"Perjodohan?? Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Pah..."
Naomi menolak keras perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Tidak bisa menolak, ini wajib hukum nya Nao...."
Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan adik dari sang mantan pacar yang sampai saat ini masih di cintai nya...
Apakah nanti rumah tangga nya akan semulus jalan tol? atau seperti jalan jalan yang penuh dengan lubang dan juga kerikil tajam?
Simak kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
Satu bulan kemudian..
Meskipun Naomi belum benar-benar melupakan Vino dan belum bisa mengeluarkan nama Vino dari dalam hatinya tetapi gadis itu sudah tampak ceria.
Tentu saja keseharian Naomi ia isi dengan kesibukan, bukan hanya saja di kampus tetapi Naomi juga sesekali mengunjungi panti asuhan.
Tentunya dengan berada di sana bisa membuat jiwanya sedikit tenang dan sakit hatinya bisa terobati sedikit demi sedikit meskipun sampai saat ini masih ada rasa cinta yang dimiliki oleh Naomi untuk Vino.
"Mau ke panti asuhan lagi Nao?"
Tentu saja selain ia menyemangati diri sendiri ada Siska yang selalu setia berada di samping Naomi dan tentunya Siska menyuport Naomi supaya lebih baik lagi dan tidak memikirkan tentang Vino.
"Mama meminta aku untuk pulang cepat."
Ya beberapa menit yang lalu Mamahnya Naomi meminta Naomi untuk segera pulang ke rumahnya, entah apa yang akan dibicarakan oleh orang tuanya itu hingga membuat Naomi harus pulang cepat padahal Naomi sore ini sudah ada agenda untuk pergi ke panti asuhan.
"Sudah kalau begitu ke panti asuhan bisa besok, lo nggak bawa mobil kan?"
Naomi mengangguk, memang satu bulan terakhir ini ia malas membawa mobil entahlah perasaan Naomi kalau ia membawa mobil sendiri pastinya otaknya sudah berkelana ke mana-mana dan pastinya bukan ke kampus melainkan Naomi malah pergi ke suatu tempat dan lebih parahnya lagi Naomi malahan mengunjungi perusahaan Vino.
Untuk itulah demi menjaga kewarasan Naomi memutuskan untuk tidak membawa mobil sendiri dan lebih membuat repot sahabatnya tentunya ia harus lebih waras saat ini, dan tidak mungkin mengganggu suami orang yang nyata-nyata memang Marisa lah pemenang dari segalanya, dialah yang berhak untuk memiliki Vino.
Mobil yang dilajukan oleh Siska sudah sampai di kediaman rumah Naomi tentu saja seperti biasa Naomi menawarkan Siska untuk masuk ke dalam rumah tetapi untuk saat ini Siska menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau mampir dulu, bukannya apa-apa tetapi karena Siska tahu jika ada sesuatu yang ingin diomongkan oleh kedua orang tua Naomi hingga akhirnya ia tidak mau mengganggu kebersamaan keluarga itu.
Penasaran tentu saja iya Siska penasaran dengan apa yang mau dikatakan oleh orang tua Naomi tetapi yang pasti rasa penasaran itu terhempas sudah manakala ia tahu jika nanti sahabatnya juga akan bercerita dengan dirinya.
Naomi segera keluar dari mobil Siska dan langsung saja masuk ke dalam rumah karena ia tahu kedua orang tuanya sudah berada di dalam rumah dengan mobil yang sudah terparkir rapi di halaman.
"Nao sudah pulang kamu? mandi dulu dan makan setelah itu turun, Papa mau bicara sama kamu."
Begitulah ucapan dari Mamahnya Naomi yang sepertinya tidak sabar lagi untuk menyampaikan sesuatu kepada Naomi hingga baru saja Naomi melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Mamahnya langsung mengucapkan seperti itu.
"Aku sudah makan Ma, mandinya nanti saja. Apa yang mau Papa dan Mama bicarakan?"
Ya tentu saja Naomi sudah makan dan untuk urusan mandi bisa nanti, ia juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh papanya hingga meminta dirinya untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
"Begini, Papa sudah merencanakan perjodohan kamu dengan salah satu anak dari rekan bisnis Papah."
Naomi melototkan matanya dan ia juga melebarkan telinganya manakala ia salah mendengar apa yang diucapkan oleh papanya.
