NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN

Rapat gabungan panitia Classmeeting dan perwakilan tiap kelas digelar di ruang aula SMA Garuda Bangsa sore itu. Udara di dalam ruangan cukup hangat meskipun dua kipas angin gantung berputar maksimal di langit-langit. Naya, yang terpaksa hadir menggantikan ketua kelas 12 IPS 2 yang mendadak sakit perut, duduk di barisan ketiga dengan wajah dipenuhi rasa malas.

Di depan ruangan, Arka berdiri tegap di samping papan tulis putih besar. Seragamnya masih sebersih dan serapi tadi pagi. Di tangannya, sebuah spidol hitam siap mencatat poin-poin keputusan rapat.

"Jadi, untuk lomba kebersihan dan dekorasi kelas, kriteria penilaian mencakup kerapian, kerapian fasilitas, serta kerapian tema," ujar Arka dengan nada suara yang teratur, datar, dan dominan.

"Rapi terus yang dibahas," gumam Naya pelan, tapi cukup keras untuk didengar dua temannya di sebelah kiri. "Lama-lama sekolah ini berubah nama jadi SMA Negeri Rapi Bangsa."

Saskia yang duduk di sampingnya menepuk paha Naya pelan. "Sumpah ya, Nay, lo dendam banget sama Arka. Padahal dia ganteng banget kalau lagi serius gitu memimpin rapat."

"Ganteng apanya? Muka datar kayak papan gilasan gitu bilang ganteng," cibir Naya.

Arka mendadak menghentikan ketukan spidolnya di papan tulis. Pandangannya lurus mengarah ke barisan kelas 12 IPS 2. Tepatnya pada Naya.

"Ada instruksi atau usulan dari perwakilan 12 IPS 2?" tanya Arka dingin. Ruangan aula yang berisi sekitar empat puluh siswa mendadak hening seketika. Semua mata tertuju pada Naya.

Naya tersentak kecil, lalu menaikkan dagunya menantang. "Enggak ada, Pak Ketua. Cuma merasa aturan penilaiannya terlalu kaku. Ini kan Classmeeting, acara senang-senang setelah ujian. Kenapa kriteria lomba dekorasi kelas harus seformal lomba tingkat nasional? Kenapa kreatifitas siswa harus dibatasi sama kata 'rapi' versi OSIS?"

Beberapa perwakilan kelas lain mulai berbisik-bisik. Ada yang mengangguk setuju dengan pernyataan Naya.

Arka tidak membalas dengan emosi. Ia meletakkan spidolnya di atas meja presenter, lalu melipat tangan di dada. "Sesuatu yang kreatif tanpa keteraturan cuma bakal menghasilkan kekacauan, Naya. Dan tugas OSIS adalah memastikan kegiatan berjalan teratur."

"Tapi teratur bukan berarti mengekang, kan?" potong Naya cepat, berdiri dari kursinya. "Kalau semua kelas dipaksa pakai standar kerapian yang sama, ujung-ujungnya tema tiap kelas bakal seragam dan membosankan. Kasih kebebasan dikit dong buat siswa berkreasi!"

Dito yang duduk di samping Arka menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa renyah yang hampir meledak. Ia menyenggol lengan Arka dengan sikut. "Wah, parah... argumen cewek lo—maksud gue, perwakilan IPS 2 ada benernya juga, Ka."

Arka memberikan lirikan tajam pada Dito sebelum kembali menatap Naya. Ada percikan kekesalan yang samar di matanya—percikan yang hanya Naya yang tahu cara memancingnya.

"Konsep kebebasan yang kamu maksud itu seperti apa?" tanya Arka, nadanya merendah. "Membiarkan kelas dicat warna-warni tanpa konsep jelas lalu ditinggal kotor setelah acara selesai? Seperti yang kelas kamu lakukan semester lalu?"

"Itu namanya art! Seni eksperimental!" selak Naya tidak mau kalah. "Lagian waktu itu kita udah bersihin!"

"Bersihinnya H+3 setelah saya kasih surat teguran tertulis," balas Arka telak, menghantam pertahanan Naya di depan seluruh perwakilan kelas.

Suara gemuruh tawa pelan memenuhi aula. Naya merasakan wajahnya memanas. Giginya menggeletuk sengit. Awas lo ya, Arka! Nanti malam di rumah, jatah lauk ayam goreng lo gue sembunyiin! batin Naya mengutuk dalam hati.

Melisa yang berdiri di dekat papan tulis memegang mikrofon, lalu menyela dengan senyum manisnya yang menenangkan. "Oke, teman-teman, harap tenang. Usulan dari Naya bagus kok untuk pertimbangan. Nanti tim penilai bakal mengimbangi antara kriteria kerapian dan kebebasan kreasi ya."

Naya duduk kembali dengan hentakan kaki yang kasar. Saskia berbisik kagum, "Gila lo, Nay. Cuma lo satu-satunya orang di sekolah ini yang berani debat terbuka sama Arka Pradipta tanpa kedip."

"Gue benci banget sama dia, Sas. Benci setengah mati," desis Naya tajam.

Rapat baru selesai menjelang pukul lima sore. Langit di luar aula mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Sebagian besar siswa sudah pulang, menyisakan beberapa anggota OSIS yang membereskan kursi dan mengunci ruangan.

