Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Nadi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan deretan para konglomerat ibu kota, ia berdandan cantik untuk acara itu. Bahkan ia samapai membeli gaun dari desainer ternamaan dan menyewa MUA serta penata rambut untuk menyempurnakan penampilannya.
"Bagaimana penampilaku?" Nadi berputar di hadapan Aaron, saat Aaron menjemputnya di kediamannya.
"Kau selalu terlihat sempurna di mataku, sayang." Aaron mendaratkan kecupannya di kepala Nadi.
Ya karena sekarang aku langsing, batin Nadi. "Terima kasih. Berangkat sekarang?" ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Aaron. "Malam ini pakai mobilku ya," ia dan Aaron berjalan menuju garasi.
Aaron cukup terkejut melihat satu unit BMW keluaran terbaru terparkir di garasi kediaman Nadi. "Kau baru beli mobil baru?"
"Sudah sebulan, tapi platnya baru jadi kemarin. Jadi, aku baru berani memakainya."
"Wow aku jadi gugup, mengendarainya," Aaron mulai masuk mobil, sesaat ia mengamati fitur di mobil tersebut, baru kemudian ia menyalakan mesinnya.
"Koleksi mobil di rumahmu jauh lebih mahal dari ini, Aaron," ucap Nadi sembari tertawa. "Kalau kau sampai membuat mobilku kenapa-kenapa, aku hanya tinggal minta tukar satu mobilmu."
"Untukmu semua," Aaron menatap Nadi sekilas sebelum ia melajukan kendaraannya. "Setelah kita menikah nanti."
"Bukankah kita sepakat untuk menjalani masa penjajakan dulu?" Di samping karena banyaknya pekerjaan yang harus Nadi selesaikan, ia belum siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, ia masih nyaman dengan hubungannya yang sekarang, terlebih Aaron tidak pernah macam-macam dan tidak banyak menuntutnya.
Aaron menganggukan kepalanya. "Ya, aku mengerti sayang," ia meraih tangan Nadi dan menaruhnya di dadanya. "Aku hanya ingin kamu tahu, aku begitu menyayangimu, dan Alyssa pun menyayangimu."
Sekali lagi, karena aku cantik dan langsing, batin Nadi. Nadi tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di bahu Aaron. "Terima kasih banyak ya, aku juga menyayangi kalian." Segalanya akan terlihat mudah saat kau terlihat cantik dan memiliki tubuh ideal. Kalimat itu Nadi buktikan saat ia memasuki venue acara, dimana semua mata tertuju padanya, bahkan istri sang pemilik hajat terang-terangan memuji kecantikannya.
Dengan mudahnya Nadi berbaur dengan para istri konglomerat, sementara Aaron mengobrol dengan para pria pembisnis membicarakan hobby mereka. Nadi tersenyum sembari mengangkat gelasnya, ketika Aaron menoleh ke arahnya.
"Kalian sungguh pasangan yang serasi," puji Margareth sang pemilik cara yang tengah berbahagia merayakan pesta wedding anniversarynya. "Aku jadi ingat waktu zaman pacaran."
Nadi tersenyum ringan. "Semua akan terasa indah saat pacaran," ucap Nadi. "Tapi setelah menikah... Tidak ada yang tahu. Hanya segelintir orang yang tetap merasakan kebahagiaan itu, sebagian lagi tidak," Nadi menyesap minumannya. "Kau termasuk yang beruntung nyonya."
Wanita itu tertawa. "Ya, aku memang beruntung mendapatkannya. Tapi aku berani bertaruh jika kau bersama pria itu, kau juga akan seberuntung aku."
Nadi ikut tertawa untuk mencairkan suasana, obrolan di lanjutkan mengenai fashion dan perhiasan keluaran terbaru. Nadi menyarankan agar Margareth mempercepat meresmikan pembukaan mall terbarunya, hal ini di dasari bahwa menjelang akhir tahun merupakan waktu yang tepat sebab bertepatan dengan libur natal dan akhir tahun, seluruh warga kota akan menikmati liburan dan mall merupakan tempat hiburan yang mudah di jangkau. "Nyonya bisa meminta kekasihku untuk mempercepat proyeknya, setahuku dia bekerja sama dengan perusahaan kontraktor yang sangat profesional."
"Kau benar juga, nanti aku akan bicarakan ini dengan suamiku."
Apa kubilang, cantik dan bertubuh ideal itu membuat hidup lebih mudah. Kau akan mudah di terima di mana pun, suaramu akan jauh di dengarkan. Nadi tersenyum mendengar Margareth mau mendengarkan sarannya.
Pukul 23.00 Aaron mengajak Nadi pulang, Nadi begitu senang dengan puas dengan acara tadi, sampai-sampai ia tak berhenti untuk membicarakannya sepanjang jalan. "Terima kasih ya, kau sudah mengajakku ke tempat tadi."
Aaron hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya, bukan ia tak senaang mengajak Nadi ke acara seperti tadi, hanya saja ia tak begitu suka mengumbar hubungannya yang belum resmi. Tapi di lain sisi, ia pun tak bisa memaksa Nadi untuk menikah dengannya. Aaron sadar, menjadi ibu sambung untuk anak berusia empat setengah tahun bukanlah hal yang mudah, dan Aaron tak ingin Nadi terpaksa menjadi ibu sambung untuk putrinya.
Tiba di kediaman Nadi, Aaron langsung memarkirkan kendaraan Nadi di garasi, kemudian ia berjalan menuju kendaraannya yang terparkir di halaman kediaman Nadi. Sebelum masuk mobil mereka sempat mengobrol ringan. "Die, akhir tahun kita liburan yuk. Alyssa ingin ke Bali," Aaron ingin moment liburan ini, lebih mendekatkan Alyssa dan Nadi.
"Lihat nanti ya, kayanya aku masih banyak kerjaan deh."
Aaron mengangguk. "Ya sudah nanti kabarin aku ya, kalau kamu senggang. Aku pulang dulu," ia memeluk dan mencium kedua pipi Nadi, baru masuk ke mobilnya.
Nadi mengamati mobil Aaron yang bergerak, keluar dari kediamannya, setelah mobil Aaron sudah tak terlihat barulah ia masuk.