"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
Secara refleks, Arka melangkah mendekati Naya, membawa gulungan benangnya. Jarak mereka mengikis, menyisakan ruang tipis di antara tubuh keduanya.
"Terima kasih, Naya," bisik Arka, suaranya merendah, sarat akan emosi yang teramat dalam yang menembus gemuruh angin. "Hari ini ... adalah hari Minggu terbaik dalam hidupku. Terima kasih telah membawa kebahagiaan ini masuk ke dalam rumahku."
Naya mendongak, menatap lurus ke dalam mata elang Arka. Jarak yang sangat dekat membuat Naya bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam manik mata pria itu—sorot mata yang penuh dengan pemujaan yang jujur, tanpa ada sekat kontrak atau kebohongan bisnis.
Dada Naya berdesir hebat. Pertahanan mentalnya yang sekeras baja sempat goyah selama satu detik menghadapi kehangatan murni dari pria kaku di hadapannya. Namun, sebelum perasaannya melintasi batas aman, Naya menarik napas dalam-dalam, mengembalikan ketenangannya yang menghanyutkan.
"Ini semua demi tumbuh kembang Kenzie, Mas Arka," jawab Naya dengan nada bicara yang kembali tertata rapi, sengaja memanggil dengan sebutan 'Mas' karena dari kejauhan, kepala pelayan tampak berjalan mendekati mereka dengan membawa sebuah amplop besar berlogo firma hukum.
Arka menarik napas kecewa melihat Naya kembali menarik benteng pembatasnya, namun pandangannya segera beralih menegang menatap kedatangan pelayan tersebut.
"Mohon maaf mengganggu waktu santai Anda, Tuan Arka, Nyonya Naya," ucap kepala pelayan dengan wajah cemas, membungkuk hormat. "Ada kurir khusus yang baru saja mengantarkan surat ini. Dokumen penting dari perwakilan hukum Maheswari Group untuk Anda berdua."
Arka mengambil amplop itu dengan gerakan cepat, merobeknya tanpa belas kasihan. Sepasang matanya membaca lembar demi lembar kertas formal di dalamnya, dan seketika rahang tegasnya mengeras sempurna, wajahnya berubah seputih kapas.
"Ada apa, Mas Arka?" tanya Naya, suaranya tetap stabil meskipun ketegangan baru mulai terasa pekat di udara taman.
Arka meremas pinggiran kertas itu dengan tangan yang bergetar menahan amarah yang luar biasa. Ia menatap Naya dengan pandangan mata yang menggelap.
"Clarissa ... dia benar-benar nekat, Naya. Surat ini bukan sekadar somasi bisnis," ujar Arka, suaranya parau menekan emosi. "Ini pemberitahuan resmi bahwa mereka telah mendaftarkan gugatan pra-perwalian ke pengadilan. Dan yang lebih gila ... surat ini ditandatangani langsung oleh Saskia Maheswari dari London. Ibu kandung Kenzie resmi menyerahkan hak asuhnya pada Clarissa untuk merebut anakku."
***
Malam pun tiba...
Kabar tentang gugatan pra-perwalian dari kubu Clarissa dan Saskia sempat membuat ruang tengah kediaman Dewangga diselimuti ketegangan yang pekat. Namun, belum sempat Arka memanggil tim hukum perusahaannya malam itu, sebuah kejutan lain justru mengetuk pintu gerbang mereka tanpa peringatan.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil yang sangat familiar terdengar dari arah pelataran depan. Arka dan Naya yang sedang berdiri di dekat meja kaca langsung saling melempar pandang.
"Ada tamu di jam segini?" Naya mengerutkan keningnya, ekspresinya tetap tenang menghanyutkan namun matanya bergerak waspada.
Belum sempat Arka menjawab, pintu utama sudah dibuka dari luar oleh kepala pelayan. Langkah kaki yang anggun namun tergesa-gesa terdengar memasuki ruangan, disusul oleh suara melengking yang sangat mereka kenal.
"Arka! Naya! Kenapa rumah sepi sekali malam-malam begini?"
