NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

"Ada apa?" tanya Luki.

"Mamah menyuruh aku datang ke kantor sekarang," jawab Amira menghela napas.

Luki menatap Amira dengan hangat. "Mungkin beliau merindukan kamu."

"Tidak mungkin," sahut Amira pahit. "Itu adalah keajaiban dunia yang kesembilan kalau Mamah sampai merindukan aku. Dia paling-paling marah karena keluarga Pak Dani terus menekan Mamah menanyakan keberadaan pria itu."

Amira menahan napas sejenak, lalu menghembuskannya pelan. Ia menatap suaminya penuh selidik. "Apa kamu tahu di mana keberadaan Pak Dani sekarang?" tanya Amira.

"Tidak tahu," Luki berbohong santai. Ia tahu betul, kalau sampai memberi tahu bahwa Dani sedang menginap di sel tahanan atas perintahnya, Amira pasti akan memohon-mohon padanya untuk melepaskan pria jahanam itu.

"Kalau sudah berurusan dengan Pak Surya, masalahnya memang akan sulit ditangani. Biar Pak Surya saja yang urus," tambah Luki beralasan.

"Kamu ini terus-terusan merepotkan Pak Surya!" omel Amira menggeleng-gelengkan kepala. "Sudahlah, kalau memang tidak tahu mau bagaimana lagi, suruh saja keluarga Pak Dani cari sendiri. Dan ingat ya Luki, kamu jangan pernah menunjukkan kedekatan kamu dengan Pak Surya di depan Mamah dan papah tiriku!"

"Kenapa?" tanya Luki menaikkan alisnya.

Amira menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, lalu berbisik pelan, "Kamu bakal dimanfaatkan habis-habisan oleh Mamah dan papah tiriku itu..."

Luki terkekeh mendengarnya. "Oh, begitu... Ya sudah kalau begitu. Mari aku antar kamu ke kantor sekarang."

"Kamu tidak ngojek hari ini?" tanya Amira heran.

"Malas ah."

"Kenapa?"

"Panas," jawab Luki asal.

Amira memicingkan matanya menatap Luki penuh curiga. "Setahuku, semua tukang ojek tahu kalau jalanan itu panas!"

Luki tertawa pelan. Ia menyadari jawaban asalnya tadi agak membocorkan sifat aslinya. "Maksudku... hari ini aku cuma ingin menemani kamu saja."

Amira menghembuskan napas panjang. "Nanti di kantor, aku carikan kamu posisi yang tepat. Utang kamu ke orang-orang sudah terlalu banyak, Luki. Dengan gaya hidup kamu yang seperti ini—bukannya menabung untuk melunasi utang, malah terus menambah utang—kamu harus kerja bersamaku biar aku bisa memantau kamu setiap hari."

‘Astaga Amira... sampai kapan kamu mau menganggapku tukang ojek berutang banyak?’batin Luki mengelus dada.

"Oke, baiklah. Tapi kadang-kadang customer langgananku suka menghubungi aku secara mendadak. Boleh ya kalau nanti aku izin keluar sebentar?" tawar Luki.

"Boleh, asal tujuannya jelas dan tidak aneh-aneh."

"Siap, Bos! Baiklah, sekarang mari aku antar kamu ke kantor."

Luki mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang dan stabil, menyusuri padatnya lalu lintas pagi. Sementara itu, Amira duduk di sampingnya, tampak sibuk mengusap layar tablet kerjanya.

"Si Rini ada menghubungi kamu?" tanya Luki memecah keheningan di dalam mobil.

"Tunggu dulu, aku lagi fokus," potong Amira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

Luki memilih diam dan kembali fokus menatap jalanan di hadapannya.

"Apa benar ya Rini ikut terlibat?" gumam Amira beberapa menit kemudian, mengernyitkan dahi.

Luki tidak langsung menanggapi, membiarkan suasana tetap tenang.

"Luki! Aku bertanya, kenapa tidak dijawab?" protes Amira menoleh.

Luki menatap kaca spion sebentar, lalu berucap tenang, "Amira, dalam bekerja, sebaiknya kamu fokus pada satu hal sebelum mengerjakan hal berikutnya. Kalau saat ini kamu sedang melihat jurnal keuangan perusahaan, selesaikan itu dulu sampai tuntas. Nanti masalah Rini bisa kita bahas di lain waktu."

Amira cemberut. "Kamu marah sama aku?"

"Aku tidak marah, aku cuma memberi masukan. Dalam dunia profesional, kita harus fokus satu demi satu. Jangan memecah konsentrasi pada berbagai aspek sekaligus, karena tidak akan menghasilkan analisis yang maksimal."

Amira menaikkan sebelah alisnya, mengamati cara bicara Luki yang tertata rapi. "Gaya bicaramu seperti seorang trainer bisnis saja."