Tentu saja di zaman yang modern begini masih ada istilah perjodohan yang pastinya Naomi tidak mau.
"Apa Pah, ini bukan zaman Siti Nurbaya? Aku tidak mau, aku bisa mencari laki-laki yang baik yang akan menjadi suamiku nanti tetapi tidak dengan cara seperti ini."
Naomi menolak keras apa yang direncanakan oleh bapaknya tentu saja ini bukan zaman dulu yang dengan seenaknya menjodohkan dirinya dengan orang lain tentu saja ia juga tidak tahu siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
Bukan berarti Naomi tidak bisa untuk mencari laki-laki lain selain Vino dan apa mungkin laki-laki yang dijodohkan dengannya itu tidak lebih baik dari Vino kalau saja laki-laki itu malah lebih buruk lalu bagaimana dengan nasib Naomi nantinya.
"Tidak bisa, tahu kamu tidak bisa menolak dan ini wajib hukumnya." ucap PapahHarun dengan nada yang sedikit agak lebih tinggi.
"Tidak bisa menolak? wajib? apa-apaan Papa. Aku sudah besar dan Aku bisa mencari jodoh nama sendiri."
"Mau mencari yang bagaimana lagi yang seperti Vino? kemarin yang nyatanya aja sudah menghamili anak orang, itu yang kamu mau cari atau jangan jangan kamu masih mencintai laki-laki itu, sadar Nao dia sudah menjadi suami orang dan pastinya dia bukan laki-laki yang terbaik untuk kamu."
Kedua orang tuanya Naomi tahu betul tentang pernikahan dadakan yang diselenggarakan oleh Vino 1 bulan yang lalu dan pastinya beliau juga tahu kenapa Vino tiba-tiba memutuskan untuk datang ke Jakarta lalu menikah secepatnya karena Vino telah menghamili anak gadis orang dan pastinya orang tua Naomi bersyukur itu tidak terjadi kepada putri satu-satunya.
Meskipun kedua orang tua Naomi kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Vino tetapi setidaknya antara Vino dan Naomi belum terlibat lebih jauh lagi dan untuk itu kedua orang tuanya Naomi sepakat untuk menjodohkan putrinya dengan anak dari rekan bisnis Papah Naomi yang tentu saja sudah beliau kenal.
Sedangkan Naomi terdiam apa yang dikatakan oleh Papa Harun nyatanya memang benar kalau Vino bukan laki-laki yang baik untuk dirinya bahkan laki-laki itu sangat brengsek telah mengkhianati dirinya dan menghampiri perempuan lain dan pastinya orang tua mana yang akan membiarkan putrinya terpuruk dengan masalah yang dilalui terlebih lagi setelah pernikahan Vino dengan Marissa, Naomi berubah menjadi pendiam dan mungkin itu adalah alasan dari kedua orang tua Naomi untuk menjodohkan putrinya dengan anak teman baik Papahnya Naomi.
"Mau tidak mau suka atau tidak suka nanti malam keluarga mereka dan keluarga kita akan bertemu di sebuah restoran dan Papa harap kamu bersedia untuk menerima perjodohan ini."
"Tapi Pah mana mungkin aku menikah secepat ini, aku masih muda dan aku belum lulus kuliah dan masih Ingin menggapai mimpi dan cita-citaku nanti."
"Tidak masalah, calon suami kamu juga masih kuliah tetapi dia juga sudah memegang perusahaan dan kalian pasti akan cocok karena kalian tidak berbeda jauh umurnya."
"Tapi Pah?"
Naomi ingin menolak lagi bukan hanya sekedar karena perjodohan tetapi ia memang belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini terlebih lagi bagaimana nanti calon suaminya namanya sendiri belum tahu sifat dan karakter dari laki-laki yang nantinya akan menjadi pendamping hidup Naomi selamanya.
"Tidak ada tapi-tapian Nao, Papa sudah memilihkan laki-laki yang terbaik untuk kamu karena Papa dan Mama tidak ingin melihat kamu terpuruk seperti ini, yakinlah dengan pilihan dari Papah yang nanti akan membuat kamu bahagia, mungkin dengan perjodohan ini cepat atau lambat kamu bisa melupakan Vino dan Papa yakin jika kamu dan laki-laki pilihan bapak itu akan sama-sama saling mencintai."