"Ambil uang ini dan lupakan kesalahan satu malam yang pernah terjadi di antara kita, anggap saja semua itu tidak pernah terjadi." Lea memberikan beberapa gepok uang pada pria bernama Emmanuel tersebut.
"Maaf, aku tidak membutuhkan uangmu," tolak pria tersebut. "Apa kamu pernah berpikir, bagaimana jika seandainya kejadian itu terlalu berkesan sehingga sulit untuk dilupakan?"
Tanpa sengaja menghabiskan malam dengan seorang pria asing membuat hidup Lea yang sudah rumit semakin rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Beberapa hari kemudian.
"Ini sertifikat dan kunci rumahnya. Terima kasih banyak." Lea menyerahkan sertifikat rumah beserta kunci rumahnya setelah L dan dirinya selesai melakukan transaksi jual beli. Uang sudah masuk di rekening Lea dan sebagai gantinya, Lea harus memberikan apa yang seharusnya menjadi milik pria itu.
"Terima kasih kembali." L tersenyum sambil berjabat tangan dengan Lea.
"Karena urusan kita sudah selesai, jadi aku ingin pamit kembali ke kantor." Lea buru-buru beranjak dari duduknya karena tidak ingin berlama-lama dengan pria itu. Namun, sebelum Lea melangkahkan kakinya melewati pintu restoran, sebuah notifikasi m-banking kembali muncul di ponselnya. Uang dengan nominal 30 juta kembali masuk di rekeningnya.
"Apa ini? Kenapa dia mengirimiku uang 30 juta?" gumam Lea. Tidak berselang lama, pesan baru dari L juga muncul.
'Aku mengembalikan uangmu yang kau tinggalkan di ruanganku tempo hari. Maaf, aku tidak bisa menerimanya karena aku tidak mau kenangan indah antara kau dan aku kau beli dengan uang.' Tulis L dalam pesannya.
Lea menggenggam ponselnya dengan erat karena marah, kemudian berjalan kembali menghampiri pria licik yang menyebalkan itu.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Lea disertai tatapan tajam. "Apa kau memang sengaja ingin mempermainkanku, hah?"
L tersenyum. "Jangan salah paham. Aku bukannya ingin mempermainkanmu, hanya saja, aku tidak ingin kau memberiku uang dan menyuruhku melupakan kejadian malam itu begitu saja. Bukankah aku sudah pernah bilang, bagaimana kalau kejadian malam itu begitu berkesan sehingga sangat sulit untuk dilupakan?"
"Kau-"
"Sayang, kenapa kau ada di sini?" tanya Daniel yang tiba-tiba muncul di belakang Lea, membuat wanita itu urung melanjutkan ucapannya.
Berada di antara dua laki-laki menyebalkan, satu brengsyek dan yang satunya lagi sangat licik, Lea jadi tidak tahan berada di tempat tersebut. Apalagi kedua laki-laki itu memang sangat ingin dia hindari untuk tetap menjaga kewarasannya.
Baru saja Lea ingin memutar badan dan hendak pergi dari sana, tapi Daniel sudah mencengkram pergelangan tangannya. "Tunggu dulu, Sayang." Daniel lantas beralih menatap L yang masih betah duduk di tempat. "Tuan Emmanuel, perkenalkan, Nona Azalea adalah calon istriku," kata Daniel sambil merangkul pinggang Lea dengan posesif.
"Lepaskan, Daniel," bisik Lea tapi Daniel tetap tidak peduli.
Pria itu lantas mengeluarkan selembar undangan pernikahan dari dalam saku jasnya. "Mumpung calon istriku ada di sini bersamaku, aku ingin memberikan undangan pernikahan kami padamu, Tuan Emmanuel."
Lea yang baru tahu bahwa ternyata Daniel sudah mencetak undangan pernikahan tentu saja menjadi marah. Bisa-bisanya laki-laki brengsyek itu bersikap semaunya. Apalagi hingga detik ini Lea masih belum setuju untuk kembali pada Daniel, apalagi sampai mau menikah dengan pria brengsyek itu.
"Hentikan, Daniel, atau kamu akan mempermalukan dirimu sendiri." Lea kembali berbisik untuk memperingatkan Daniel.
Sementara itu, L sendiri malah menerima undangan pernikahan itu dengan penuh suka cita. "Wah, selamat untuk kalian berdua. Aku turut bahagia untuk ini." L lantas beralih menatap Lea. "Nona Azalea, selamat ya, sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Daniel."
Entah mengapa Lea merasa bahwa ucapan yang keluar dari mulut L malah terdengar seperti sebuah kalimat ejekan. Seolah-olah L menertawainya karena masih mau menikah dengan laki-laki yang pernah mengkhianatinya.
Tidak tahan dengan suasana menyebalkan ini, Lea segera melepaskan tangan Daniel yang merangkul pinggangnya, kemudian buru-buru pergi dari sana.
"Permisi, aku harus kembali ke kantor, aku masih punya banyak sekali pekerjaan," pamit Lea.
Begitu Lea pergi, L dan Daniel lantas saling berjabat tangan.
"Saya tidak menyangka bahwa ternyata Anda lah Tuan Emmanuel yang terkenal itu," kata Daniel. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena pertemuan pertama kita tempo hari kurang mengenakkan."
L balas tersenyum. "Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Daniel, karena waktu itu saya juga belum mengenali Anda. Saya juga belum tahu kalau ternyata Anda adalah calon suami pengawas Lea."
Daniel tertawa. "Tidak masalah. Oh iya, ayo kita duduk. Maaf sudah membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Tadi saya juga memang sedang ada urusan yang lumayan penting," kata L.
Kedua pria itu lantas duduk berseberangan sembari membahas mengenai masalah pekerjaan.
Tapi awas nanti jatuh cinta loh kau Gio😘😂 Seru ceritanya walau baru baca sedikit👍😘