Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Pertemuan
Kurang dari satu bulan, populasi Desa Fajar meledak dua kali lipat.
Rencana gila Xing Yun melampaui ekspektasi. Empat puluh regu Pasukan Fana yang disebar ke berbagai penjuru benua benar benar memicu pemberontakan beruntun di kamp-kamp penambangan para dewa.
Ribuan budak yang sudah diajari pernapasan Qi dasar berbondong-bondong melintasi Gurun Kematian, mengejar mitos tentang tempat perlindungan yang dipimpin sang "Kaisar Bela Diri".
Xing Yun nyaris tak tidur—mengatur logistik, memperluas perkemahan, memastikan makanan cukup untuk puluhan ribu anggota baru.
Siang itu, rutinitasnya terganggu oleh keributan besar di gerbang selatan lembah.
Da Hu dan sisa regunya tiba membawa lebih dari dua ribu budak dari Kamp Rantai Hitam. Seharusnya ini momen membanggakan, tapi barisan itu terlihat aneh. Bukan Da Hu yang memimpin di depan—melainkan seorang pemuda bertelanjang dada yang memanggul tombak besi berkarat raksasa di bahunya.
Xing Yun melangkah maju bersama selusin pengawal.
"Kerja bagus, Da Hu." Matanya menatap tajam pemuda raksasa di depan Da Hu. "Siapa tamu besar ini?"
Pemuda itu berhenti. Ia menatap Xing Yun dari atas ke bawah, mendengus hingga napasnya mengepul di udara dingin.
"Bau tinta," katanya. "Tanganmu terlalu halus. Kau lebih cocok menghitung gandum daripada mematahkan leher para dewa. Kau bukan Kaisar Bela Diri yang mereka ceritakan."
Para pengawal langsung menghunus pedangnya mendengar nada merendahkan itu. Xing Yun mengangkat tangan, menyuruh mereka untuk tenang.
"Namaku Xing Yun, Tetua Kepala Desa Fajar," jawabnya, dingin dan diplomatis. "Kaisar kami sedang memulihkan diri. Untuk sementara, aku yang..."
"Aku tidak peduli otoritas ahli tulis." Long Zhan memotong kasar, mata abu-abunya memindai lembah. "Aku mencium darah yang pekat. Ada energi padat berkumpul di ujung lembah sana."
Ia melangkah maju, mengabaikan Xing Yun dan barisan pengawal. Dua pengawal mencoba menahan lengannya, Long Zhan hanya mengibaskan bahu, dan keduanya terpental lima meter.
"Berhenti di sana!" Xing Yun panik, sadar pemuda ini monster murni yang tak memiliki Qi sama sekali.
Long Zhan tak menoleh. Ia terus mengikuti instingnya, melewati jembatan sungai, sampai berdiri di depan gubuk medis yang dijaga Su Ling'er.
Gadis bergaun hijau itu sedang meracik obat. Melihat raksasa liar mengarah tepat ke gubuk tempat Cangtian berbaring, Ling'er tidak panik. Satu kibasan tangan, tiga jarum kayu melesat, mengarah ke titik lumpuh di leher, dada, dan lutut Long Zhan.
Long Zhan tak menghindar sama sekali.
Tuk. Tuk. Tuk.
Bukannya menembus, ketiga jarum itu patah begitu menabrak ototnya. Padat, keras—jauh melampaui batas tubuh manusia fana, hampir setara zirah baja klan dewa.
Ling'er terbelalak. "Monster macam apa..."
"Obat nyamuk yang bagus, Nona Kecil." Long Zhan terkekeh, lalu menendang pintu batu gubuk hingga hancur.
Debu berhamburan. Ia melangkah masuk ke ruangan. Matanya tertuju pada pria berambut hitam yang terbaring diam di ranjang batu.
Wajahnya yang penuh bekas luka mengernyit kecewa.
"Ini Kaisar kalian?" ejeknya keras. "Pria sekarat, tubuh dipenuhi urat merah beracun? Aku menyeberangi gurun cuma untuk melihat mayat hidup. Kalau ini kaisarnya, manusia benar-benar tidak punya harapan..."
Kalimatnya tercekat di tenggorokan.
Suhu ruangan anjlok drastis—bukan udara dingin yang masuk, tapi panas ekstrem di dalam gubuk tersedot balik ke tubuh pria di ranjang, seperti ditarik pusaran air.
Urat merah di dada Ye Cangtian tidak memudar, ia menyatu sempurna dengan urat birunya. Luka tembus di bahunya menutup tanpa bekas.
Perlahan, pria itu duduk.
Saat Cangtian membuka mata, Long Zhan otomatis mengambil kuda-kuda. Mata Cangtian tak lagi hitam pekat, ada kilatan hijau-emas, dihiasi lingkaran merah redup di sekitar pupilnya. Bukti ia telah menaklukkan racun api tingkat tinggi sang Perwira Dewa sepenuhnya.