Ibu Ambar Dewangga melangkah masuk dengan membawa sebuah koper kecil berukuran kabin. Wajah wanita paruh baya itu tampak cemas, namun matanya langsung berbinar ketika melihat menantu dan anaknya sedang berdiri berdampingan di ruang tengah.
"Mama?" Arka tertegun, melangkah maju dengan kaku. "Kenapa mendadak sekali datang jam sembilan malam? Dan ... membawa koper?"
Ibu Ambar menghela napas panjang, menyerahkan mantel bulunya pada pelayan. "Mama tidak bisa tenang di rumah utama, Arka. Tante Sandramu itu terus-menerus mengoceh tentang gosip miring di sekolah Kenzie. Clarissa juga mulai memprovokasi keluarga besar kita. Mama datang ke sini karena rindu pada Kenzie, dan Mama mau menginap beberapa hari untuk memastikan dengan mata kepala Mama sendiri kalau rumah tangga kalian baik-baik saja!"
Mendengar alasan ibunya, ulu hati Arka seketika mencelos. Ia melirik Naya dengan pandangan mata yang menegang. Kedatangan Ibu Ambar yang mendadak untuk menginap adalah ancaman krisis terbesar bagi rahasia kontrak mereka. Jika ibunya tahu bahwa selama ini mereka tidur di kamar yang terpisah, maka sandiwara ini akan runtuh malam ini juga.
Naya yang menyadari kepanikan di mata Arka segera mengambil alih kendali situasi dengan kekuatan mentalnya yang sekeras baja. Ia melangkah maju dengan sangat anggun, menampilkan senyuman tipis yang begitu teduh dan menghanyutkan. Naya meraih tangan Ibu Ambar, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Selamat malam, Mama. Kedatangan Mama selalu menjadi kebahagiaan untuk kami di sini," ucap Naya, suaranya mengalun sangat stabil dan lembut, meredam suasana cemas di ruangan dalam sekejap. "Kenzie baru saja bersiap untuk tidur. Pasti dia akan sangat senang kalau tahu Omanya datang untuk menemani."
Ibu Ambar menatap Naya, ketegangan di wajahnya sedikit mencair melihat ketenangan menantunya. "Kamu tidak terganggu kan, Naya, kalau Mama menginap mendadak begini?"
"Tentu saja tidak, Ma. Rumah ini selalu terbuka untuk Mama," jawab Naya manis, merapatkan posisinya di samping Arka. Ia dengan berani melingkarkan jemarinya di lengan kokoh Arka, memberikan kode keras pada suaminya untuk ikut masuk ke dalam peran.
Arka berdeham kaku, langsung membalas genggaman tangan Naya dengan erat. "Benar, Ma. Kamar tamu di lantai bawah sudah selalu siap. Biar pelayan mengantar koper Mama ke sana."
"Tidak, Arka. Mama mau tidur di kamar tamu lantai dua, yang dekat dengan kamar kalian dan Kenzie. Mama mau menjenguk cucu Mama dulu," sergah Ibu Ambar tegas, langsung melangkah menaiki tangga utama.
Arka menahan napasnya, matanya menatap Naya dengan kepanikan yang kian memuncak begitu punggung ibunya menjauh. "Naya ... kamarmu. Semua barang-barangmu ada di kamar sebelah Kenzie. Kalau Mama melihat kamarmu penuh dengan pakaian wanita sementara kamarku steril dari barang-barangmu, kita habis malam ini."
"Tenangkan diri Anda, Tuan Arka. Panik tidak akan memindahkan baju-baju saya dalam satu detik," potong Naya dingin, suaranya berbisik rendah namun sarat akan ketegasan taktis. "Ikuti ibumu ke atas. Alihkan perhatiannya di kamar Kenzie selama sepuluh menit. Biar saya yang mengurus sisa barang-barang saya ke kamar Anda lewat pintu penghubung dalam. Bergeraklah."
Arka terpaku menatap ketangkasan berpikir Naya, lalu mengangguk cepat dan menyusul langkah ibunya ke lantai atas.
Bersambung...