NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELAGI MENANTI JAWABAN

Mpu Ranajaya menyuruh Sena duduk, Sena duduk bersila dihadapan mpu Ranajaya, dia meletakkan telapak tangannya dikepala Sena

Sena mulai membayangkan kehidupan modernnya dan membiarkan mpu Ranajaya melihatnya

Besi berjalan, kapal terbang, sebuah layar yang menampilkan manusia, teks dengan bahasa asing, baju yang modelnya tidak pernah dilihat dizaman itu

Setelah membacanya mpu Ranajaya tidak langsung menjawab dan mengiyakan Sena untuk menjadi muridnya tetapi, dia menyuruh Sena untuk menunggu sampai dia mendapat petunjuk, dia akan menyendiri dan bertapa untuk mencari jawabannya..

Tidak ada yang tahu kapan jawaban itu akan diberikan bisa esok hari, bulan depan, atau bertahun-tahun dari sekarang."

Sena paham betul. Ia menunduk hormat tanpa memprotes. Selagi menunggu jawaban, Sena tidak membuang waktu dengan berdiam diri disana. Ia memilih melanjutkan kembali petualangannya menuju kawasan Lulumbang, wilayah yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para pandai besi tersakti dan empu pembuat senjata legendaris.

Setibanya di tanah Lulumbang yang semerbak oleh bau arang dan derap pukulan besi dari balik pandapa-pandapa penempa, Sena langsung menelusuri perkampungan terpencil di batas timur desa. Ia mencari sosok yang keberadaannya sempat dibisikkan oleh Ki Jiwo sebelum ia meninggalkan Panawijen seorang pandai besi sepuh bernama mpu Sura, paman sekaligus murid dari mendiang mpu Gandring yang kini mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kerajaan.

Sejak tragedi terbunuhnya mpu Gandring di tangan Ken Arok akibat keris beracun itu, mpu Sura memilih menyembunyikan identitasnya.

Ia menetap di sebuah pondok kayu sederhana di tepi celah jurang Lulumbang, menolak membuatkan senjata untuk para prajurit maupun bangsawan Tumapel.

Sena berdiri di depan pondok yang dipenuhi tumpukan besi mentah dan batu tempa. Dari dalam, terdengar dentang irama pukulan palu besi yang konstan dan berbobot "Tuk... Tuk... Bles"

"Permisi, Mpu," panggil Sena dari luar pondok. "Aku membawa salam dari Ki Jiwo di Panawijen."

Irama dentang palu mendadak terhenti.

Seorang pria tua berotot kekar dengan rambut perak terurai keluar dari asap tempaan.

Lengannya dipenuhi bekas luka bakar percikan api, dan matanya berkilat penuh kewaspadaan saat menatap pemuda berusia delapan belas tahun di hadapannya.

"Ki Jiwo?" gumam Mpu Sura, suaranya parau bagai gesekan amplas kayu. Ia menyipitkan mata. "Pria tua Panawijen itu masih ingat padaku? Dan untuk apa ia mengirim seorang pemuda yang matanya penuh hawa perang kemari?"

Sena merangkapkan kedua tangannya, membungkuk hormat. "Ki Jiwo memberitahuku bahwa di tanah Lulumbang ini salah satu yang memiliki warisan mpu Gandring adalah mpu Sura."

Wajah Mpu Sura seketika mengeras. Ia melangkah mendekat, aura panas dari perapiannya seolah ikut menyelimuti tubuhnya.

"Nama Mpu Gandring adalah kutukan di tanah ini, Anak Muda!" desis Mpu Sura tajam. "Keris itu memakan pembuatnya sendiri dan kini membawa dahaga darah di istana Tumapel.

Aku sudah bersumpah tidak akan pernah menyentuh besi rahasia itu lagi!"

Sena tidak gegabah merespons penolakan keras Mpu Sura. Dengan tenang, ia membuka buntalan kainnya dan mengeluarkan selembar kulit bergambar cetakan bentuk senjata yang ingin dibuatnya sebuah pedang bermata lurus seperti pedang panjang, namun memiliki bilah berteluk-luk seperti keris serta ukiran magis di bagian hulu

Mpu Sura melirik cetakan itu sejenak, lalu meludahi tanah. "Gila! Ini bukan keris, bukan pula pedang biasa. Senjata dengan bentuk seperti ini akan menuntut jiwa pemakainya! Aku tidak akan pernah menempa bencana seperti ini lagi!"