Naya sengaja berjalan paling lambat. Ia berpura-pura mencari ikat rambutnya yang hilang di bawah kursi aula, menunggu hingga aula benar-benar kosong. Ia tahu Arka masih ada di dalam ruang penyimpanan alat di balik panggung untuk mengembalikan proyektor.

Ketika pintu aula ditutup dari luar oleh petugas kebersihan dan hanya tersisa suara langkah kaki Arka dari balik panggung, Naya melangkah menghampiri cowok itu dengan bersedekap dada.

"Puas lo mempermalukan gue di depan umum tadi?" sembur Naya langsung tanpa basa-basi begitu Arka keluar dari ruang penyimpanan.

Arka menghentikan langkahnya. Ia membawa tas punggung hitamnya di satu bahu. Laki-laki itu menatap Naya dengan wajah lelah yang tampak jelas di bawah lampu aula yang remang.

"Mempermalukan?" kata Arka pelan. "Saya cuma menjawab argumen kamu berdasarkan fakta, Naya. Kamu sendiri yang mulai memicu perdebatan di tengah rapat."

"Tapi lo nggak usah bawa-bawa kejadian semester lalu kan?!" seru Naya kesal. "Lo itu selalu ngerasa paling benar! Di sekolah sok berkuasa, di rumah sok ngatur!"

Arka tidak langsung membalas. Ia menghembuskan napas panjang, berjalan mendekati Naya hingga jarak mereka tersisa satu meter. "Di rapat tadi kamu mewakili kelas kamu, dan saya memimpin acara sebagai ketua OSIS. Jangan campur adikkan urusan personal kita di rumah sama tugas sekolah."

"Gimana gue nggak nyampur adikkan kalau muka menyebalkan lo itu sama aja di mana-mana?!" Naya menunjuk wajah Arka dengan emosi. "Lo tuh robot! Nggak punya tenggang rasa!"

Arka menatap Naya dalam keheningan selama beberapa detik. Tiba-tiba, pandangan mata Arka turun ke arah tangan kiri Naya yang memegang siku tangannya sendiri. Naya terlihat sedikit menggigil karena pendingin udara aula yang tadi dipasang terlalu dingin, ditambah angin sore yang berembus masuk dari jendela atas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arka melepas tas punggungnya dan menaruhnya di atas kursi. Jemarinya bergerak lincah membuka kancing jas OSIS biru gelap yang melekat di tubuhnya.

"Lo... lo ngapain?!" Naya refleks mundur setengah langkah, curiga.

Arka melepas jas OSIS-nya, lalu melangkah maju dan menyampirkan jas tebal itu ke atas bahu Naya secara paksa. Wangi parfum kayu dan kehangatan tubuh Arka langsung menyeruak menyelimuti tubuh Naya.

Naya terpaku seketika. Matanya membelalak kaget. "Maksud lo apa-apaan sih?!"

"Pakai," kata Arka datar, sambil merapikan lipatan jas itu di bahu Naya agar tidak jatuh. "Bibir kamu udah agak pucat gara-gara kepanasan emosi dari tadi. Saya nggak mau nanti malam di rumah Ibu memarahi saya gara-gara kamu masuk angin."

"Gue nggak butuh kasihan dari lo!" Naya mencoba melepas jas itu, tapi tangan Arka menahannya di kedua bahu Naya.

Genggaman tangan Arka di bahunya hangat dan kokoh. Pandangan mata hitam cowok itu terkunci rapat pada mata Naya. Suasana aula yang sepi membuat detak napas mereka berdua terdengar sangat jelas.

"Naya," suara Arka berubah menjadi sangat pelan, hampir berupa bisikan. "Saya memang kaku, saya memang menyebalkan. Tapi di sekolah ini, tugas saya bukan cuma menegakkan aturan, tapi juga memastikan kamu nggak kenapa-kenapa."

Jantung Naya merosot tajam. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arka tanpa ekspresi dramatis, namun dampaknya membuat lidah Naya mendadak kelu total.

"M—maksud lo apa bicara gitu?" bisik Naya gelagapan, matanya bergerak panik menghindari tatapan lurus Arka.

Arka melepaskan genggamannya dari bahu Naya, lalu menyambar tas punggungnya dari atas kursi.

"Maksud saya, kalau kamu sakit, saya yang repot harus mengurus kamu di rumah," balas Arka dingin, seketika menghancurkan atmosfer aneh yang baru saja tercipta beberapa detik lalu. "Pakai jas itu sampai kita sampai di parkiran luar. Tapi lepas sebelum lewat gerbang sekolah. Kita pulang bareng, saya tunggu di dekat kedai fotokopi seberang jalan lima menit lagi."

Arka berbalik dan melangkah keluar dari aula tanpa menunggu jawaban lagi.

Naya berdiri sendirian di tengah aula yang remang. Ia meremas kain jas OSIS biru gelap milik Arka yang masih menyebarkan rasa hangat di tubuhnya. Aroma sabun dan parfum cowok itu menusuk indra penciumannya dengan sangat jelas.

Naya memegang dadanya yang berdegup kencang tanpa ritme yang jelas.

"Menyebalkan..." bisik Naya dengan suara bergetar, menatap pintu aula yang terbuka. "Dasar ketua OSIS menyebalkan..."

Naya tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi sore itu. Di balik rasa benci dan kejengkelan yang selalu meledak-ledak, ada sesuatu yang asing dan berbahaya yang mulai merayap pelan di dalam hatinya. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di dalam daftar perjanjian mereka.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!