Cangtian menoleh, "Kau berisik," suaranya serak.
Bulu kuduk Long Zhan meremang. Insting predatornya berteriak bahaya. Tapi bagi Long Zhan, bahaya adalah kegilaan. Senyum gila merekah di wajahnya.
"Buktikan kau pantas menyandang gelar kaisar!"
Ia menusukkan tombaknya penuh tenaga. Udara di gubuk terbelah oleh kecepatan yang menembus batas suara.
Cangtian tak beranjak dari ranjangnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya.
Booommm!!
Ledakan sonik menghantam saat ujung tombak besi bertemu telapak tangan Cangtian. Atap gubuk Ling'er hancur untuk kedua kalinya, terangkat oleh gelombang kejut dari benturan dua monster fana itu.
Di luar, Xing Yun, Da Hu, dan Ling'er berlindung dari puing yang berjatuhan.
Di dalam, Long Zhan terbelalak ngeri. Tombaknya, yang diayunkan dengan tenaga pembunuh dewa, berhenti total. Tangan kiri Cangtian mencengkeram ujungnya, tak bergeser sedikit pun. Qi hijau-emas menyelimuti tangannya.
"Kekuatan fisikmu menarik. Tapi masih terlalu kasar."
Satu sentakan—tubuh raksasa Long Zhan kehilangan keseimbangan, tertarik maju. Cangtian melesat dari ranjang, membanting bahunya ke dada Long Zhan dengan teknik sempurna.
Brak!
Long Zhan terlempar keluar puing, mendarat keras di alun-alun dan menghancurkan lantai batu obsidian.
Para budak menyingkir dan membentuk lingkaran.
Long Zhan memuntahkan darahnya, lalu melompat berdiri, tawanya menggelegar. "Luar biasa! Hahaha! Lagi!"
Cangtian melangkah keluar dari debu. "Maju."
Di alun-alun Desa Fajar, Long Zhan bertarung seperti binatang purba—menyeruduk, menebas, menghancurkan apa pun di sekitarnya. Setiap pijakannya menggetarkan tanah.
Tapi di hadapan Ahli Persilatan Tingkat 3 yang baru berevolusi, keliaran saja tidak cukup.
Cangtian bergerak dengan efisiensi mengerikan. Ia tak menangkis setiap pukulan—ia mengalirkannya, membelokkannya, memakai momentum lawan sendiri untuk memukul balik. Pedang peraknya masih tetap di sarungnya, ia bertarung dengan tangan kosong, menghormati tantangan fisik lawannya.
Puncaknya datang saat Long Zhan memutar tombak penuh untuk memenggalnya.
Cangtian tak mundur. Ia menunduk tajam, meluncur di bawah lintasan tombak, dan menghantamkan telapak kanan tepat ke ulu hati Long Zhan. Ledakan Qi hijau-emas bercampur hawa panas dari asimilasi Qi Api-nya menembus punggung lawan.
Duarr!
Tubuh raksasa itu terpental dua puluh meter, menabrak pilar batu hingga retak. Tombaknya terlepas, menancap di tanah.
Seluruh desa menahan napas, menatap debu yang perlahan menghilang.
Long Zhan terbatuk keras, memuntahkan darah keemasan—bukti fisiknya telah bermutasi, nyaris setara kasta dewa.
Cangtian melangkah mendekat. Ia mencabut tombak yang menancap di tanah, melemparkannya ke pangkuan Long Zhan.
"Kau bertarung seperti babi hutan," katanya dingin. "Hanya mengandalkan otot dan amarah. Kalau kau bertemu Perwira Tingkat 5, mereka akan membakarmu dari jauh sebelum kau sempat mengayunkan besi berkarat itu."
Long Zhan menyeka darah dari mulutnya. Ia menatap sosok yang menjulang di depannya. Tak ada kebencian di matanya—hanya kekaguman murni yang menyala. Bagi petarung yang mendewakan kekuatan mutlak, kalah dari yang jauh lebih kuat adalah anugrah.
Ia tertawa terbahak bahak, kemudian meraih tombaknya, memakainya sebagai tumpuan untuk berdiri. Di depan ribuan penduduk dan Pasukan Fana, pemuda raksasa yang tak pernah tunduk pada cambuk dewa itu menekuk satu lutut, menunduk dalam-dalam di hadapan Ye Cangtian.
"Kaisar Bela Diri, huh?" Suaranya menggelegar, penuh hormat. "Gelar yang pantas. Hahaha! Namaku Long Zhan! Mulai hari ini, darahku, dagingku, dan tombak ini milikmu!"
Cangtian menatap sosok raksasa yang berlutut di depannya. Senyum tipis jarang ia tunjukkan muncul di sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangannya dan menariknya berdiri.
"Selamat datang di Pasukan Pembelah Langit, Long Zhan."