Menikah terlalu muda, dengan emosi yang belum stabil, Niken dan Raja akhirnya malah bercerai. Keduanya menikah saat kuliah, dan belum lulus sudah berpisah.
Waktu kemudian mempertemukan keduanya, di tempat dan situasi yang sangat jauh berbeda. Keduanya bekerja di satu perusahaan yang sama. Bagaimana kisah dan aksi kocak Raja dan Niken menyembunyikan fakta pada rekan kerja mereka, bahwa mereka pernah menikah? Saksikan keseruan kisah romantis komedi mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahu Dengan Sendirinya
Godaan Mantan, Bagian 10
Oleh Sept
Niken jadi murung, paket yang diberikan Raja kini sudah tergeletak di atas meja kamarnya.
"Ken, makan dulu ya?" Suara mama Reni terdengar di balik pintu. Wanita itu sedang membujuk anaknya untuk makan malam.
"Gak, Bu. Niken diet!" jawab Niken setengah teriak agar mama Reni dengar.
"Mama gorengin sosis, mau?" bujuk mama Reni. Seperti membujuk anak kecil yang sudah makan.
Niken menghela napas panjang, dia bukan anak Paud yang kalau gak mau makan dibujuk ini dan itu.
"Niken gak lapar, Bu." Niken tetap bersikeras tidak mau makan.
"Oh, ya sudah. Makanan Mama taruh di meja. Nanti kalau lapar tinggal ambil saja ya."
"Ya."
***
Malam ini Niken tidak bisa tidur, ia kemudian ke taman belakang. Mengambil gentong kosong lalu membakar semua paket dari Raja. Semua kenangan itu tidak untuk disimpan, tapi harus dihilangkan, dibakar dan dibuang.
Percuma, hubungan mereka sudah berakhir. Segala kenangan yang indah rasanya sudah hambar. Maka, Niken pun mulai membakar satu persatu barang-barang miliknya yang tertinggal pada Raja. Niken mau move on, dia tidak mau lagi teringat masa lalu yang menyakitkan.
Cukup lama dia diam di depan asap yang mengepu. Kini, barang-barang itu sudah menjadi abu. Niken berharap, kisah cintanya ikut lebur bersama kenangan yang barusan ia bakar. Foto-foto pernikahan mereka, foto-foto bulan madu, kado-kado dari Raja, semuanya dia musnahkan. Ia sudah bertekad untuk melupakan segalanya.
Dalam ingatannya, raja hanya membuatnya sakit, apalagi ini menyangkut papanya juga. Niken pun mantap, tidak akan menoleh pada masa lalunya lagi. Cukup sekali saja sakit sesakitnya. Dia tidak akan terlalu jatuh cinta dan berharap pada Raja.
***
Beberapa hari kemudian.
Raja sudah seperti biasanya, kembali beraktivitas. Namun, entah mengapa dia jadi sering melamun dan susah fokus. Tidak se vit biasanya.
"Apa Bapak sakit?" tanya sang sekretaris. Saat keduanya habis keluar dari ruang meeting.
Raja memang kelihatan murung dan letih. Namun, sepertinya ia tidak mau orang-orang peduli padanya.
"Siapa yang sakit?" omel Raja yang sangat sensitif akhir-akhir ini.
"Maaf, Pak. Saya kira Bapak kurang enak badan, karena terlihat tidak fokus dan agak pucat."
Raja malah gusar sendiri. Kemudian meminta kunci mobilnya. Ia mau pulang sendiri, silahkan seketari nya naik taksi.
"Mana kuncinya? Kau naik taksi saja!" kata Raja minta kunci mobilnya.
"Ini masih sore, kalau Bapak mau ... saya bisa antar." Sang sekretaris ngeyel mau nganter, mungkin karena cemas juga. Takut malah kenapa-kenapa di jalan. Karena bosnya itu kelihatan tidak baik-baik saja.
"Tidak usah!" tolak Raja dengan tegas.
"Baik, Pak."
Raja kemudian meninggalkan kantor, sempat duduk dalam mobil beberapa lama sambil memperhatikan ponselnya. Ia kemudian melihat tanggal, mumpung masih sore dan masih terang, ia ingin ke suatu tempat dulu sebelum pulang.
Di tengah jalan, mobilnya berhenti di depan sebuah toko bunga. Raja keluar sebentar lalu membawa bunga segar itu masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang jalan, matanya menatap jalanan dan sesekali melirik buket bunga yang baru dia beli. Ada senyum sendu saat ia menatap bunganya lagi.
