Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Terlambat Pulang
Namun, kendala di jalanan tidak berhenti di situ. Angkutan kota terakhir yang ia tumpangi terjebak kemacetan total akibat adanya perbaikan jalan di jalur utama pinggiran kota.
Waktu terus berputar dengan cepat. Jam di pergelangan tangan Mahira sudah menunjukkan pukul satu siang ketika ia baru selesai menyerahkan barang titipan tersebut kepada kerabatnya.
Menyadari bahwa ia sudah terlambat sangat jauh dari jadwal kepulangannya yang biasa, Mahira bergegas mencari angkutan umum untuk jalan pulang. Hatinya mulai menghitung konsekuensi yang akan ia terima di rumah nanti.
Ziko dan mertuanya pasti akan menggunakan keterlambatannya ini sebagai alasan untuk menyudutkannya.
Benar saja, jarum jam sudah merambat ke angka tiga sore ketika Mahira akhirnya melangkah memasuki pekarangan rumah Ziko. Tubuhnya basah oleh keringat, wajahnya tampak sangat kelelahan, dan dress sederhananya sedikit kusut karena terpaan angin jalanan.
Saat ia membuka pintu depan, atmosfer dingin dan menegangkan langsung menyergap dadanya.
Di ruang tamu yang sejuk oleh mesin pendingin udara, Ziko sudah duduk di sofa dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.
Di sampingnya, Bu Rani duduk dengan wajah yang sengaja dibuat cemberut dan penuh dramatisasi. Sementara itu, Clarissa berdiri di dekat meja konsol, melipat tangan di dada dengan pandangan mata yang siap menonton sebuah pertunjukan.
"Bagus ya, Mahira. Baru jam segini kamu ingat pulang?" Suara Ziko menggelegar dingin, memecah kesunyian ruang tamu. Pria itu menatap Mahira dengan pandangan yang penuh kekecewaan dan kemarahan.
Mahira menghentikan langkahnya di batas karpet, menundukkan kepalanya sedikit dengan sikap seorang istri yang tahu tata krama. "Maaf, Mas Ziko. Aku terlambat karena di jalan tadi ada perbaikan jalur, jadi angkutan kotanya terjebak macet total."
"Angkutan kota?" potong Ziko dengan nada meremehkan yang sangat tajam. "Kamu punya mobil di garasi, Mahira! Kenapa harus pakai acara naik angkutan umum segala kalau bukan sengaja mau cari alasan untuk keluyuran lama di luar?"
Sebelum Mahira sempat menjawab, Bu Rani langsung menyela dengan nada suara yang sengaja dibuat merana, seolah-olah ia adalah korban terbesar di sini.
"Ziko, Nak... Kamu lihat sendiri kan? Ibu dari siang tadi kelaparan menunggu istrimu ini pulang. Dia bilang cuma pergi sebentar, tapi nyatanya sampai sore begini baru menampakkan batang hidungnya. Rumah ditinggalkan begitu saja dalam keadaan kosong. Ibu yang sudah tua ini telantar tidak ada yang mengurus," adu Bu Rani dengan wajah yang dibuat memelas pada putranya.
"Bu, saya sudah menyiapkan makan siang di tudung saji sebelum pergi...." ucap Mahira mencoba menjelaskan dengan suara yang teramat lembut.
"Makanan dingin begitu mana cocok untuk lambung Ibu yang sedang sakit, Mahira?!" bentak Ziko, berdiri dari sofanya dan melangkah mendekati Mahira dengan tatapan menghakimi. "Kamu itu egois sekali. Cuma karena urusan kampung, kamu tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah sampai sore. Clarissa saja yang statusnya tamu, dari tadi sibuk memikirkan kenyamanan Ibu di kantor, menanyakan apakah Ibu sudah makan atau belum. Sementara kamu yang berstatus istri, malah asyik keluyuran tidak jelas!"
Clarissa yang berdiri di sudut ruangan menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia melirik Mahira yang tampak kotor dan kelelahan, lalu beralih menatap Ziko dengan pandangan penuh simpati palsu. "Ziko, sudah... Jangan terlalu keras pada Mbak Hira. Mungkin di desa dulu Mbak Hira tidak biasa dengan disiplin waktu seperti kita di kota."
Kata-kata Clarissa bagaikan bensin yang menyiram api di dada Ziko. Pria itu mendengus sinis, menatap Mahira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh kejengkelan.
"Dengar itu, Mahira! Harusnya kamu malu sama Clarissa. Dia yang berpendidikan tinggi dan sibuk urusan bisnis saja masih punya empati besar pada Ibu. Sedangkan kamu? Semakin hari kamu semakin membangkang dan tidak tahu diri!" tegas Ziko dingin. "Sekarang, cepat masuk ke belakang. Bersihkan badanmu yang kotor itu, dan jangan berani keluar kamar sebelum kamu merenungkan kesalahanmu hari ini!"
Mahira berdiri mematung di hadapan suaminya. Di dalam matanya yang jernih, tidak ada setitik pun amarah atau niat untuk membalas cacian itu. Ia memandangi wajah Ziko, pria yang dengan ringannya menuduhnya egois, tanpa pernah mau tahu atau sekadar mengecek mengapa bensin di mobil istrinya bisa habis mendadak. Sikap abai ini sudah berada di tingkat yang maksimal.
Mahira menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan dengan kelembutan yang tak pernah terkikis.
"Baik, Mas Ziko. Maafkan atas keterlambatan saya hari ini. Saya permisi ke belakang untuk membersihkan diri," ucap Mahira halus, tanpa ada nada ketus sedikit pun.
Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah kaki yang teratur dan stabil. Rasa lelah di fisiknya seolah terkunci oleh ketetapan hatinya yang makin bulat.
Setiap makian Ziko, setiap kelicikan mertuanya, dan setiap senyuman kemenangan Clarissa hari ini, telah tercatat rapi di dalam benaknya sebagai hutang yang harus dibayar lunas dengan kehancuran mereka kelak.