Warning! Khusus dewasa.
☕☕☕
Nuraini Safaruddin 19 tahun tidak menyangka, suami yang menikahinya adalah seorang pria loyo yang tidak bisa memenuhi nafkah batin istrinya.
Meskipun dirinya dianggap menjadi penyebab kedua orang tua suaminya itu meninggal, perempuan yang sehari-hari dipanggil Anik itu setuju dirinya dijadikan alat shock terapi membantu pria itu kembali normal.
Menjalani nikah kontrak dengan Agung Mahendra 27 tahun, di dalam kehidupan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung, hadir wanita yang mirip dengan seseorang dari masa lalu suaminya itu yang dirasa mampu membuatnya menjadi pria sejati.
Akankah Agung akan berpaling dari istrinya?
Akankah Anik pasrah dengan nasibnya ataukah akan berjuang merebut cinta suaminya?
Selamat mengikuti, like dan vote sebanyak-banyaknya ya, thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10
Anik terbangun masih di ruangan yang sama, berbaring lemas melihat tangannya yang diinfus.
"Akhhh!"
Meringis memegang kepalanya saat hendak bangun, dari ujung kepala sampai ujung kakinya terasa berat.
"Anda sudah bangun Nyonya." Santi baru keluar dari kamar mandi menyapa.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Anik.
"Anda tertidur selama dua hari, makanlah bubur ini selagi masih hangat," ujar Santi sambil meraih mangkok yang ada di nakas.
Ha, dua hari!
Anik melebarkan matanya, menyadari pakaiannya juga telah berganti dengan baju seragam pasien rumah sakit. Sepertinya benar dalam hati Anik teringat Ayahnya di ruang jenazah. "Bagaimana dengan Ayah, apakah sudah dimakamkan?" Tanyanya
Walau ragu mau bicara tapi Anik berhak mengetahui keadaan orang tuanya. "Pak Mahendra sedang ke makam mengurusnya Nyonya, setelah anda bangun beliau meminta saya untuk memberi anda makan." Santi mengalihkan pembicaraan, tidak mau membahas suatu yang membuatnya sedih.
Hiks, hiks.
Anik tetap saja sedih, siapa yang gak sedih dalam keadaan begini. "Saya tidak selera mau makan, hanya ingin ke makam mau melihat Ayah untuk terakhir kalinya."
Tapi tubuhku lemah, apakah aku akan sanggup. Dimana suami gak perduli, hah!
Desah dalam hati Anik gak yakin juga bisa ke makam, takutnya pingsan lagi.
Mendengar itu Santi serba salah. "Maafkan saya Nyonya, anda tidak boleh kemana-mana tanpa persetujuan dari Pak Mahendra. Beliau sangat mengkhawatirkan anda, sebaiknya anda pulihkan diri dulu. Yang sudah pergi tidak perlu ditangisi, mereka sekarang hanya butuh do'a dari orang-orang yang mencintainya."
Santi adalah orang yang paling mengerti bagaimana rasanya kehilangan, karena dia pernah mengalaminya. Ditinggal orang tuannya saat masih belum bisa apa-apa. Anik masih lumayan sudah cukup umur, punya suami tampan, kaya raya dan sangat perduli padanya. Santi melihatnya dua hari ini, dibalik sikap kasarnya Pak Mahendra benar-benar mencintai istrinya.
Hah! Agung mengkhawatirkan ku? Mungkin hanya sebatas empati terhadap sesama manusia.
"Bagaimana dengan ibu?" tanyanya lagi.
"Kalau anda sudah dinyatakan sehat dan kuat, Pak Mahendra sendiri yang akan membawa anda menjenguk ibu anda, Nyonya."
Anik terdiam, memanglah tubuhnya masih lemah kalau dilihat ibu bukankah akan tambah sedih.
Kamu tidak boleh terpuruk Anik, kamu harus kuat. Masih ada ibu yang membutuhkan dirimu.
***
Menjelang malam di ruangan inapnya masih di VIC room, tangannya juga sudah tidak diinfus, Anik memaksa makanan masuk ke mulutnya.
Perut harus diisi biar ada tenaga, sehat dan kuat menghadapi kenyataan hidup. Ibu pasti sangat terpukul atas meninggalnya Ayah, oh Tuhan. Berilah Ayah tempat yang terbaik di sini Mu. Berilah pertolongan pada ibu, semoga cepat sembuh..amin.
Air matanya selalu menetes setiap kali teringat orang tuanya.
Begitu cepat musibah ini datang, benar-benar mengejutkan, hah!
Anik menghela nafas berat, dari pagi semenjak bangun ia belum melihat Agung.
Tapi apakah ibu tau bahwa aku juga dirawat, mungkinkah Agung memberitahunya. Semoga ibu tidak khawatir...
"Santi, kamu melihat ponselku?" tanyanya. Anik ingin menghubungi ibunya, siapa tau hapenya telah aktif kembali.
"Tidak Nyonya," jawab Santi yang duduk di sofa, di depannya ada sebuah tablet kerja.
Anik sudah banyak ngobrol dengan wanita dari anggota kepolisian itu. Sedikit banyak ia mengerti situasinya.
