MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~BAHAGIA YANG DI JAGA RAHASIA
Setelah satu jam perjalanan, mobil berhenti di area bukit yang tenang. Di sana berdiri sebuah bangunan kayu sederhana milik kenalan lama Min Jae, menghadap langsung ke lembah dan danau yang tenang. Udara sejuk menyapa begitu mereka turun, dan di kejauhan lampu-lampu kota mulai berkelap-kelip seperti bumi yang meniru langit.
Malam itu mereka bercerita panjang lebar di teras, sampai bulan naik tinggi. Tentang masa kecil Min Jae yang selalu harus berprestasi demi memenuhi harapan ayahnya, tentang impiannya menciptakan lagu yang bisa menenangkan hati orang, tentang ketakutannya kehilangan kebebasan. Disya pun bercerita—tentang rindu pada ayahnya yang sudah tiada, tentang kegigihan ibunya mengurus rumah makan di Jeju sendirian, tentang mimpinya bisa membahagiakan orang-orang yang dicintainya. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa hilang sepenuhnya.
Saat masuk ke dalam rumah kayu yang hangat itu, Min Jae menutup pintu perlahan. Ruangan itu remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang lembut dan cahaya bulan yang menyelinap lewat jendela kaca. Ia berbalik menghadap Disya, lalu melangkah pelan mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Aku tidak lagi menginginkan apa pun selain dirimu," bisiknya pelan, suaranya rendah namun penuh getaran yang membuat hati Disya berdebar kencang. "Dulu aku datang padamu karena ada yang harus kusalurkan. Tapi sekarang... setiap jengkal hatiku, setiap detak jantungku, semuanya milikmu."
Min Jae mengusap pipi Disya dengan punggung tangannya lembut, menatap mata gadis itu lekat-lekat sebelum menurunkan pandangannya ke bibir Disya. Ia menciumnya perlahan, penuh kasih sayang dan kerinduan yang lama tertahan—bukan terburu-buru, tapi seperti orang yang menemukan harta paling berharga.
Tangan Min Jae merambat lembut ke pinggang Disya, menarik tubuh gadis itu semakin rapat hingga tak ada lagi ruang di antara mereka. Kehangatan yang menjalar bukan hanya dari kulit, tapi menyusup sampai ke dalam jiwa. Sentuhannya penuh rasa hormat, namun membara, seolah ingin menyampaikan semua hal yang sulit diucapkan dengan kata-kata: bahwa ia tidak akan pernah melepaskan, bahwa Disya adalah rumah baginya.
Disya memejamkan mata, membalas kehangatan itu dengan sepenuh hati. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan dan kasih sayang pria itu, merasa aman sekaligus diliputi rasa hangat yang mendalam. Di momen itu, perjanjian uang dan kebutuhan di masa lalu terasa seperti cerita orang lain. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling mencari, saling melengkapi, dan bersatu dengan cara yang paling tulus.
Malam itu terasa panjang namun singkat. Mereka saling memiliki dengan penuh kelembutan, merayakan kebersamaan yang akhirnya menjadi milik mereka sepenuhnya.
Keesokan paginya, Disya mendapat pesan singkat tak terduga dari nomor asing: "Nak, ini ibu Min Seo Hee. Bolehkah kau berkunjung ke rumah sebentar? Saat suamiku tidak ada di rumah. Aku ingin berkenalan denganmu dengan tenang."
Disya sedikit gugup, namun segera menyetujui. Ia datang ke kediaman besar keluarga Min dengan hati berdebar. Di sana, Min Seo Hee menyambutnya dengan senyum hangat yang persis seperti yang Disya bayangkan. Tidak ada tatapan menilai, tidak ada kata-kata tajam. Hanya seorang ibu yang tampak bahagia melihat anaknya mulai memiliki tempat bersandar.
"Maafkan sikap suamiku ya, Nak," ucap Min Seo Hee lembut sambil menuangkan teh hangat. "Dia hanya terlalu takut Min Jae terluka, dan terlalu terbiasa menilai segala sesuatu dari kacamata logika dan status. Dia tidak tahu bahwa hati tidak bisa diatur seperti jadwal operasi di rumah sakit."
