NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta Terlarang / Ibu susu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 Mertua dan Menantu

Ketika Porsche berhenti di depan IGD RS Medistra, dua perawat sudah menunggu dengan kursi roda.

Hansen masih sadar, tetapi denyut nadinya terlalu cepat dan suhu tubuhnya meningkat. Kevin memerintahkan pemeriksaan darah, elektrokardiogram, cairan infus, serta pemantauan ketat. Tidak ada "penawar" ajaib untuk zat yang belum teridentifikasi. Tim medis hanya bisa menjaga jantung, tekanan darah, suhu, dan kesadarannya sambil menunggu hasil toksikologi.

"Sisa jusnya?" tanya Kevin.

"Diamankan di rumah," jawab Angie. "William sedang membawanya ke laboratorium."

Kevin meminta Angie menjelaskan urutan kejadian sejak Hansen menerima minuman. Ia mencatat waktu, jumlah perkiraan yang diminum, gejala pertama, sampai perubahan kesadaran di mobil. Perawat mengambil sampel darah dan urine sebelum obat penenang ringan diberikan agar hasil toksikologi tidak tercampur.

"Kami juga akan memeriksa kemungkinan stimulan berbahaya," jelas Kevin. "Istilah `obat perangsang` terlalu luas. Beberapa produk ilegal dicampur zat yang bisa mengganggu jantung."

"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Angie.

"Saat ini tanda vitalnya mulai turun. Kalian datang cukup cepat." Kevin menatapnya. "Keputusanmu membawa dia ke sini benar."

Angie baru menyadari tangannya masih gemetar. Seorang perawat membersihkan lecet kecil di telapak tangannya akibat mencengkeram setir terlalu kuat.

Kevin menatap bibir Angie yang bengkak, lalu memandang Hansen. "Apa ada cedera lain?"

Angie menggeleng. "Tidak."

"Itu jawabanmu sebagai pasien, bukan sebagai orang yang takut membuat keadaan lebih rumit?"

Hansen menjawab sebelum Angie sempat bicara. "Aku menciumnya tanpa izin."

Kevin kehilangan semua gurauan di wajahnya. "Obat menjelaskan penurunan kendali. Tidak menghapus akibat."

"Aku tahu."

Angie berdiri dekat pintu. Mendengar Hansen mengakui perbuatannya tidak menyembuhkan rasa takut, tetapi setidaknya ia tidak menyalahkan obat atau tubuh Angie.

"Saya mau melihat Mama," katanya. "Beliau dirawat di lantai atas."

Kevin mengangguk. "Pergilah. Saya akan menghubungi kalau ada perubahan."

Setelah Angie keluar, Kevin memeriksa pupil dan refleks Hansen sekali lagi. "Setahun lalu, kamu pernah kehilangan kendali seperti ini?"

Tatapan Hansen mengeras.

"Pertanyaan medis," kata Kevin. "Bukan gosip."

"Aku bangun dengan bagian ingatan yang hilang."

"Ada gejala panas, jantung cepat, atau rasa seperti dipaksa tubuh sendiri?"

"Ya."

Kevin menurunkan suara. "Berarti ada kemungkinan kamu juga diberi zat serupa malam itu."

Hansen menatap cairan infus yang menetes. Selama setahun ia menganggap malam tersebut sebagai kegagalan kendali yang tidak bisa dijelaskan. Jika ia dan perempuan itu sama-sama dimanipulasi, seseorang telah merancang pertemuan mereka.

"Kamu tahu siapa perempuan itu?"

Kevin menarik kursi. "Saya tahu ada bagian cerita yang belum lengkap. Saya tidak punya bukti yang berhak saya serahkan."

"Angie?"

Kevin tidak menjawab. Diamnya justru memperdalam kecurigaan Hansen.

Di lantai perawatan, Mama Thio langsung mematikan televisi ketika melihat putrinya.

"Bibir kamu kenapa?"

Angie menyentuhnya refleks. "Tergigit."

"Aiyah, jangan bohong pada Mama." Mama menarik dagunya perlahan. "Ada orang yang menyakitimu?"

Angie duduk di sisi ranjang. Malam panjang, ketakutan, dan rasa bersalah bercampur di kepalanya. "Bos saya diberi obat. Dia kehilangan kendali, tapi sudah berhenti dan dibawa ke IGD."

"Dia melakukan itu?" Suara Mama meninggi. "Orang kaya pikir bisa memakai perempuan sesuka hati?"

"Ma, dia juga korban racun."

"Tapi bibir kamu yang bengkak."

Angie tidak bisa membantah.