Benarkah aku terancam pembunuhan sampai-sampai Agung mempekerjakan seorang polwan untuk menjagaku. Ini tidak sedang shooting drama kriminal, kan? Apakah Agung tidak jadi menceraikanku, kalau begitu biar aku yang akan menggugatnya. Hidup bersama orang kaya kalau gak bisa bebas kemana-mana untuk apa, nyawa terancam bahaya pula. Lalu apa status wanita yang bersamanya di ruang baca, kelihatan Agung sangat menyayanginya. Bercumbu mesra tidak perduli di depan mata istrinya, artinya memang aku tidak dianggap olehnya...
"Santi, bolehkah kita pergi melihat ibu? Aku merasa sudah cukup kuat berjalan sekarang," mohon Anik, hatinya sangat rindu pada ibunya.
Hm, "Saya akan tanya pada Pak Mahendra kalau begitu," jawab Santi mengambil ponselnya.
Cklekk.
Panjang umur, pintu kamar dibuka ada Pak Mahendra masuk bersama asisten Doni dan satu lagi pria berjaket hitam yang ditemui Anik di ruang jenazah.
Santi segera berdiri memberi hormat pada Budi, atasannya di kepolisian. Selesai formalitas Budi dan Santi. "Silahkan Pak Detektif," Doni mempersilahkan Budi mendekati Anik.
Dia seorang detektif polisi, jadi benar masalahnya memang serius.
Dalam hati Anik jantung berdebar, tidak berani beradu tatap dengan Agung yang sedang menatap tajam padanya berdiri tepat di sisi kasurnya.
Begitu yang katanya khawatir, melihat wajah orang seperti mau nelan.
"Apa kabar Nyonya, anda masih ingat saya?" Sapa Budi.
Hm. "Ingat Pak Detektif," jawab Anik mengangguk.
"Secara resmi saya akan memperkenalkan diri, nama saya Budiman Harimurti detektif polisi dari desa Kampung Koneng," jelasnya yakin Anik akan terkejut.
Ternyata Pak Polisi ini satu kampung denganku.
Dalam hati Anik mengerut dahi bukan karena terkejut tapi lebih kepada senang bertemu orang satu desanya yang punya jabatan di kepolisian.
"Senang bertemu anda Pak Detektif," ujar Anik mengulurkan tangannya.
Hehe, "Sama-sama Nyonya," gak nyangka ternyata Anik sangat ramah, detektif Budi balas mengulurkan tangan.
Susah payah menyembunyikan rasa berdebarnya, debaran yang sama saat mengintai Laras diam-diam, saat pergi kerja bersama Zainal.
Kirain mereka pacaran ternyata bukan, aku terlambat menyadari. Dosa kah jika kita mencinta istri orang.
Dalam hati Budi. "Kita dari desa yang sama Nyonya, akan tetapi sebelum naik jabatan setahun yang lalu saya bertugas di pasar induk. Jarang masuk ke kawasan perumahan jadi tidak sempat mengenal penduduk dengan baik," lanjut Budi.
Hm, bukan urusanku dalam hati Anik tersenyum hambar.
"Saya di sini akan membahas mengenai ledakan mobil, khususnya mobil Ayah anda. Apakah ada orang yang anda kenal, anda curigai berniat jahat pada keluarga anda?" tanya Detektif berbelit-belit pada pendengaran Anik.
"Niat jahat pada keluarga saya," gumamnya menggeleng. "Saya yakin seribu persen tidak ada orang seperti itu terhadap keluarga saya. Kami bukan siapa-siapa hanya orang biasa," ujar Anik yakin.
Hm, Budi tersenyum atas kerendahannya hati Anik walaupun telah menjadi istri orang kaya.
"Mungkinkah ada pria yang anda tolak cintanya jadi sakit hati?" tanya detektif Budi lagi, guna penyelidikan dia harus bertanya sedetail mungkin walaupun itu masalah pribadi.
Hm, kembali Anik menggeleng. "Tapi tidak mungkin sampai meledakkan mobil, orang kampung tidak begitu. Patah tumbuh hilang berganti, kalau gak ya...cinta ditolak dukun bertindak."
Sekali lagi Budi merasa kagum atas jawaban Anik dan masuk akal memang, dia tau jelas kehidupan mereka di desa Kampung Koneng.
Bahkan penjahat seperti Suganda tidak akan meledakkan mobil hanya karena dendam.
"Hm, anda benar sekali Nyonya," Budi senyum sampai ke telinga, ternyata Anik orangnya lucu.
Agung jadi eneg melihat mereka berdua, bicara mesra seperti orang pacaran. Apalagi si detektif sungguh menyebalkan, suaminya di sini woy.
Agung kesal tapi ditahan harga dirinya gengsi mengakui bahwa dia cemburu.
Anik melirik Agung wajahnya seram seperti mau menerkam. "Mungkin dari pihak Pak Agung kali Pak detektif," lanjutnya asal goblek menyampaikan isi pikirannya.
Agung yang mendengar tidak menyangkal bahwa kemungkinan itu lebih diterima logikanya.
Tapi benarkah penjahatnya orang yang ku kenal, siapa kemungkinan yang berani melakukan itu.
"Apa masih belum ada yang anda curigai, Pak Mahendra?" Budi bertanya pada Agung yang sedang melamun.
***tbc
Jumpa lagi, jangan lupa like ya.
atau agung dgn Lia
ayo kak😅😅😅😅😅