Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di dalam pelukan
Dua hari telah berlalu sejak Shiro dirawat di klinik hewan, Setiap pagi saat klinik buka dan setiap sore menjelang siaran malam di Aoyama FM, Keiko selalu datang menjenguknya. Meski hanya sebentar, ia tak pernah melewatkan satu kali kunjungan pun.
Perawat di klinik bahkan mengingat jadwal kedatangan Keiko.
Tringg!!
Suara bel pintu klinik terbuka, Tas kerjanya masih menggantung di bahu, beberapa jam lagi ia sudah harus berada di studio Aoyama FM untuk siaran malam. Begitu memasuki ruang depan, ia mendapati perawat yang berjaga sedang sibuk merapikan berkas-berkas.
Keiko mendekat sambil tersenyum tipis. "Selamat sore."
"Selamat sore, Nona Keiko," jawab perawat itu ramah.
Keiko menoleh ke arah ruang rawat, lalu merendahkan suaranya. "Shiro... masih tidur?"
Perawat itu ikut mengecilkan suara sambil tersenyum geli. "Iya. Sejak siang kerjanya cuma makan, minum obat, buang air, habis itu tidur lagi. Belum banyak aktivitas."
"Kalau begitu, aku lihat sebentar, ya," ucap Keiko.
Perawat membukakan pintu ruang rawat, dan Keiko segera mengintip. Benar saja, Shiro masih meringkuk di dalam kandangnya dengan napas yang terdengar tenang. Perban di bahunya masih terpasang, sementara balutan di keempat telapak kakinya kini tampak lebih tipis dibanding dua hari sebelumnya. Keiko tersenyum kecil melihatnya, lalu pelan-pelan mendekat ke sisi kandang.
"Shiro..." panggilnya lembut.
Tak ada jawaban. Namun, kedua telinga abu-abu itu bergerak pelan—sekali, lalu sekali lagi. Perlahan, mata Shiro terbuka. Tatapannya yang semula mengantuk langsung berubah tajam begitu mengenali wajah Keiko. Ia segera berdiri dan menyambut dengan suara nyaring.
"Meeeeooong..."
Suara panjang itu memenuhi ruangan. Shiro menggesekkan pipi dan tubuhnya ke jeruji kandang berkali-kali, seolah sedang mengomel karena Keiko baru datang. Keiko tak kuasa menahan tawanya.
"Ada apa? Kok seperti sedang marah begitu?"
Perawat yang berdiri di belakangnya ikut terkekeh. "Sepertinya dia sedang protes. Mungkin merasa Keiko-san datang terlambat."
Keiko tersenyum malu. "Aku kan harus bekerja malam ini shiro. Aku sudah datang secepat yang kubisa."
Shiro kembali mengeong panjang. "Meeeeongggggg..."
Setelah beberapa saat menemani Shiro, dokter masuk ke ruang rawat sambil membawa lembar pemeriksaan.
"Selamat sore, Keiko-san."
"Selamat sore, Dok."
Dokter menghampiri kandang Shiro. Begitu melihat dokter mendekat, Shiro kembali duduk tenang. Meski sesekali ekornya masih bergerak pelan, pandangannya tetap tertuju pada Keiko yang berdiri di samping kandang. Dokter tersenyum kecil sebelum mulai memeriksa luka di bahu Shiro.
"Perkembangannya cukup bagus," ucap dokter sambil membuka perlahan perban di bahu Shiro. "Lukanya mulai mengering. Syukurlah tidak ada tanda-tanda infeksi."
Keiko mengembuskan napas lega. "Bagaimana dengan telapak kakinya, Dok?"
"Jauh lebih baik," dokter memperlihatkan balutan tipis di keempat telapak kaki Shiro. "Luka lecetnya sudah mulai menutup. Tapi disarankan jangan menyentuh aspal atau jalan yang tajam dan panas setelah keluar dari klinik ya"
Keiko mengangguk. "Saya mengerti."