"Saya mengerti, Bu. Saya tidak tersinggung," jawab Disya sopan.
"Aku suka padamu, Disya. Matamu jujur. Caramu bicara, caramu mendengarkan... kau gadis yang baik. Min Jae dulu sering murung, jarang tersenyum lebar. Tapi sejak bersamamu, dia terlihat lebih hidup. Itu cukup bagiku." Min Seo Hee menggenggam tangan Disya. "Aku akan mendukung kalian. Aku akan berusaha melembutkan hati suamiku pelan-pelan. Tapi tolong... kau juga harus kuat menghadapinya."
Disya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Bu. Saya janji akan berusaha sekuat tenaga."
Siang harinya, di lokasi syuting, Jack memanggil Min Jae ke sudut ruangan yang sepi. Wajah model itu tidak lagi tersenyum santai. Ia menatap Min Jae dengan serius.
"Kau terlihat bahagia akhir-akhir ini," kata Jack pelan. "Itu bagus. Tapi jangan sampai kebahagiaan itu membuatmu lupa waktu."
"Aku tidak lupa, Jack. Satu bulan waktu pembuktian masih berjalan," jawab Min Jae tenang.
"Ayahmu bukan orang yang memberi tenggat waktu sembarangan," tegas Jack. "Dia pasti sedang mencari celah, mencari hal yang bisa dia jadikan alasan untuk memisahkan kalian. Kau harus lebih berhati-hati. Jangan tinggalkan jejak yang bisa dia gunakan untuk melukai Disya. Dan ingat janjiku: jika kau lengah dan Disya terluka, aku tidak akan segan bertindak."
"Aku tahu. Dan aku berjanji tidak akan membiarkan itu terjadi," ucap Min Jae mantap.
Sementara itu, di ruangan kantor yang tertutup rapat, laporan tebal kembali diletakkan di atas meja Min Sung Hoon. Orang suruhannya berdiri tegak di hadapan pria itu.
"Semua bukti sudah kami kumpulkan, Dokter. Pesan awal perjanjian, catatan transfer dana pertama, dan keterangan saksi yang melihat awal pertemuan mereka... semuanya lengkap," lapor orang itu dengan suara rendah.
Min Sung Hoon menyentuh berkas itu dengan ujung jari, matanya menyala dingin. "Simpan baik-baik. Jangan tersebar dulu. Biarkan mereka merasakan puncak kebahagiaan mereka dulu. Semakin tinggi mereka terbang, semakin sakit saat jatuh nanti."
Ia kemudian mengambil ponselnya, menekan satu nama yang sudah lama tersimpan di sana namun tak pernah dihubungi. Hening sejenak, sampai suara perempuan terdengar dari seberang.
"Halo, Dokter Min? Ada apa Bapak menghubungi saya setelah sekian lama?"
Min Sung Hoon tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata.
"Li Bora... selamat datang kembali ke Seoul. Aku punya sesuatu yang harus kau ketahui tentang masa lalu, dan sesuatu yang bisa kau lakukan untuk menyelesaikan semuanya."
Sore itu Disya pulang dengan perasaan campur aduk. Hatinya hangat karena diterima oleh ibu Min Jae, namun bayangan ancaman ayahnya dan pesan peringatan Jack terus berputar di kepala. Saat Min Jae pulang, ia langsung menarik Disya ke dalam pelukan erat.
"Kau terlihat cemas," bisik Min Jae.
"Aku hanya... takut semuanya berubah tiba-tiba," jawab Disya pelan.
Min Jae mengusap punggungnya lembut, lalu menatap mata gadis itu lekat-lekat.
"Biarkan apa pun yang terjadi nanti. Sekarang, kita punya waktu untuk bahagia. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggutnya darimu. Kita hadapi besok, besok saja. Hari ini... mari kita jaga kebahagiaan ini baik-baik, bersama-sama."
Disya memeluk erat pinggang pria itu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang terasa aman. Di luar sana badai mungkin sedang bersiap, tapi selama mereka berdiri beriringan, mereka siap menghadapi apa pun yang datang.