Luki tersenyum tipis. "Aku lebih dari sekadar trainer."

"Dasar sombong!" cetus Amira.

"Sombong adalah bagian dari identitasku," balas Luki terkekeh santai.

Amira ikut terkekeh pelan mendengar nada percaya diri suaminya. Namun setelah itu, ia menuruti nasihat Luki. Amira kembali fokus menatap layar tabletnya, benar-benar tenggelam dalam memeriksa data laporan keuangan tanpa membiarkan pikirannya terdistraksi hal lain

Amira memarkirkan mobil di area gedung empat lantai yang berfungsi sebagai kantor pusat sekaligus gudang utama Marwah Distributor. Di luar, suasana tampak sangat sibuk—truk-truk besar hilir mudik, sementara forklift terus bergerak membongkar dan memuat barang. Kendati gudang utama ini megah, semua orang di perusahaan tahu bahwa cabang yang dipimpin Amiralah yang menyumbang kontribusi terbesar, menyumbang hampir setengah dari seluruh pemasukan kantor pusat.

Amira dan Luki berjalan melintasi lobi. Beberapa staf yang mengenali Amira langsung menunduk dan membungkukkan badan penuh hormat.

Keduanya naik ke lantai empat menggunakan lift dan langsung menuju ruangan sang ibu. Amira mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya. Di dalam ruangan luas itu, tampak Ratna duduk di kursi kebesarannya, sementara Angga sedang sibuk memijat lembut pundaknya.

Melihat kedatangan Amira, Ratna melambaikan tangan menyuruh Angga berhenti.

"Amira! Apa yang kamu lakukan pada Pak Dani?!" tanyak Ratna tanpa basa-basi, suaranya dipenuhi nada tuduhan.

"Tanya saja sama suami Mamah itu!" ketus Amira menunjuk Angga dengan dagunya.

"Mamah serius, Amira!" geram Ratna menepuk meja.

"Aku juga serius!" balas Amira tak kalah tajam.

Angga berdehem pelan, lalu memasang wajah sok prihatin. "Amira... Walaupun kamu gagal mendapatkan pinjaman dari Pak Dani, setidaknya kamu bisa memberi tahu kami di mana Pak Dani sekarang."

"Iya, Amira! Kamu jangan macam-macam dengan Pak Dani!" sergah Ratna frustrasi. "Dia punya koneksi langsung dengan Pak Surya, dan Pak Surya itu orang dekat keluarga Perdana! Keluarga Pak Dani pagi tadi sudah datang ke sini menanyakan keberadaannya karena orang terakhir yang bertemu dengannya adalah kamu!"

Amira menatap ibunya dengan tatapan miris dan penuh kekecewaan. "Mamah peduli sekali dengan Pak Dani... Kenapa Mamah sama sekali tidak bertanya, apa yang sudah dilakukan Pak Dani padaku?!"

Ratna mengibas-ibaskan tangannya meremehkan. "Ya memangnya apa? Kan biasa kalau lelaki bercanda sedikit. Namanya juga laki-laki!"

"Bercanda?!" ulang Amira dengan suara bergetar dan getir. "Dia mau melecehkanku... dan Mamah bilang itu cuma bercanda?! Sampai mati pun, aku tidak akan pernah memberi tahu di mana Pak Dani berada!"

Dalam hatinya, Amira sendiri sebenarnya tidak tahu pasti di mana Dani berada saat ini. Namun, ia yakin Pak Surya-lah yang dengan sengaja menyembunyikan dan mengunci rapat keberadaan pria itu. Sebab jika Dani hanya ditahan di kantor polisi biasa, tentu tidak akan sesulit ini bagi keluarganya untuk melacak—kecuali ada sosok yang sangat berkuasa yang sengaja membendungnya.

"Yah... tapi kan kamu baik-baik saja sekarang, Amira! Sudah, cepat katakan di mana Pak Dani! Mamah sudah pusing, keluarga Pak Dani terus-menerus meneror dan merongrong Mamah!" cerca Ratna makin mendesak.

"Iya, Amira," timpal Angga memanasi. "Bahkan mereka mengancam, kalau Pak Dani tidak ditemukan sampai siang ini, mereka akan melaporkan masalah ini langsung ke Pak Surya! Supaya perusahaan kita berhadapan sekalian dengan kekuatan Bank Surya!"

"Suruh saja Surya ke sini."

Suara bariton yang dingin dan teramat tenang itu menggema tajam di dalam ruangan, bagaikan letupan petir di siang bolong yang seketika membungkam perdebatan.

Ratna dan Angga membeku. Mata mereka melotot tak percaya menatap Luki—seorang pria berjaket ojol yang sedari tadi mereka anggap hanyalah benalu tak berguna—berdiri santai di dekat pintu sambil bersedekap dada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!