Sena tersenyum tipis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik kembali gambar senjata itu dan mengeluarkan gulungan kulit lainnya ke atas meja tempa. Kali ini, ia membentangkan puluhan rancangan alat-alat dari masa depan: cetakan mekanisme roda gigi pemotong batu, sistem pengungkit tambang, hingga perancangan alat pertanian dan alat penempa otomatis yang sanggup melipatgandakan hasil kerja seorang pandai besi tanpa menguras tenaga.

Mata Mpu Sura yang tadinya dipenuhi kemarahan seketika membelalak. Sebagai seorang empu dan ahli teknik logam, ia langsung menyadari betapa genius dan revolusionernya rancangan-rancangan tersebut. Alat-alat itu sanggup mengubah peradaban penempaan di tanah Jawa. Jemari Mpu Sura yang gemetar perlahan terulur untuk menyentuh lembaran itu.

Dengan sigap, Sena menarik kembali seluruh cetakan masa depan itu dan memasukkannya kembali kedalam buntalan

"Setiap pengetahuan ada harganya, Mpu," ujar Sena dingin, tatapannya mengunci mata sang empu tua. "Bantu aku menempa senjata ini dengan teknik rahasia trah Mpu Gandring, dan seluruh cetakan tadi akan menjadi milikmu sepenuhnya. Kau bisa menciptakan peradaban baru untuk para pandai besi Lulumbang."

Mpu Sura menelan ludah, nafasnya cepat menyebabkan dadanya bergerak menahan pergolakan batin antara rasa takut pada sumpah keris dan ketertarikan luar biasa pada ilmu penempaan masa depan.

"Kau. kau iblis yang pandai menawar, anak muda," bentak Mpu Sura pasrah, dan akhirnya mengangguk pelan. "Baik! Aku terima tawaranmu. Tapi jangan harap aku menyediakan bahannya."

Mpu Sura menunjuk ke arah perapian yang membara. "Senjata seperti dalam gambarmu itu tak bisa ditempa dari besi biasa. Jika kau ingin memintaku membuatkan senjata itu cari sendiri bahan-bahanya dan bawakan kepadaku."

Sena tersenyum puas. "Sebutkan tempatnya, Mpu. Aku sendiri yang akan mengambilnya."

Mpu Sura menyebutkan koordinat pasti kawah galian tua di lereng gunung api yang tak lagi aktif tempat tersembunyi yang dijaga oleh aura magis pekat dan entitas gaib kuno.

Sena melangkah mendaki jalur berbatu tanpa keraguan. Makin dekat ia ke bibir kawah, aroma belerang menyengat bertabrakan dengan hawa dingin yang tak wajar. Di dasar kawah yang gulita, kilatan-kilatan cahaya temaram memancar dari bongkahan Besi Meteorit Hitam yang tertimbun di balik batuan cadas.

Sena melangkah mendaki jalur berbatu tanpa keraguan. Makin dekat ia ke bibir kawah, aroma belerang menyengat bertabrakan dengan hawa dingin yang tak wajar. Di dasar kawah yang gulita, kilatan-kilatan cahaya temaram memancar dari bongkahan Besi Meteorit Hitam yang tertimbun di balik batuan cadas.

Namun, begitu kaki Sena menapak di dasar kawah, tanah bergetar hebat.

Dari balik dinding-dinding batu dan kepulan asap belerang, bermunculan puluhan sosok jangkung berwujud menyeramkan para siluman dan jin penjaga gunung berkulit legam dengan taring mencuat dan mata menyala merah. Pemimpin mereka, sesosok raksasa bertanduk kerbau dengan tubuh setinggi dua pohon kelapa, melangkah maju sambil mengayunkan gada batu raksasa.

"Anak manusia jahil! berani sekali kau menginjakkan kaki di daerah kami, Daging dan darahmu akan jadi santapan kami." raung sang pemimpin jin hingga dinding kawah bergetar hebat.

"Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian. tetapi kalau kalian memaksa aku juga tidak akan melarikan diri."

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!