***
Setelah mengendara beberapa saat, akhirnya mobil berhenti di sebuah lahan. Raja kemudian memasuki area pemakaman. Suasana sangat sepi saat itu, mungkin karena sudah sore, hanya satu dua orang yang ada di sekitar sana.
Di bawah langit jingga, Raja berjalan seorang diri, kemudian setelah menemukan makam yang dicari, ia lalu jongkok di depan sebuah makam dengan batu nisan marmer hitam.
Laki-laki itu kemudian merenung sesaat, ini mungkin baru kali ketiga dia datang, padahal sudah sekian lama mantan mertuanya itu meninggal. Ada penyesalan dari sorot matanya.
Hanya bicara di hati, dengan mulut terkunci rapat, Raja kemudian bangkit. Ada sesuatu yang mengusik. Mungkin dulu kalau ke sana tidak begitu memperhatikan.
Raja kemudian duduk kembali, ada makam kecil yang tertutup bunga-bunga cantik. Letaknya tidak jauh dari makam mantan mertuanya. Penasaran, ia pun menyibak rerumputan dan bunga-bunga yang mekar di atas makam kecil mungil tersebut.
Anak siapa ini? Mungkin dia bertanya-tanya dalam hati. Dilihat dari ukuran makam, sepertinya masih bayi atau balita. Entah mengapa, Raja mengambil setangkai bunga dari makam mantan mertua, lalu meletakkan di tengah-tengah makam kecil tersebut.
Bibirnya kemudian membaca tanpa suara, agak tidak jelas. Karena tulisannya kabur. Akan tetapi satu hal yang membuatnya terkejut adalah di antara huruf-huruf yang kabur itu, seperti ada tertulis namanya di bagian tengah.
Mungkin hanya kemiripan nama saja, akan tetapi, setelah dia membersihkan nisan kayu yang tulisannya pudar itu, hatinya seperti sedang dicubit.
"Tidak mungkin ... banyak nama yang sama di dunia ini," gumamnya. Pikiran Raja sudah mulai aneh-aneh.
Hari semakin sore, pikiran Raja tambah jadi kacau. Ia memutuskan pergi saja dari pemakaman tersebut. Bukannya pulang ke rumah, dia malah pergi ke rumah Niken. Karena jarak makam dan rumah Niken memang tidak terlalu jauh.
Datang-datang tapi langsung diusir secara lembut. Niken yang sore itu sudah ada di rumah, tidak mau membuka pagar.
"Kami tidak terima tamu!" kata Niken saat tahu siapa yang datang. Kebetulan dia yang di depan pintu pagar, kalau mamanya, pasti langsung dibuka dan disuruh masuk.
"Niken, aku ingin menanyakan sesuatu." Raja kelihatan serius ingin bertanya tentang satu hal.
"Aku tidak mau ditanya." Niken melipat tangannya di depan.
"Niken. Jangan seperti anak kecil. Bersikaplah dewasa." Raja tidak sedang bercanda, dia benar-benar ingin bicara serius dari hati ke hati.
"Aku memang seperti anak kecil, kau mau apa? Tolong jangan ke rumah ini lagi. Aku tidak suka." Niken pun kembali mengusir mantan suaminya itu.
Raja menarik napas dalam-dalam.
"Aku habis dari makam." Raja pun langsung to the point saja, karena Niken masih belum mau bertemu dan membukakan pintu.
"Aku gak nanya." Niken langsung berbalik.
"Aku melihat satu makam kecil di dekat makam Papa." Raja bicara cukup keras.
"Papa siapa? Papamu bahkan masih hidup!" celetuk Niken.
Keduanya saling berbicara tapi terpisah pagar. Niken sudah balik lagi menatap pagar yang masih dikunci dari dalam.
"Aku sedang bicara serius."
"Hemm."
"Kenapa di sebelah makam Papa ada makam kecil? Kau tahu makam siapa itu? Kenapa namaku ada di nisan kuburan tersebut?"
"Bicara apa kamu ini, Raja? Ngelantur ya habis dari kuburan. Sudah ... pulanglah!"
Niken buru-buru berbalik, tapi Raja malah teriak di depan pagar.
"Tidak mungkin kan? Katakan padaku ... tidak mungkin kan?"
..