Dokter kembali menulis beberapa catatan. "Nafsu makannya juga sudah kembali. Obatnya diminum tanpa banyak kesulitan."
Perawat yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ikut tersenyum. "Walaupun kadang harus dibujuk dulu."
Keiko tertawa kecil. "Memang keras kepala."
Dokter ikut tersenyum. "Kalau kondisinya tetap seperti ini, kemungkinan satu hari lagi dia sudah boleh pulang."
Mata Keiko langsung berbinar. "Benarkah?"
"Ya. Tentu dengan syarat di rumah dia tetap banyak beristirahat."
Keiko menoleh kepada Shiro. "Dengar itu? Sebentar lagi kita pulang."
"Meeooooong." Shiro langsung menjawab, seolah benar-benar mengerti.
Perawat spontan menutup mulutnya menahan tawa. "Lucu sekali... setiap Keiko-san mengajaknya bicara, dia pasti menjawab."
Keiko tersenyum malu. "Aku juga tidak tahu kenapa."
Dokter menutup buku pemeriksaannya. "Mungkin dia memang sangat merindukan Anda keiko-san."
Keiko hanya tersenyum sambil kembali mengusap pelan kepala Shiro. Sementara itu, Shiro memejamkan mata, menikmati sentuhan tersebut tanpa sedikit pun berusaha menjauh.
Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Shiro, beliau menoleh ke arah Keiko. "Kalau hanya sebentar, Anda boleh menggendongnya. Asal jangan dibiarkan banyak bergerak."
Keiko mengangguk. "Baik, Dok."
Perawat membuka pintu kandang dengan hati-hati. Keiko menyelipkan kedua tangannya ke bawah tubuh Shiro, lalu mengangkatnya perlahan. Shiro sama sekali tidak melawan; begitu berada dalam pelukan Keiko, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu.
Keiko tersenyum tipis. "Nah... lebih nyaman, ya?"
Hanya terdengar suara dengkuran yang begitu dekat di telinganya.
Keiko tertawa kecil. "Baru dua hari, sudah manja begini."
Shiro memejamkan mata. Tubuhnya benar-benar rileks dalam pelukan Keiko, ekornya bergerak perlahan seolah menikmati belaian tangan yang mengusap punggungnya.
"Dokter bilang sebentar lagi kau boleh pulang. Senang?"
"....."
"Tapi nanti di rumah tidak boleh berlarian," imbuh Keiko "Dan tidak boleh memanjat pagar."
Shiro membuka sebelah matanya. Keiko tersenyum geli. "Iya, aku tahu. Kau pasti tidak akan mendengarkanku."
Perawat yang melihat mereka dari kejauhan hanya tersenyum kecil. "Dia benar-benar tenang kalau bersama Keiko-san"
Keiko mengusap pelan belakang telinga Shiro. Ia q kembali menggesekkan pipinya ke leher Keiko.
Keiko tertawa pelan. "Iya... aku juga senang bertemu denganmu."
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lorong.
"selamat sore keiko-san?" suara Renji terdengar dari luar sebelum ia muncul sambil membawa dua gelas kopi hangat. "Nah, kau datang renji-san" Ia menyerahkan salah satu gelas kepada Keiko.
"Terima kasih," ujar Keiko.
Renji kemudian menatap Shiro yang masih nyaman berada di pelukan Keiko. "Wah... enak sekali hidupmu. Kerjanya tidur, makan, terus dipeluk."
Keiko tertawa kecil. "Dia memang pasien. Harus dimanja."
Renji mengangguk pura-pura mengerti. "Iya, iya. Kalau begitu aku juga mau berteman." Ia mengulurkan tangan perlahan. "Nah, Shiro... sudah kenal, kan?"
Belum sempat tangannya menyentuh kepala Shiro, "wwwwSsshhh..." Shiro langsung mendesis menampakan taring nya
Ia bahkan mengangkat kaki depannya, berniat mencakar dan menampar tangan Renji. Namun, karena telapak kakinya masih dibalut perban tebal, cakarnya sama sekali tidak keluar. Kakinya hanya menggantung kaku di udara.
