari dari samping, membiarkan istrinya bersandar di dada bidangnya. Tangan besar Devan tak pernah lepas dari perut membuncit Mentari, mengusapnya dengan ritme yang teratur.

​"Kamu sudah menyiapkan nama untuk pangeran kecil kita, Devan?" tanya Mentari lembut, mendongak menatap rahang tegas suaminya.

​Devan menatap lurus ke arah pemandangan cakrawala Jakarta yang mulai memerah disapu senja. Senyuman hangat dan berwibawa terukir indah di bibirnya.

​"Arka Elvano," tutur Devan dengan suara baritonnya yang mantap. "Arka berarti cahaya matahari yang menyinari kegelapan. Sama seperti ibunya yang menjadi 'Mentari' di dalam hidupku yang dulu dingin dan gelap. Dia akan menjadi cahaya keabadian bagi keluarga kita."

​Mentari meresapi nama itu di dalam hatinya. Arka Elvano. Sebuah nama yang gagah, sarat akan makna, dan mencerminkan kekuatan cinta orang tuanya.

​"Arka Elvano..." ulang Mentari pelan, meremehkan senyuman bahagia. "Nama yang sangat indah, Devan. Aku sangat menyukainya."

​Seolah merespons nama barunya, si kecil di dalam kandungan Mentari memberikan gerakan tendangan kecil yang cukup kuat tepat di bawah telapak tangan Devan.

​Devan tertawa lepas—sebuah tawa yang begitu renyah, bebas dari beban dendam masa lalu. Pria itu menunduk, mencium perut Mentari sekali lagi dengan penuh kasih sayang.

​"Dengar itu? Dia juga menyukainya, Mentari," bisik Devan riang.

​Di atas ketinggian langit Jakarta, di puncak kekaisaran Elvano Group, badai masa lalu telah benar-benar berganti dengan fajar baru yang gembira. Cinta sejati Devan dan Mentari kini tidak hanya berdiri kokoh melintasi zaman, melainkan bersiap melahirkan sang penerus yang akan meneruskan tahta kejayaan dan kebahagiaan keluarga mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!