Mama Thio semakin marah setelah mendengar Angie bekerja sebagai pengasuh tinggal di rumah, menyusui Guai, serta terikat utang pengobatan.

"Mereka memanfaatkanmu! Kamu bukan pembantu yang bisa dibeli dengan biaya rumah sakit."

"Saya memilih pekerjaannya."

"Pilihan apa kalau semua jalan keluarmu dibayar orang yang sama?"

Mama meraih ponsel di meja. "Berikan nomor Pak Hansen. Mama akan telepon sekarang."

"Jangan, Ma. Dia masih diinfus."

"Lebih bagus. Biar tidak bisa kabur waktu Mama bicara."

Angie hampir tertawa, tetapi bibirnya perih. "Mama jangan stres. Paru-paru Mama belum pulih."

"Paru-paru Mama boleh sakit. Mulut Mama masih sehat."

Perempuan di ranjang sebelah menutup tirai sambil menahan tawa. Angie menunduk, malu sekaligus tersentuh. Di rumah besar itu semua orang menghitung nilai, posisi, dan akibat. Di depan Mama, ia tetap hanya seorang anak yang harus dilindungi.

Pertanyaan itu tepat mengenai ketakutan Angie.

Pintu kamar terbuka. Hansen berdiri di sana dengan perban bekas infus di lengan dan wajah masih pucat. Kevin mengizinkannya pulang setelah tanda vital stabil, tetapi meminta ia tetap diawasi.

Mama Thio melihatnya dari ujung kepala sampai kaki. "Kamu bosnya?"

Hansen mengangguk. "Saya Hansen Liem."

"Jadi kamu yang membuat anak saya berutang, menyuruhnya menyusui bayi di rumahmu, lalu mencium dia sampai bibirnya seperti itu?"

"Mama," Angie mencoba menyela.

"Diam dulu, Nak." Mama kembali menatap Hansen. "Punya uang bukan berarti boleh mengambil keputusan untuk tubuh orang lain."

"Benar."

Jawaban itu membuat Mama berhenti sesaat.

"Kalau benar, kenapa kamu melakukannya?"

"Saya diracuni. Tapi yang saya lakukan tetap salah." Hansen menatap Angie. "Saya tidak meminta dia memaafkan."

"Bagus. Karena Mama juga tidak."

Hansen menerima itu tanpa mengubah wajah.

Mama Thio melanjutkan hampir sepuluh menit. Ia menuntut Angie diberi jadwal istirahat, akses dokter mandiri, dan hak berhenti bekerja tanpa ancaman. Hansen menjawab setiap tuntutan dengan singkat. Tidak sekali pun ia mengingatkan siapa dirinya atau siapa yang membayar biaya perawatan.

"Dan jangan paksa dia menyentuhmu," kata Mama. "Anak saya bukan obat."

Hansen teringat rencana pengobatannya, reaksi tubuh Angie, dan caranya sendiri mencari alasan untuk mendekat. "Saya mengerti."

"Kalau dia bilang tidak, artinya tidak."

"Ya."

"Kalau kamu membantu, jangan gunakan bantuan itu sebagai tali."

Kali ini Hansen diam lebih lama. "Saya akan memperbaiki perjanjiannya agar Angie bisa berhenti kapan saja dan mencicil setelah tidak bekerja."

Angie menatapnya. Itu berarti rantai emas yang ia buat sendiri akan kehilangan kuncinya.

Mama Thio masih belum puas, tetapi ia mengenali jawaban yang serius ketika mendengarnya. "Kirim perjanjian itu kepada Mama juga."

"Baik."

Angie belum pernah melihat ada orang berbicara kepada Hansen seperti itu. Lebih mengejutkan lagi, pria tersebut tidak marah.

Di balik suara keras Mama Thio, Hansen melihat sesuatu yang hangat dan asing. Seorang ibu yang tubuhnya lemah tetap berdiri di antara bahaya dan anaknya. Ia tiba-tiba memahami sumber keberanian Angie.

Sebelum pergi, Hansen membungkuk sedikit. "Saya akan memastikan hal seperti tadi malam tidak terjadi lagi."

Mama mendengus. "Pastikan dengan tindakan."

Di lorong, Hansen menghubungi William.

"Pindahkan Mama Thio ke kamar VIP. Semua biaya dari rekening pribadiku."

"Tuan Muda, ini akan mudah ditemukan orang yang sedang mengawasi hubungan Anda dengan Angie."

Hansen melihat kembali pintu kamar umum yang tertutup.

Keputusan itu akan terlihat, tetapi juga bisa diaudit Angie dan Mama.

"Aku tahu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!