Renji spontan menarik tangannya. "Lho?"
Keiko yang melihat itu langsung menutup mulut menahan tawa; tak sampai beberapa detik, tawanya pecah. "Maaf... dia memang tidak mau dipegang sama kamu, Renji-san."
Renji menatap Shiro dengan wajah pasrah. "Padahal aku juga ikut menyelamatkanmu."
Shiro memalingkan wajah, seolah sengaja mengabaikannya. Keiko kembali terkekeh. "Sudah, jangan dipaksa. Dia memang pilih-pilih."
Renji menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu aku menyerah." Ia mundur selangkah sambil mengangkat kedua tangannya. "Mulai sekarang aku hanya berteman sama Keiko-san saja."
Seolah merasa menang, Shiro kembali menyandarkan kepalanya di bahu Keiko.
Renji menggeleng sambil tertawa. "Dasar. Kucing cemburuan."
***
Tak terasa langit di luar mulai berubah jingga. Keiko melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Sudah waktunya."
Renji ikut melihat jam. "Kalau berangkat sekarang, kita masih sempat makan sebelum siaran."
Keiko mengangguk pelan. "Iya." Ia kembali menatap Shiro yang masih berada dalam pelukannya. Dengan hati-hati, Keiko mengembalikannya ke dalam kandang. Shiro tetap memandang Keiko, seolah belum ingin berpisah.
Keiko mengusap pelan kepalanya. "Besok pagi aku datang lagi. Sorenya juga. Jadi, kau harus jadi pasien yang baik."
Shiro hanya berkedip pelan.
Keiko tersenyum. "Nah, begitu. Kalau cepat sembuh... kita bisa pulang."
Perawat kemudian menghampiri mereka. "Maaf, jam besuk sudah selesai."
"Baik." Keiko mengangguk. Ia kembali mengusap belakang telinga Shiro untuk terakhir kalinya. "Aku pergi dulu. Sampai besok."
Keiko berdiri, dan Renji yang sejak tadi menunggu di dekat pintu ikut berjalan bersamanya. Keduanya keluar dari ruang rawat. Sesaat sebelum pintu tertutup...
"Meong."
Langkah Keiko terhenti. Ia menoleh. Shiro masih berdiri di dalam kandangnya dengan tatapan yang tidak lepas darinya. Senyum kecil mengembang di wajah Keiko.
"Iya. Sampai besok."
Pintu pun tertutup perlahan.
Tak lama kemudian, Keiko dan Renji berjalan disepanjang trotoar menuju Aoyama FM untuk memulai siaran malam mereka.
Renji menoleh lagi kebelakang, menatap ke arah klinik hewan yang perlahan benar-benar mulai menghilang
..
Sementara itu, di dalam ruang rawat, Shiro sudah kembali merebahkan tubuhnya, tidur dan mulai terlelap
***
Malam itu, Ditengah siaran , jeda musik, seperti biasa Keiko melepas headphone dari telinganya sambil meregangkan bahunya.
"Kerja bagus," ujar Renji sambil menyalakan tombol pending live "Nanti pulang, langsung pulang atau ada rencana kemana dulu?"
"Mungkin cari makan," jawab Keiko singkat sambil mengambil tasnya.
Baru saja ponselnya masuk ke dalam tas, layar perangkat itu menyala pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari dokter. Keiko segera membukanya, dan perlahan,
"Kondisi Shiro stabil. Besok pagi setelah pukul 09.00 sudah dapat dijemput."
Keiko membaca pesan itu Lalu tanpa sadar tersenyum.
Renji yang masih berdiri di dekatnya memperhatikan perubahan ekspresi itu. "Ada kabar baik?"
Keiko mengangguk pelan. "Besok pagi... Shiro sudah boleh pulang."
Renji ikut tersenyum lega. "Wah, akhirnya."
Keiko kembali menatap layar ponselnya. Entah sejak kapan, senyum itu tak kunjung hilang dari wajahnya. Malam itu, ia pulang dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan.